Catatan Menonton Paruh Awal 2015 (I)

Memang benar lebih mudah membuat sekumpulan resensi-resensi pendek model begini ketimbang harus berpanjang-panjang kata menyoal satu buah film. Namun memang ketika menonton film saya tetap tidak bisa untuk tidak berpikir atau tidak menuliskan pemikiran saya tentang film itu, sehingga pendek-panjang tetap saja ada hal yang bisa saya dapatkan mengenai interpretasi dari film yang saya lihat. Karena saya tak bisa berjanji untuk membuat resensi panjang sesering mungkin maka janji saya untuk tahun 2015 hanyalah dengan membuat catatan menonton berbasis tiga volume : pertama, catatan menonton paruh awal sepanjang Januari - April ini, Nantinya akan dilanjutkan dengan catatan menonton paruh kedua pada pertengahan Mei - Agustus dan lalu ditutup catatan menonton paruh akhir pada September sampai Desember. Saya bukan golongan penulis produktif tentang film jadi semoga saja model menulis catatan menonton macam ini akan banyak membuat saya lebih rajin ke depannya. Selamat membaca!






ROSETTA (Dardenne Brothers, 1999)




Seperti halnya dalam Two Days, One Night atau The Kid With A Bike, Dardenne Brothers mempresentasikan satu karakter dalam ruang lingkup kelas pekerja yang selalu bersinggungan dengan masalah mempertahankan hidup dalam aspek keseharian-----bukan tentang memikirkan masa mendatang apalagi memiliki motivasi teramat muluk. Masalah yang disorot film-film mereka adalah masalah hari ini, yang mungkin seringnya terlihat remeh seperti terdesak mencari uang, mempertahankan pekerjaan atau menemui ayah. 


Rosetta, sama seperti Cyril dan Sandra, adalah karakter yang berusaha mencapai tujuan yang paling sederhana : mendapat uang dan berharap hidupnya kembali tenang. Rosetta memiliki seorang ibu alkoholik yang membuatnya terpaksa harus berperan sebagai kepala keluarga sehingga blingsatan mencari uang. 

Hal yang menarik untuk diamati dalam film ketiga Dardenne Brothers yang saya tonton ini adalah kegemaran mereka menyorot karakter yang berjiwa independen (atau berusaha menjadi independen), muda, bermasalah, rapuh dan rindu gambaran kehidupan yang umum seperti berkeluarga, mendapat teman atau pendapatan yang stabil. Penjabaran dan motivasi sederhana dari karakter yang diekspos seminimalis mungkin serta kekuatan untuk memperlihatkan nilai-nilai humanis dalam pergerakan karakternya inilah yang membuat Rosetta jadi tontonan yang sarat emosi dan sebenarnya sangat relatable.




LIKE FATHER LIKE SON (Hirokazu Kore-eda, 2014)


Ernest Hemingway yang dipotretkan dalam film Midnight In Paris – Woody Allen pernah berkomentar begini ketika Gil Pender (tokoh yang diperankan Owen Wilson) bertanya tentang, “Apa itu tulisan yang bagus dan jelek?”. Hemingway kira-kira menjawab, “tidak ada subjek tulisan yang buruk. Selama ceritanya benar, murni dan jujur.”

Jawaban Hemingway memberikan arti yang sesungguhnya tentang bagaimana suatu bahan cerita bisa jadi menarik atau sangat baik, tergantung apa yang ingin disampaikan pembuatnya dengan cara yang paling tepat. Like Father Like Son contohnya. Ceritanya boleh mirip dengan sinetron Putri Yang Ditukar, tapi eksekusi dan bagaimana cara penampilannya mampu memperlihatkan banyak interpretasi yang menarik untuk ditelaah. 

Like Father Like Son mempertanyakan kembali tentang arti keluarga sebenarnya : apakah definisi seorang anak hanya berbatas pada referensi darah daging? Apakah anak yang diadopsi atau tertukar tidak menjadikannya pantas masuk dalam tatanan keluarga? Apa sebenarnya yang dinamakan paling benar dan paling pantas ketika kita sendiri juga tidak bisa menafikan peranan kenangan, keterbiasaan dan perasaan?


Like Father Like Son membuka kembali diskusi yang menarik tersebut dimana pembedahannya terjadi dalam dua kelas sosial yang berbeda : keluarga kelas menengah dan keluarga cukup mapan. Hirokazu Kore-eda juga mengulang apa yang pernah diungkapkannya dalam Still Walking tentang ambisi seorang kepala keluarga berperang dengan kemauan sang anak.





WOLF CHILDREN AME AND YUKI (Mamoru Hosoda, 2012)


Bicara tentang keluarga, lagi-lagi. Bicara tentang anak, tentang mereka yang akan beranjak dewasa dan meninggalkan orangtuanya sebagai suatu hal yang memang harus terjadi. Menonton perjalanan Hana membesarkan Ame dan Yuki, dua anaknya yang setengah manusia-setengah serigala adalah sebuah perjalanan yang sangat menyenangkan dan juga seringnya menyentuh. Memang apa yang menjadikan sebuah film, entah fiksi atau animasi terasa dekat dengan kehidupan kita adalah tetap selalu : cerita.






2014 (Rahabi Mandra, Hanung Bramantyo, 2014)



Yang menarik dari 2014 adalah seberapa dekat ceritanya menyinggung isu politik tahun lalu atau malah tetap berlaku untuk masa sekarang. Siapa di belakang presiden? Opini yang menarik  disampaikan dengan gaya penceritaan yang berbeda. Saya juga melihat bagaimana 2014 dan Hijab yang keluar dari PH yang sama------Dapur Film buatan Hanung Bramantyo-----juga yang paling semangat tentang memperlihatkan peranan media sosial di tengah masyarakat kita. Terlepas dari jalan cerita dan eksekusinya yang tanggung berat, 2014 bisa menjadi tongkat estafet untuk berani keluarnya film-film bermuatan politik dengan polesan beragam lainnya.







NYMPHOMANIAC Volume 1 & 2 (Lars Von Trier, 2013)


Buat saya Nymphomaniac dan idenya menganalogikan seks pada banyak hal sama saja dengan analogi-analogi lainnya. Tapi bagus juga bila ingin menelaah seks dengan korelasinya terhadap masa lalu, cinta pertama, berpuluh-puluh pengalaman, kekerasan atau pencarian dalam hal menajamkan kemampuan untuk merasa. Yang tak bisa saya lupakan dari volume pertama adalah akting hebat Uma Thurman sebagai istri yang diselingkuhi, bagaimana ia mampu mendatangkan amarah dan emosi kita sebagai penonton untuk kemudian mempertanyakan kembali apa yang sebenarnya dirasakan atau lebih tepatnya membuat sang karakter utama tidak bisa merasakan.





THE SNOW WHITE MURDER CASE (Yoshihiro Nakamura, 2014)


Manusia lahir dengan ambisi, penilaian, memori. Dan… mungkin juga keinginan untuk terlihat sebagai yang paling benar. Sayangnya, semua kelemahan kita tersebut akan semakin mudah terlihat semenjak kelahiran media sosial seperti Twitter atau Facebook. Yang mana tentu bisa membawa masalah yang merugikan sebuah pihak tanpa pernah kita sadari.

 The Snow White Murder Case dengan gaya penceritaan let’s-find-the-truth ala-ala komik Conan atau Kindaichi ini sangat baik menangkap semua hal tersebut. Kita menonton ini dan menyadari bahwa kita sebenarnya mungkin sama saja dengan Yuji Akahoshi, sang pria yang suka live tweet itu. Kita menilai, beropini, bahkan mudah mencaci meski kebenaran dari satu isu belum terbukti kesahihannya. Mungkin sah-sah saja karena manusia pada dasarnya memang selalu akan bereaksi dan mengambil aksi secara tak terencana, namun menjadi masalah ketika kita menuliskannya di media sosial, menggiring opini-opini yang sama dari yang lain, menyempitkan penilaian pada tuduhan yang belum terbukti benar faktanya.

Selain menyinggung tabiat orang yang sibuk berkicau di media sosial, The Snow White Murder Case juga mewajahkan efek publikasi yang over-exposed demi meraih rating penonton. Dalam hal ini adalah televisi yang bukannya berfungsi sebagai penyebar berita aktual namun fokus membelokkan satu informasi. Ini mengingatkan saya pada Nightcrawler ketika stasiun televisi lebih memilih terus menyetir pemberitaan tentang perampokan di rumah-rumah orang kaya ketimbang fokus pada apa yang benar terjadi : sebuah perampokan narkoba. Kekuatan suatu media untuk menggiring suatu opini yang bisa jadi berseberangan dengan realitanya itulah yang membuat Snow White Muder Case menjadi film yang sangat efektif.





DELIVERANCE (John Boorman, 1972)


Ada beberapa film yang menempatkan konflik suatu pendatang dengan penduduk asli, terakhir saya ingat ada di film Edgar Wright berjudul Hot Fuzz. Deliverance kurang lebih menampilkan konflik yang sama : ketika beberapa pendatang ingin berpetualang menyusuri sungai Cahulawassee di suatu daerah terpencil sebelum sungai itu akan diubah menjadi danau. Tanpa mereka pernah ketahui, suatu hal terjadi pada mereka dan memberikan mereka suatu pelajaran tentang diri mereka sendiri dan niatan awal berada di daerah  itu.

Penjabaran karakter-karakter dalam Deliverance yaitu para orang-orang kota yang datang ke desa dan perubahannya adalah salah satu kekuatan film ini.  Yang mungkin paling terlihat seperti bos, penuh ambisi dan tangguh adalah Lewis, karakter yang diperankan Burt Reynolds, lengkap dengan pola pemikiran yang berputar pada uang dan modernitas. Jon Voight memerankan Ed, karakter yang jauh lebih sederhana dan berada disana sekedar untuk mau “kumpul-kumpul”. Seiring perputaran cerita dan konflik yang ada, karakter mereka juga ikut berubah. Karakter Lewis tak lagi tangguh dan malah tidak berdaya. Jon Voight malah yang tampil paling depan, yang paling berusaha jadi pahlawan demi menyelamatkan diri dan teman-temannya.

Film ini juga menuai kontroversi di masanya karena memuat sebuah adegan male-rape yang memang diperlihatkan cukup brutal. 




FIGHT CLUB (David Fincher, 1999)



Mungkin karena saya mengharapkan cerita dan konklusi yang berbeda dari film ini. Saya menikmati first act-nya, tentang seorang lelaki yang merasa hanya menjadi budak pekerja, menderita insomnia, kesepian lalu bergabung dalam klub-klub penderita penyakit. Ia lalu merasa menjadi lebih baik dengan berkumpul bersama para orang asing yang bahkan mungkin tak tahu ia tak punya penyakit sama sekali. 

Sampai film ini membahas tentang kekerasan sebagai medium pemberi rasa candu pada banyak orang untuk menyeimbangkan pola hidup umum mereka sebagai budak pekerja, saya masih merasa film ini menarik. Namun kemudian filmnya beralih pada hal-hal lain hanya demi menjaga kelangsungan cerita sampai membahas tentang upaya menghancurkan aturan-aturan di masyarakat agar memerdekakan perbudakan di lingkungan kerja itu sendiri. Oke.... sepertinya yang saya harapkan tidak ada disini.






WINTER’S BONE (Debra Granik, 2010)


Entah kenapa saya menonton Winter’s Bone dan tiba-tiba teringat kompilasi antara Marion Cotilard dari Two Days, One Night juga Michelle Williams di Wendy and Lucy. Apa kesamaannya dengan dua film tersebut? Karakter seorang wanita yang harus berjuang sendiri menghadapi suatu misi yang korelasinya berhubungan dengan kestabilan hidup dan keterbatasan ekonomi. Mary bahkan jauh lebih muda dan harus benar-benar menanggung beban sebagai kepala keluarga karena ayahnya menghilang tanpa kejelasan. Misi Mary hanya satu : agar rumah tempat ia dan keluarganya kini tinggal tidak diambil oleh pihak kepolisian karena kasus sang ayah. 

Jennifer Lawrence dalam salah satu peranan terbaiknya mempotretkan Mary dengan baik : ia muda, mandiri, terlihat keras kepala namun semata-mata hanya ingin bertanggung jawab akan hidup adik-adik dan ibunya. Memuji ketangguhannya maka pertanyaan yang akan kita ajukan selepas menonton film ini hanyalah darimana ia bisa dapat semua kekuatan untuk menjadi sekuat itu?





BLACK BOOK / ZWARTBOEK (Paul Verhoeven, 2006)




Upaya deskripsi atau tafsir tentang peristiwa-peristiwa besar seperti perang selalu ada dalam medium film. Jumlahnya puluhan atau mungkin sudah ratusan. Bukannya untuk membuka luka lama namun untuk menumbuhkan perspektif baru yang nantinya menguatkan pembelajaran untuk mengeliminasi diskriminasi juga sebagai media penyampaian pesan sederhana namun benar adanya : perang tak pernah membawa apa-apa.

Black Book adalah salah satu upaya deskripsi tentang seorang Yahudi dalam pendudukan Nazi yang menyampaikan lagi tafsir baru : bahwa tidak semua Nazi itu kejam dan hitam, begitupun tak semua pahlawan perang berjiwa baik dan putih. Sisi baik-buruk manusia toh pada praktiknya tetap dinilai bukan dari seragam apalagi kepercayaan, tapi diri manusia itu sendiri. Ini sama dengan yang diperlihatkan Roman Polanski dalam sepenggal cerita The Pianist menuju paruh akhir. 

Yang juga turut menyentuh emosi penonton adalah perjalanan karakter Ellice De Vries yang kita lihat seperti Cinderella malang ; dari satu kehilangan menuju kehilangan yang lainnya. Layaknya film lain yang menghadirkan cerita cinta yang harus diselamatkan dalam latar perang, Black Book menjadi panggung kokoh yang tak tertebak, tanpa harus kehilangan jiwa cerita dan kekuatan para karakternya.




CINDERELLA (Kenneth Branagh, 2015)


Keindahan visual dengan cerita klasik yang diterjemahkan rapi. Betapa cantik dan polosnya Lily James juga Cate Blanchett yang tak kalah menambah daya tarik film ini. Ide Cinderella bisa jadi jelek dan membosankan semembosankan film Snow White and The Huntsman-nya Kristen Stewart yang bahkan saya tidak ingat lagi filmnya tentang apa. Tapi Kenneth Branagh berhasil melakukan pengolahan yang tepat sehingga film ini tetap terselamatkan.






FEARLESS (Peter Weir, 1993)





Apakah manusia akan menjadi lebih bebas dan bahagia bila ia menemukan dirinya tidak lagi takut pada kematian? Bagaimana ia kemudian mengartikan dan menghadapi kehidupan sesudah ketakutannya lenyap meski sebenarnya trauma yang kental malah membuatnya menjadi seseorang yang berbeda? 

Peter Weir menyampaikan pandangannya tentang mereka yang menjadi korban, mereka yang trauma dan ketika rasa ketakutan mereka habis dimakan depresi dan kekalutan. Film ini juga mempertanyakan tentang agama dan Tuhan, penerimaan akan kematian dan kehidupan, ketakutan dan keberanian, serta betapa susahnya untuk bisa benar-benar kembali meyakini pahit-manisnya realita setelah menerima luka.








LADY TERMINATOR / PEMBALASAN RATU LAUT SELATAN (Tjut Djalil / Djalil Jackson, 1989)


Tjut Djalil mengubah namanya menjadi Djalil Jackson. Filmnya menjual Barbara Ann Stable sebagai Terminator versi perempuan yang suka bertapa tanpa busana dan memperoleh energi dari bersenggama dengan siapapun. Ada Ikang Fawzi yang merasa dirinya tak akan terkalahkan. Dan parade keterbatasan.


Sebagai film yang dianggap cult karena memiliki banyak pemuja di belahan dunia, Lady Terminator otomatis akan menjadi tontonan yang sangat menyenangkan kalau kita memperlakukan film ini dengan pola pemikiran ini adalah film kualitas B yang memang seringkali ala kadarnya dari segi kualitas. Tapi bagi penonton yang melihat film sebagai media untuk mencari interpretasi penting atau sudut pandang yang lebih, tentu Lady Terminator akan berakhir menjadi referensi yang sangat salah. Saya sendiri cukup menikmati film ini, mungkin karena Tjut Djalil sampai harus mengubah namanya menjadi Djalil Jackson atau membaca betapa inginnya orang Indonesia dari dulu sampai sekarang memimpikan nilai-nilai lokal bersanding dengan segala hal di Hollywood.



"I'm not a lady! I'm an antropologist!"








ILO ILO (Anthony Chen, 2012)
 


Sebenarnya darimana datangnya pemikiran bahwa kita harus memperlakukan seseorang lebih tinggi atau lebih rendah berdasarkan kelas sosialnya? Mungkin akan ada yang menjawab, "ya mau bagaimanapun aturan itu sudah ada dari semenjak nenek moyang kita." Tapi kita tidak lagi hidup di era kerajaan apalagi era perbudakan. Kita dihidupi oleh pendidikan, bujukan untuk memperlakukan semua orang dengan kesetaraan juga berada di lingkungan yang selalu merekomendasikan kita untuk membaur dan beradaptasi lintas kelas dan sosial. 

Dalam Ilo-Ilo, diskusi tentang kelas sosial itu kembali mengemuka ketika seorang pembantu masuk ke dalam sebuah keluarga kelas menengah dan sang anak dari keluarga tersebut pelan-pelan menjadi lebih akrab dengan pembantunya. Meski bukan disajikan dalam drama berkonflik besar yang mengkritisi apalagi menghakimi perbedaan kelas sosial, Ilo-Ilo menangkap masih adanya kekhawatiran akan seseorang dari pihak luar (yang terutama dari kelas sosial lebih bawah) untuk masuk dalam tatanan keluarga kita. 

Bukan cuma soal isu kelas sosial ini, yang menarik adalah untuk melihat interaksi anak ini dengan sang pembantunya lalu korelasinya dengan pola interaksi sang anak dengan ibunya sendiri. Pertanyaan-pertanyaan tentang adanya motif kekurangan kasih sayang yang menyebabkan sang anak menjadi  lebih akrab pada pembantunya itulah yang juga turut menyumbang interpretasi menarik saat menonton Ilo-Ilo.




MANHATTAN (Woody Allen, 1979)


Kekuatan Woody Allen bukan hanya pada dialog-dialognya yang jenaka dan cerdas tapi juga tentang bagaimana ia mampu membuat penonton mau mengerti dan memaklumi sisi buruk-sisi baik karakter-karakternya. Melihat Manhattan sama saja seperti kita bertemu seorang teman yang kadang bila diajak mengobrol, opininya sangat menyebalkan namun kita maklum dan tetap menganggapnya teman, karena disisi lain dia juga punya sisi lucu, menyenangkan dan mampu membuat kita memperoleh sudut pandang lain tentang kehidupan.

Adegan pertama di film ini menyorot seluruh lekuk tubuh kota Manhattan, dari mulai bangunan-bangunan besar, jalanan, mobil dan tempat hiburan. Dibungkus sinematografi hitam-putih yang elegan, Manhattan menyoal tentang dunia pria dan bagaimana isu perselingkuhan tidak bisa lepas dari mereka. Namun ketimbang menganggapnya sebagai suatu dosa atau membuat filmnya tenggelam dari penceritaan over-dramatis, film ini memperlakukan praktek perselingkuhan dalam dunia pria sebagai suatu hal yang wajar atau setidaknya harus dimaklumi. 

Apakah Woody hanya ingin membela dirinya dan dunianya? Bukan juga. Pada konklusi akhir film, ia menyematkan pola sebab-akibat dimana para pria harus menerima konsekuensi dari segala kenakalannya. Bahkan kita melihat bagaimana karakter Tracy yang usianya selalu dikata-katai oleh Isaac bisa menjadi lebih dewasa dan bertanggung jawab ketimbang Isaac, sehingga Manhattan bukan hanya tentang ego apalagi pemaksaan opini sepihak untuk membela perspektif dunia pria. Pria----lewat Woody---mungkin mengakui bahwa mendua dan affair kadang tak bisa mereka ingkari, tapi lebih dari itu, Woody ingin bilang bahwa pria memang brengsek dan mudah menyingkirkan wanitanya demi wanita lain, tapi pada akhirnya juga mengakui mereka sebodoh keledai. Lewat kerelaan mengumbar aib dan meminta maaf model begini, maka filmnya jadi berkembang memotret karakter dalam lanskap yang lebih luas----bodoh, bisa khilaf, terpaksa cuma tinggal menanggung ego dan konsekuensinya. Romantisme model begini yang membuat Manhattan menjadi sangat juara.




Comments

  1. wah ditunggu ya Mei-Agustus.

    ReplyDelete
  2. Halo Maudy, perkenalkan nama saya Luthfi. Blognya bagus, gue suka, hehe. Boleh tukeran link? Link gue review-luthfi.blogspot.com. Isinya tentang film-film juga. Salam kenal :)

    ReplyDelete

Post a Comment