Catatan Menonton Tahun 2014 Part : I

Halo? Apa kabar? Masih adakah yang mau membaca tulisan saya di blog ini?

 Terakhir kali menulis di bulan Juni sebelum akhirnya hiatus karena sibuk mencari nafkah, akhirnya suatu malam saya memutuskan untuk kembali. Sempat menulis juga untuk postingan Best Scary Moments di situs tetangga yaitu Sigilahoror, lalu saya melihat banyaknya file Word dengan resensi-resensi yang terabaikan dan lupa diposting. Akhirnya saya memutuskan untuk merangkum semua saja sebagai catatan film-film yang saya tonton selama tahun 2014. Di akhir bulan Desember ini saya rasa cukup tepat untuk mengabarkan kepada anda film-film apa saja yang telah saya tonton selama setahun penuh, yang terbaik juga mungkin ada pula yang terburuk. Dibagi dalam dua part.

Selamat membaca dan mari menyambut tahun baru dengan tetap mencintai sinema :)




BLANCANIEVES (Pablo Berger, 2012)

http://flickbitch.com/wp-content/uploads/2013/09/blancanieves.jpg

Blancanieves adalah sebuah pengecualian, kisah Disney yang dipangkas lebih realistis (seringnya pahit). Disini tidak ada pangeran tampan, tidak ada seorang Putri Salju yang seringnya bersuka cita dan endingnya pun mungkin akan membuat anda terdiam sejenak lalu memasang tampang murung, terlewat murung. Bukannya ingin melukiskan kemuraman dalam adaptasi dongeng, pembuatnya, Pablo Berger, mungkin hanya ingin semua aroma manis kelewat innocent ala Disney menghilang, juga menampar keras pakem film “gadis-sebatang-kara-akhirnya-hidup-bahagia”ala Hollywood umumnya. Skenarionya digarap sangat apik nan menarik, dengan sinematografi mulus dalam warna hitam-putih yang cantik. Sayang kehadirannya dibayangi oleh kesuksesan film The Artist, sehingga yang ini lebih underrated. Bagi seorang penggemar silent films seperti saya, dua-duanya sama bagus dan sempurna. The Artist adalah sebuah film besar tentang merayakan Hollywood sementara Blancanieves hadir sebagai film yang memotret dongeng dalam realitas hidup dan percayalah kamu pasti akan menyukainya.

 

ATENG MINTA KAWIN (Nya Abbas Akup, 1974)

 http://www.indonesianfilmcenter.com/images/gallery/galIdFC_27092011_17018.JPG

Jujur saya lebih enjoy ini ketimbang Drakula Mantu. Drakula Mantu bagus, tapi duet Ateng-Iskak, ditemani Eddy Soed dan juga kedatangan Titiek Puspa yang cantik sekali disini buat saya lebih menghadirkan panggung lebih riuh ramai dan heboh. Ya, Tan Tjeng Bok dan Benyamin yang hadir juga tak kalah bikin heboh, tapi mungkin saya lebih santai menikmati tontonan tentang perjodohan dan cerita cinta antar keluarga yang dibikin koplak macam ini. Seperti halnya film-film Nya Abbas Akup umumnya (saya baru nonton beberapa), ada selipan kritik dan potret kelas sosial yang disampaikan dengan sentuhan menggelitik.

 


TITIAN SERAMBUT DIBELAH TUJUH (Chaerul Umam, 1982)

 http://1.bp.blogspot.com/-11kROKGkPqg/TlnfoqG_gYI/AAAAAAAAOjs/bhVP4knaZZU/s1600/293098_10150279064519831_519039830_7378017_2316110_n.jpg

Titian Serambut Dibelah Tujuh adalah apa yang tidak saya (dan kita semua) temukan dalam film-film reliji beraliran Habiburachman El Shirazy. Titian punya segalanya ; skenario yang digarap apik oleh Asrul Sani, casts yang solid terutama oleh El Manik, sebuah film bukan hanya tentang pertentangan iman dalam diri pribadi namun potret masyarakat dalam dunia Islam secara luas. Ketika ketidakpedulian dan mudahnya diri diprovokasi oleh penguasa, mungkin itu adalah kiamat sesungguhnya. Ya, mereka (atau mungkin bisa jadi kita?) adalah layang-layang putus.



TABULA RASA (Adriyanto Dewo, 2014)

https://gastronomyaficionado.files.wordpress.com/2014/08/tabula-rasa-3.jpg

 Susah untuk menyebut Tabula Rasa sebagai film yang ingin memiliki gelar food-porn movie. Karena semuanya serba nanggung. Dibuka dengan menarik, dengan harapan bahwa kuliner khas Minang akan digelar dengan semeriah dan secantik mungkin, ternyata panggung sebenarnya adalah potret dari Hans serta passion yang akhirnya ingin dipilihnya. Dan itupun juga sama nanggungnya. Sayang, padahal bisa jauh jauh lebih baik.






A SERBIAN FILM (Srdjan Spasojevic, 2009)

 http://facecachee.hkmania.com/wp-content/uploads/2012/11/serbianfilm48.jpg

Apa yang diharapkan dari sebuah film eksploitasi? Sisi kemanusiaan adalah hal terakhir yang harus dilupakan saat menonton film eksploitasi. Sutradaranya mungkin tak pernah bilang atau menolak menyebut A Serbian Film sebagai film eksploitasi, lagipula memang untuk sebuah film eksploitasi, A Serbian Film masih punya cerita, serius dan menarik pula. Tapi peringatan pertama tentang film ini saya rasa memang adalah jangan menjadi terlalu serius karena anda akan merasa jijik atau terganggu sendiri. Ah, saya masih sering ketawa sendiri kalau ingat adegan “Serbian Family” itu. Kejam, bangsat, tapi itulah alasan kenapa sutradaranya menyelipkan kata “film” di judulnya. It’s just a film----come on, why so serious?



FRIDAY THE 13TH (Sean S. Cunningham, 1980)

 https://billsmovieemporium.files.wordpress.com/2010/10/vlcsnap-2010-10-15-22h50m07s51.jpg

Jujur saya lebih menikmati ini ketimbang Halloween – Michael Myers. Mungkin saya mesti nonton lagi Halloween, tapi Friday the 13th adalah apa yang saya cari ketika menonton sebuah film horor di kala senggang dan saat mematikan lampu di kamar : sebuah premis cerita cheesy dengan gelaran aktor-aktris amatir (Kevin Bacon sebelum terkenal), seorang scream queen yang aktingnya paling buruk yang pernah ada, dibarengi aransemen musik khas chah-chah-chah yang ikonik itu. Saya rasa saya bersedia menikmati sekuel-sekuel berikutnya dari Jason.



HOBO WITH A SHOTGUN (Jason Eisener, 2011)

 https://static.squarespace.com/static/51b3dc8ee4b051b96ceb10de/51ce6099e4b0d911b4489b79/51ce61c7e4b0d911b44a0923/1283492558293/1000w/Hobo%20Shotgun.png

Gila! Keren! Darah! Hero-nya orang gak penting! Sempurna! Film mana coba yang mau datang dengan ide gembel tua umur 60-an yang kalau ngomong kaya orang giting dengan pendamping wanita seorang pelacur muda seusia anaknya. Hahahahaha…. Harusnya saya yang bikin film seperti ini. Hobo With A Shotgun garapan Jason Eisener adalah hiburan tersendiri, dibuka dengan aransemen musik mirip Cannibal Holocaust dalam versi yang lebih syahdu, ceritanya mudah diikuti dan ya ini memang murni film eksploitasi. Sekali lagi, anggap saja guyonan dan jangan dianggap terlalu serius. Darah adalah segalanya.



 LITTLE MANHATTAN (Mark Levin, 2005)

http://image.toutlecine.com/photos/l/i/t/little-manhattan-2005-08-g.jpg

Akan selalu ada cinta untuk film-film tentang "cinta pertama saat masa kecil" atau "tetangga sebelah rumah". Seperti My Girl atau Flipped.




LEAVING LAS VEGAS (Mike Figgis, 1996)

 http://www.film4.com/media/images/Channel4/Film4/1990s/L/leaving-las-vegas.jpg

Sekilas, Leaving Las Vegas seperti Lost In Translation – Sofia Coppola dalam medium yang lebih kelam. Sekilas pula saya teringat sinematografi ala-ala Wong Kar Wai saat jelitanya lanskap Las Vegas yang dreamy dan romantis sering ditangkap kamera. Namun ekspektasi saya untuk menonton film Leaving Las Vegas sebagai pencerah mood salah besar, film ini justru cenderung kelabu, bukan tipe film romansa yang bisa membuat pipi merah semu apalagi membuat hari menjadi lebih berwarna-warni.

Mengangkat tema kesepian-----sisi paling dasar dari setiap diri manusia-------lewat dua karakter putus asa yang mungkin terlihat asing bagi awam seperti kita, Leaving Las Vegas membuat panggung film yang kokoh jadi kental dengan muatan emosi. Adegan-adegan yang bergulir baik saat Ben benar-benar tidak bisa lepas dari minumannya atau saat Sera menceritakan dan mendapat pengalaman seksual tak menyenangkan saat bekerja, semua rasanya mampu membuat penonton bersimpati dan mengasihani sepasang malang ini.

Nicholas Cage memenangkan Oscarnya lewat film ini, menampilkan sebuah akting luar biasa sebagai pria menyedihkan yang sudah seperti kehilangan separuh akal gara-gara adiksi pada alkohol. Sementara Elizabeth Shue tak kalah mencuri perhatian, saya rasa ia berhasil menjadi versi Vivian Ward-nya Pretty Woman yang lebih realistis. 




LOVELY MAN (Teddy Soeriaatmadja, 2011)

 http://reginakaris.files.wordpress.com/2012/10/lovely-man-image-2.jpg

Seorang gadis berusia sembilan belas tahun bernama Cahaya (Raihaanun) usai pamit dari WC menggenggam jilbabnya di tangan. Ia sekarang melepas aurat kepalanya sehingga tampak jelas rambutnya yang dijepit ke belakang.

“Kalau gini, udah bisa ngobrol santai kan?” ucapnya. Sang bapak, Ipuy (Donny Damara) yang berpakaian wanita, hanya tersenyum kecil.

Adegan ini bagus dan berani karena memaknai jilbab yang sekarang diartikan bukan lagi sebagai penutup aurat wajib. Ketika dilepas, tak begitu banyak artinya. Tak ada yang malu. Sama dengan anak-anak sekolah yang mesti wajib pakai jilbab tapi pas sesi olahraga boleh lepas jilbabnya atau keluar dari sekolah, jilbabnya dipinggirkan.

Lebih jauh lagi, bahkan Cahaya ternyata hamil------adalah sebuah hal yang sebenarnya kontroversial. Seperti mengkhianati kesahihan aurat jilbab yang ditanggungnya. Hal-hal seperti ini menjadi nilai bagus bagi Lovely Man yang secara telanjang berani bicara bahwa di Indonesia, sampul tak menggambarkan isi, bahwa stereotype waria tak hanya sesempit gambaran pria genit menor menakutkan di pinggir-pinggir jalan atau mbak-mbak berjilbab tak hanya tentang alim, jago baca al-quran lalu lantas jadi manusia suci yang tak bernoda.

Masalahnya adalah bagaimana tentang yang berusaha diulik film ini sendiri : hubungan ayah-anak itu secara personal. Buat saya, perjalanan semalaman Cahaya dan Ipuy itu tak terlihat begitu cair. Terasa hampa. Ada yang masih kurang. Meski begitu, tetap film ini jauh dari kata buruk.





SELAMAT PAGI, MALAM (Lucky Kuswandi, 2014)


http://3.bp.blogspot.com/-KZO0WIHIp4g/U7PDb0k4eJI/AAAAAAAAC3Y/DXy8GCV7ppU/s1600/Selamat-pagi-Malam-Lucky-Kuswandi-In-The-Absence-Of-The-Sun.jpg

Selamat Pagi, Malam ternyata nyinyir senyinyir Arisan 2. Namun poin baiknya adalah film ini tak melulu tentang nyinyir, ada garis ironi yang menjembatani----kalau kita mau sebut itu ironi. Serupa kopi, menyesap Selamat Pagi, Malam adalah sebuah pengalaman pahit-manis, ada kalanya manis-----saat-saat Gia (Adinia Wirasti) dan Naomi (Marissa Anita) berjalan-jalan menyusuri lekuk Jakarta, ada kesederhanaan setelah usai pesta mengejek sosialita di kafe Lilo. Jakarta dalam olahan Lucky Kuswandi terasa benar-benar real, bahwa memang ada kaum kelas atas yang kecewa di atas kita semua, bahwa ada kelas menengah yang bermimpi jadi kelas atas dan ada sebuah jembatan bernama ironi yang membuat semua garis itu saling berhubungan satu sama lain.

Biasanya saya memberikan nilai sebatas 3 bintang untuk beberapa film Indonesia yang saya tonton. Tapi nyanyian Dira Sugandi yang menutup film terasa begitu pedih sehingga tampak sadar mata saya jadi berkaca-kaca. Di kegelapan bioskop kumuh Galaxy Bandung (yang kini sudah hangus terbakar lantaran Peristiwa hangusnya Kings kemarin) saya merasa Lucky bisa menggambarkan semuanya begitu nyata : kesepian, harapan yang putus, realita yang kejam, dan kehidupan yang begitu mengasingkan kejujuran diri sendiri. Sebagai seseorang yang bukan non-Jakarta dan hanya beberapa kali ke Jakarta saya rasa tagline “there’s no place here for us” jadi tak hanya berlaku di Jakarta, namun di seluruh kota, ketika kebebasan dan kebahagiaan menjadi sesuatu yang sulit untuk ditemukan dan kita diharuskan memakai topeng untuk bisa diterima disana.


PICNIC (Shunji Iwai, 1996)

http://24.media.tumblr.com/00f1d038d0730a4a2f5f2f92d688d692/tumblr_mzuq74V2Re1r7k0eco1_1280.png

Saya memang sangat mencintai Shunji Iwai dan sejauh ini semua filmnya saya berikan nilai 5 bintang. Bila ada satu filmmaker yang saya rasa bisa membuat film tentang saya atau setidaknya tentang harapan, mimpi serta masa lalu saya, dialah orangnya. Saya menonton Picnic di sebuah pagi buta dan film ini masih tetap bermain di kepala saya sampai sekarang :  adegan Chara yang berlari-lari riang diatas batas dinding dimana langit biru kelabu terhampar luas dan ada alunan musik mengiringinya. Menonton Picnic seperti membaca sebuah cerpen di buku tipis dari gudang tua, sebuah cerita kecil yang ternyata akan sangat membekas maknanya. Oh, orang gila dari mana yang bisa saya ajak berpetualang melihat langit sebelum kiamat seperti Tadanobu Asano dan Chara?

 

TASTE OF CHERRY (Abbas Kiarostami, 1997)

 http://silkroadfilmfestival.com/wp-content/uploads/2014/09/Taste-of-Cherry-1997.png

Mungkin saya harus menontonnya lagi. Tapi ada satu hal yang saya tangkap dari film ini : bagaimana sang tokoh utama menemui banyak orang dan berbincang tentang hidup dan kematian selama perjalanan di mobil. Tapi sebenarnya mereka yang ditemui sang tokoh utama adalah pencerminan dari  tahapan hidup manusia itu sendiri ; seorang anak kecil yang masih tak mengerti apa-apa, seorang pemuda yang baru mengenal dunia dan seorang yang sudah tua yang merasa cukup bijak tentang arti hidup. Tokoh utama kita sendiri adalah seseorang yang sedang berada di tahap middle-age. Get a picture? Ya, ini memang filosofis.




MYSTIC RIVER (Clint Eastwood, 2003)

 https://static.yts.re/attachments/mystic_river_(2003)/ikolsw_large.png

Jujur saya bukan tipikal orang yang kejam dalam memberi rating pada sebuah film. Bahkan saya masih bisa memberi toleransi pada beberapa film yang menurut orang jelek atau murahan sekalipun. Namun film ini sungguh mengesalkan, pada awalannya sampai pertengahannya memang sangat menjanjikan tapi menuju akhir, film ini tiba-tiba bertransformasi jadi hasil yang buruk. Saya sungguh benci adegan Sean Penn mesti menjelaskan rasa kebersalahannya di kamar tidur dimana sang istrinya merayunya dan bla-bla-bla... Hollywood ending.



 INTERSTELLAR (Christopher Nolan, 2014)

https://madaboutmoviez.files.wordpress.com/2014/11/interstellar-still-1.jpg


Pada masa perilisannya, Interstellar ternyata tidak dinilai seluar biasa Inception atau The Dark Knight, bahkan beberapa reviewer luar mengatakan Interstellar adalah saat dimana Nolan sudah mulai agak lelah dan tidak seoptimal dulu. Well,  Interstellar tetap sebuah pengalaman menonton yang sayang untuk dilewatkan. Tentang seorang ayah yang berusaha menyelamatkan keluarganya, Nolan juga membangun cerita father-daughter relationship yang baik dibantu performa cast yang sangat solid. Selain Matthew McCounaghey, Anna Hathaway juga memberikan penampilan yang sangat baik dimana Jessica Chastain turut ikut memberi kado akting yang lumayan meski hanya sebentar.

Memang bukan pencapaian terbaik dari Christopher Nolan (saya sendiri baru menonton beberapa karya dia) tapi juga bukan karya yang buruk. Saya menyebutnya powerful dan terasa sangat personal. Detik-detik Matthew McCounaghey “terperangkap” dalam worm hole masih terasa thrilling to the max.


 PRICELESS (Pierre Salvadori, 2006)
http://assets.flicks.co.nz/images/movies/large/28/28267ab848bcf807b2ed53c3a8f8fc8a.jpg
Bagaimana menghadirkan sebuah komedi romantis yang ringan nan segar? Tanyakan pada Pierre Salvadori. Bercerita tentang Irene (Audrey Tautou) seorang wanita materialistis yang doyan mengencani pria-pria tua kaya raya lalu bertemu Jean (Gad Elmaleh) seorang pria yang awalnya dikira Irene juga kaya raya, padahal hanya seorang waiter bar hotel. Maka seterusnya, Jean terus berusaha menjadi pria yang diinginkan Irene, sementara Irene disisi lain pelan-pelan mesti memilih : apakah ia memang terus menginginkan harta saja atau juga sebenarnya cinta?

Komedi romantis dalam Priceless begitu segar. Saya jarang bisa tertawa lepas saat menonton romcom, terutama romcom-romcom kepunyaan Hollywood. Yang satu ini beda. Priceless punya jalan cerita yang seru dan menggemaskan, dimana saya sebagai penonton ikut berdebar-debar menanti bagaimana kelanjutan cerita dari satu babak ke babak yang lain. Pierre Salvadori, sang pembuat, konon terinspirasi dari Breakfast At Tiffany’s-----dalam hal ini tentang sosok Holly Golightly yang memang mirip dengan yang digambarkan Tautou. Namun bedanya Priceless lebih tanpa beban dan seperti bermain-main tapi tak jadi lepas kendali.


 

SENYAP / THE LOOK OF SILENCE (Joshua Oppenheimer, 2014)


Senyap bercerita dari sudut pandang Adi Rukun, adik dari korban pembantaian PKI yang pergi mengunjungi beberapa pelaku pembantaian, mencoba mencari sisi lain atau setidaknya pengakuan maaf dari para pelaku tersebut. Lewat Senyap, kita diajak untuk menanam luka sekaligus tersenyum getir lewat adegan per adegan film, kita melihat Adi bercanda dengan kedua anaknya, kita melihat potret orangtua Adi yang sudah tua renta, kita melihat Adi yang menonton televisi tentang bagaimana sang pelaku menjelaskan dengan santai dan bangga tentang bagaimana cara mereka membunuh kakaknya-----kita melihat semua adegan itu secara bergantian, dan pelan-pelan ada perasaan tidak nyaman di dalam hati, dan itu tetap bertahan sampai akhir film.

Menonton Senyap-----bersama Adi Rukun, akan membuat kita terdiam sejenak di kursi penonton. Senyap berusaha menelanjangi apa yang hilang dan apa yang dilupakan begitu saja tentang peristiwa yang sebenarnya sangat penting di masa lampau, juga berusaha mengukur kedalaman luka dari perspektif korban, membagikannya pada kita semua untuk kemudian tahu betapa sakitnya menjadi sosok yang tenggelam dalam kesunyian yang sudah lewat.

Yang membekas di benak : Pada satu adegan pembuka, terlihat kepompong kecil yang dimainkan dua anak Adi Rukun. Pada adegan terakhir, kepompong itu dipegang tangan mamak----ibu Adi Rukun. Ini adalah interpretasi tentang bagaimana adanya pengharapan tentang kehidupan yang lebih baik dari sosok yang saling berbeda yaitu anak kecil dan seorang ibu tua renta, juga sekaligus mempertanyakan apakah ada titik terang tentang segala sejarah dan peristiwa kelam ini, apakah ada keadilan dan juga harapan tentang kesenyapan diri sendiri : apakah didalam kepompong itu ada ulatnya dan bisakah berubah jadi kupu-kupu?


NIGHTCRAWLER (Dan Gilroy, 2014)



http://static.rogerebert.com/uploads/review/primary_image/reviews/nightcrawler-2014/hero_Nightcrawler-2014-1.jpg

Untuk membuat film tentang seorang tokoh utama yang memiliki kepribadian culas, licik atau malah sosiopat adalah hal yang sulit. Kita lihat Cate Blanchett di Blue Jasmine berhasil dengan sempurna melakukannya, ini bukan hanya karena penampilnya mampu memberikan akting yang mumpuni tapi karena juga adanya arahan sutradara yang baik.

Nightcrawler adalah salah satunya. Louis Bloom, diperankan Jack Gylenhaal adalah pria dengan tampilan culun dan dingin. Seorang pemaksa, manipulatif dan tipikal orang yang rela melakukan apa saja untuk hal yang ingin ia kejar. Tapi Dan Gilroy mampu membuat kita bertahan dan malah penasaran dengan semua tingkah Louis, mungkin kita akan mengutuk apa yang dia perbuat namun juga itu menegaskan pertanda film ini berhasil membuat kita menikmati karakter yang diperankan Gylenhaal.

Selain performance Jack Gylenhaal (sangat berbeda dari Prisoners atau film-film dia yang lain) film ini juga memberi gambaran tentang betapa “kejamnya” media televisi dan bagaimana kekerasan bisa ditolerir selama rating dan popularitas melesat tinggi.






 DOGTOOTH (Giorgos Lanthimos, 2009)


http://www.interviewmagazine.com/files/2010/06/25/img-dogtooth-_173031756562.jpg

 Dogtooth adalah film yang nyaris tanpa plot cerita tapi percayalah, film ini sangat efektif untuk membuat anda terus mengingat-ingatnya dalam waktu yang lama. Dogtooth bicara banyak tentang bagaimana peranan dan didikan orangtua sangat berpengaruh pada perkembangan anak-anak dan bagaimana bila usaha untuk menawan anak-anak dari bahaya dunia luar bisa jadi bumerang tersendiri. Film ini sangat bagus, akan selalu ada momen dimana kita ingin tertawa tapi disisi lain kita tahu kita tidak seharusnya tertawa melihat adegan itu. Adegan salah satu anak yang menari "enerjik" itu sebenarnya merefleksikan keinginannya untuk bebas merdeka sekaligus menjelaskan segala macam hal yang sudah dia lihat berperang bersama apa yang telah ditanamkan dalam pikirannya sehingga pada akhirnya ia tirukan dalam sebuah "tarian kekacauan". 

Tulisan kecil lain yang membawa Dogtooth.



THE COLOR OF PARADISE (Majid Majidi, 1999)


http://www.city.fukuoka.lg.jp/fu-a/files/FilmArchiveParagraph546imageja.jpg

Majid Majidi pernah menghadirkan potret anak-anak polos dalam keterbatasan materi pada Children of Heaven. Namun The Color of Paradise lebih dari itu. Film ini tidak hanya tentang potret anak yang memiliki struggle dengan keterbatasannya dan bagaimana kita melihat dunianya lewat tindak-tanduk polosnya, lebih dari itu, bagi saya ini adalah film relijius yang sebenar-benarnya. Film ini bercerita tentang Muhammad yang tidak bisa melihat dan hanya "meraba" dan "mendengar" untuk tahu banyak hal tentang kehidupan. Pencariannya tentang Tuhan juga jatuh-bangun hubungannya dengan sang ayah disorot oleh film ini lewat runutan cerita yang sangat rapi dijawab sebuah ending yang sangat sangat indah. Dan tanpa harus berteriak lantang untuk bisa "memotret" dan "merasakan" Tuhan.



DAMAGE (Louis Malle, 1992)

https://r3yekw.bn1.livefilestore.com/y2plKWySgn4PsAUQbtPzbnylQSy9CA9e__-_8D5vwu1meZQf7N8eZDlxgs1lGCHy2zVcHpJVQ19TZlfcz-DXU1sq8BoqUf-mgOa3HqulCmd3NY/damage1992cd1avi0014527.jpg

Damage adalah film yang sangat baik memotret bagaimana affair dapat merusak segalanya : reputasi, kehidupan pribadi bahkan jiwa orang itu sendiri. Film yang berbicara frontal tentang seks, obsesi dan persoalan hasrat manusia ini menghadirkan sebuah cerita yang kuat dari hal yang sebenarnya bisa menjadi biasa. Saya suka sekali ending-nya ketika kamera menangkap gambar Juliette Binoche pelan-pelan memudar. Sebuah refleksi bagaimana obsesi atau hasrat itu (selalu) hanya bertahan sementara.


TURTLES CAN FLY (Bahman Ghobadi, 2004)

Embedded image permalink

Ada beberapa film yang memotret tentang luka dan kita jadi kehilangan kata-kata karenanya. Ini adalah sebuah film tentang harapan yang tidak ada, mimpi buruk yang datang bahkan sebelum  sebuah "sejarah perang" dimulai. Salah satu film terbaik yang pernah ada juga merupakan film yang akan sangat berat untuk saya saksikan lagi di masa-masa mendatang.



BEFORE I DISAPPEAR (Shawn Christensen, 2014)

http://www.hollywoodreporter.com/sites/default/files/2014/08/Before_I_Disappear_Still.jpg

Ide membuat film panjang berdasarkan sebuah film pendek yang dipuji-puji banyak kritikus bahkan memenangkan Oscar, memang bisa jadi ide yang brilian atau malah sebaliknya : mengecewakan. Sayangnya, Shawn Christensen berada di opsi yang kedua. Saya sangat menyukai film pendeknya karena film itu sederhana, efektif dan mendatangkan interpretasi tersendiri. It's about a pathetic and lonely man meets a full of life and innocently sweet little girl. Di versi ini, selain hanya memanjang-manjangkan cerita dan terlalu "jelas", apa yang ingin disampaikan filmnya sendiri jadi terasa membosankan untuk disimak. Plus, adegan bowling scene-nya pun jadi tak seajaib versi film pendeknya.




BELENGGU (Upi Avianto, 2012)


http://cueafs.com/wp-content/uploads/2014/08/belenggu-still-photo-6-muvila.jpg

Belenggu adalah kejutan tersendiri dari Upi. Yang saya suka dari film ini adalah bagaimana Upi bisa membawa sebuah cerita yang misterius dengan karakter utama yang sama misteriusnya, berhasil membuat penonton bertanya-tanya namun bukan untuk kelihatan sok pintar melainkan memang ia menyediakan alasan-alasan tersendiri (yang sangat makes sense) atas tindak-tanduk dan aksi para tokoh utamanya. Thriller psikologis ini cukup menarik, saya suka latar belakang para karakter yang membuat mereka saling "terbelenggu" di lingkaran yang sama.





MENGEJAR MAS-MAS (Rudi Soedjarwo, 2007)


Film drama komedi ini cukup lumayan. Ini adalah masa-masa dimana Rudy Soedjarwo memakai konsep kamera amatiran itu (juga dipakai untuk film Mendadak Dangdut serta Pocong 2). Film ini sangat terbantu oleh skrip dari Monty Tiwa, dimana ia mampu melakukan penempatan jokes yang tepat sasaran mulai dari ucapan spontan para karakternya ("germo botak" "permisi, saya mau pergi melacur dulu") sampai pengadeganan karakter dan inti cerita sendiri (Soal "Bu Dosen" itu). Membenturkan konflik tiga karakter sekaligus yaitu seorang gadis berjiwa rebel metropolitan, seorang mas-mas dengan pakaian ala Jogja dan seorang mbak-mbak PKS sarkem juga membuat film ini jadi menarik meskipun tiga karakter itu sebatas hanya seragam dari stereotype umum terutama Dwi Sasono dengan seragam mas-mas Jogja pakai blangkon untuk menggambarkan ke-ndesoan-nya.

Tapi film ini menjadi lebih hidup karena penampilan Dinna Olivia. Sungguh, sangat jarang menemui sebuah karakter yang setelah saya menonton filmnya, membuat saya jadi terus memorable akan karakternya. Dan Dinna berhasil melakukan itu. Dinna mendalami peran sampai ke hal-hal kecil lebih dari Poppy Sovia dan Dwi Sasono yang bermain atas nama seragam karakter saja. Perhatikan saat adegan Dinna menyemprotkan parfum dengan lepas ke seluruh tubuhnya termasuk ke arah selangkangan. Atau puncaknya, ketika ia diusir orang-orang di kampung. Penampilan Poppy Sovia sendiri sebenarnya tidak mengecewakan, namun memang film ini murni milik Dinna Olivia.






Bersambung ke.... PART II

Comments

  1. kalau ini kayanya film2 nya horor sama kontroversi yaa kalau saya suka yg grafik nya bagus.. buat 3D gitu ..

    ReplyDelete
  2. Halo Maudy. Asyik catatannya. Suka sekali dengan Titian (subjektif: mungkin salah satu film Indonesia terbaik sepanjang masa). Oya kalau Maudy suka dengan yang 'alternatif' (termasuk yang berbau 'art-house'), mungkin bisa cek page ini:
    https://filmalternatives.wordpress.com/fave/
    Baru nulis sedikit, tapi sudah tidak saya lanjutkan lagi blognya. Cheers!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo Kutukamus, terima kasih sudah main ke blog ini. Listnya asik juga sebagai rekomendasi. Trims ya.

      Delete

Post a Comment