Fallen Angels (1995) : Bahwa Jatuh Cinta dan Patah Hati Kadang Sama Saja

https://s-media-cache-ak0.pinimg.com/736x/9d/72/d6/9d72d6e67c21e0f442c7a2c26431ae7f.jpg


Fallen Angels  // 1995 // Sutradara : Wong Kar Wai, Hongkong // Pemain : Leon Lai, Michelle Reis, Takeshi Kaneshiro, Charlie Yeung, Karen Mok



“The road home isn’t very long and i know i’ll be getting off soon...
But at this moment, i’m feeling such a lovely warmth.”



Semua orang yang memuja Chungking Express mungkin bisa menemukan dirinya kembali jatuh cinta pada Fallen Angels. Atau mungkin juga sebaliknya.

Fallen Angels yang sering disebut sebagai spiritual sequel dari Chungking Express ini memang memiliki banyak referensi film tersebut mulai dari kesamaan tempat, karakter dan segala trivianya (karakter peranan Takeshi Kaneshiro mengatakan ia menjadi bisu semenjak memakan kaleng buah nanas yang kadaluarsa sebagai rujukan untuk karakter polisi yang juga diperankannya di Chungking. Juga pola hubungan wanita-pria pembunuh bayaran yang sama seperti karakter Faye dan Tony Leung. Selain itu banyak lagi hal-hal kecil yang seakan direka ulang di film ini).



Fallen Angels, ibaratkan seperti menikmati makanan dari seorang chef yang sangat anda sukai buatannya dan kini ia menyajikan makanan yang berbeda dari bahan yang sama. Dan anda memujanya sekali lagi. Karena rasa yang anda rasakan kali ini kembali membuat jatuh cinta. Kenapa harus memilih rasa makanan yang sekarang dengan yang pertama kali anda makan bila anda bisa menyukai keduanya? Buat saya Fallen Angels seperti melengkapi dunia dimana Chungking Express ada. Atau malah seperti ‘bonus’ tambahan cerita yang secara tak terduga juga sama bagusnya.

Ceritanya tentang seorang pembunuh bayaran (diperankan Leon Lai) yang bekerjasama dengan seorang wanita (Michelle Reis) sebagai sang 'asisten' yang mengatur segala misi dan kesiapannya. Mereka tidak pernah bertemu selain berinteraksi lewat faksimil, kode-kode lewat telepon atau sang wanita datang mengurus dan membersihkan kamar sang pria ketika ia pergi (mengingatkan pada karakter Fai yang menyambangi flat Tony Leung?) Interaksi yang terasa jauh dan asing bukan lantas membuat keduanya jadi tidak dekat melainkan malah merasa intim satu sama lain. Sang wanita akan menciumi bau parfum sang lelaki dari pakaian dan selimut tempat ia tertidur lalu bermasturbasi tentangnya. Sementara sang pria ini walau terlihat amat dingin dan tidak peduli ternyata memendam perasaan walau kemudian ia memilih cara rumit untuk mencintai sang wanita (karakter ini mirip dengan karakter Leslie Cheung di Days Being Wild yang juga sama-sama misterius dan sulit dimengerti). Berlanjut dengan cerita lain yaitu Chi-Mo (Takeshi Kaneshiro) seorang pria bisu yang kesepian dan hanya tinggal bersama sang ayah sejak kematian ibunya. Suatu hari ia bertemu Charlie (Charlie Young) yang baru patah hati dan mereka berdua terlihat menemukan satu kesamaan. Namun benarkah? Atau sang gadis hanya sedang merasa putus asa dan kesepian sehingga lari kepadanya?

https://cineastoria.files.wordpress.com/2008/05/angeles4.jpg

 Seperti yang banyak terdapat dalam film-film Wong Kar Wai kita akan mendapati tema-tema tentang jatuh cinta dan patah hati, memori yang melukai, cinta dan perasaan yang bisa kadaluarsa dibalut karakter-karakter eksentrik dan petualang terutama penggambaran wanitanya yang independen, kompleks dan sensual. Berterima kasihlah karena Wong Kar Wai selalu tahu aktor yang tepat mengisi karakter leading lady-nya. Bila di In The Mood For Love ada Maggie Cheung yang sempurna dengan keanggunannya, Chungking Express memiliki si pirang misterius Brigitte Lin juga Faye Wong yang tomboi dan selalu penasaran, maka film ini punya Michelle Reis yang kurus dan berbaju ketat, suka merokok, seksi sekaligus kesepian. Juga ada Charlie Yeung yang menggemaskan dan manis bersama Karen Mok sebagai tokoh blonde yang cintanya bertepuk sebelah tangan. Tokoh-tokoh ini mungkin bukan lagi orisinil karena nampak ada kesamaan dengan pembuatan tokoh wanita di film-film Wong Kar Wai sebelumnya namun buat saya mereka tetap sangat menarik karena diperankan aktris-aktris menawan di masanya.

Pesona para karakter ini juga diimbangi dengan jalinan cerita yang mudah membuat penonton simpati. Masih ada teknik membacakan narasi untuk menyuarakan perasaan yang memang menjadi kebiasaan Wai di banyak film lain dan menariknya adalah, teori voice over yang sering dianggap terlalu menjelaskan dan membuat film tidak subtil disini malah sebaliknya. Voice over dalam film-film Wai malah membuat visi karakternya semakin misterius dan sulit ditebak. Soal pembagian cerita sendiri, bila di cerita pertama tone-nya lebih gelap dan muram mengikuti cerita sang pembunuh bayaran maka pada cerita Takeshi Kaneshiro, kita mendapati nuansa komedi yang bahkan bisa membuat kita tertawa geli (lihat adegan Takeshi selalu bertemu seorang cowok berambut gondrong yang tak pernah mau dilepasnya atau saat ia menemani Charlie mengejar si Blonde).

 http://kinotom.com/wp-content/uploads/2015/03/angels4.jpg

Selain itu, bicara tentang Wong Kar Wai tanpa bicara tentang kekuatan gambar tentu rasanya ada yang kurang. Sebagai ciri khasnya, gambar-gambar yang seperti filter dalam Instagram ini tentu tidak akan terlihat sememukau itu bila tidak karena kerja kamera seorang Christopher Doyle. Gambar temaram, biru pudar atau terkena bias cahaya dalam atmosfir serupa mimpi membuat lokasi-lokasi terpencil seperti gang-gang sempit dan pemukiman terasa romantis. Memang harus diakui hanya di film Wong Kar Wai saja suasana rumah makan pinggiran, toko makanan (atau disini bisa disebut warteg?) serta rumah-rumah serupa kos-an terasa istimewa.

Yang terakhir, kembali pada tulisan saya di paragraf pertama, saya bilang kemungkinan besar orang akan jatuh cinta kembali atau malah tidak sesuka ini pada filmnya. Mungkin ada yang bilang ini hanya hanya imitasi lain Chungking Express sementara Chungking lebih menawan dan terasa film yang sempurna untuk orang yang patah hati ingin kembali mabuk cinta.

Sementara Fallen Angels, anggap saja ini seperti kombinasi Days of Being Wild dan Chungking Express ketika dalam adegan penutupnya menggabungkan perasaan sedih dan bahagia, romantisme dan kekosongan, keindahan dan kepahitan, membuat saya tidak tahu apakah harus menganggap film ini manis atau muram.

Namun, adegan itu—gambar jalanan, kendaraan yang melaju kencang beserta kamera yang menyorot selintas langit biru dan bangunan-bangunan besar... semua terlihat begitu indah.

Kita hanya melihat apa yang nampak. Dan film ini mengambil konklusi di persimpangan sementara kita tidak tahu apa kelanjutannya. Saya memastikan ini berulang kali di pikiran, dan mengambil keputusan bahwa adegan itu—yang membuat perasaan tak menentu—hampir sama memikatnya dengan adegan pelukan di tengah keramaian dalam Lost In Translation.  

Dan ini yang membuat filmnya bagus. 

...Mungkin karena jatuh cinta dan patah hati atau kesedihan dan kebahagiaan pun kadang rasanya sama saja (dan tidak penting untuk dipersoalkan) ketika yang paling kita perlukan adalah kedamaian menikmati waktu yang saat ini? Mungkin. 


*Ulasan ini ditulis sambil mendengarkan Only You – The Flying Pockets berulang kali.



 


Baca juga ulasan saya untuk Happy Together (1997) disini.

Comments