Readers

Bohemian Rhapsody (2018) : Sekedar Nostalgia Tanpa Cerita




Bohemian Rhapsody adalah tentang gagasan betapa luar biasanya sosok Freddie Mercury dan Queen, tapi tidak pernah mau bicara panjang lebar alias hanya selintas-lintas. Menontonnya menjadi mengesalkan karena hati ingin sekali terbuka untuk memahami siapa dan bagaimana sosok pria eksentrik yang disebut legenda itu tapi penulisnya seperti niat tidak niat membahasnya.

Oh, tentu saja filmnya memotret kehidupan musisi rock yang kental dengan sifat pemberontak, seks bebas, konflik dan pengkhianatan. Tapi Bohemian Rhapsody hanya membahasnya sampai di permukaan dan tidak pernah (berkeinginan) menyelam lebih dalam. Teknik penulisan yang dangkal dimana harus ada seorang yang jahat dan licik untuk disalahkan (Paul adalah karakter yang tak punya sisi putih yang dapat membuatnya terlihat manusiawi) nyaris membuat saya throwback pada karakter Mischa di sinetron Cinta Fitri.

Dengan romansa yang tipis dan karakter-karakter terlupakan (konflik keluarga yang membosankan, kalau memang sebenarnya ada), paling fatal adalah karakter Freddie sendiri yang sampai saat saya mengetik ini, saya tidak bisa menggambarkannya dengan jelas. Dalam film ini, Freddie di keseharian seakan tidak se-luar biasa amat seperti saat dia di atas panggung. Tentu dia seorang rockstar yang kesepian. Dia egois dan narsis, seperti umumnya para seniman sejati. Tapi apa latar belakang dan keresahan Freddie yang mengilhami terciptanya lagu-lagu tersebut? Apakah hanya cukup dibicarakan sepintas lewat dialog sepotong lalu langsung melesat cepat dengan memutar lagu yang dimaksud? Penggambaran Freddie yang mengeksplorasi orientasi seksualnya pun diperlihatkan seperti tidak ada minat untuk membicarakannya lebih luas sehingga dapat membuat opini salah kaprah seakan-akan sosok Paul adalah satu-satunya penyebab yang menjerumuskan.



Nampak 80% kerja keras pembuat filmnya ditujukan untuk pemujaan terhadap musik Queen karena memang bagian inilah yang paling tanpa cacat dan berhasil. Walau agak brengsek juga untuk beberapa momen krusial yang menyorot konflik Freddie dengan beberapa anggota lain kemudian harus di-distraksi oleh anthem-anthem popular hanya demi membuat penonton merasa familiar. Harus diakui adegan pembuatan lagu-lagu mahadahsyat seperti We Will Rock You, Love of My Life dan tentunya Bohemian Rhapsody akan cepat menggoda telinga untuk ikut mendendangkannya tapi tentu film tidak hanya sekedar itu, dan cerita adalah hal terpenting yang membuat kita merasa cepat relate. Beruntung saja dua puluh menit terakhirnya adalah bagian terbaik dan Rami Malek menangkap energi Freddie dengan sangat kuat, kalau tidak film ini mungkin sudah sangat ingin saya tinggalkan begitu adegan konferensi pers yang menganggu mata.

Jelas Bohemian Rhapsody bukanlah La Vie En Rose. Kompleksitas yang menarik untuk dibahas terpaksa disingkirkan agar tampil sesederhana mungkin dan hanya tertutupi oleh kemegahan musik dari campuran nostalgia dan sukacita. Hasilnya seperti ada perasaan tertahan dan kosong sepanjang film yang membuat saya hadir tapi merasa berjarak.

Bohemian Rhapsody, 2018


Sutradara : Bryan Singer
Pemain : Rami Malek, Ben Hardy, Lucy Boynton, Gwilym Lee 
Penulis : Anthony McCarten 

Masih tayang di bioskop.



Comments

  1. Boleh minta kontak email untuk kerjasama?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maudy Puteri Agusdina4 November 2018 at 22:51

      Bisa ke itsmaudy@gmail.com.

      Delete

Post a Comment

Popular Posts