Catatan Menonton Film Indonesia 2015






Pengantar : Untuk seseorang yang ekonominya masih labil, menonton film di bioskop harus memperhitungkan baik-baik soal biaya dan pengeluaran. Itulah mengapa saya kemudian tidak bisa menonton semua film Indonesia. Selain berbatas biaya, hampir banyak (saya tidak mau bilang semua) pengalaman menonton film lokal tidak menyenangkan sehingga faktor biaya bercampur rasa kecewa pun membuat saya pikir-pikir lagi. Saya tentu sangat salut dengan mereka yang menonton hampir semua film Indonesia keluaran 2015, yang bahkan ketika mendapati film-film buruk pun tetap tak terluka psikisnya dan bersemangat menonton yang lain lagi. Tentu inginnya di tahun 2016 kondisi keuangan saya stabil sehingga meski terluka oleh-oleh film jelek akan tetap menonton semua film Indonesia. Bila memungkinkan, nantinya saya akan membuat catatan sederhana semacam ini lagi. 




Untuk film-film tahun 2015, harus diakui banyak karya penting di ajang-ajang penghargaan seperti Siti (Eddy Cahyono), Mencari Hilal (Ismail Basbeth), Guru Bangsa : Tjokroaminoto (Garin Nugroho) dan Filosofi Kopi (Angga Sasongko) yang saya lewatkan. Penyesalan yang besar tentu, karena film-film itu banyak menuai pujian juga kabarnya memiliki konten prima. Yang saya berhasil tonton di tahun 2015 (menilik dari data filmindonesia.or.id) adalah yang keluar bulan Januari dan Februari yaitu Hijab (Hanung Bramantyo), 2014 (Rahabi Mandra, Hanung Bramantyo) dan Kapan Kawin (Ody C. Harahap). Terlepas dari hasil akhir buruk atau bagus, ketiganya punya catatan yang menarik. Hijab menangkap pergerakan wanita yang berusaha mandiri dari peranan hanya sebagai ibu rumah tangga lengkap dengan potret dunia yang digambarkan penuh dengan cekikikan dan keruwetan layaknya situasi wanita kalau sudah arisan bersama.  2014 mengangkat tema politik yang juga masih amat jarang diangkat, ketika Kapan Kawin menjadi komedi romantis yang bertumpu pada chemistry manis dua bintang utamanya. Film ini amat terbantu akting Reza Rahadian yang ditemani Adinia Wirasti mampu membuat situasi komedi yang mereka isi terasa meyakinkan dan pas. Meski tiga film ini saling berbeda satu sama lain, bisa terbaca niatan besar pembuat Indonesia untuk memadu-padankan isu-isu aktual (hijab dan bisnis online yang tengah tren, politik jelang pilpres, isu pernikahan bagi lajang yang amat penting di Indonesia) dalam medium film. Tentu kita berharap ini mengarah pada isu-isu aktual lainnya yang dipersiapkan dan dieksekusi dengan cara yang jauh lebih baik lagi. 

Dan ya, saya menonton Comic 8 : Casino Kings Part 1 (Anggy Umbara) itu. Film Anggy Umbara yang memborong para stand-up comedian beserta perayaan efek visual yang megah meriah ini menandai tren perpaduan komika dan layar lebar yang memang sedang berada di puncaknya. Ketika film-film yang memasang nama stand-up comedian menjadi magnet yang menarik penonton, Comic 8 yang punya perolehan penonton tinggi (meski tersaingi drama religi Surga yang Tak Dirindukan - Kuntz Agus) menjadi salah satu film lebaran yang menarik dibicarakan. Jualan Comic 8 memang lebih pada kulit luar yaitu pesona cast-nya yang rombongan meramaikan sepanjang film. Selain itu, penonton juga terpancing untuk menyimak kelanjutan film sebelumnya, Comic 8 yang sama suksesnya di tahun lalu. Ketika saya menonton, Anggy Umbara selaku pembuatnya nampak membuat film ini selayaknya pesta : penuh dengan berjubelan bintang-bintang, visual yang wah, juga ada keberanian untuk menyajikan plot cerita secara tidak linear----hal yang terakhir ini jarang saya temui di film-film Indonesia sebelumnya. Comic 8 sebelumnya memiliki plot yang terkesan acak dan membingungkan dimana Anggy berusaha melanjutkan usaha itu di sekuelnya ini, nampak sepertinya keseluruhan puzzle-puzzle akan lengkap di pamungkasnya yaitu Part 2. Keberanian dengan risiko cerita seperti ini untuk penonton Indonesia yang mungkin kebanyakan masuk hanya ingin mencari lawak dan penampilan bintang adalah langkah besar. Apalagi karena Anggy juga mengulang pengemasan cerita yang sama dengan tema berbeda pada 3 (Tiga), yang rilis bulan Oktober 2015.



3 lebih menarik lagi karena Anggy pol-polan menjunjung kemasan yang unik dengan tema baru dan berani. 3 memang jauh kalah sukses dari Comic 8, tapi Anggy tetap setia berjalan dengan signature style-nya yang fokus pada gambar yang extravaganza, kebanyakan memangku teknik slow-motion dan lagi-lagi : gaya pengemasan cerita yang non-linear. Terlepas dari hasil keseluruhannya, 3 percaya diri mengangkat isu agama sebagai bahan dari adonan cerita, dipadukan dengan setting masa depan dan referensi konflik-konflik aktual yang besar di Indonesia. Sulit kemudian akhirnya tidak teringat tema segar yang diangkat 3 pada pengalaman menonton Hijab di awal 2015 dan Bulan Terbelah di Langit Amerika (Rizal Mantovani), film yang rilis akhir tahun 2015.  Ada kesamaan dalam hal berani menyampaikan perspektif baru tentang agama------dalam hal ini agama Islam yang pemeluknya memang paling besar di Indonesia. Hijab mencoba menangkap gambaran muslim yang realistis terutama dalam lingkungan rumah tangga dimana peranan istri masih terbatasi suami. Dalam balutan warna pop yang unik, Hijab seakan-akan berusaha menentang kesan Islam yang seringkali dinilai kaku dan penuh aturan menjadi sebuah drama komedi yang santai namun di satu sisi juga berani.

Sementara itu, 3 dan Bulan punya kesamaan yang lebih spesifik. Ketika 3 menyajikan situasi berbalik soal mayoritas menjadi minoritas, Bulan juga mengambil sikap serupa namun setting waktu diganti setting tempat. Amerika paska peristiwa 9/11 menciptakan citra buruk akan muslim ketika beberapa tokoh utama mengalami diskriminasi di negara adidaya tersebut. Dua film ini ingin memperlihatkan posisi muslim dalam dua ruang : ruang waktu dan ruang tempat yang sama-sama menolak peranan mereka bergabung dalam mayoritas. Ini adalah hal baru yang seakan berusaha ingin mengubah pandangan tentang Islam terutama ketika isu-isu tentang ormas atau golongan tertentu yang bertindak semenanya membuat gagasan Islam dianggap meragukan di mata dunia (atau malah sebagian masyarakat Indonesia sendiri). 3 dan Bulan Terbelah di Langit Amerika nampak berusaha membawa suara-suara baru untuk penggambaran Islam berdasarkan kacamata orang Indonesia dewasa ini.



Beralih ke genre horor, saya sempat menonton Badoet (Awi Suryadi) yang kabar baiknya disajikan tidak murahan layaknya film-film asal jadi yang sering membuat genre horor Indonesia tercela namanya. Badoet punya gambaran cerita jelas, kumpulan karakter beragam yang memang sering menjadi ciri khas film horor (ada yang gothic, ada yang cantik jelita, ada yang gendut, karakter single parent) sebagai usaha membentuk kekayaan cerita filmnya. Biasanya kumpulan beragam karakter begini juga menarik untuk menebak siapa yang duluan mati atau siapa yang akan menjadi final hero----setidaknya begitu yang sering saya pikirkan ketika menonton sebuah film horor. Banyak hal yang membuat Badoet terasa baru dan berbeda dari film-film yang hanya menjual keseraman kacangan di tahun 2015, misalnya dari segi setting tempat dan usaha memadukan persoalan aktual dunia maya seperti twitwar. Setting rumah susun lengkap dengan kamar-kamar sederhana, beragam toko, pasar malam serta pemandangan masyarakat kelas menengah ke bawah yang hidup di dalamnya memang membuat penonton akrab dengan apa yang mereka lihat dalam realita, jauh dari jualan rumah kosong elit berhantu atau ruangan-ruangan luas nan megah.

Rasa baru dalam Badoet juga bukan hanya soal setting tempat dan usaha mengangkat isu aktual twitwar, tapi sosok evil-nya sendiri yang berdandan ala badut. Bak Michael Myers, sosok badut yang ditampilkan misterius menjadi antagonis baru karena lepas dari referensi hantu atau pembunuh serupa yang sudah terasa melelahkan dipergunakan terus-menerus. Badut memang bukan kuntilanak atau pocong yang lebih punya nama dalam media horor Indonesia namun pembuatnya jeli menangkap dua sisi yang memang menarik dari sosok badut : bisa menjadi tokoh jenaka yang menggemaskan namun beberapa orang (termasuk anak kecil) bisa menganggapnya menyeramkan dan menganggu. Tidak heran bila pembaruan atas banyak hal pada film Badoet membuat pecinta film Indonesia mengapresiasinya lebih, karena sudah begitu lelahnya pada ide cerita dan setting horor yang usang, ragam karakter yang dangkal sedari awal serta sosok penjahatnya yang membosankan. Badoet berusaha menyajikan semua hal baru tersebut untuk pengalaman mendapat keseraman yang berbeda.

Lalu di penghujung tahun 2015 yang berjalan sebagai momen baik bagi film-film Indonesia, beberapa film seperti Single (Raditya Dika), Negeri Van Oranje (Endri Pelita), Sunshine Becomes You (Rocky Soraya) dan Ngenest (Ernest Prakasa) punya perolehan penonton yang menggembirakan. Bulan Terbelah di Langit Amerika pun menurut data filmindonesia.or.id mengumpulkan 838.383 penonton. Dari nama-nama tersebut, hanya satu yang belum saya tonton yaitu Sunshine Becomes You, film yang menjual nama bintang-bintang muda dikombinasikan setting luar negeri dan popularitas novel bestseller. Meski begitu, cara yang sama malah jauh lebih berhasil pada Negeri Van Oranje yang berhasil meraup angka penonton di atas Sunshine, padahal rilis di waktu bersamaan (Sunshine sampai saat ini mendapat 274.083 penonton sementara Oranje di kisaran 391.158). Sunshine memang dijanjikan sebagai film romansa mendayu-dayu sementara Oranje menjual pesona cast menawan dengan lanskap Belanda yang indah di banyak tempat. Walau Sunshine tidak bisa dibilang flop juga namun bisa dikatakan dalam momen akhir tahun ini, cerita warna-warni cinta dan persahabatan (yang memang sudah mengundang dari kemasan posternya) dibalut nuansa segar dan santai jauh lebih menggoda untuk ditonton.

Hal itu juga berlaku untuk Single, yang menjadi peraih tertinggi jumlah penonton di akhir tahun. Sampai saat saya menulis ini, Single sudah mengumpulkan 1.141.023 penonton dan bisa jadi mengalahkan Comic 8 dan Surga yang Tak Dirindukan di posisi teratas. Raditya Dika, sosok yang punya fanbase kuat dalam media kepenulisan juga menuai keberhasilan yang serupa dalam medium film. Hampir semua filmnya punya angka penonton yang besar dan itu masih berlaku pada Single. Tema yang tak bosan diangkat Dika memang tak jauh dari permasalahan remaja dan dewasa muda kisaran 15-25 ragyb yaitu tentang pencarian cinta sebagai hal mendesak atau pemenuhan eksistensi dengan berpacaran. Namanya yang kondang serta masih relevannya tema jomblo yang memang menjadi label yang sering disinggung bahkan diolok-olok di Indonesia membuat Single hanyalah salah satu film yang menunjukkan betapa masih pentingnya isu tersebut di masyarakat kita, sekali lagi dibalut komedi santai dan lepas serta kelebihan yang lain yaitu production value yang mewah. Maka kemudian bukan hal yang mencengangkan kalau Single dilirik dan disukai, karena jualannya masih belum dimaknai membosankan oleh penonton remaja yang menjadi pasarnya.


Terakhir adalah Ngenest, film penutup yang baik di tahun 2015. Ernest Prakasa yang juga punya nama di jagat stand-up comedy selain Raditya Dika atau Kemal Palevi memulai debutnya dengan niatan menarik soal mengangkat isu eksistensi etnis Tionghoa di Indonesia dan bagaimana tokoh utamanya mencari gambaran identitas dalam bayang-bayang sebagai minoritas.

Ngenest menjadi sebuah film yang bukan hanya kuat dari segi gagasan tapi juga mewajahkan pemikiran yang jarang tersorot dari sudut pandang pemuda keturunan Cina ke dalam ruang sinema populer. Isu etnis minoritas juga terdapat pada film Cin(t)a (Sammaria Simanjuntak) yang berusaha menangkap kegundahan serupa seperti Ngenest, namun lebih fokus pada cerita perbedaan agama sementara Babi Buta Yang Ingin Terbang (Edwin) membungkus luka-luka lama tentang kerusuhan Mei dan beratnya beban minoritas. Dua film ini memang berhasil mengangkat sisi-sisi yang tak terwajahkan tentang etnis Tionghoa namun perbedaannya adalah mereka tak begitu kondang untuk penonton bioskop arus utama.

Ngenest untungnya dapat diterima baik karena terbantu nama besar komika, diangkat dari adaptasi buku populer dan bernuansa komedi yang luwes. Pembuatnya nampak percaya diri menyampaikan kegundahan menjadi minoritas dengan cara santai, yakin bahwa masalah penolakan atau ketidakadilan bagi etnis Tionghoa bisa jadi bahan komedi yang ditertawakan sekaligus (pada akhirnya) membuat berpikir.  Selain itu, perspektif minoritas dalam Ngenest juga menandai sesuatu yang penting tentang penggambaran Tionghoa masa lampau atau posisinya di Indonesia dewasa ini. Film ini menumbuhkan semangat kalau nantinya cerita-cerita film Indonesia akan dibungkus dalam pandangan baru, berani dan berbeda. Sementara dari segi perolehan penonton, Ngenest juga jauh dari kata mengecewakan-----senang untuk diketahui bahwa film dengan tema penting seperti ini bisa diapreasiasi lebih oleh ragam penontonnya.

Sebagai kesimpulan terakhir, maka dari daftar 10 besar film dengan penonton tertinggi saya menyimpulkan 2015 menandai adanya peluang tema-tema dan gagasan baru akan mulai disambut ramah oleh penonton Indonesia di tahun-tahun mendatang. Memang tidak bisa disangkal  kebanyakan film yang meraup penonton tertinggi masih berdasarkan materi adaptasi novel terkenal. Begitupun potret religi dan muslim Indonesia yang melodramatis masih mengundang banyak penonton seperti Surga atau Air Mata Surga (dan ternyata yang menjual tema paling mengundang seperti Bulan). Untuk pasar remaja, Magic Hour (Asep Kusdinar) punya daya tarik tinggi dan bisa jadi film seperti ini akan banyak kita lihat di sepanjang 2016. Drama dan komedi juga mudah diterima di dalam kolom 10 besar tersebut. Yang menurut saya belum menunjukkan prestasi yang memuaskan adalah dari genre horor, dimana dari daftar 10 besar hanya nama Tarot (Jose Poernomo) yang mengisi dengan perolehan 329.160 penonton. Amat besar ekspektasi di tahun 2016 juga tahun-tahun selanjutnya, horor bisa menuai perolehan penonton setinggi popularitas drama remaja atau komedi dengan jualan bintang lawak ternama yang bisa menuai hampir sejuta penonton.

Yang pasti, tidak sabar menyaksikan film-film Indonesia yang akan segera muncul di tahun baru ini. Saya tentu berharap 2016 bukan hanya tahun yang menyenangkan untuk diri pribadi namun juga untuk kondisi perfilman Indonesia ke depannya. Semoga.

Update : inilah daftar baru 10 film Indonesia yang banyak ditonton di tahun 2015. Kabar baiknya, hampir semua film-film yang keluar di akhir tahun mampu mengukuhkan posisinya di daftar ini. Namun kabar buruknya tidak ada film dengan genre horor sama sekali, apalagi genre-genre lain yang lebih beragam.

Comments

  1. Hei, salam kenal nih sesama movie blogger, bisa tuker link ? :P

    Eniwe, gw setuju banget nih taun film Indonesia lumayan berbagai genre cukup kuat, dalam artian ga asal bikin (ya walau banyakan sih ngasal dan predictable).

    3-nya Anggi Umbara menurut gw bagus tuh...tapi gatau kenapa kayanya gaungnya gak kenceng, apa karena kurang promo atau malah karena subjek ceritanya yg..u know lahh----(malah malem taun baru kemaren udah tayang aja di NET)

    Ngenest buat gw penutup taun yg perfect, ni film dapet banget komedinya and Ernest debut direct ama nulisnya juga gw acungin jempol deh.

    ReplyDelete
  2. @nugrosinema boleh dong. Sudah aku share link blog kamu ya. Salam kenal Nugros :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. OK, uda gw pasang ya link-mu Maudy *sok kenal
      ;)

      Delete

Post a Comment