Born Yesterday (1950) : Menggugat Dumb Blonde Persona


Judy Holliday bilang,  “you have to be smart to play a dumb blonde over and over again and keep the audience’s attention without extraordinary physical equipment.”

Ucapan Judy mengisyaratkan bahwa memainkan karakter cewek blo’on bukanlah sesuatu yang mudah seperti yang dipikir banyak orang.  Sekilas menjadi seorang wanita cantik yang berakting bodoh memang effortless. Apa sulitnya berlagak bego, memasang tampang clueless dan cenderung manja? Namun setelah menonton Born Yesterday beberapa waktu lalu, saya berpikir Judy Holiday ada benarnya. Menjadi bodoh tidak mudah dan malah bila sudah berhasil memerankannya dengan baik, akan terjebak menjadi beban. Selain kesulitan mendapat peran-peran lain, image di mata publik pun akan sulit untuk diubah. 




Dumb blonde persona sendiri memang bukan hal baru dalam kultur Hollywood. Jauh sebelum tenarnya karakter perempuan berambut pirang emas yang seksi dan kurang intelek (yang paling mudah terbaca adalah dari kebanyakan film-film Marilyn Monroe), tercatat jejak sejarahnya sudah ada sejak abad ke-18, tepatnya lewat sosok seorang courtesan Francis bernama Rosalie Duthe. Duthe punya kebiasaan suka melakukan jeda panjang sebelum berbicara atau menjawab percakapan orang lain sehingga menimbulkan persepsi seorang wanita yang bodoh. Persepsi itu bahkan sampai menginspirasi sebuah pertunjukan Les Curiosités de la Foire di tahun 1775 sehingga namanya tersohor sebagai orang pertama yang dikenali dengan label dumb blonde. Ciri khas lain yang biasanya identik dengan karakter dumb blonde adalah wajah yang cantik, tubuh molek menggoda juga peranan sebagai muse atau mistress pria kaya raya. Duthe pun begitu, mengingat ia sering menjadi model lukisan dan bahkan tak sungkan berpose telanjang.

Meski belum dibuktikan apakah Rosalie Duthe memang bisa dibilang awal tonggak sejarah mulai dikenalnya persona yang satu ini, lebih banyak orang mengenali Monroe sebagai pelopor stereotype ini. Monroe yang jelita dan bertubuh montok seolah mempraktekkan kebiasaan Duthe dalam banyak judul filmnya (misalnya Some Like It Hot dan Seven Year Itch) lalu berhasil meraih pamor besar di Hollywood. Walau kemudian Monroe terbebani dengan typecast semacam ini (dan pernah mencoba pula karakter berbeda di film lain) sayangnya tetap di mata khalayak ia lebih leluasa dikenali dengan label tersebut.

Maka Born Yesterday, sebuah film dari George Cukor di tahun 1950 seakan ingin menggugat dan mengurai ketidakadilan persepsi soal dumb blonde persona. Hadirnya penokohan Billie Dawn yang meski kental dengan stereotype dumb-blonde ternyata menggambarkan perlawanan dan perjuangan akan stereotype itu sendiri.

Jadi diceritakan Billie Dawn adalah kekasih dari pebisnis kaya raya bernama Harry Brock (Broderick Crawford). Mereka baru pindah ke Washington demi kepentingan bisnis Harry yang ternyata bertujuan menyuap anggota Kongres. Billie yang digambarkan tidak berpendidikan tinggi dan abai dari pengetahuan soal korupsi sayangnya tak menyadari apa yang sedang dilakukan sang kekasih meski ia sendiri bertindak sebagai penanda tangan dokumen-dokumen bisnis Harry. Di satu sisi lain, Harry merasa jengah dengan tingkah Billie yang dianggapnya tidak elegan dan kurang mampu bersosialisasi. Maka dipekerjakanlah Paul Verrall (William Holden), seorang jurnalis tampan untuk mengedukasi Billie. Seperti layaknya cerita-cerita komedi romantis, tentu bisa ditebak Billie dan Paul akhirnya saling jatuh cinta dan malah bekerjasama melawan rencana korupsi yang dilakukan Harry.

Judy Holliday dan Gebrakan Billy Dawn

Dalam Born Yesterday, ada tema korupsi yang diangkat dan itu patut diapresiasi. Seakan-akan filmnya ingin menggambarkan betapa pentingnya mengenyam pendidikan dan betapa berbahayanya menjadi ignorant, terutama dalam praktek korupsi yang marak di lingkungan sekitar. Namun lepas dari itu semua, yang paling bersinar dari film ini adalah akting Judy Holliday sang pemeran Billie Dawn sendiri. Lewat cara Judy menginterpretasikan dumb blonde persona, ia tidak hanya mengundang gelak tawa penonton namun juga mengangkat peranan yang identik dengan aksesoris pemanis berubah menjadi sorot utama. Ada jiwa dalam karakter Billie Dawn.

Coba tengok saja adegan ketika ada tamu datang lalu ia terlihat awkward untuk mengajak ngobrol. Billie lalu menyalakan musik dan mulai menggoyangkan badan dengan gerakan aneh. Ada pula adegan yang paling saya suka saat dia bermain kartu dengan Harry, kekasihnya yang berperangai buruk dan kasar. Karena tak boleh berbicara atau mengutarakan pendapat, Billie lalu bersenandung dengan suaranya yang aneh. Bila yang bermain aktris lain, belum tentu momen-momen itu menjadi juara dan berkesan. Namun dalam pembawaan Judy Holliday, ia membuat film ini jadi lebih hidup dan menghibur.

Itu jugalah kenapa saya pikir dia mungkin memang pantas menang Oscar mengalahkan Bette Davis, Anne Baxter (All About Eve), Gloria Swanson (Sunset Boulevard) dan Eleanor Parker (Caged, tapi saya belum menonton). Dulu sehabis menonton Sunset Boulevard saya tidak habis pikir kenapa akting powerful macam Swanson bisa kalah dengan akting komedik Judy. Atau setidaknya kenapa pialanya tidak untuk Bette Davis yang waktu itu rumornya pesaing kuat Swanson. Memang harus dimengerti bahwa perhelatan Oscar dan pemilihan pemenang tidak jauh-jauh dari unsur subjektivitas. Misalnya saja karakter Norma Desmond yang mungkin sampai sekarang begitu menempel di ingatan, bisa saja dinilai terlalu teatrikal. Namun sebenarnya Judy Holliday yang keluar sebagai pemenang juga bukan pilihan yang salah karena ia membawa visi baru tentang karakter dumb blonde, sukses menggebrak dan mengkritisinya.




Ambil contoh adegan Billie mulai menggunakan kacamata ketika diajari Paul. Seakan filmnya mengkritik kacamata yang sering mewakili gambaran kaum intelek dan adanya keinginan Billie diakui intelektualitasnya lewat kacamata yang ia gunakan. Selain kacamata, juga digambarkan Billie menjadi rajin membaca buku dan berkunjung ke museum sejarah. Buku dan kacamata ini adalah dua hal yang awalnya amat bertolak belakang dengan ciri khas dumb blonde namun di film ini dipadukan seakan-akan ingin merontokkan pencirian tidak adil tentang persona tersebut. 

Lalu bagaimana filmnya terlepas dari visi dan gebrakan baru yang dijunjung peranan utamanya? Sebenarnya secara keseluruhan filmnya tidak seistimewa itu karena memang jualan utamanya sendiri adalah jalinan romantic comedy William Holden dan Judy. Namun kadang kita mendapati pengalaman menonton film yang terselamatkan oleh penampilan pemerannya yang cemerlang bahkan karakter itulah satu-satunya bintang yang berkesan dari keseluruhan aspek filmnya sendiri. Itu juga yang saya lihat berhasil dipotretkan oleh Judy Holliday untuk Born Yesterday. Meski cerita tak istimewa, ia amat bersinar, manis dan menawan.

Seperti tulisan Ebert tentang penampilan aktris berlesung pipi manis itu, “She projects energy into the picture; she isn't inhabiting the plot, she is the plot.”

Ah, love you, Judy Holliday!


*Oh ya, ada lagi satu hal tentang judul "Born Yesterday" itu sendiri. Seingat saya, judul itu merujuk dari ucapan karakter Paul yang bilang bahwa setiap orang tidak ada yang terlahir pintar dan kita semua "baru lahir kemarin". Secara tidak langsung, ucapan itu ingin menunjukkan bahwa menjadi pintar adalah tentang menjalani proses pembelajaran yang tiada akhir. 

Comments

Post a Comment