Resensi Buku : Aidit / Dua Wajah Dipa Nusantara (2010)



Aidit : Dua Wajah Dipa Nusantara (2010)

Penulis : Tim Buku Tempo

Penerbit : KPG

Ketika saya SD dulu, saya teringat pernah mempelajari bab seputar G 30 S/PKI yang masuk dalam bagian buku pelajaran IPS. Dan karena dulu saya tak begitu pintar, saya tentu tak begitu analitis seputar detil sejarah peristiwa naas tersebut. Namun, saya ingat saya tertarik akan sejarah G 30 S/PKI, saya merasakan pembunuhan jenderal-jenderal itu menyeramkan dan penuh intrik, meskipun tetap saja rasa ketertarikan itu tak mendukung nilai IPS saya menjadi lebih baik daripada teman-teman yang lain.


Tetapi saya ingat betul pada sebuah kolom pertanyaan di akhir bab yang menanyakan seperti ini, “Dalang G 30 S/PKI adalah……” dan seperti biasanya anak-anak SD lainnya tentu kita hanya bisa mencari tahu jawabannya dengan membaca keseluruhan bab terlebih dahulu. Dan jawaban yang kami para anak SD temui di buku adalah cuma satu : D.N Aidit.

Bertahun-tahun, sejarah G 30 S/PKI masih menunjuk D.N Aidit sebagai dalang, masih mengatakan bahwa PKI adalah pihak yang hitam, dan bahwa ideologi komunis yang dimiliki Aidit adalah berbahaya, kejam, bengis dan jangan sampai ada lagi di Indonesia. Saya sendiri malah ketika SD merasa nama D.N Aidit itu begitu unik. Aidit. D.N Aidit. Di kuping saya, nama dia kedengaran seperti nama agen rahasia. Sejenis James Bond. Aidit buat saya adalah nama yang berbeda, istimewa, nama yang rasanya memang misterius dan di waktu yang sama juga keren.

Kini, setelah semakin dewasa dan bagaimana Google bisa dengan mudah menggiring kita untuk mencari tahu siapa itu Aidit, siapa itu Komunis dan PKI, saya tertarik untuk mempelajari sejarah dan pemikiran Aidit. Ini sebenarnya bermula dari tulisan milik Gentole berjudul Jagoan dan Bajingan (tulisan yang bagus sekali, mas Gentole!). Tulisan pembukanya adalah, “Setiap orang punya fase hidup: masa ingusan, sekolah, kuliah, kerja, kawin, beranak-pinak, mati. Manusia — orang besar atau orang kecil, Seokarno dan juga Anda — sama punya mimpi, sama punya ambisi. Bedanya orang besar bermimpi besar, berambisi besar, sementara orang kecil kerja dari pagi sampai sore buat ngurusin perut dan yang di bawah perut.”

Secara kesimpulan, Gentole dalam tulisannya ingin menunjukkan betapa Aidit----meskipun terlihat sebagai sosok bajingan dalam halaman sejarah kita secara awam, namun ia pasti bukan hanya manusia sepenuh-penuhnya hitam. Ia punya ambisi, ia punya mimpi begitu besar. Saat kita bicara soal politik atau kehidupan secara luas, kita tak bicara soal si jahat dan si baik. Manusia, kecuali yang kurang waras dan psikopat, sejatinya punya sisi hitam dan juga putih. Secara keseluruhan, kita semua abu-abu. Kita bukan malaikat, begitupun kita juga bukannya setan sepenuhnya.

Lewat tulisan Gentole itulah saya mulai tertarik pada sosok Aidit. Sebenarnya sebelum-belumnya juga saya sudah pernah google tentang dia, namun ada perspektif lain yang berhasil disumbangkan Gentole pada saya lewat tulisannya itu : bahwa Aidit juga bagian dari kita, ia juga sebenarnya manusia biasa, ia punya cerita menarik seputar kehidupannya ; bagaimana ia sebenarnya berasal dari keluarga islam taat dan dulu sering menjadi tukang azan bahkan pandai mengaji lantas kemudian membelot masuk partai komunis yang erat pencitraannya dengan anti-Tuhan alias ateis. Mungkin kita semua punya cerita yang sama dengan Aidit. Mungkin beberapa dari kita adalah menyerupai cerita Aidit. Mungkin anda adalah seseorang yang punya pemikiran berbeda daripada semua anggota keluarga besar anda di kampung, mungkin ketika anda berada di tengah keluarga muslim taat, anda berkhayal tentang lepas dari agama, mungkin anda ingin memiliki kehidupan yang berbeda ; yang tak hanya seputar memenuhi hasrat hidup untuk sekolah, kerja dan kawin saja. Saya pribadi merasa ketertarikan saya dengan cerita Aidit ini karena---maaf bila saya mencoba menjadi self-centered lagi----- saya merasa saya adalah bagian dari orang-orang dengan cerita semacam Aidit tersebut. Berkhayal dalam benak saya seputar keraguan, dilema dan segala galaunya Aidit saat ia dulu dianggap pembelot dimana semua anggota keluarganya ‘biasa-biasa saja’ sementara ia memilih jalan yang berbeda.

Lantas, ketertarikan terhadap Aidit lalu membawa saya pada sebuah buku terbitan KPG berjudul Aidit : Dua Wajah Dipa Nusantara. Buku ini sendiri memang susah ditemukan di toko-toko buku secara offline dan saya mendapatnya secara online. Isinya cukup ringkas tapi bernas dan cocok sebagai panduan awal mengenal siapa, bagaimana dan ada apa dengan Aidit.

Banyak pertanyaan-pertanyaan saya seputar Aidit yang berhasil terjawab setelah membaca buku ini. Misalnya, saya tertarik mengetahui kehidupan pribadi Aidit yang nampak seperti tak begitu dekat dengan keluarga. Buku ini, lewat sudut pandang saudara-saudara Aidit seakan memperjelas bahwa Aidit memang benar-benar seseorang yang serius dan begitu fokus pada passionnya di dunia politik. Kepada Murad, Aidit bahkan bilang bahwa hal yang mengaitkan mereka berdua hanyalah kenyataan bahwa mereka lahir dari ibu dan ayah yang sama. (Bab Dua Wajah Dipa Nusantara, hal. 4). Dengan kata lain, cerita ini dapat melahirkan kesimpulan Aidit tak begitu peduli pada akar keluarganya di kampung atau bisa juga dipersepsikan ia sadar ia berbeda dengan saudara-saudaranya yang lain, bahwa ia tak bisa jadi biasa dan tak mau jadi biasa.

Bahkan Aidit sempat mengemukakan prinsip hidupnya yang besar pada Murad, adiknya. Dia bilang, “Kau tahu, aku memang tidak akan menjadi pahlawan keluarga. Pahlawan keluarga itu terlalu sederhana dan amat egois. Kita harus menjadi pahlawan bangsa.” (Bab Setelah Keluar Dari Laci Penulis, hal. 122)

Selain kehidupan pribadi, buku ini juga berusaha adil dengan mengumpulkan berbagai pandangan dari kubu keluarga Aidit dan kubu lawan yang merasa Aidit adalah musuh besar. Peristiwa sentral G 30 S/PKI tentu masuk dalam bahasan utama. Inilah yang membuat bukunya bagus untuk menjadi buku panduan awal mengenal Aidit, karena perspektifnya tak berat sebelah, bahwa buku ini sadar Aidit tak sepenuhnya setan yang dianggap kejam dan mengerikan, tapi juga punya sisi manusiawi yang menarik untuk ditelusuri.

Perspektif yang dibagi sama rata inilah yang membuat saya jadi sadar satu hal : mungkin saya tak harusnya begitu mengidolakan D.N Aidit. Saya kagum Aidit karena dia terlihat pekerja keras, dia serius, dia sudah jadi ketua CC PKI di umur 31 tahun, dia sudah sadar politik dan punya cita-cita besar di umur yang muda, bahkan memilih tak melanjutkan kuliah karena terlanjur gila betul untuk memberesi segala urusan carut-marut negara.

Namun namanya politik, kita tak bisa begitu mendambai seseorang bukan? Di dunia politik, semua orang bisa berubah kapan saja. Dan di dunia politik, Aidit bisa berubah licik sedikit-banyak. Memang tak ada yang bisa memastikan dia bertanggung jawab membunuh para jenderal itu dan seperti pada cerita-cerita sejarah yang multi interpretasi lainnya, ketidakpastian itu selalu menimbulkan pertanyaan-pertanyaan baru yang masih tak terjawab sampai kini.

Saya pikir saya kagum Aidit karena buat saya, impian Aidit mulia : Indonesia tanpa kelas, bahwa Aidit mungkin muak melihat bagaimana sekarang pembagian kelas begitu jomplang antara si miskin dan si kaya, dan mungkin----mungkin saja, dia ada benarnya, bahwa Indonesia tak akan pernah adil bila selalu ada pengkotak-kotakan kelas dan strata ekonomi.

Mengingat ini baru buku pertama seputar Aidit yang saya baca, saya masih tertarik untuk tahu akar pemikirannya yang lebih lengkap lagi. Mungkin rasanya terlalu jauh dulu untuk mendalami ideologi Komunis dari tata letak sejarah dunia, jadi saya sedang mencari cara untuk menemukan buku-buku seputar Aidit dan sejarah komunis di Indonesia dulu.

Yang pasti saya setuju dan menyukai bagaimana cara buku ini memperlakukan sosok Aidit untuk ditelaah, seperti mengutip kalimat terakhir bab awal Dua Wajah Dipa Nusantara bahwa, ‘ia bukan sepenuhnya si brengsek, sebagaimana ia bukan sepenuhnya tokoh yang patut jadi panutan.’ Menarik.


Comments

  1. bicara tentang PKI ini masalahnya memang komplek sekali. saya yg jurusan sejarah saja, bingung; yang jelas itu PKI pada masa pra-kemerdekaan juga terbelah-belah. tidak bisa dibilang ini mana yang baik dan mana yang jahat. konklusinya ya itu tadi. perlawanan kalangan rakyat biasa melawan kaum feodalis (yang awalnya bekerja sama dengan belanda—di sini kaum nasionalis indonesia juga termasuk) yang takut hartanya dibagi kepada masyarakat tidak mampu itu. sejarah membuktikan, ideologi komunis ini memang sudah gagal, bahkan di kampung halamannya sendiri.

    ReplyDelete
    Replies
    1. @ikbal menarik.Saya juga sedang mempelajari ideologi komunis dan praktiknya di Indonesia ini sendiri. Saya tertarik dengan keseriusan Aidit, pribadinya juga seputar peristiwa G 30 S PKI itu. Sangat tertarik untuk mengenal dan menelaah lebih lanjut seputar PKI di masa-masa keemasannya di Indonesia.

      Delete

Post a Comment