Like Someone In Love (2012) : Yang Asing Yang Lebih Mengesankan



Like Someone In Love // 2012 // Sutradara: Abbas Kiarostami, Jepang // Pemain: Tadashi Okuno, Rin Takanashi, Ryo Kase, Denden

Asing itu indah. Ketimbang sesuatu dimana kita sudah terlibat dan dekat didalamnya, terdampar di tempat asing kadang lebih mengasyikkan. Itu sepertinya dapat menyimpulkan bagaimana film pertama Abbas Kiarostami yang saya tonton ini.


Pada posternya yang menangkap gambar sang tokoh Akiko (Rin Takanashi) sedang menatap ke arah luar dengan bias lampu-lampu cantik nan indah sebenarnya menjadi penjelas sekaligus petunjuk bahwa sepanjang film kita akan diperlakukan bak turis yang hanya bisa menatap pemandangan dari mobil : Menebak-nebak, ingin tahu, ingin mengerti. Persis Akiko. Mungkin bagi sebagian orang, memandang bukanlah kegiatan yang cukup memuaskan dan bisa jadi membosankan, tapi hanya memandang dengan dipagari bilik-----tanpa terlibat cerita yang bersangkutan------ adalah jalan yang dipilih Abbas Kiarostami, dan lucunya malah membuat saya lebih bebas menginterpretasikan segala aksi dan reaksi para tokoh, terutama tokoh Akiko pun juga untuk Takashi sang kakek tua.

 Akiko misalnya, seorang mahasiswi yang juga punya profesi gelap sebagai gadis prostitusi, lebih seperti pengantar ketimbang tokoh utama yang secara keseluruhan gambarannya tidak benar-benar kita ketahui. Yang kita tahu hanya ia memilih pekerjaan itu sebagai pilihan terpaksa yang pahit (mungkin faktor ekonomi)----sedikit banyak konflik dengan batinnya yang diperlihatkan secara tidak langsung di awal film (adegan di mobil yang cantik itu) termasuk rasa penyesalannya karena menelantarkan sang nenek demi pekerjaannya. eStelahnya sosok Takashi yang lebih banyak di garda depan, dan mungkin karena memang tokoh ini sangat menarik untuk diketahui apa latar belakang serta motivasinya memesan gadis muda seperti Akiko sementara ia seorang pria tua yang hangat, tidak hidung belang dan tampaknya sudah abai dengan perihal seks dan nafsu. Lebih menarik lagi dua sosok ini sebenarnya saling berkaitan : Akiko yang mengabaikan sang nenek yang datang berkunjung sebenarnya adalah cerminan bahwa tokoh sang nenek juga menyerupai tokoh Takashi. Ia adalah duda tua dengan seabrek pekerjaan yang dilupakan anak/cucunya, dimana mulai datang pemikirannya untuk memiliki sosok teman bicara dan seseorang untuk diajak makan malam bersama, yaitu Akiko yang diharapkan bisa mewakili sosok itu. Saya suka bagaimana di adegan pertama kali Akiko dan Takashi bertemu, kecanggungan mereka dapat terbaca jelas. Akiko berusaha mengerti sosok kliennya yang tua, dimana Takashi pun berusaha mengerti sosok gadis yang ingin dijadikannya teman bicara.

Satu tokoh lagi yang diperankan Ryo Kase yaitu sebagai Noriaki, kekasih posesif dari Akiko. Tokoh ini mungkin yang paling dapat dibaca jelas : sebagai karakter pencemburu berat yang bisa bertindak labil bila ia mengetahui kenyataan sebenarnya antara Akiko dan Takashi. Ini mungkin satu-satunya bumbu yang membuat film ini tidak sekedar cuma jadi ajang "menontoni pemandangan" saja, tapi tokoh ini juga menggiring penonton untuk tetap ingin tahu bagaimana akhir dari cerita ini walaupun sebenarnya tetap poin yang dimaksud untuk diperlihatkan Abbas bukanlah tentang proses penyelesaian cerita, tapi pemahaman kita sebagai orang asing saat melihat cerita mereka.

Pada penempatan kita sebagai "turis" ini sendirilah tokoh Akiko dan Takashi menjadi mutlak tidak tertebak. Selayaknya mata orang asing yang ikut di mobil bersama Akiko-Takashi, Like Someone In Love lebih seperti persinggahan, bukan sebuah rumah tetap tempat penonton bisa merasa diberi keleluasaan hak untuk mengenal para tokohnya. Keinginan untuk dekat dan mengerti setiap motif serta latar belakang tokoh selalu ada dan malah semakin besar seiring berjalannya film (inilah keunggulan Abbas Kiarostami) namun karena kita diperlakukan seperti orang asing yang hanya bisa melihat-lihat maka kapasitas kita hanya melihat, menafsirkan, menyimpulkan sendiri. Bukan berarti karena berjarak, film ini hanya selesai sebagai tamasya yang mudah terlupakan. Setiap persinggahan di tempat dan dengan orang asing kadang bisa lebih mengesankan, rasa ingin tahu yang tetap tinggal, bahkan sampai kita pulang dan (tahu tahu) disuruh pamit dari layar. Pun begitu halnya pada Like Someone In Love yang cantik ini.


P.S : Ditulis sambil secepat mungkin berangan-angan ingin menyewa taksi agar berlagak seperti Akiko.




Comments

  1. Hahaha. i love this film. Beginilah kalo udah bad mood dengan pasangan, rasanya pengen kabur mencari orang asing. GREAT deh reviewnya. hehe

    ReplyDelete
  2. Adegan voice mail nenek akiko rasanya efektif sekali ya bikin berkaca-kaca. Dan pas mendekati ending, tiba-tiba terbawa suasana, jadi ikuta deg-degan.

    ReplyDelete

Post a Comment