Greenberg (2010) : Simpati Untuk Karakter Tak Bersimpati



Greenberg// 2010 // Sutradara : Noah Baumbach, Amerika // Pemain : Ben Stiller, Greta Gerwig, Rhys Ifans, Jennifer Jason Leigh



Ada saat-saat di dalam hidup kita dimana kita merasa gagal, bersembunyi dibalik penyesalan sekaligus kehancuran, tidak tahu apa yang akan dilakukan di masa depan dan akhirnya mengambil jeda yang entah sampai kapan akan kita tinggalkan. Fase itu disebut fase tersesat dan sedang dialami oleh Roger Greenberg.

Greenberg (diperankan dengan efektif oleh Ben Stiller) adalah pria di usia 40-an, gagal meraih mimpi dengan band rock-nya dan memutuskan tinggal untuk sementara di rumah kakaknya yang sedang berlibur ke Vietnam. Greenberg yang pupus dengan cita-citanya lalu banting setir menjadi tukang bangunan dan berjanji akan membangun rumah untuk hewan peliharaan keluarga kakaknya yang tentu saja hanya alasan tipis dan basa-basi saja.



Kenyataannya, dia menghabiskan waktu hanya berdiam di rumah, menulis kritik untuk dikirim ke koran-koran, menimbang perasaan antara Florence (Greta Gerwig---hampir sama dengan persona Frances Ha yang spontan dan menyembunyikan kekalutan dibalik kekikukan) dan Beth (Jennifer Jason Leigh) sembari sesekali bersua dengan sahabat lama sekaligus mantan kawan bandnya dulu----Ivan (Rhys Ifans) yang kini sedang dalam masalah rumah tangga. Di sepanjang film, kisah berkembang dan jadi terombang-ambing oleh keputusan Greenberg yang seakan penuh inkonsistensi. Ia dan Florence sama-sama suka namun Greenberg mudah labil dan berpindah haluan. Sementara Ivan yang baik hati seakan selalu direpoti oleh Greenberg yang selalu memerlukan pertolongan. Jadi sebenarnya ada apa dengan Greenberg?

Noah Baumbach, yang saya kenal lewat The Squid and The Whale dan Frances Ha sering menempatkan karakter-karakter berkepribadian unik (atau lebih tepat disebut punya keganjilan) berjuang menakhlukkan situasi tak terbayangkan untuk terciptanya drama komedi serba kikuk dan spontan. Tapi drama komedi di film-film Baumbach bukan yang jenis memancing tawa lepas apalagi mengocok perut melainkan mendatangkan ketidaknyamanan atas keanehan yang tengah terjadi (ingat adegan Frances lari terbirit-birit ke ATM demi gengsi mentraktir teman kencannya? Atau adegan makan malam yang menempatkan Frances sebagai unlikeable person?). Ini dikarenakan karakter utamanya tidak berusaha melucu melainkan hanya karakter-karakter yang ingin terlihat benar namun seringnya berakhir out of control.

Ketidakmampuan karakter utama mempertahankan kontrol ini yang mungkin bisa membuat beberapa penonton mudah merasa benci karena tidak mengerti. Bila penonton mudah merasa benci, sosok protagonis bisa terlihat antagonis. Walau kebanyakan teman saya berpikir mereka bisa relate pada Frances Ha, secara umum harus diakui Frances bukan tokoh pujaan dan kalaupun disukai hanya karena ia menjadi cerminan jiwa penonton usia 20-an yang pernah terhimpit financial crisis dan career choice issue. Dua tahun keluar lebih awal dari Frances Ha, Greenberg yang dirilis tahun 2010 ternyata punya banyak kesamaan. Lagi-lagi karakter tak bersimpati yang mengajak penonton untuk bersimpati. Tapi berhasilkah untuk film ini?


Buat saya usaha Noah untuk Greenberg tetap berhasil. Agak sulit memang awalnya menebak dan mengerti motivasi tokoh utamanya karena pada dasarnya Greenberg itu memang sedang tertekan dan  tidak ada tujuan. Namun semakin film bergulir, Greenberg membuat kita semakin tertarik untuk menelaah apa yang sebenarnya terjadi dengan dirinya, serupa dengan Florence yang menemukan bahwa keganjilan pria itu adalah daya tariknya.

Ini hampir sama dengan Blue Jasmine (2015) yang juga memasang karakter tak bersimpati yaitu Jasmine yang jauh dari kata likeable. Tapi kenapa sepanjang durasi kita mampu bertahan menonton Jasmine meskipun ia jelas seorang sombong dan tidak tahu diri? Selain faktor akting kuat Cate Blanchett, tidak lain adalah bagaimana Jasmine mampu menuai simpati terhadap petaka-petaka yang ia alami sepanjang film. Greenberg pun begitu, karena kita tahu karakter ini kacau sementara apa yang mereka hadapi kemungkinan besar akan menambah kekacauan mereka.

Dalam salah satu bagian favorit saya di film ini adalah ketika perasaan teralienasi Greenberg di tengah keramaian diperlihatkan dengan teknik adegan-adegan yang diacak tak beraturan antara bertemu satu teman dengan teman lainnya. Adegan-adegan ini hadir untuk menunjukkan ketidaknyamanan Greenberg dalam hal bersosialisasi sekaligus sebenarnya sebuah petunjuk bagi penonton untuk mau mengobservasi kondisi yang dialaminya.

Tapi sekali lagi ini amat bergantung dari minat penonton. Greenberg menjadi menarik karena kita bisa menemukan character study yang memperkaya pemahaman terkait manusia, psikologinya dan hubungannya terkait manusia-manusia lain. Mungkin banyak Greenberg-Greenberg lain di dunia nyata dan kebanyakan dari kita akan dengan mudah membencinya tanpa pernah ingin tahu apa yang terjadi.

Film ini seakan memaksa penonton yang tidak akan peduli dengan karakter tidak bersimpati di dunia nyata untuk setidaknya mau bersimpati dengan apa yang ada di dalam layar. Dan meski Greenberg adalah drama komedi yang serba tak nyaman dengan kerja plot yang suka seenaknya (mengikuti mood Greenberg yang serba mendadak dan labil), ternyata pada ujungnya Noah menyelipkan sedikit harapan cerah.



*Yang terbaru saya menonton Mistress America, film Noah yang lain. Unlikeable character dan komedi serba lepas dan mendadak masih menjadi ciri khasnya.

Comments

  1. Hai, Maudy! Ini random sekali.. Sabtu kemarin saya jalan sendirian di pinggiran kota Jakarta, setelah kehabisan tiket dipemutaran film yang mendapat penghargaan cannes. Mendadak saya teringat pada adegan-adegan dalam film Frances Ha.. perihal idealisme-passion-kesenangan. Mendadak juga saya ingin menyapa kamu. Itu saja, sorry random.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo juga. Terima kasih juga mau mengunjungi dan menyapa saya di blog ini :)

      Delete
  2. Greenberg (2010) : Simpati Untuk Karakter Tak Bersimpati. Greenberg// 2010 // Sutradara : Noah Baumbach, Amerika // Pemain : Ben Stiller, ...
    ผลบอล

    ReplyDelete

Post a Comment