Catatan Menonton Paruh Terakhir 2015 (III - selesai)

Akhirnya tiba juga saat untuk menutup tahun. Catatan menonton saya pribadi ini berakhir disini, dengan sederet film-film yang saya tonton di waktu senggang atau saat sedang sempat-sempatnya. Meski judulnya Catatan Menonton 2015, harap dimaklumi bila rangkuman film-film ini datang dari tahun yang beragam. Untuk film Indonesia sendiri, saya pisahkan tulisan saya untuk kolom khusus yaitu Catatan Menonton Film Indonesia Sepanjang 2015.

Entah ingin mengucapkan apa di tahun 2015. Doa saya nampaknya sederhana saja : agar di tahun 2016 saya menulis lebih banyak, menonton lebih banyak dan mencintai film yang juga lebih banyak. Semoga!


THE EXTERMINATING ANGEL (
Luis Bunuel, 1962)




Berawal dari menonton Midnight In Paris, barulah saya tertarik menonton The Exterminating Angel, sebuah film dengan premis unik : tamu-tamu kalangan elit yang tidak bisa meninggalkan ruangan saat makan malam bersama seberapapun mereka sadar akan kemunafikan yang mereka tengah hidupi. Sebenarnya perlu paragraf panjang untuk membedah film ini karena filmnya banyak memuat beberapa metafora serta simbolisasi. Yang paling pasti terbaca, film ini memaparkan situasi kelas atas dalam ruangan berbatas dimana kita melihat amat jelas kebusukan yang sedang dipraktekkan satu sama lain. Meski beberapa dari tamu tersebut mengakui betapa memuakkannya hipokritisme dan basa basi yang sedang mereka jalani, Bunuel seakan ingin mengejek bahwa menjadi borjuis adalah tentang usaha mempertahankan kemunafikan serta basa basi itu, sehingga sekotor dan semenjijikkan apapun diri sendiri, mereka akan tetap memilih bertahan di ruangan agar tak lepas dari label agung borjuisme.


 AUGUST : OSAGE COUNTY (John Wells, 2013)

 

Tontonlah film Asghar Farhadi sebelum menonton film ini, untuk tahu betapa jauhnya perbedaan film dengan cerita keluarga yang terasa alami dan terasa begitu memaksa. Dalam August : Osage County, selain panggung luwes Meryl Streep (lagi-lagi Meryl!) dan Julia Roberts, yang ada hanya babak kekacauan demi kekacauan tanpa mengundang perasaan penonton kecuali rasa penat untuk segera melihat penyelesaiannya. Tema keluarga disfungsional memang sangat menarik namun August : Osage Country merencanakannya dengan begitu berantakan sehingga hanya terlihat gambaran keluarga yang jauh dari kesan realistis : paruh utamanya baik, tapi setelahnya makin runyam.




NO ESCAPE (John Erick Doodle, 2015)



No Escape adalah rollercoaster jantung yang berkesan dan tidak pernah menyangka akan seperti itu jadinya ketika saya mengunjunginya di bioskop. Terjebak dalam kekacauan kudeta bagai menjadi tikus yang masuk sarang kucing : mengerikan, menakutkan dan menggelisahkan. Lari dan sembunyi dari kejaran seperti ini mungkin formula biasa dalam film horor tapi menjadi terasa lain ketika disuguhi cerita berlatar huru-hara politik. Terasa dekat untuk Indonesia yang pernah mengalami kerusuhan paling besar di 1998? Untuk itulah mungkin suasana yang ditangkap No Escape nampak bagai mimpi buruk dan harus saya bilang bahwa film ini sebenarnya cukup punya gambaran kekerasan yang tajam. 

Orang mungkin akan menganggap film ini hanya menjual isu kudeta sebagai eksploitasi belaka, tapi saya rasa memang pembuatnya ingin begitu. Bila dipandang sebagai film thriller-action, No Escape toh menyajikan tontonan yang tidak akan membuat kamu mengantuk bahkan untuk satu adegan pun. Percayalah.





TINY FURNITURE (Lena Dunham, 2010)


Menontonnya saya agak teringat Frances Ha. Lena Dunham dalam Tiny Furniture bisa jadi adalah teman kita atau kita sendiri : seorang peragu, bingung dengan rencana dan masa depannya, terbuka untuk kompromi dan selalu melakukan kesalahan-kesalahan yang mungkin terkesan tidak dewasa, namun juga adalah bagian sindrom para dewasa muda di usia 20an. Lihat bagaimana Lena mau berkompromi dengan temannya yang sebenarnya menyebalkan itu dan bagaimana ia merasa dibebani sosok adiknya yang ramping dan lebih berprestasi atau coba tengok keputusannya bekerja sebagai hostess setelah lulus kuliah.

Dalam Tiny Furniture, semua sama sekali tidak digambarkan dengan dramatis melainkan amat datar seakan kamera hanya tinggal ditaruh saja depan pemerannya. Tapi bila diingat lagi, anti-dramatis nya itulah yang mungkin membuat Tiny Furniture begitu hidup dan terasa dekat dengan kehidupan kita. Layaknya hidup, ia tidak ada plot, tidak ada tujuan dan mengambang----suatu momen bisa terlihat lucu tapi bila dipikir lagi, sebenarnya amat menyedihkan. Juara untuk Lena Dunham.


SICARIO (Denis Villeneuve, 2015)


Sicario membawa kembali sebuah diskusi moralitas bahwa ada yang memaklumi tindakan melenyapkan hidup orang lain sebagai sesuatu yang mesti dibenarkan dan ada yang masih sulit menerima realita tersebut (Kate Macy, karakter yang direpresentasikan oleh Emily Blunt). Yang menarik dari film ini adalah visi tentang konflik dalam diri manusia dan kemanusiaan itu sendiri dalam dunia yang memang jauh seindah bayangan. Kate Macy nampak lugu di film ini tapi dia sebenarnya adalah wakil kita yang masih kaget menerima realita dunia yang kejam, bahwa dunia adalah tentang siapa yang membunuh lebih dulu sebelum dibunuh, bahwa ketidakadilan adalah sistem yang mungkin sudah mengakar dan harus diakui keberadaannya. Maka ketika di suatu adegan akhir Kate ingin menembak Allejandro Gillick (pria dingin bermata setajam peluru diperankan Benicio Del Toro) namun ia ternyata tidak sanggup, kita melihat cerminan moralitas yang ada di dalamnya diri masih jauh di  luar dunia yang menjadi tempat tinggal Allejandro : sebuah dunia tanpa belas kasihan dan penuh kekerasan. 

Salah satu film terbaik tahun ini.




THE INTERVIEW (Seth Rogen, Evan Gonberg, 2014)

 

Yang harus diketahui tentang film ini : filmnya ternyata tidak seburuk bayangan. 

Yang harus diingat tentang film ini : bahwa film ini milik, tentang dan dari Amerika. 

Maka jangan heran kalau segala hal di dalamnya menyanjung Amerika sebagai pihak penyelamat, menyampaikan selancang mungkin tentang definisi Korea Utara, pemerintahan dan dunia didalamnya yang mungkin dalam pandangan tak cukup luas. Melihatnya sebagai hiburan saja akan melegakan, mungkin, walau klise khas Amerika-nya begitu kental. Semacam film yang skenarionya ditulis sambil mabuk untuk keperluan membuat penonton tertawa. Kacau, tetapi setidaknya tidak sampah.




P.K (
Rajkumar Hirani, 2014)

 

P.K menceritakan tentang pencarian Tuhan dan menyindir demam popularitas pemimpin spiritual yang makin lama petuahnya makin tidak rasional. Entahlah. Saya tidak merasa semua itu terbungkus dengan kesan, rasa-rasanya cerita itu sudah pernah saya lihat dan ketika dieksekusi pun terasa mendakwah. Dibalut komedi dan pesona romansa pun tidak membantu karena ternyata semua bisa ditebak serta ada sumpalan twist yang rasanya teramat dibikin-bikin.




MOMMY (Xavier Dolan, 2014)

 

Yang terasa memikat dalam hubungan Die dan anaknya, Steve adalah bagaimana keduanya susah payah membangun pondasi keluarga walau hanya berdua dan terbatasi oleh emosi masing-masing. Bukannya terasa berjarak dan mengganggu, hubungan ibu-anak ini malah terasa unik karena mereka sama-sama urakan dan gila. Tidak ada yang terpaksakan. 

Saya suka melihat film ini bicara tentang kontruksi keluarga, bagaimana Kyla yang sebenarnya sudah punya keluarga juga ingin masuk dalam situasi keluarga lain yang tak utuh terbangun (kalau tidak bisa dibilang runyam) dan kemudian ikut menyempurnakan pondasinya. Hiasan lagu-lagu semacam White Flag - Dido terutama Wonderwall - Oasis membuat film ini punya energi tersendiri, bagian terbaiknya adalah saat Steve merentangkan tangannya itu. Mendadak membuat kita sadar bahwa ukuran layar yang kecil adalah interpretasi akan kehidupan yang rumit, tidak mengenakkan serta membatasi sebelum akhirnya sejenak berubah luwes dan melegakan. 

Sayangnya, hanya sejenak.





SPEAK (Jessica Sharzer, 2004)


Dalam Speak, tidak bicara adalah pertanda hak yang terabaikan atau bisa jadi pertanda ketidakpercayaan akan didengarkan. Bicara adalah pola untuk terbuka, menjadi jujur dan mempercayai lawan bicara, namun Melinda Sordino yang diperankan Kristen Stewart menyadari bahwa semua tidak semudah itu. Kita mungkin pernah mendengar beberapa korban kekerasan seksual mengalami trauma dan merasa takut untuk mengutarakan apa yang terjadi, persis seperti yang dialami Melinda. Speak secara sederhana ingin memperlihatkan kita momen pernuh ketakutan dan keterasingan tersebut, juga ingin menyorot situasi sosial di lingkungan sekolah dan keluarga yang seakan malah tak peka pada trauma batin yang dialami tokoh utamanya. Meski filmnya tak jadi sekelam Trust, namun dengan mudah kita merasakan emosi dan simpati Melinda yang menolak bicara. Bagus.




THE PAST (
Asghar Farhadi, 2013)


 

Adegan pertama The Past memperlihatkan dua orang yang bertemu dan saling berbicara namun terpisahkan bingkai kaca. Adegan ini seakan menggambarkan situasi pasangan yang terlihat masih saling peduli meskipun ada jarak untuk dapat berkomunikasi dengan jelas.

Sama dengan film-film sebelumnya, Asghar membawa dunia rumah tangga yang sederhana menjadi terasa kerumitannya lewat cerita yang makin tak tertebak bagaimana ujungnya. Adegan-adegannya di dalamnya terjalin dengan utuh, sangat alami dan seringkali emosional----karena kita mencintai setiap karakter di dalamnya yang berdiri dengan motifnya masing-masing. Film ini memberikan kita sebuah pertanyaan tentang peliknya dilema yang mereka (atau kita) nanti hadapi di dalam hidup : ketika masa lalu adalah sesuatu yang ingin kita lupakan tapi di saat yang sama, mungkinkah kita mengambil keputusan tanpa terpengaruhi oleh dampak masa lalu?




KNOCK KNOCK
 (Eli Roth, 2015)


Kabar gembiranya adalah separuh durasi Knock Knock itu membuat saya hampir berpikir film ini pasti akan menyenangkan. Dalam pikir saya, film ini pasti tentang pertarungan seru dua pihak : dua perempuan muda yang sudah gila dan pria yang ingin mempertahankan kesucian statusnya sebagai suami yang sempurna di mata istri serta dua orang anaknya. Namun kabar buruknya Eli Roth tidak menjadikan film ini sebagai media pertarungan dan balas membalas itu. Yang ada malah kekuasaan satu pihak menguasai pihak lain sementara posisi tokoh utama dijadikan pasif (kalau tidak mau dibilang tidak bisa melawan sama sekali). Padahal kalau seandainya begitupun tak mengapa, asal kita diberikan motivasi dan simpati pada dua perempuan manis namun nista ini. Knock Knock akhirnya cuma terangkum atas awalan yang menjanjikan, paruh tengah yang menggoda dan berakhir dengan kekecewaan besar. Tapi hei, mungkin saja pasifnya aksi tokoh utama di film ini disengaja pembuatnya? Itu bisa jadi untuk menggambarkan dominasi wanita pada pria ketika pria selalu digambarkan sebagai penguasa dan pemenang, bukan? Ya bisa saja. Namun asal tahu saja, Eli Roth, saya tidak peduli. 





GREASE (Randal Kleiser, 1978)
  
 

Bagaimana membuat musikal tentang masa SMA? Adalah dengan mengambil fokus cerita cinta remaja, menggiring John Travolta - Olivia Newton John serta diisi lagu-lagu yang enak dinyanyikan bersama. 

Meski juga bicara soal passion, masa depan dan masalah penting yang dapat dialami remaja belasan (isu kehamilan oleh karakter Betty Rizzo) namun Grease tak mau begitu terfokus pada semua itu. Itu hanya bumbu sekilas saja. Grease ingin merayakan masa SMA dengan hati riang, tidak repot membuat pusing atau berpikir ruwet tentang sepanjang ceritanya. Maka sebagai pelepas penat, saya begitu menyukai Grease dan tidak begitu mempermasalahkan visinya sebagai murni hanya film hiburan. Toh hasilnya begitu menawan dan  menyenangkan. Klasik!




ME AND EARL AND DYING GIRL (Alfonso Gomez Rejon, 2015)


Me and Earl and Dying Girl berhasil menyajikan cerita yang mungkin sekarang bisa dibilang menjemukan menjadi sebuah tontonan yang relateable dan bahkan heartwarming. Yang membedakan film ini dengan film-film remaja bertema sejenis (gadis menderita penyakit, hidupnya tinggal sebentar lagi dan ada seorang pria datang ke hidupnya) adalah penanganan yang sewajar-wajarnya, tenang dan santai serta jauh dari kesan melodramatis. Ketika romansa malah tidak diumbar dan fokus adalah pada cerita persahabatan dan kebingungan soal masa depan, Me and Earl and Dying Girl malah menjadi lebih berkesan. Sehabis menonton, saya sadar ini adalah film yang bagus karena filmnya terus bertahan di pikiran saya berhari-hari----ketika saya sadar apa yang tidak dipaksakan malah jauh lebih kena di hati.

Hal lain yang  membuat film ini jadi berbeda adalah juga nuansa filmnya yang terasa catchy dan unik. Banyak referensi film yang berseliweran dari karya Greg dan Earl yang punya kebiasaan memparodikan film-film klasik. Momen terbaik di film ini justru ketika Rachel menonton film yang dibuat Greg dan Earl----film pertama mereka yang jauh dari parodi dan catutan referensi, merangkum banyak gambar yang begitu orisinil dan indah. 

Love it.




PRETTY IN PINK
 (Howard Deutch, 1986)


Ditulis oleh John Hughes yang memang bapaknya film bertema gula-gula manis remaja, Pretty In Pink memaparkan cerita cinta segitiga antara seorang gadis eksentrik, prince charming populer di sekolah dan seorang lelaki geek yang hobi melucu. Tentu bisa ditebak ceritanya : gadis ini menyukai si prince charming yang kaya dan punya reputasi di antara teman-temannya ketika sang lelaki geek mencintai sang gadis eksentrik namun tak berani mengutarakan. Meski ceritanya ringan dan terkesan hanya begitu saja, semua hal dalam Pretty In Pink nampak begitu berhasil mengelola cerita itu menjadi sesuatu yang bukannya membosankan apalagi melelahkan untuk ditonton. Polesan semua karakter adalah yang paling utama yang membuat problema cinta segitiga ini nampak memikat : mungkin karena kita pernah menjadi sosok Andie yang hanya gadis biasa-biasa saja di sekolah, mungkin karena kita pernah mengalami masa menyukai seorang lelaki yang populer dan beda kelas dari kita seperti Blaine atau mungkin ada lelaki seperti Duckie di masa SMA yang menaruh hati pada kita.


Hal yang mendasar dalam semua film-film besutan atau naskahnya ditulis John Hughes memang adalah tentang karakter-karakter anak sekolahan yang punya pesona, maka jangan merasa malu bila kamu menemukan diri jatuh cinta pada senyuman Blaine atau tingkah polos nan menggemaskan Duckie.  Film ini memang bekerja amat manis untuk membuat kita ingat indahnya menjadi remaja.





MAD MAX : Fury Road (George Miller, 2015)



Di nomor terakhir adalah film yang entahlah apakah penilaian saya masih ada gunanya untuk didengarkan toh (kebanyakan) yang menonton juga amat menyukai filmnya. Dan memang benar, film tentang sebuah daerah yang dikuasai pemimpin zalim dan usaha memperoleh keadilan ini punya segala hal yang membuatnya dengan mudah dicintai : bukan saja karakter Furiousa yang mewakili tokoh perempuan tangguh atau Mad Max yang menjadi pendampingnya tapi bahkan seluruh karakter di film ini amat menarik untuk dijadikan bahan perbincangan. Saya tidak pernah menonton Mad Max yang lain sebelumnya, namun jelas Mad Max : Fury Road adalah satu yang terbaik sepanjang tahun 2015.

Comments

Post a Comment