Pilihan Penulis : 5 Film Tentang Pernikahan



Saya menyebutnya 5 film pilihan bukan 5 film terbaik. Pertama, karena begitu banyak film-film terbaik dan yang tentu belum saya tonton sehingga tidak ingin tulisan ini menjadi terasa sok jago membicarakan mana yang paling hebat. Kedua, 5 judul film ini lebih enak dibahasnya karena mampu mempresentasikan sesuatu tentang kehidupan pernikahan, bukan hanya karena embel-embel terbaik. Ketiga, karena ini tulisan yang sebenarnya berawal dari spontanitas tengah malam sehingga hanya 5 film pilihan dan tidak lebih banyak sehingga mungkin ada judul-judul lain tidak tersebut. Yang sepengetahuan saya saja, yang terlintas di pikiran (atau yang baru-baru ditonton) dam yang menurut saya menarik isinya untuk ditelaah.


Jadi ini dia.
  

1.     45 Years (Andrew Haigh, 2015)


http://m.wsj.net/video/20151124/film45years/film45years_1280x720.jpg


45 Years memperlihatkan kehidupan pernikahan yang dibangun dengan baik selama bertahun-tahun ketika peranan istri dan suami yang saling mengisi mendadak mempertanyakan diri mereka sendiri tepat saat kenangan lama masuk menyelinap. Ada emosi yang berusaha diredam. Ada diri yang berusaha dikendalikan. Film ini memotret kebimbangan sang istri karena mendadak, ilusi "the one" dan "glory" itu tidak lagi seperti bayangannya.


 Kekuatan akting Charlotte Rampling adalah bagian tak terpisahkan dalam film ini. Ia mengisi peran seorang istri yang berusaha tetap terlihat kokoh sebagai sang pendamping namun lambat laun kehilangan rasa percaya diri dan merasa terganggu dengan apa yang terjadi. Hanya lewat ekspresi dan pergerakannya, sebagai penonton kita ikut merasa tidak nyaman dan tahu ada sesuatu yang tidak beres. 

Bila Amour diibaratkan tamparan keras yang tidak bisa dilupakan, 45 Years seperti suntikan obat yang pelan-pelan efeknya baru terasa menyakitkan semakin ke ujung. Dua-duanya tetap sama menyiksa. Namun tentu apapun bentuk "penyiksaan" itu, filmnya tak lantas terasa mencibir cinta apalagi institusi pernikahan. Film ini cukup dewasa untuk seakan bilang penyiksaan itu sudah ada satu paket dengan romansa.

Alternatif : Amour (Michael Haneke, 2012)


 2. 'Til The Death Do Us Part from Wild Tales (Damian Szifron, 2014)



http://static1.squarespace.com/static/523fca5de4b061a78bed19db/t/556560cbe4b0c52cdcc471ec/1432707280186/


Segmen terakhir dari film Wild Tales ini ternyata adalah juara terbaik dari semua cerita. Saya rasa sebagus 45 Years hanya menimbulkan efek tidak nyaman sekaligus tersenyum masam saking ajaibnya (efek yang sama seperti saat menonton Dogtooth). Dalam segmen ini, hari bahagia sepasang pengantin mendadak berubah ketika salah satu mempelai mengetahui kebenaran hubungan suaminya dengan perempuan lain. Dari situ filmnya mulai pelan-pelan mengkhawatirkan, mengganggu bahkan berubah jadi kegilaan sampai ditutup dalam beberapa menit yang cerdas. Beberapa menit yang seperti memukul keras ekspektasi penonton termasuk juga para tamu dalam pesta pernikahan tersebut.

Berdurasi 35 menit, film ini seperti membukukan semua hal yang terjadi dalam kehidupan pernikahan. Kebahagiaan, pertengkaran, pengkhianatan, balas dendam, kegilaan dan lain-lain.  Kita sebagai penonton melihat semua bergerak begitu cepat dan kita gemas sekaligus sebenarnya bersiap-siap dengan puncak kehancuran macam apa yang akan terjadi di ruang pernikahan namun film ini menggiring kita dengan cara yang tak terduga. Kita dijadikan pihak yang bisa paling jeli melihat bahkan lebih dari para tamu yang berjarak hanya beberapa meter dari tokoh utama.

Pertanyaan-pertanyaan akan tiba seusai menonton. Apakah pengkhianatan bisa memancing nafsu untuk mencintai lebih hebat? Apakah balas dendam dan kata impas sudah cukup sehingga cinta diperlakukan selayaknya permainan yang selalu siap dimainkan kembali?  Tapi sebenarnya pertanyaan yang lebih penting dari semua adalah pada kita sendiri ketika usai menonton. Mana yang paling penting untuk diingat : yang sudah terjadi (awal cerita) atau yang sekarang terjadi (akhir cerita)? Jawaban kita mewakili cara kita memandang sebuah hubungan termasuk termasuk dalam hal ini lembaga pernikahan.

Alternatif : Melancholia (Lars Von Trier, 2011), The Wedding Banquet (Ang Lee, 1993)



3. Life Is Sweet (Mike Leigh, 1990)

 https://www.filmlinc.org/wp-content/uploads/2015/07/LifeIsSweet2-1600x900-c-default.jpg
 

Mike Leigh yang saya tahu selalu membuat film tentang kelas menengah, filmnya mengalir sederhana namun mampu membuat penonton merasakan emosi hebat dari karakter-karakternya lewat situasi yang ada. Life Is Sweet adalah pilihan terbaik yang saya anggap mampu merangkum kehidupan rumah tangga pasangan kelas menengah tersebut, disini diceritakan memiliki dua anak dengan kepribadian eksentrik, Natalie dan Nicola. Yang satu tomboi dan bekerja sebagai tukang ledeng sementara yang satu mengisolasi dirinya di rumah dan terlihat tidak nyaman dengan interaksi keluarga sekaligus dirinya sendiri.

Mengangkat hari-hari biasa satu keluarga mungil, akan mudah bagi penonton menganggap film ini hanya sekedar drama komedi ringan dengan karakter-karakter nyeleneh. Namun lebih dari itu, ketika durasi semakin menanjak, beberapa rahasia dan hal tidak menyenangkan terungkap membuat kita menghapus kembali perkiraan kita sejak awal. Meski lebih cocok dianggap sebagai film yang membicarakan tema keluarga namun Life Is Sweet adalah potret yang pas soal gambaran suami-istri dalam kelas pekerjanya yang berusaha berjuang bersama. Masalah-masalah yang terjadi tidak dibicarakan apalagi dianalisis dalam pergulatan panjang melainkan hanya terkesan melintas saja. Penggambaran pasangan yang terlihat baik-baik dan amat sederhana ini mengingatkan saya dengan banyak kehidupan pernikahan yang pernah saya lihat di sekeliling. Dan karena narasi yang amat sehari-hari itu pulalah, ini mampu menjadi contoh yang paling terasa dekat.

Alternatif : The Royal Tenenbaums (Wes Anderson, 2001),  Squid and The Whale (Noah Baumbach, 2005), Le Havre (Aki Kaurismaki, 2011)


4. Certified Copy  (Abbas Kiarostami, 2010)


 https://arneylon.files.wordpress.com/2014/01/certified-copy.jpg

Apa yang paling penting adalah apa yang terlihat. Masalah apa yang terjadi sesungguhnya bukan lagi jadi pikiran.

Satu wanita dan satu pria seusai sebuah peluncuran buku berjalan-jalan mengitari beberapa tempat mulanya bercakap tentang makna orisinalitas versus imitasi lalu kemudian pada satu adegan, mereka mendadak intim dan memperlakukan satu sama lain layaknya pasangan yang menikah belasan tahun. Apakah mereka adalah gambaran dari apa yang mereka perbincangkan (dan semakin ke belakang saling mengkhianati pola pikir awal mereka sendiri?) Atau filmnya tidak terlalu peduli secara runut apa yang terjadi selain menyampaikan kenyataan bahwa mereka (dan juga kita) terkadang berbeda antara aksi dan ideologi.

Certified Copy membuat segalanya terasa mengambang : romantis atau depresif, pengakuan atau sekedar kedok, ilusi sekaligus aksi untuk memuaskan. Abbas Kiarostami yang film-filmnya sering memotret detil ekspresi serta pola pikir dalam ragam usia di film ini mencoba memperlihatkan bagaimana pasangan berusia matang memperlakukan pernikahan; bahwa persepsi bagaimana mereka terlihat mungkin yang paling mereka butuhkan. Hal ini yang kemudian membuat kita jadi bertanya lagi, apa jangan-jangan  untuk setiap dan kebanyakan hal, kita selalu akan terjebak ilusi "menerima apa yang dipandang" begitu saja tanpa pernah tahu faktanya? Tapi kemudian fakta itu----seperti juga misteri yang diumbar sepanjang film ini----mungkin memang diciptakan untuk tidak pernah diketahui siapa-siapa.

Alternatif : Before Midnight (Richard Linklater, 2013)



5. Journey To Italy (Roberto Rossellini, 1954)
 
http://1.bp.blogspot.com/--xaYMsmDtPA/UYzYr-7ZXDI/AAAAAAAAkz8/_jf5BmA1IJ0/s1600/journey-to-italy-1954-003-george-sanders-ingrid-bergman-driving.jpg


Satu pasangan (Ingrid Bergman dan George Sanders) memulai perjalanan dengan mobil menuju Itali, mempertanyakan hubungan satu sama lain, bertikai, bersimpangan ego namun juga saling rindu dan merasa kesepian ketika berpisah. Seakan pernikahan dan peranan sebagai suami-istri adalah dunia mimpi yang lain, maka perjalanan menuju Itali diibaratkan sebagai realita yang membangunkan mereka dari rutinitas tanpa masalah di rumah dan membuat mereka kembali menjadi sepasang yang asing. Dalam salah satu adegannya, sang tokoh wanita berujar bahwa "masa sebelum menikah adalah masa yang paling rapuh" secara tidak langsung mendefinisikan diri mereka berdua dan bagaimana pernikahan itu berusaha diperbarui lagi maknanya.

Journey To Italy mungkin kadang terasa kaku dalam pengadeganan ketika ditonton di masa kini, namun tidak bisa dipungkiri bahwa soal-soal pernikahan yang ingin diutarakannya menarik untuk dibaca dan membuat kita ingin terus mengikuti kemauan dua tokoh utamanya. Keresahan sutradaranya, Roberto Rossellini berusaha disampaikan bukan hanya lewat tek-tok percakapan panjang namun sering juga lewat kamera yang menangkap gambar-gambar indah menimbulkan kesan filosofis tersendiri.

Alternatif : Who's Afraid of Virginia Woolf? (Mike Nichols, 1966)

Comments