Resensi Buku : 12 Menit (2013) - Oka Aurora



http://1.bp.blogspot.com/-QtubvyflnyQ/UiCus8d-WlI/AAAAAAAAAsg/wGBo4uIDgT8/s1600/12+menit.jpg




12 Menit Untuk Selamanya (2013)

Penulis : Oka Aurora

Penerbit : Noura Books





(Tulisan ini memenangkan kategori lomba resensi yang pernah diadakan penerbit Noura Books. Jadi wajar saja bila tulisan agak lebih berat pada segi puji-pujian. Tapi resensi ini tetap saya tuliskan dengan jujur dan tak berlebih-lebihan, bahwa pada sebuah buku masih ada nilai positif yang bisa dilihat. Dan buku ini, tanpa mesti digali, punya nilai itu.)



Mengejar mimpi. Berasal dari kota kecil. Impian besar meski keadaan terbatas. Rasa-rasanya kita sudah tidak asing lagi dengan cerita-cerita macam itu. Banyak buku yang meminjam formula serupa : tentang anak-anak kampung halaman yang mencoba mencapai cita, menghadapi banyak kendala untuk membuktikan diri bisa sukses meraih mimpi di kota besar. 12 Menit karangan Oka Aurora tak jauh berbeda. Mengangkat cerita tentang anggota marching band di sebuah kota kecil bernama Bontang, Oka Aurora sudah menarik perhatian sedari awal dengan perkenalan karakternya yang rinci namun tetap mengalir sederhana. Referensi Oka yang luas tentang dunia marching band dan berbagai nama alat musik ditambah kepiawaiannya merangkai kata membuat buku ini nyaman dibaca. Pada buku ini juga saya menemukan banyak kutipan-kutipan yang tersampaikan lancar tanpa kesan memaksa atau menggurui, pada suatu konflik atau bagian yang tepat. 



 Saya suka Elaine, Tara, Lahang dan tentunya Rene. Saya suka Tara yang berjuang mengalahkan rasa takut menerima dirinya sendiri, berdamai dengan masa lalu dan orang-orang disekitarnya. Elaine yang berusaha meyakinkan orang-orang terdekat tentang passion yang dipilihnya sampai jungkir balik untuk membuktikan bahwa ia cukup mampu untuk mempertahankannya. Atau Rene yang tegas dan keras kepala dengan Titi Sjuman di imajinasi sudah seperti perpaduan yang pas sejak awal saya mengenal karakternya. 



Orang boleh meremehkan kisah motivasi atau fiksi-fiksi yang inspiratif, tapi konsep yang ada memang sebenarnya dekat dalam kehidupan sehari-hari kita. Kita boleh tidak mengakui tapi tengoklah dan peka lah sejenak. Saya punya teman yang menghadapi dilema seperti Elaine. Saya juga punya teman yang memiliki kehidupan terbatas tapi sebenarnya cukup pintar dan punya bakat seperti Lahang. Saya sendiri merasakan apa yang dialami Tara : kadang saya mudah menyerah, saya takut dan susah menerima diri saya sendiri apa adanya. Oka Aurora membuat karakter-karakter yang terbentuk independen itu saling terkait dan bahkan memiliki impact pada kehidupan karakter lainnya.



Ada bagian ketika Elaine mengunjungi rumah Lahang. Elaine sadar bahwa Lahang menghadapi problema dan beban masalah yang jauh lebih berat dari dirinya.  “Jika dirimu sedang sedih, lihatlah ke bawah. Ada orang yang jauh lebih sedih darimu. Sehingga kamu bisa belajar bersyukur.”  (hlm. 187). Itu salah satu kutipan yang dengan proporsional diselipkan Oka dalam salah satu bab buku ini, cermat menyentuh kedalaman hati saya.



Bagian yang menarik lainnya adalah ketika Tara tidak bisa menerima keberadaan ibunya yang kuliah jauh di Inggris dimana Oma mencoba menyabarkannya namun berakhir gagal. Oka pintar menggambarkan emosi dan perasaan yang dialami Oma menghadapi Tara yang masih belum matang proses kedewasaannya, sekaligus membuat saya teringat bahwa saya kadang juga sering bertingkah salah dan ngambek ala Tara. 

Proses kedewasaan. Ya mungkin itu salah satu yang mampu tersampaikan dengan baik usai membaca 12 Menit, saya sangat berharap filmnya pun mampu memoles proses para karakter-karakter muda dalam menghadapi permasalahannya ini menjadi lebih tergambarkan lagi.



Oka juga tidak terjebak dalam penggambaran adegan-adegan dramatis nan sinetronis, senjata kata-katanya sangat natural dan lancar, ini sulit untuk ditemukan karena saya punya pengalaman buruk dengan beberapa buku yang berlabel inspiratif namun seringkali terjatuh pada permasalahan deskripsi yang rasanya kurang alami.  12 Menit tidak seperti itu. Okelah, saya harus bilang bahwa buku ini mengambil formula yang sudah biasa yang juga  menjangkit buku-buku sejenis : tentang orang-orang dari kota kecil yang susah payah menggapai mimpi di kota besar. Dalam 12 Menit, Jakarta dijadikan patokan kesuksesan dan kemenangan dijadikan pertanda kebahagiaan. Sebuah formula lazim yang sudah sering diangkat bahkan kalau terus didaur ulang jadinya membosankan. 

Untungnya, Oka Aurora memperlihatkan strategi yang jempolan untuk membuat formula yang mungkin untuk beberapa kalangan pembaca dirasa sudah pasaran itu dengan bekal kata-kata yang menggugah serta perjalanan para karakternya yang kuat. Saya tidak bermasalah dengan buku bermodus motivasi atau berembel-embel inspiratif, selama ia menawarkan cara yang segar untuk membuat pembaca mampu mencerna dan mendalami ceritanya. Memang bukan yang terbaik, tapi Oka Aurora lewat 12 Menit adalah salah satunya yang lulus kualifikasi enak dibaca.


Kutipan favorit : “Berapa pun waktu yang diberikan, tak seharusnya dihabiskan dengan ketakutan. Karena ketakutan tak akan pernah menyambung hidupmu. Yang akan menyambung hidupmu, hanya keberanian.” (hlm. 104)

 

Comments