Marmut Merah Jambu (2014) : Remeh Temeh Lumayan Ala Raditya Dika



http://www.21cineplex.com/data/gallery/pictures/139952157948958_500x332.jpg

Marmut Merah Jambu // 2014 // Sutradara : Raditya Dika, Indonesia // Pemain : Raditya Dika, Kamga Mo, Julian Liberty, Christoffer Nelwan, Sonya Pandarmawan, Franda


Sebenarnya saya adalah bagian dari orang-orang yang besar dan tumbuh bersama tulisan-tulisan Raditya Dika. Kambing Jantan sedang populer saat saya SD, Cinta Brontosaurus ketika SMP, seterusnya Bukan Binatang Biasa dan Babi Ngesot, sampai akhirnya pada Marmut Merah Jambu-lah saya terakhir kali bersapaan dengan gaya penulisan Dika. Setelah itu, hidup semakin berjalan, saya semakin meninggikan selera, datang masa-masa saya suka sastra atau buku-buku dengan tema, gaya dan bahasa yang lebih baik sehingga alergi pada tema novel haha-hihi kosong melompong yang meroket mengikuti kepopuleran buku-buku Raditya Dika. 



Plot besar Marmut Merah Jambu adalah seputar rasa suka Dika (Raditya Dika/Christoffer Nelwan) pada Ina (Dina Anjani) teman sekelasnya semasa SMA. Ini merupakan adaptasi dari bab Pertemuan Pertama Dengan Ina Mangunkusumo di buku Marmut Merah Jambu, dan harus diakui, sewaktu saya membaca dulu, saya begitu suka bab itu.  Lewat plot besar inilah Dika merangkai cerita pertemanan Tiga Sekawan, ada Bertus (Julian Liberty/Kamga Mo) yang paling sering membuat suasana film jadi lebih renyah, ada pula Cindy (Sonya Pandarmawan/Franda) yang menawan.

Pengalaman menonton Marmut Merah Jambu sendiri seperti melihat bagaimana Raditya Dika versi teks yang dulu biasa saya baca divisualkan. Warna-warnanya masih sama : tentang cowok culun bodoh tidak populer bersinggungan dengan jumpalitan komedi-komedi berlebihan ala Sketsa – Trans TV. Apa yang diresahkan Radit juga masih sama dari jaman dulu yaitu problema galau khas remaja  : tentang mencari pacar, tentang pengen jadi populer di sekolah, makna cinta sebagaimana apa yang dirasakan, dicurahkan dan dikeluhkan remaja usia 15-22 tahun generasi sekarang ini. Segala hal yang dikeluhkan Dika mungkin tak lebih besar dari isu cerita cinta ala film-film serius yang biasa menang Oscar (dan tak perlulah dibandingkan), tapi saya lebih suka menganggap Raditya Dika itu punya passion dan interestnya sendiri : yaitu membahas remeh-temeh kehidupan cinta remaja Indonesia sehari-hari. 

Buat saya, film ini bukan film jelek, masalah ada yang tertawa melihat filmnya ataupun ada yang menganggap komedi ala Raditya Dika itu garing, itu soal selera menurut saya. Saya tak mengikuti Malam Minggu Miko atau bagaimana gaya Dika begitu ia stand up comedy (saya jarang memantau stand up comedy begitu sudah tak menonton televisi), tapi gagasan film ini mengangkat nostalgia masa SMA tentang cinta pertama tidaklah buruk, malah sebenarnya hampir manis, terutama soal pilihan Dika memakai lagu Anugerah Terindah Yang Pernah Kumiliki – Sheila On 7.  Sayangnya saya merasa cerita sosok Tiga Sekawan mengungkap kasus-kasus terasa begitu diulur panjang, itu berimbas pada beberapa letupan-letupan komedinya jadi tak begitu meledak lagi karena menjadi kering dan melelahkan. Tapi kebanyakan bisa lancar lucunya, lucu yang memang gayanya Dika yang saya bayangkan lewat deskripsi tulisannya, lucu yang memang segmented, yang tidak harusnya di-judge karena itu memang lucunya versi pasarnya Raditya Dika yaitu kaum remaja. 


Saya tidak suka Kambing Jantan dan film itu memang menjemukan, tapi Raditya Dika berhasil menunjukkan ia lebih baik ketika melakukan debut di Marmut Merah Jambu. Meski endingnya bisa ditebak, namun kadang-kadang nostalgia SMA-nya lumayan nampol di beberapa momen. Saya cuma berharap semoga Raditya Dika semakin dewasa dalam bercerita dan tak lagi membahas problema remeh-temeh seperti susahnya cari pacar, canggungnya kenalan sama cewek cantik atau bagaimana sedihnya hidup sebagai jomblo. Ya tapi tentu itu semua tergantung Dika. Saya tak bisa mencela kalau memang itu object of interest-nya, cuma kalau dipikir-pikir bakal membosankan juga bila dia tidak bisa pergi lebih jauh dari masalah remeh temeh ala anak muda begini. Sementara saya sudah dewasa dan jualan komedinya bisa terasa cetek ditonton kalau begitu terus.


P.S : Oh ya, ada adegan yang saya rasa Dika terinspirasi dari film Mean Girls – nya Tina Fey, ketika sosok Michael yang populer diperkenalkan di layar lewat opini-opini sepintas seluruh orang di sekolah (ini tekhnik yang sama dengan cara Tina Fey memperkenalkan Regina buat penonton).


Comments

  1. Kalau diperhatiin agak lama, si cewek dalam foto itu kok agak-agak mirip kamu ya Mody?
    Jangan-jangan ini konspirasi Yahudi? :D

    ReplyDelete

Post a Comment