Sebuah Surat Tengah Malam Untuk Sinema : Kedekatan Personal

http://s3.amazonaws.com/auteurs_production/images/film/a-woman-under-the-influence/w448/a-woman-under-the-influence.jpg?1289427275


Banyak orang di dunia ini mencintai sinema, mungkin bahkan pada umumnya semua orang mencintai sinema. Itulah kenapa mereka berbondong-bondong masih ke bioskop, masih mau membeli tiket, in other way, masih mau mendownload lewat Torrent, masih mau ingat film tahun berapa atau pemain dan sutradaranya siapa. Saya tidak bilang saya orang yang paling paling tahu sinema karena we will meet the smartest out there.... movie snobs.... tapi sure, kita mengakui bahwa kita semua mencintai sinema. Karena itulah kita masih bertahan dan tetap menontonnya.



Terkadang mencintai sinema itu sendiri seperti belajar. Ada datang masa-masa kita menonton karena terpengaruh ucapan orang lain betapa bagusnya film tersebut. Ada datang pula masa kita menonton film karena hanya ingin keren-kerenan selera. Ada pula masa film itu mewakili tidak hanya semangat kita, tapi kepribadian, kehidupan, masa lalu, atau apa yang ingin kita harapkan di masa depan. Semua akan datang pada prosesnya dan saya bersyukur saya sudah sampai di jenjang yang terakhir. Saya menonton film apa saja tapi saya jarang menonton film yang sedang in di bioskop (karena waktu, uang, dan memang malas) dan ketika saya menulis tulisan ini saya berusaha menyimpulkan kembali alasan utama saya tidak menyerah dengan sinema :

kedekatan personal.

Kedekatan personal adalah ketika sebuah film ternyata merefleksikan kehidupan itu sendiri, baik sekecil apapun itu. Tokoh yang terjadi di film bisa terjadi kapanpun disekitar kita bahkan mungkin adalah cerminan kita sendiri. Apa yang terjadi di film mungkin tidak akan pernah terjadi di kehidupan nyata tapi film itu sendiri dibikin dan terinfluence atas kejadian nyata atau dari sayup-sayup harapan pembuatnya mereplika bentuk lain dari hal yang terjadi di kehidupan nyata.

Sebutlah ini salah, tapi sinema adalah pelarian yang paling indah yang pernah saya temukan. Ketika saya menemukan ada yang salah pada diri saya, saya menonton Lost In Translation (Sofia Coppola, 2003). Mewakili harap saya, melembutkan resah saya. Atau bagaimana saya bisa mengerti problema-problema lain yang bahkan diluar rangkulan saya, masalah apa saja yang dituangkan film tersebut. Ingat film-film Wong Kar Wai, ingat bagaimana ada tokoh yang pelan pelan sebenarnya sedang menghancurkan dirinya sendiri yang diperankan Leslie Cheung dalam Days of Being Wild (1990)? Ingat bahwa cinta bisa sebegitu rumit, bisa mengorbitkan rasa bersalah, embel-embel perselingkuhan dan bisa menyimpang nilai kepatutan dan pandangan umum dalam In The Mood For Love (2000)? Yang paling menyakitkan, bagaimana cinta bisa semuram hujan di pagi mendung dalam Happy Together (1997)? Kita mungkin masih terlalu muda untuk melalui, mengalami yang dialami tokoh-tokoh tersebut tapi bisa jadi pada suatu hari di suatu masa kita akan menghadapi dan mengalami yang serupa..... kedekatan personal itu yang membuat film-film tersebut saya cintai, bagaimana kita bisa merasakan apa yang dihadapi tokohnya, bukan hanya menonton tanpa rasa dan menganggapnya cerita dongeng semalam saja.

Salah bila orang hanya mencari film-film "menginspirasi" "memotivasi" "bermoral" dan menganggap hanya semacam itulah film yang baik. Ada memang asyik tersendiri dalam jenis film-film tersebut, tapi film itu sendiri begitu lengket dengan kehidupan kita.... bahkan sampai hal terkecil di kehidupan ini pun bisa digambarkan dengan detil oleh film yang benar. Dan bayangkan berjuta-juta film ada diseluruh dunia, setiap hari orang bikin film, dan tidak akan pernah ada habisnya...... betapa serunya untuk tenggelam dalam petualangan blusukan sinema ini kan?

Surat tengah malam ini tak saya tujukan pada orang lain atau siapapun tapi pada diri sendiri. Bahwa saya bukanlah orang yang paling pintar atau paling jagoan, tapi saya tahu kemana saya datang dan akan pergi lagi. Tempatnya cuma satu dan cukup rindang : sinema.

Comments