Seks Dalam Showgirls (1995)




Showgirls  // 1995 // Sutradara : Paul Verhoeven, Amerika  // Pemain : Elizabeth Berkley, Gina Gershon, Kyle MacLachan


Coba lihat gambar di atas itu. Begitu sensual, vulgar dan provokatif bukan? 

Seks dalam sinema memang sudah biasa. Ada dari dahulu kala, sudah sejak jaman film belum punya warna. Adegan ciuman sebatas 1 menit dalam The Kiss (1896) saja sudah menjadi kontroversi di masanya, awalan dari sesuatu yang dianggap vulgar namun sekarang akan membuat dahi berkernyit karena dirasa amat remeh. Tercatat pula After The Ball (1897) buatan George Melies----sebuah film yang memeragakan adegan mandi seorang perempuan sebagai salah satu film awal yang berani menampakkan sensualitas. Tentu ada judul-judul lain yang mungkin di luar sepengetahuan saya.



Maka dari masa ke masa, penggambaran seks terus berevolusi mulai dari yang paling malu-malu sampai yang paling liar, dari berbagai gaya, metode cerita, gambaran perempuan dan tentu objeknya. Kita pribadi sebagai manusia dan seks juga tentu punya hubungan yang erat. Karena kita diciptakan memiliki alat reproduksi, maka tentu sangat alamiah bila memiliki keinginan atau hasrat seks.  Itulah juga kenapa manusia wajar berfantasi sesuatu, memiliki angan-angan yang liar untuk mengusir penatnya, angan yang kemudian sering dikembangkan menjadi ide-ide dan plot cerita klasik di film biru atau novel stensilan. Ide dan plot klasik itu misalnya tentang gadis kampung datang ke kota untuk mengejar mimpi namun berakhir di tempat prostitusi (ya ini juga sering hadir di halaman Oh Mama Oh Papa), mengencani bos, lesbianisme antar teman kerja, memesankan gadis panggilan untuk pacar sendiri, kekerasan dalam seks dan segala macamnya. Dan tahukah kamu, semua ide-ide dan plot klasik itu bisa ditemukan di film Showgirls arahan Paul Verhoeven di tahun 1995 ini.

Jujur saya selalu menunda menonton film ini karena selain faktor malas juga karena menyadari dari cuplikan gambar-gambarnya akan berakhir sebagai film yang bisa ditebak seperti apa. Ceritanya memang gampangan kalau tidak mau dibilang skenarionya berantakan, tentang Nomi Malone (diperankan Elizabeth Berkley dengan rambut keriting ala mie mengingatkan pada Malvin Shayna, bom seks versi kearifan lokal) yang mencari mimpi di gemerlap Las Vegas sebagai penari pertunjukan. Ia sudah bekerja sebagai stripper di bar Cheetah namun masih punya niatan kuat untuk menjadi bintang panggung pertunjukan Stardust dimana Cristal Connors (Gina Gershon) menjadi ikon utamanya. Bisa ditebak, akan ada formula All About Eve antara Nomi dan Cristal yang saling mencemburui (namun juga tergoda secara seksual satu sama lain?) untuk memperebutkan peran bintang nomor satu di Stardust. Namun selain itu, film juga menyorot hubungan Nomi dengan Zack Carey (Kyle MacLachan) kekasih Cristal, persahabatannya dengan Molly (Gina Rivera) dan pertanyaan tentang siapakah Nomi sebenarnya.

Dan harus saya bilang dua kali : skenarionya berantakan. Skenario yang ditulis Joe Ezterhas seakan-akan hanya memuaskan semua mimpi basah di dalam tempurung otaknya tentang apa itu seks. Tentu mengasyikkan, kapan lagi menulis skenario sembari memamerkan fantasi pribadi dan beruntungnya Paul Verhoeven menyutradarainya tidak dengan cara sembarangan. Maka menonton Showgirls pun menjadi sebuah enjoyable experience : semacam tahu filmnya jelek dan tata ceritanya kacau minta ampun tapi kita mau mentolerirnya. Apresiasi terbesar harus disematkan pada protagonisnya yaitu Elizabeth Berkley yang bukan hanya berani tampil telanjang bulat berulang kali dan penuh penjiwaan menekuni sejumlah adegan seks tapi juga mampu membawakan karakter yang super bermasalah namun tetap bisa memancing simpati. Nomi Malone adalah karakter gadis kampung dengan masa lalu gelap, lugu, tidak pintar (saya suka sekali adegan dia salah menyebut nama Versace itu) tapi di sisi lain juga ambisius dan jinak-jinak liar. Penambahan sifat temperamen dan over-sensitif-nya malah membuat karakter Nomi Malone menjadi semakin menarik disimak terlepas seberapa anehnya pengadeganan atau logika cerita yang terjadi sepanjang film.



Catatan menarik lain tentang Showgirls adalah soal ketelanjangannya sendiri. Saya setuju dengan pendapat Ebert, mengutip dari reviewnya yaitu “saking banyaknya ketelanjangan, bagian yang paling seksi malah ketika gadis-gadis itu memakai pakaian.” Disini Elizabeth Berkley dan Gina Gershon puluhan kali buka baju, buka celana, menari binal, terekspos keindahan tubuhnya dari atas dan bawah sampai ada di pertengahan cerita dimana saya malah merasa ganjil kalau mereka pakai baju. Kenapa ya? Apa karena terlalu berlebihan jadi malah membosankan? Apa karena terpengaruh pemikiran kalau yang tertutup atau “mengintip” yang jauh lebih menggoda? Ah tapi begitu adegan kolam berenang ternyata filmnya kembali menjalankan fungsinya sebagai film yang tekun menjelajah tema seks. Adegannya berani, liar dan tentu sayang dilewatkan.

Meski ketelanjangan menjadi highlight utama filmnya, Paul Verhoeven tetap menjaga ritme filmnya jadi asyik dan jauh dari kata membosankan. Saya pernah baca di satu wawancara kalau Paul bilang Showgirls bikinannya adalah film yang elegan. Opininya bisa dibuktikan lewat beberapa adegan di panggung pertunjukan Stardust saat semua orang menari dengan kilauan manik-manik dan cahaya disiapkan matang. Seksi dan indah. Nampak Paul Verhoeven sebenarnya sanggup membuat potensi filmnya tergali sempurna seandainya saja memiliki naskah yang jauh lebih baik. Namun tak apa jugalah. Toh filmnya juga tetap saya suka.

Yang saya agak berat untuk tolerir sebenarnya hanya ketika film bergerak menuju ke konklusi akhir. Suasana mendadak berubah seram dan menegangkan seakan ini film esek-esek Indonesia 90-an yang memang suka berubah suasana secara tidak pas. Adegan pemerkosaannya terasa terlalu kejam dan realistis sementara penutupannya seakan hanya begitu saja. Mungkin kalau di Basic Instinct, adegan seperti itu amat wajar mengingat nuansa yang dibangun memang cocok menyempurnakan genrenya yang erotic thriller. Namun di Showgirls menjadi aneh karena mungkin saya lebih ingin film ini menjadi drama erotis yang fokus pada perjuangan Nomi Malone. 

Di adegan berikutnya saya malah dibuat tertawa ketika Nomi memukul telak sang penjahat dengan jurus-jurus mahir bak murid karate. Waktu itu saya berpikir jangan-jangan Showgirls ini sebenarnya memang jelmaan film esek-esek Indonesia mengingat Berkley mirip Malvin dan Gina mirip Febby Lawrence. Entahlah. Ketika filmnya selesai, saya antara terhibur namun tetap terganjal adegan kekerasan seks Molly tersebut. Kalau saja tidak ada adegan itu mungkin saya akan kasih filmnya bintang sempurna.


Terlepas dari kesalahan-kesalahan (dan keanehan) yang saya sebut di atas, Showgirls yang mungkin ada di daftar film terburuk versi banyak orang adalah film yang tidak buruk buat saya. Membosankan saja jauh. Menghibur? Jelas, karena terasa effort besar Verhoeven dan Berkley. Saya sendiri bukan tipe penonton yang percaya guilty pleasure namun memang filmnya dibuat tidak serampangan meski amat terseok-seok dari segi penceritaan.

Oh ya, satu lagi alasan kenapa filmnya buat saya baik. Karena secara tidak langsung, meskipun menampilkan ketelanjangan yang over the top seakan-akan itu jualan utama, Showgirls tetap ingin menyuarakan sesuatu yang sebenarnya bisa ditangkap penonton bila saja tidak terlalu sibuk memandang moleknya tubuh Berkley. Pesannya sederhana saja : bahwa mimpi di kota gemerlap tidak selamanya indah dan kebanyakan berakhir pahit, bahkan tragis. Ini tidak klise, namun realistis.





Comments

Post a Comment