The Girl Can’t Help It (1956) : Jayne Mansfield Dalam Bayang-Bayang

http://img10.hostingpics.net/pics/936434jaynemansfield01.jpg

Roger Ebert menulis dalam sebuah catatan yang penuh ironis tentang riwayat hidup Jayne Mansfield, ia bilang Jayne adalah duplikat Marilyn Monroe, tidak bersinar dan tidak begitu istimewa. ‘She is bigger, blonder, dumber, more publicity-conscious than any who had gone before. Begitu tulisnya. Bahkan salah satu koran di masa itu menyindir ketika foto Monroe kedapatan satu frame dengan Jayne. “One very sexy blonde named Marilyn Monroe and another very sexy blonde name Jayne Mansfield”. Ya, ia selalu hanya jadi bayang-bayang. 


Secara fakta, Jayne memang tidak secantik Monroe. Mungkin dari jauh ia terlihat mirip tapi bagi orang-orang yang sudah akrab dengan akting Monroe di film-film komedinya, Jayne lebih mirip seorang understudy. Ia pintar meniru tapi tak punya pesona itu. Beda dengan Marilyn Monroe yang akan langsung membuat penonton ngeh bahwa ini dia perempuan dengan suara manja mendesah, berlenggak-lenggok, seringkali saat bicara sesuatu dengan penuh mulutnya bergerak diikuti ekspresi mata dan alis. Sementara Jayne Mansfield dalam paruh pertama film ini nampak kaku dan seperti belum benar-benar siap. Namun seiring alur film berjalan, ia mulai lepas bermainnya. Walau tidak stabil secara keseluruhan tapi ada kendali yang baik sampai perlahan karakter Jerry Jordan-nya yang super innocent mampu merebut hati penonton.

Film ini memang sesantai cerita-cerita film Warkop. Adalah Tom (Tom Ewell), seorang press agent yang sedang mengalami titik redup karena patah hati ditinggal artis bikinannya sendiri. Ia menjadi pemabuk berat sampai kemudian dihubungi oleh seorang bos besar kasino, “Fats” Murdock  yang meminta sang kekasih, Jerry untuk diorbitkan Tom sebagai penyanyi. Masalahnya, Jerry tidak mau dan lebih memilih menjadi wanita rumahan.  Lebih jauh lagi, Jerry dan Tom mulai jatuh cinta. Berikutnya, tentu mudah ditebak yaitu beberapa babak kekonyolan yang dibuat Jerry -Tom demi mengikuti segala kemauan Murdock.

http://static.rogerebert.com/redactor_assets/pictures/scanners/opening-shots-the-girl-cant-help-it/girl2.jpg


Pembukaan tak terlupakan : Tom Ewell bicara pada penonton dalam bingkai hitam putih, melebarkan rasio dan mengubahnya menjadi penuh warna. Mungkin kita menganggap ini biasa karena menontonnya di layar komputer. Tapi ini adalah keistimewaan bila melihatnya kala itu di bioskop.

 Skenario berperan penting membuat filmnya menjadi komedi yang kuat. Banyak hal lucu yang tersebar dan kebodohan-kebodohan itu walau nampak remeh terlihat diniati serius baik oleh pembuat dan para pelakonnya. Diselingi dengan penampilan dari banyak musisi yang membuat film ini dilabeli sebagai film penting yang merayakan musik aliran rock n roll. Namun saya tak akan membahas ini. Yang lebih menarik buat saya adalah membahas tentang Jayne Mansfield dan ''membela'' sosoknya. 

Karena kalau bicara tentang fakta lain, harus diingat bahwa fenomena dumb blonde bukan hanya milik Marilyn Monroe seorang. Dia bukan penggagasnya. Judy Holiday misalnya, yang memenangi Oscar juga membawa persona yang sama. Monroe mungkin yang paling diingat, tapi di kala itu bukan hanya Jayne yang berusaha merebut panggung. Tercatat ada nama seperti Mamie Van Doren yang juga ingin ikut adu lomba. Maka tentu rasanya kurang adil untuk menyebut Jayne Mansfield hanya sekedar copycat, belum lagi bicara tentang kenyataan bahwa dumb blonde seringkali hanya persona buatan agensi supaya cepat terkenal.  

Karena sudah sering terdengar cerita-cerita tentang mereka yang sama sekali jauh dari kesan bodoh,  memiliki IQ tinggi atau sebenarnya terampil untuk memerankan karakter lain lepas dari yang stereotipikal. Jayne misalnya, konon memiliki 1Q di atas 160. Seharusnya juga tidak mengejutkan bahwa ketika diwawancara ia tampil tenang dan suaranya sedikit lebih berat dari bagaimana ia biasa memalsukannya di film. Namun seringkali, bagi penonton atau publik, hal-hal seperti ini tetap adalah sesuatu yang di luar perkiraan. Mungkin karena adanya jarak danilusi, bahwa penonton hanya melihat dari layar televisi dan film dimana dunia yang ia lihat adalah yang ia paling percayai. Maka apa yang tampak adalah apa yang hanya di depan mata. 

http://www.cliomuse.com/uploads/9/2/4/6/9246605/__5678017_orig.jpg

Gestur seksual : Jayne meletakkan dua botol besar susu tepat di depan dadanya.

Sebenarnya ini tak hanya terjadi di Hollywood atau di masa lalu 50-an yang berapi-api penuh kelahiran bom seks. Saya rasa urusan persona untuk publik tersebut adalah selalu hal yang berkelanjutan, sepertinya hal di Indonesia pula. Mungkin hanya dumb, bukan dumb blonde. Saya bisa sebutkan lebih dari satu nama publik figur Indonesia yang memakai strategi mencitrakan bahwa dirinya terkesan polos (atau bahkan terlihat bodoh) demi kesenangan publik. Bukan karena mereka ingin, tapi karena begitulah pasar yang mudah menerima mereka. Pasar yang selalu perlu hiburan dan ketika terlalu intelek berarti dianggap kurang memenuhi selera pasar. Coba hitung, berapa banyak orang yang harus bertingkah konyol agar masuk dan sukses di televisi? Apakah anda yakin para selebritis itu, yang rela nampak konyol dan bodoh mengumbar sensasi adalah benar mereka seperti itu aslinya atau semacam trik merebut hati pasar luas? Saya yakin sebagian dari mereka adalah orang-orang cerdas yang di saat yang sama harus tunduk pada peraturan tak tertulis sehingga hal-hal seperti ini terus ada di dunia hiburan dimanapun. Publik menerima dan sang pelakon harus terus-terusan memberi kepuasan.

Dan itulah salah satu alasan kenapa saya menyukai The Girl Can’t Help It. Film ini sama dengan Born Yesterday atau Gentleman Prefer Blondes dimana tersembunyi sebuah kritik tentang dunia hiburan dan stereotype dumb blonde. Saya pernah meresensi Born Yesterday dan film itu adalah tentang seorang gadis yangberusaha melawan pencirian (atau mengkritisi pencirian?) bahwa buku dan kacamata adalah selalu atributnya orang intelek. Adapun Gentleman menempatkan Monroe sebagai karakter wanita materialistis yang getol mendekati pria-pria kaya. Tapi kemudian, terbuka fakta bahwa ia sebenarnya cukup pintar dan secara langsung menyindir lewat dialog yang bisa dimaknai semacam “para lelaki lebih suka saya menjadi bodoh”. Seakan menegur peran yang sedang dimainkan sendiri, begitupun halnya dengan The Girl Can’t Help It.

Spoiler : ternyata di akhir film, karakter Jerry hanya pura-pura tidak bisa bernyanyi dan ia punya suara bagus! Ini semacam mengingkari dagelan komplit yang sudah dibuat sebelumnya bahwa karakter ini sudah bodoh dan tidak bisa menyanyi pula. Jerry sendiri diceritakan tidak ingin menjadi penyanyi terkenal dan lebih ingin menjadi ibu rumah tangga (Lewat dialog but everyones figures me as a sexpot. No one thinks I’m equipped for motherhood!). Ia terpaksa dekat dengan Murdock lantaran ingin balas budi berkaitan dengan ayahnya (sang penulis menghapus pencirian seorang dumb blonde adalah seorang materialistis). Apakah ini semacam tanda protes dari karakter yang diharuskan bodoh-bodohan? Kritik lainnya juga tentang ketenaran dalam dunia hiburan yang seakan-akan adalah impian semua orang (simak adegan yang mengundang gelak tawa yaitu ketika lagu Jerry Jordan malah laku dan disukai semua orang, sampai seorang produser tiada pikir-pikir lagi ingin mengorbitkannya).

http://img.rp.vhd.me/4667371_l2.jpg


Walau kemudian juga ada tuduhan seksis pada film ini lewat beberapa penggambarannya (tuduhan yang serupa pada film-film Warkop) namun saya setuju pada opini Francois Truffaut yang bilang bahwa “sang sutradara (Frank Tashlin) tidak berusaha mengolok-ngolok karakter Jerry namun malah membuatnya jadi kepribadian yang menggugah dan menyenangkan”. Sebuah adegan ketika The Platters menyanyikan You’ll Never Never Know dan kamera mengambil gambar Jayne dan Ewell yang sedang berciuman entah kenapa buat saya jadi puncak terbaik dalam filmnya. Bahkan saya saja terkejut bahwa Tom Ewell----saya tidak terlalu menganggap dia aktor komedi yang istimewa di Seven Years Itch---terasa jadi pasangan romansa yang menjanjikan disini.

Jadi inilah film yang menurut saya cocok masuk kategori feel-good. Yang menontonnya mengurangi beban hidup. Sama seperti kesan saat menonton film Warkop, Some Like It Hot, The Apartment, Gentleman Prefer Blondes. Ini juga film yang membuat saya antusias untuk tahu jejak lengkap filmografi Jayne Mansfield (terutama untuk Promises, Promises yang membuatnya mau tampil telanjang bulat) selain ketertarikan lain karena Jayne punya akhir hayat yang tragis. Ya, saya selalu mudah tergoda dengan cerita sedih seorang bintang, tambah lagi kalau terkait simbol seks di industri perfilman. Jayne mungkin akan selalu jadi nama kedua yang terpikir ketika orang mengingat tentang era 50-an dan wanita seksi. Ia selalu ada disana, konsisten mengisi sosok seorang bintang yang melayani sesuai apa yang diinginkan pasar. Maka ketika Monroe diperlihatkan sebagai orang yang paling tidak nyaman dengan kesuksesannya, Jayne adalah cerita lain tentang seorang wanita yang seakan sukarela menjadikan dirinya mainan publik. 

Catatan lain: Film ini menjadi referensi sejumlah film lainnya seperti The Dreamers (Bernardo Bertolucci) dan Mulholland Drive (David Lynch). Entah kenapa saya yakin film ini juga yang jadi referensi Woody Allen dalam membuat Bullets Over Broadway. Terdapat beberapa kemiripan dari segi cerita dan karakter, terutama adegan pamungkas ketika gangster mengejar di belakang panggung. Salah satu alasan lain kenapa saya begitu menikmati filmnya.



The Girl Can't Help It, 1956
Sutradara : Frank Tashlin
Penulis : Frank Tashlin, Herbert Baker
Pemain : Jayne Mansfield, Tom Ewell, Edmond O'Brien, Julie London


 




Comments