Review : Yakuza Weapon (2011)



Yakuza Weapon terlihat seperti produk yang similar dengan Tokyo Gore Police, Machine Girl, atau film-film sejenis yang rentan berisi muatan B-movie dan penuh dengan absurditas yang brainless. Melihat dari trailernya, cerita Ketua geng Yakuza bertangan machine gun dengan kaki otomatis yang bisa meledakkan roket such a very great entertainment untuk mereka yang sedang tidak mau menggunakan otak ketika menonton sebuah film.


Jangan tanyakan cerita, karena Yakuza Weapon sama dengan film-film olahan Nishimura : ia tidak perlu cerita susah susah, karena yang dijual memang kenyelenehan dengan bau eksploitasi disana-sini. Meskipun diangkat dari cerita manga, bukan berarti Yakuza Weapon akan tampil penuh komikal atau menarik, tanpa diberitahu bahwa ini adalah adaptasi manga pun, tidak akan berpengaruh banyak ke cerita. Tak Sakaguchi (pemeran utama sekaligus sutradara) lebih memilih menghingarbingarkan apa yang memang menarik penonton dari awal : beberapa metode dan cara pertunjukan ekploitatif yang menggabungkan darah, senjata, dan ide-ide nyeleneh nan goblok.

File:YakuzaWeaponPoster.jpg

Nah, menonton Yakuza Weapon ini jadi mengingatkan pada sebuah film dengan cerita hampir sama tentang kehidupan Yakuza juga, judulnya Full Metal Yakuza karya Takashi Miike. Siapa itu Takashi Miike? Dia salah satu aset sinting kepunyaan Jepang dan Full Metal Yakuza ini adalah film pertama dia yang gue tonton sekitar..... tiga tahun yang lalu, dan DVD nya pun udah hilang sekarang. 

Selain siluet dan gaya poster yang hampir sama, Full Metal Yakuza juga menjual apa yang dijual Yakuza Weapon : eksploitasi. Sama-sama ada adegan dimana ketelanjangan dan wanita dijadikan "korban", sama sama ada muatan sinting nan goblok didalamnya, sama-sama diwarnai dengan komedi dan cerita standar, ya secara garis besar tidak jauh beda. Pertama kali gue nonton Full Metal Yakuza dan gue baru kali itu menonton film "bodoh"seperti itu. Awalnya gue benci film itu setengah mati sampai pada akhirnya selera gue mulai berubah dan gue mulai bisa berkompromi dengan film-film tak berotak yang menjual muatan sadisme semata. Malah, gue masih ingat banyak adegan di film itu, dan seingat gue Takashi Miike masih memberikan drama didalamnya. Yang paling gue ingat adalah adegan disturbing di film itu yang melibatkan wanita, ketelanjangan, kekerasan dan kekejian diblender jadi satu : adegan seorang wanita disiksa dan badannya diikat erat dengan rantai dan sempat digagahi sampai akhirnya mati dijerat ikatan rantai tersebut. 

Melatarbelakangi ide yang sama, Yakuza Weapon punya Tak Sakaguchi masih tidak sesinting karya Takashi Miike itu. Yakuza Weapon ini seperti versi yang lembut, dan meskipun ada muatan darah di sana sini semuanya disajikan dengan "ramah lingkungan" dan sama sekali tidak ada adegan atau apapun yang disturbing. Tidak sesinting karya-karya Nishimura juga, mungkin berada di level bawah dibanding karya - karyanya (Btw, nama Yoshihiro Nishimura juga terdapat di credit title film ini). Tapi film ini tetap tidak bisa lepas dari status bodoh. Ada banyak ide nyeleneh dan metode cara yang berpotensi awesome untuk disimak. Ada penis listrik lah, penis roketlah, sepatu yang bisa membuat bolong wajah, dan yang paling awesome adalah ini :

Film Still
Siapa itu??? Jin Kazama???
Gambar diatas adalah adegan pertarungan Shozo (Tak Sakaguchi) melawan Tetsu (sahabat sekaligus musuhnya) dan mau tahu senjata Tetsu apa? Tubuh telanjang adiknya!
 Bagaimana tubuh wanita bisa jadi senjata? Hahahaha disanalah efek kerennya. Silahkan ditonton sendiri. Ini salah satu adegan yang ter-hillariously fun dari macam yang nyeleneh di film ini.




Sayangnya ide-ide konyol nan absurd tidak diimbangi dengan tekhnis yang mumpuni. Sinematografisnya juga biasa saja, padahal gue mengharap efek sinematografis yang sama awesomenya dengan ide gila yang coba ditawarkan Tak Sakaguchi, akan jauh lebih baik bila sinematografis yang cantik dengan gradasi warna yang lebih tebal membungkus keseluruhan film ini, pasti membuat efek darah dan eksploitasinya juga menjadi jauh lebih efektif. Machine gun dan senjata tubuh sang pemeran utama pun jadi terlihat kurang istimewa, karena keabsenan efek sinematografis atau spesial efek tertentu untuk membuatnya terlihat awesome. Sayang sekali, padahal poster filmnya lumayan eye catching ya?

Well, terlepas dari pilar utamanya sebagai film hura-hura tanpa perlu kehadiran otak, Yakuza Weapon masih jauh dari sempurna untuk menjadi hiburan bodoh yang memuaskan. Mendasari ide dari kebodohan, namun kurang all out menonjolkan kegilaannya, begitulah film ini. Alhasil kesintingan film ini masih jauh levelnya dibawah segala kesintingan yang diperbuat Nishimura atau bahkan Miike. 

Tapi film ini masih bisa jadi pilihan untuk yang masih belum terlalu mengenal keabsurdan khas Jepang dan segala macam unsur eksploitasi yang membungkus film-film mereka, mungkin bisa memulai dengan menonton film ini. Dan bisa jadi terhibur.

RATE : 2.5/5

Comments

  1. Pertama kali nonton film beginian itu TOKYO GORE POLICE...DVDnya langsung gue buang saking mualnya...hahahaha!...

    ReplyDelete
  2. @otoy Masih jauh dari Tokyo Gore Police kok hehe :) wahaha buang DVDnya ye? Gue rindu tuh nonton Full Metal Yakuza, padahal pertama selesai nonton gue benci banget. DVD (bajakan) yang pernah gue buang sehabis nonton itu Salo 120 Days Of Sodom. Jangan tanya filmnya, pokoknya sampai sekarang gue ga minat nonton lagi.

    ReplyDelete
  3. 120 Days Of Sodom ahahaha,, ane kira ane aja yang pernah nonton film itu..sumpah itu film najis abis..maudy kapan2 review film itu ya,, ahahahaa

    ReplyDelete
  4. film itu direview? Wah berarti nonton lagi... entar deh, kalau nasib mempertemukan gue sama film itu. Tapi dari segi minat sih ogah ye.

    ReplyDelete
  5. This movie is so awful (blood CGI is dumb). 12 taun yang lalu Tak Sakaguchi datang dengan Versus which is so good, ketika dia signed contract dengan Sushi Typhoon harapan melambung tinggi untuk bisa liat entertainment level eksesif, tapi ternyata film ini bad, as so bad :)

    ReplyDelete
  6. @R iya gue kira filmnya bakal gila. Ternyata engga. Momen hillariousnya dikit banget. Tapi ya mungkin masih bisa dinikmati buat yang baru nyoba film beginian.

    ReplyDelete

Post a Comment