Curfew (2012) : Jam Malam Berisi Harapan




Curfew // 2012 // Sutradara: Shawn Christensen, USA // Pemain: Fatima Ptacek, Shawn Christensen


“The idea for “Curfew” began a few years ago, when I struck up a conversation with a nine-year old girl, and then quickly realized that in many ways, she was much smarter than me. Children at that age absorb so much information, and they do it with such an imbued energy, that it can be awe-inspiring. Adults, by far and wide, become jaded as they get older, and I’m no exception. I liked the idea of exploring these two people – a young child full of life, and an adult, who is drained of life but still has an inner child buried somewhere deep inside him…” - Shawn Christensen



 Ditemukan dalam keadaan sedang dan akan mengakhiri hidupnya, dengan tangan bersimbah darah Richard (Shawn Christensen) yang juga seorang pecandu obat-obatan mendapat dering telepon. Panggilan itu sukses menunda proses bunuh dirinya. Berasal dari sang kakak, Maggie (Kim Allen) yang memintanya untuk menjaga putrinya selama beberapa jam, seorang gadis kecil bernama Sophia. Mulanya tampak jelas bahwa antara Maggie dan Richard yang meski saling bersaudara sudah lama tak saling berhubungan dan bertemu satu sama lain. Richard kemudian menyetujui permintaan itu dan menemukan bahwa ini mungkin menjadi sebuah peristiwa yang mampu merubah pemikiran dan seluruh hidupnya.

That's magical moment.

Dengan pola sesederhana itu, sebenarnya Curfew bisa saja menjadi tidak benar-benar istimewa. Apa yang ingin disampaikan adalah tentang persatuan keluarga, tentang harapan untuk kembali dipertemukan dan dibutuhkan----sebuah pesan yang sebenarnya sudah sering dibicarakan dalam film-film lain bahkan dalam film dengan medium durasi panjang. Yang membuatnya mampu tampil solid dan mengesankan tidak bisa dipisahkan dari faktor para cast-nya yang memberikan kekuatan pada masing-masing karakter, tidak terkecuali Shawn Christensen sendiri yang selain menjadi sutradara, penulis juga menjadi sang karakter utama. Tapi sebenarnya tokoh yang paling bersinar adalah pemeran Sophia yaitu Fatima Ptacek yang mampu membuat film ini menjadi manis sekaligus hangat. Jangan katakan anda tidak terkesan dan ketagihan untuk mengulang-ngulang adegan dance di bowling itu (karena saya melakukannya). Shawn Christensen membuat adegan itu terlihat begitu indah, asyik, penuh energi namun juga memberikan warna setelah sebelumnya kita dipertontonkan sosok Richard yang muram dan depresi.

Fatima Ptacek memerankan karakter gadis yang terkesan sedikit menyebalkan, ceplas-ceplos, namun sebenarnya hanya ingin memiliki sosok keluarga yang kemudian ia temukan dalam sosok Richard. Fatima Ptacek dan Shawn Christensen berbagi chemistry yang tidak hanya hangat untuk disaksikan, namun juga membuat saya merasa harusnya frame kebersamaan karakter mereka diberikan durasi lebih panjang lagi. Sangat indah menyaksikan bagaimana dua orang yang mulanya sama-sama tidak mau tahu ini menjadi pelan-pelan merasa menjadi teman satu sama lain. Seorang pecandu obat-obatan yang harus berdamai dengan seorang gadis kecil dari keluarga yang sedang bermasalah. Saya pribadi memang selalu menyukai cerita dengan dua tokoh berbeda usia signifikan yang saling terikat dan dipertemukan, dan film ini juga merupakan salah satunya yang bisa memenangkan ekspektasi saya.

Meski belum menonton nominasi lain, namun terpilihnya Curfew sebagai film pendek terbaik di ajang Academy Award kemarin memang sebuah kemenangan yang pantas. Cerita tentang persatuan kembali sebuah hubungan keluarga, sebuah harapan untuk kembali melanjutkan hidup, serta kebahagiaan saat dibutuhkan-----yang disampaikan hanya dengan sebuah peristiwa semalam yang mengubah semuanya, ini cukup mengesankan. Menarik untuk menunggu apa yang akan dibuat oleh Shawn Christensen berikutnya.

 


Comments