Readers

Halloween (2018) : Sedikit Perspektif Baru dalam Klise yang Lama


Ada tiga hal yang harus saya katakan dengan jujur sebelum menulis resensi ini.

Pertama, Michael Myers adalah penjahat yang menjadi taksiran saya ketika ABGkarena Jason Vorhees dan Freddy Krueger jelas tidak masuk dalam pertimbangan. Topeng putih pucat dan seragam ala pom bensin atau pegawai bengkel terlihat cute. Kedua, saya sudah menonton dua kali versi asli Halloween dengan jarak waktu yang lumayan lama. Dan pendapat saya masih sama: filmnya tidak terlalu berhasil buat saya. Memang seru, beberapa adegan pembunuhan yang memikat, tidak ada yang akan berani menginterupsi bahwa opening film ini salah satu yang terbaik untuk menunjukkan teror, tapi cuma itu saja. Bahkan secara personal, yang paling berjasa dalam proses tumbuh-kembang remaja mengenal seks ketika SMP selain opening Halloween 1 adalah lewat film Halloween 2 yang memperlihatkan adegan suster mandi dan bercumbu mesra. Yang ini sepertinya tidak perlu dibahas berkepanjangan.

Hal ketiga adalah sebenarnya saya masih berusaha memahami David Gordon Green, sosok yang bertanggung jawab menciptakan film ini. Saya kurang menyukai komedi dalam Pineapple Express, tapi David adalah orang yang membuat All the Real Girls. Film ini yang membuat mixed feeling, saya harus mengakui saya bingung sekaligus bosan saat pertama kali menontonnya tapi premis film ini penting dan membekas. Saya bahkan punya sebuah cerita yang seperti belajar banyak dari momen drama film yang dibintangi Zooey Deschanel tersebut.

Maka berbekal tiga hal yang menjadi keterbatasan saya tersebut, saya pergi menonton Halloween. Kesan pertama: ternyata ada perasaan senang saat saya melihat opening credit dengan balutan musik John Carpenter yang klasik itu pertama kalinya di layar besar. Seakan nostalgia, David membuka awalan yang nampak menjanjikan lewat dua karakter pembawa acara podcast sebagai penyampai narasi yang menjelaskan seberapa berbahayanya sosok The Shape atau Michael Myers pada penonton generasi baru. Dua karakter ini sayangnya tak punya kontribusi apa-apa sampai akhir cerita karena ternyata difungsikan sebagai appetizer semata.

Bisa dibilang, porsi drama di awal cukup panjang bahkan membuat orang-orang di bioskop masuk ke tahap jengah dan seperti menantikan kapan mereka akan ditakuti. Sutradaranya memutuskan untuk meluangkan waktu demi pengembangan cerita seputar trauma berat Laurie Strode (Jamie Lee Curtis), pasca kejadian pembantaian 40 tahun lalu sembari juga memperkenalkan karakter-karakter baru di kota Haddonfield mulai dari Ashley (Judy Greer) anak Laurie dan cucu Laurie, Allyson (Andy Matichak), kekasih Allyson, teman-temannya dan bahkan orang-orang baru seperti Dr. Ranbir Sartain (Haluk Bilginer) yang diceritakan merupakan murid Dr. Loomis dan Hawkins (Will Patton), sherif yang gelisah dengan kehadiran Michael dan hanya ingin membuat kota kembali tenang.

Michael dalam keramaian malam Halloween sebelum memulai pembantaian. / sumber: goombastomp.com


Sesuai hukum di film horor atau slasher, semakin banyak karakter tentu berarti semakin banyak tumbal. Tidak ada yang salah, malah terbersit bahwa film ini akan menjanjikan bertubi-tubi keseruan. Tapi masalah utamanya terletak pada skenario film yang seakan menyajikan semua karakter terutama karakter utama begitu kosong sementara karakter-karakter lain hadir hanya untuk dibunuh atau malah dilupakan sama sekali potensinya. Karakter keluarga lain terlihat hanya sekedar tempelan demi melanjutkan cerita, ambil contoh Allyson, yang mungkin direncanakan seperti Emma Roberts yang mereinkarnasi Neve Campbell dalam sekuel Scream 4. Kekasih Allyson lebih parah lagi, hadirnya tidak penting dalam konflik cinta remaja yang tidak ada manfaat juga pada plot. Beberapa dialog juga terasa menganggu sementara jalan cerita sampai klimaks di paruh terakhir terkesan tidak memuaskan harapan.

David yang menulis bersama Jeff Fradley dan aktor komedian Danny McBride bukannya tidak berusaha untuk menulis baik. Selain menyelipkan alasan-alasan emosional seperti trauma dan sisi psikologis pembunuh (dalam sebuah adegan Dr. Sivan membunuh Hawkins adalah usaha yang baik memotret bagaimana seorang psikiater berusaha memahami pasiennya walau pengadeganannya nampak tak meyakinkan), David, Jeff dan Danny juga memberikan perspektif baru dalam pertukaran peran antara yang memburu dan diburu atau perspektif pembunuh versus korban dalam Halloween.

Rumah yang dikemas sebegitu rupa seperti lubang jebakan seperti menandakan bahwa Laurie ingin berkuasa di rumahnya sendiri sebagai seseorang yang mengejar Michael, bukannya sebaliknya. Lihat juga adegan dimana setelah perkelahian keduanya, Laurie terlempar keluar dan ketika Michael melihat lagi ke arah halaman, tubuh Laurie menghilang. Ini memang seperti sebuah tribute untuk adegan serupa yang menutup film Halloween pertama. Menyoal referensi atau sebutlah homage, film ini memang menyusunnya dengan rapi mulai dari adegan sekumpulan remaja berjalan melewati blok perumahan, seseorang yang tertutup selimut putih (mengingatkan pada adegan PJ Soles) sampai pembunuhan lewat sudut pandang Michael yang berjalan sampai akhirnya menghabisi korban.

Untuk yang terakhir, kredit saya sematkan untuk David karena adegan Michael mulai memburu adalah salah satu yang tereksekusi sangat baik; memanfaatkan keadaan luar yang ramai dan terlihat aman kemudian sang pembunuh mulai membantai korbannya sehingga batas antara keriuhan dan keseraman itu menjadi satu. Hanya lewat jendela dibantu pergerakan kamera yang piawai, kita melihat pembantaian itu dimulai kembali dan ini menjadi salah satu referensi yang paling berhasil. Film ini juga cukup terbuka untuk memperlihatkan darah dan kesadisan walaupun dalam versi bioskop yang saya tonton, nampak beberapa adegan pembunuhan terpotong sensor sehingga terasa kurang luwes untuk menikmatinya.

Yang pasti, Halloween kali ini tidak sampai masuk ke dalam kategori busuk, seperti halnya sekuel-sekuel film lain atau ambil contoh saat menonton Scream 4 yang bebalnya bukan main itu. Lewat isu female empowerment dan trauma yang meregenerasitergambar jelas dalam adegan paling terakhir, Anda masih akan menemukan sejumput hal baru yang menarik dari sebuah klise horor yang lama dan sama.

Tidak buruk, apalagi mengesalkan. Cukup seru, hanya mudah terlupakan.

Halloween, 2018

Sutradara : David Gordon Green
Pemain : Jamie Lee Curtis, Judy Greer, Andy Mathicak

Penulis : David Gordon Green, Danny McBride, Jeff Fradley



Comments

Popular Posts