Son of Saul (2015) : Saul dan Ilusi Kemanusiaan


Son of Saul // 2015 // Sutradara : Laslzo Nemes, Hungaria // Pemain : Geza Rohrig, Levente Molnar, Urs Rechn


Saul, nama pria itu. Ia tidak memasang ekspresi yang banyak melainkan hanya melakukan apa yang diperintahkan para tentara Nazi yaitu membantu eksekusi para tawanan. Karakter Saul jauh dari dramatis. Dia tidak menangis sekalipun, tidak pula dalam ketakutan akan sekelilingnya. Sedari film dimulai (dalam sebuah momen paling mengerikan tentang horor Holocaust), kita seperti mengikuti seseorang yang biasa… bahkan kita mempertanyakan kenapa ia mampu sebiasa itu di situasi yang paling tidak manusiawi. Sampai ia menjumpai seorang bocah lelaki yang membuatnya terobsesi untuk menyelamatkan. Ironisnya, bocah itu sendiri sudah sedari awal tidak bernyawa.




Begitulah cerita yang mengawali Son of Saul, film besutan Laszlo Nemes. Jangan berharap cerita yang lebih kompleks apalagi berlapis-lapis karena setelahnya film tidak beranjak kemana-mana melainkan hanya mengecilkan fokus pada Saul yang ingin menguburkan bocah lelaki yang dia akui sebagai anaknya tersebut. Tapi apakah anak lelaki itu benar anak Saul? Dan siapakah Saul dan bagaimana ceritanya sampai berakhir menjadi sonderkommando (sebutan untuk tahanan Holocaust yang dipekerjakan untuk membantu mengatur jalannya eksekusi) tidak pernah dijelaskan secara terbuka di filmnya. Ini mungkin akan membuyarkan harapan banyak orang yang menonton film untuk mencari jawaban karena film ini sama sekali tidak menawarkan itu. Son of Saul seperti mengingatkan pada niatan dalam film-film Dardenne bersaudara yang memang ceritanya sering berjalan lepas. Bayangkan LaPromesse (1996) dan Rosetta (1999) dua film yang memfungsikan kamera hanya sebagai stalker; sibuk mengikuti karakter utamanya tanpa ada penjelasan lebih untuk mengumbar sudut pandang lain dari karakter-karakter disekitarnya. Terlebih pada Rosetta yang paling memiliki kesamaan pada Son of Saul dimana film seakan menjadi semacam diary saja dan karakter yang kita lihat di layar tidak diciptakan untuk mewakili penonton melainkan representasi seseorang asing yang jauh dari pemahaman kita sehari-hari. Maka gaya diary ini tidak menuntut apa-apa selain hanya menginginkan kita menjadi pembaca. Gaya diary juga akan mudah membuat penonton terbagi dua : antara yang turn-off karena tak tahu apa motivasi jelas protagonisnya atau yang tertarik menjadikan unclear obsession karakter utamanya sebagai bahan analisa dan khayalan.

Karena saya amat menyukai Rosetta, tentu saya yang kedua.

Buat saya Saul adalah karakter yang luar biasa malah karena ia diperlihatkan sebagai sosok yang biasa; ia adalah satu dari banyaknya korban perang yang dalam desakan untuk survive, mulai terkikis kemanusiaannya. Peranan sebagai anggota sonderkomandoo yang dijalani Saul secara perlahan membuatnya terbiasa dengan melihat darah dan mayat bergelimpangan juga mendengar suara-suara teriakan dari tawanan yang akan dimusnahkan. Dalam situasi yang gelap dan tanpa pilihan disini Saul hanya menempatkan diri sebagai budak, karena pilihannya adalah dia yang mati atau dia yang melenyapkan nyawa orang lain.

Tentu ada luka psikologis yang muncul dalam rutinitas seburam itu. Dalam perjalanannya Saul ingin menyelamatkan mayat seorang anak dari proses pembakaran (hal yang lazim terjadi untuk memusnahkan tahanan) dengan tradisi dikubur dalam agama Yahudi. Keinginan yang terkesan spontan ini bisa banyak kemungkinannya. Mungkin bisa karena di masa lalu Saul memiliki kenangan pahit memiliki anak lelaki. Mungkin juga karena trauma perang yang melibatkan sesosok anak. Tapi kita tidak pernah tahu itu karena  film hanya menyajikan penjelasan yang tipis-tipis (atau malah tidak ada sama sekali) menegaskan ambiguitas yang penuh dan bisa jadi tidak semua orang mau terlibat dalam segala hal yang ambigu di film ini.

Namun tentu  film bagus bukan otomatis menjadi film bagus hanya karena ketidakpastian atau cerita yang menggantung. Yang membuat Son of Saul begitu bagus adalah karena sang sutradara cermat membentuk cerita.  Cerita bukan asal cerita melainkan cerita yang dijahit rapi dan disertakan pula statement-statement yang ketika di akhir film membuat sadar bahwa ada pesan yang begitu dalam terkandung di keseluruhan filmnya. Misalnya, ini dapat disimpulkan dari Saul yang orang Yahudi dan bersikeras ingin mayat (yang mungkin) anaknya dikuburkan dengan cara sesuai agamanya namun sampai akhir film, ternyata hal itu tak terlaksana. Ini adalah ironi yang seakan menegaskan bahwa tragedi Holocaust begitu kejam bukan hanya menelan kemanusiaan namun juga untuk hal yang paling sederhana bisa diwujudkan yaitu kebebasan menjalankan tradisi agama untuk yang sudah meninggal sekalipun.

Contoh lain adalah anak lelaki  yang jadi tanda penting di film ini. Seringkali dalam banyak film (dan juga sebenarnya dunia nyata), anak kecil adalah lambang yang istimewa, sosok yang paling mudah menuai simpati karena identik dengan kepolosan dan harapan banyak orang kepadanya. Penokohan anak seperti ini dimasukkan Laszlo Nemes sebagai pertanda ilusi Saul di tengah-tengah depresi dan ketidakmanusiawian sekitarnya. Namun di sisi lain ilusi itu pulalah yang menjadi titik terang akan karakter Saul yang awalnya abai pada kemanusiaan kemudian memperjuangkannya. Maka saya menangkap seakan-akan filmnya membicarakan kemanusiaan sebagai sesuatu yang memang ada tapi mungkin sifatnya hanya ilusi.



Kerja kamera juga menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan untuk menjaga intensitas penonton sepanjang durasi. Kamera dan Geza Rohrig bekerjasama menangkap jiwa putus asa kadung terobsesi seorang pria, tidak ada dramatisasi sama sekali dari raut wajahnya namun kita amat sadar ada potret kerapuhan didalamnya. Geza disini memainkan contoh akting yang realistis sehingga usai menonton kita bukan seperti melihat “seorang aktor tadi tengah memainkan karakter’’ tapi melihat “seorang karakter”.

Yang jelas, film seperti Son of Saul memerlukan penonton sebagai psychological observer bersama kamera yang mengikuti Saul dan segala tindak-tanduknya. Ini bukan film tentang pertunjukan, apalagi tentang orang bertarung lalu jadi menang. Ini hanya catatan pendek sebuah perjalanan yang memang ikhwalnya berada di sebuah situasi paling kelam dan berdarah sehingga wajar bila bertutur amat depresif. Konklusi filmnya seakan memberi pintu terbuka antara puncak segala ironi sekaligus juga menyerahkan arti kemanusiaan itu sendiri pada kita yang menontonnya. 


 *film ini memenangkan piala Oscar untuk kategori Best Foreign Language tahun 2015


 


Comments

  1. Nice review, btw julukannya bukan sonderkampoo tapi sonderkommando

    ReplyDelete
  2. @anonim makasih perbaikannya. Haha iya itu ketulis sonderkampoo entah darimana...

    ReplyDelete

Post a Comment