Long Vacation (1996) dan Televisi Kita...


Saya bukan ahli kritikus acara televisi atau orang yang paham betul bagaimana pergerakan serial televisi di Jepang sana. Tapi bila yang dimaksud adalah tentang di Indonesia, bahkan tanpa perlu menjadi seorang kritikus pun sudah banyak yang tahu jelas bagaimana cara mendeskripsikannya. Pertelevisian kita punya corak yang cukup membosankan ; acara pagi diawali oleh acara musik/infotainment, siangnya FTV atau acara talkshow, sorenya kembali infotainment, sedang pada jam prime time yaitu malam hari sudah pasti serbuan sinetron yang paling mendominasi. Corak ini sudah menjadi hapalan apalagi semenjak sinetron mengukuhkan trend stripping-nya, sebuah gaya baru dari keinginan untuk segera cepat saji meraup rating dan iklan. Cara stripping ini jelas rentan merusak format sinetronnya sendiri, mengingat secara tekhnis para pembuatnya kerja dari pagi sampai pagi lagi untuk membuat episode-episode yang kejar tayang. Dengan keadaan dan tren yang terus berlanjut demikian, rasanya susah untuk membayangkan punya serial semacam Long Vacation (1996) di televisi nasional kita. Keberadaan sinetron format weekly sudah langka, apalagi sebuah format serial dengan jumlah episode yang cuma belasan. Long Vacation lahir dari proses kreatif Eriko Kitagawa, membawa cerita cinta sederhana dengan kumpulan karakter menarik dan  banyaknya perubahan yang berjalan mengalir hanya dalam kapasitas 11 episode.



Keterlibatan The Graduate

Long Vacation kuat di permainan para peranannya. Disini bisa dibilang penulis skenarionya cukup jempolan. Ia membuat banyak karakter, tentu spasi lebih pada kedua tokoh utama (Sena - Minami) namun bukan berarti yang lain hanya melintas. Yang lain bahkan memiliki kepentingan timbal balik pada tokoh utama, yang membuat kita bukan cuma terpaut pada dua tokoh sentral namun juga kelangsungan hidup tokoh-tokoh lainnya. Kedalaman karakter ini tentu hal yang susah ditemukan di sinetron-sinetron kita, yang hanya memamerkan sebuah kepribadian tipis yang klise dan mudah ditebak.

Sena misalnya, digambarkan sebagai tokoh pianis muda yang pasif dan introvert, sedang mempertanyakan passionnya pada piano. Kegalauan Sena ini mampu dibaca dengan jelas lewat adegan per adegan, bukannya lewat voice over dalam hati (seperti sinetron sinetron lokal). Bahkan bila penonton bisa lebih jeli, kita bisa menangkap lebih jauh tentang karakter Sena dan Minami ini. Saya juga pribadi menyukai karakter Minami : seorang wanita dewasa yang sepertinya memilih bertingkah dan berperawakan seperti anak kecil untuk menutupi kenyataan ia sudah berumur matang.



Ada satu lagi yang mesti digaris bawahi, bahwa Long Vacation mengingatkan pada salah satu film favorit saya, The Graduate milik Mike Nichols. Mungkin penulisnya merupakan penyuka film ini, karena secara sadar tak sadar banyak sekali unsur (baik cerita atau karakter) di The Graduate yang bermunculan disini. Seperti contohnya Sena - Minami yang secara jelas berbeda usia cukup jauh, membuat kita mudah untuk mendeskripsikan mereka sedang terlibat sindrom "Mrs. Robinson & Ben Braddock". Masalah Sena yang menghadapi struggling dengan masa depannya juga cukup mengingatkan pada kegalauan yang sama yang dialami Benjamin Braddock. Pada satu adegan disebuah episode juga terang-terangan dua karakter ini berbicara tentang film The Graduate, tentang pengantin yang ditinggal kawin. Bahkan bila perlu (tanpa bermaksud spoiler) awal dan ending serial ini pun punya hubungan cukup kuat dengan The Graduate.

Simak salah satu adegan saat Minami berkata tentang bagaimanakah perasaan orang yang ditinggalkan menikah dalam film The Graduate? Sena membalas dengan, "There's no spotlight on the supporting role. The cameras don't even go after the supporting role. What rigid rules."
Minami bertanya balik, "The Movie?"
Sena menjawab, "No, life."

Wah. Rasanya jarang-jarang bisa menemukan sebuah drama TV yang tidak hanya bersandar pada permainan karakter, namun juga cerita yang kuat dan deep macam ini.

Chemistry dan Peluk Cumbu

Salah satu bukti keunggulan penulis dan pembuatnya dalam meramu Long Vacation juga mampu dilihat dari keberhasilan chemistry antara dua tokoh sentral. Temuilah di episode pertama, sudah terlihat benturan karakter yang saling berbeda antara Sena - Minami. Berangsur-rangsur semakin episode berjalan, kita mengenal mereka yang saling asing dan tak akur ini bertransformasi menjadi sepasang teman yang dekat dan akhirnya saling tertaut satu sama lain. Chemistry pasangan bisa dibilang berhasil bila membuat penonton mudah lunak dan cepat tanggap akan emosi yang bermuara. Kita dihidangkan banyak kondisi ; pertengkaran, pertemanan, adu mulut ringan, konflik besar yang memancing emosi, sampai akhirnya datang cinta dan kegamangan mereka untuk menerimanya. Sebagai penonton, saya bisa menangkap itu semua dari seperangkat panjang episode yang terjalin, datangnya tidak tiba-tiba namun mengalir. Hubungan yang terjadi antara Sena - Minami adalah love-hate relationship, kita bisa melihat mereka begitu mencintai namun disisi lain masih berkeras pada ego masing-masing. Perjalanan menikmati hubungan jinak tak jinak ini adalah kemampuan sang pembuat mengikat kita pada ceritanya sehingga gambaran romansa pun jauh dari kata dipaksakan atau membosankan.

Dan tentunya dalam seperti di film-film umumnya, adegan ciuman dan berpelukan masih merupakan satu formula yang menggambarkan perasaan cinta sepasang manusia, seperti halnya yang juga digunakan Long Vacation untuk memperlihatkan puncak romansa Sena - Minami. Adegan menuju ending ketika mereka berciuman "secara brutal" adalah salah satu adegan yang manis buat saya, dan salah satu bukti penyampaian romansanya berhasil memikat hati penonton. Adegan itu membuat saya tertawa sambil menyaksikan bagaimana chemistry berhasil dipadu kedalam sebuah adegan yang tepat memang bisa meninggalkan kesan bagi penontonnya.

Masalah untuk televisi kita, menurut saya, selain lebih suka membuat chemistry instan lewat penggambaran adegan-adegan yang jauh dari realistis (misalnya satu tokoh jatuh, sang pria lalu menangkap dan voila! zoom in pada ekspresi sinetronis saling jatuh cinta keduanya) adalah adanya keterbatasan sensor oleh televisi itu sendiri. Adegan ciuman dan penggambaran making love yang seperti tersaji di Long Vacation rasanya tidak mungkin ada di televisi kita (apalagi untuk siang dan kategori prime time malam) selain digunting habis oleh sensor. Jadi untuk membayangkan seorang pembuat sebebas-bebasnya membuat penggambaran untuk sebuah adegan romantis mesti banyak menemukan keterbatasan. Seingat saya pribadi, semenjak tahun 2004-2005 saya tidak bertemu lagi dengan adegan ciuman yang leluasa di televisi nasional. Tidak satupun, tidak pada jam berapapun.

Judul "Long Vacation" sendiri bukan judul sembarangan namun punya arti yang cukup bermakna. Digambarkan oleh tokoh Sena, Long Vacation adalah sebuah masa rehat sementara bagi manusia untuk sejenak bersantai sambil merenungkan kembali apa yang telah diperbuatnya dan kemudian segera bangkit untuk menentukan keputusan apa yang akan diambilnya. Judul berhasil merangkum cerita cinta dan pergulatan hidup Sena - Minami dengan tepat, tentu sangat jarang menonton sebuah produk televisi yang menyajikan sebuah filosofi cukup dalam tentang "liburan panjang" pada penontonnya.

Alhasil, ini mungkin bukan serial dengan cerita teramat istimewa atau malah sangat sempurna. Serialnya punya cerita sederhana, dengan karakter-karakter alami dan hubungan cinta yang manis. Long Vacation, seperti judulnya, memang sebuah liburan panjang yang menyenangkan. Menyenangkan karena kita tidak melulu diajak menyelami kehidupan cinta para tokohnya, namun sering juga tentang passion, pilihan hidup dan kebimbangan cita-cita.

Terlalu muluk mungkin, namun saya kerap bermimpi suatu hari bisa menemukan tayangan seperti ini dalam dunia televisi Indonesia.


*Long Vacation melahirkan banyak kesuksesan baik untuk pemerannya atau bahkan pengisi soundtracknya. Penulisnya, Eriko Kitagawa, masih menulis dan melahirkan serial sukses lainnya setelah Long Vacation. Para castnya-----siapa yang tak tahu Takuya Kimura? dan Takako Matsu bermain di film Confessions (2010). Takenouchi Yutaka si pemeran Shinji juga menjadi salah satu aktor Jepang yang terkenal dijamannya, juga terkenal karena berperan di serial Beach Boys.

*Untuk urusan soundtrack, mereka yang sudah menonton serialnya pasti sudah tidak asing dengan lagu theme song La La La (Love Song) dan sejumlah lagu lainnya. Cagnet adalah salah satu band pengisinya, yang kemudian setelah popularitas serial ini juga membuat nama bandnya meroket di Jepang.

Comments