Three.... Extremes (2004)

http://www.horroronscreen.com/wp-content/uploads/cut22.jpg


Konon omnibus selalu memuat ketimpangan. Dari banyak omnibus yang dibuat, orang cenderung akan memberikan nilai lebih pada satu atau dua segmen cerita namun tetap merasa ada yang kurang bila dilihat secara keseluruhan. Kabarnya pula omnibus kadang menciptakan ketidakseimbangan yang terlalu dipaksakan layaknya adonan bahan yang tidak saling cocok tertata di satu piring. Saling terpisah-pisah dan tidak akur. Namun itu mungkin cuma kabar burung saja. 

Karena Three... Extremes membuktikan anggapan itu salah. Bahwa definisi omnibus adalah tentang keterpaksaan saling memberi ruang saja tanpa korelasi satu sama lain bisa dipatahkan. Tentu cerita yang ditawarkan dalam tiga film pendek didalamnya sangat berbeda begitupun gaya penyutradaraan para pembuatnya, tapi film ini bisa membuktikan bahwa mengumpulkan tiga film dalam satu rumah  bukan hal yang mustahil melainkan malah menghadirkan sebuah perayaan horor yang sangat menarik dan terbaik. 

Ada cerita tentang pertentangan usia yang memang selalu lebih dominan pada diri wanita, ada cerita tentang manusia dan desakan atas moralitasnya, ada pula tentang fantasi dan realita yang terjun bebas dengan sentuhan trauma serta masa lalu. Three... Extremes adalah benar sajian ekstrem tentang horor namun malah memperjelas artian horor itu sendiri ; bahwa horor memang tak bisa jauh-jauh dari kekerasan, kegelapan, darah, keputusasaan dan ketakutan yang membekas. Lewat Dumplings, Cut dan Box kita melihat bagaimana merayakan horor menjadi begitu mengasyikkan sekaligus dapat meninggalkan arti tentang sisi manusia yang paling gelap. 



DUMPLINGS



Sutradara : Fruit Chan, Hongkong // Pemain : Miriam Yeung, Tony Leung Ka-Fai, Bai Ling

Buat saya, konflik tentang usia dalam sinema adalah salah satu hal yang paling menarik untuk dilihat. Dalam Clouds of Sils Maria (Olivier Assayas, 2014) yang saya tonton beberapa waktu yang lalu, pergolakan usia bagai sebuah pil pahit bagi manusia, terutama wanita. Mungkin ini karena wanita identik dengan keindahan visualnya, dimana kecantikan adalah hal yang tidak mungkin dikesampingkan. Baca dan lihat bagaimana industri kecantikan melambangkan wanita sebagai putri dan ratu, mendapat posisi dan porsi yang lebih diutamakan ketimbang pria (itulah kenapa produk-produk kecantikan dan gaya hidup kebanyakan menyasar target para wanita). Pria tentu juga punya permasalahannya sendiri, namun kebanyakan wanita yang lebih memiliki tekanan saat menghadapi perubahan usia. 

Pertentangan usia dalam sudut pandang wanita itulah yang menjadi tema mendasar dalam tubuh Dumplings. Sederhananya, seorang mantan artis yang ingin tetap awet muda karena ingin mengembalikan romantisme hubungan bersama suaminya. Kita menjadi bersimpati dan motif sang mantan artis ini menjadi kuat ketika melihat sang suami ternyata berselingkuh tanpa perlu begitu bekerja keras untuk sembunyi-sembunyi. Maka kita mengerti dan memaklumi. Bagaimana kemudian kita dibawa ke halaman cerita yang semakin gelap bahkan mungkin mengerikan, disitulah horor mulai memainkan peranannya. 

Kekuatan Dumplings ada bukan hanya pada cerita dan motivasi karakter yang kuat tapi karena keseraman dalam segmen ini hadir bukan lantaran sekedar gaya atau kepentingan memuat sadis yang berdarah-darah. Dumplings bahkan sebenarnya sudah terbuka sejak awal tentang fakta gelap yang ingin diperlihatkannya, karena tidak ingin menonjolkan hanya pada twist tanpa cerita yang mendasar. 

Ada dua adegan terbaik dalam segmen ini, pertama adalah adegan menatap kamera di akhir film yang memorable itu dan yang kedua adalah adegan ketika sang mantan artis melihat tayangan televisi ketika ia masih muda dulu sambil menangis. Adegan pertama adalah deskripsi akan keputusasaan yang meraih puncaknya, juga sebuah adegan yang menurut saya patut masuk salah satu nominasi adegan klasik dalam medium film. Adegan itu begitu cantik dan mengerikan, perhatikan ekspresi Miriam Yeung yang dapat benar-benar mewakili kerapuhan menghadapi konflik usia yang digilas realita. Sementara adegan kedua berhasil karena efektif untuk kita menaruh rasa simpati pada protagonis utama, dengan alunan lagu manis yang malah semakin memperjelas depresi yang dihadapi sang mantan artis.

CUT

 

Sutradara : Park Chan Wook, Korea Selatan// Pemain : Lee Byung Hun, Im Won Hee, Kang Hye Jung, Yum Jung-Ah


Park Chan Wook dan keindahan ala istananya. Rapi, megah, cantik dengan batas kabur antara candaan dan ketegangan. Ketika awal film, Cut menghadirkan suasana sungguhan dengan setting rumah klasik, membuat penonton mungkin akan berpikir ini benar cerita tentang vampir penghisap darah. Namun ternyata Cut tiba-tiba mengaburkan dunia itu saat kamera menyorot masuk ruang dan lewat visual cepat kita diperlihatkan ini hanya sebuah lokasi syuting film. Ini adalah film didalam film. Dan itu selalu menarik sebenarnya. 

Kini kita memasuki dunia film di dalam film tersebut dimana protagonis kita adalah sang sutradara (Lee Byung Hun).  Semua begitu cepat, dari ruang sibuk dan ribut dalam tim produksi film kita pindah ke ruang sepi dan sunyi yaitu rumah pribadi sang sutradara. Disinilah babak baru ketegangan dimulai. 

Cut mengingatkan pola yang sama dengan film-film Park Chan Wook dalam The Vengeance Trilogy terutama Oldboy yaitu mengusung isu balas dendam dengan alasan yang mungkin terbilang aneh atau tidak biasa. Yang juga sangat menarik dalam Cut adalah pengemasan para karakternya : seorang sutradara yang pria baik-baik, istri yang digambarkan doyan operasi plastik sedang tersandera dengan cara paling artistik yang pernah ada serta seorang penjahat yang jenaka dan lepas. Tokoh antagonis ini sangat menarik karena seakan Park Chan Wook ingin memutarbalikkan klise penjahat bermuka seram dan mengerikan dengan menghadirkan penjahat berwajah konyol. Hadir dalam ruang bernafas lebih lega sesudah kita tertekan oleh Dumplings yang berdarah-darah, ketegangan dalam segmen ini berada dalam atmosfir yang malah terkesan santai.

Tapi akankah Cut cuma jadi tentang gaya atau kulit luar yang dijahit cantik? Ternyata tidak. Cut kembali pada cerita dan apa yang ingin disampaikannya ; tentang manusia dan pilihan-pilihannya ketika terdesak untuk mengkhianati moralitasnya. Diperlihatkan tokoh utama kita adalah seorang sutradara yang piawai membuat film----termasuk  film komedi dan horor. Ia terbiasa dalam menonton dan mengarahkan adegan-adegan (yang paling jelas terlihat saat adegan pembuka dimana ia santai melihat adegan seorang aktris muntah darah) namun ketika ia diletakkan dalam situasi nyata dimana horor itu ia lihat didepan matanya sendiri, ia menghadapi guncangan layaknya manusia pada umumnya. 

Cut adalah dunia Park Chan Wook yang begitu unik, menyinggung dan meracik banyak hal, tapi ternyata dalam hasil akhirnya sangat mengasyikkan dan tentu menegangkan. Berdarah-darah tetap ada tapi penerapannya minimalis karena bertumpu pada nyawa penceritaan dan perubahan psikologi karakter. 


BOX

 

Sutradara : Takashi Miike, Jepang// Pemain : Kyoko Hasegawa, Atsuro Watabe

Kalau Three... Extremes ibarat buku, maka Box adalah bagian paling nyastra-nya. Box ini segmen akhir yang mungkin paling dingin ketimbang Dumplings yang menyayat dan Cut yang meledak-ledak. Tapi bukan berarti Box tidak seram karena yang ditinggalkan adalah impresi seram dalam nuansa yang berbeda. Cerita Box mungkin kompleks dan multi-interpretasi, mungkin banyak yang bingung atau mempertanyakan apa yang sebenarnya sedang terjadi. 

Ceritanya tentang dua gadis kembar yang menjadi penampil atraksi sulap bersama seorang pria tua yang mungkin bisa jadi guru atau ayah mereka. Salah satu dari gadis kembar dengan tubuh seluwes karet ini ternyata memendam kecemburuan batin ketika kembarannya lebih diperhatikan sang pria tua. Maka setelah itu, filmnya seperti cuplikan bergantian antara fantasi-realita dengan bumbu trauma atau masa lalu sebagai mimpi buruk yang ditanggung sang protagonis utama. 

Dalam Box, semua hal penuh kebimbangan. Apakah semua benar nyata atau hanya sekedar fantasi dalam jiwa seorang penulis? Apakah hubungan yang jelas antara pria tua di atraksi sulap dengan dua gadis kembar tersebut? Yang mana yang sebenarnya nyata dan mana yang tidak?  Horor dalam Box adalah ketidakpastian dan kerancuan memahami mana yang mimpi mana yang bukan. Takashi Miike memilih jalan ganjil untuk melepaskan semuanya pada interpretasi akhir penonton, mungkin karena bila semua dijelaskan begitu detil yang ada malah sebuah film yang kegilaan atau ketidakwajarannya menjadi tak menarik lagi untuk diterjemahkan. Bisa saja memang ada tema inses dan justru karena semua dituturkan dengan tidak pasti, Box menjadi lebih berkesan.  Yang pasti sebagai bagian dalam Three... Extremes, Box adalah segmen perpisahan yang tepat sebelum kita berpisah dengan film ini. Saya rasa konklusinya cukup baik untuk sebuah penutup ; perdamaian dan harapan sekaligus sebenarnya keputusasaan dan luka yang menganga. 










Comments