Review : Morning Glory (2010)


Sebenarnya menurut taste pribadi, ranah rom-com berbau chicklit atau chicklit berbau romcom khas Amerika bukanlah hal yang gue suka. Semenjak bencana film-film romcom Katherine Heigl, Jennifer Aniston, Adam Sandler makin membuat wajah mereka makin menyebalkan lama-lama untuk dilihat, otomatis gue gak menoleh ke produk-produk mereka yang baru bahkan yang dibilang lumayan bagus sekalipun. Hal krusial yang sering gue temui dan alasan utama kenapa gue males sama romcom/chicklit barat mereka adalah satu : klise. They do always show same stories, same plots, same cheesy, same way---walau beberapa berhasil "mengendalikan" kekliseannya, sangat terlihat bahwa produk romcom Amerika nyaris tidak menawarkan sesuatu yang baru.

 Seperti contohnya, merilis beberapa produk berbeda yang punya satu garis premis yang sama?

Kenapa tidak tambahkan Love And Other Drugs, dan gabungkan ketiga-tiganya menjadi satu film? Setidaknya menghemat biaya rental film gue.

Nah, Morning Glory lahir dari penulis skenario The Devil Wears Prada yang sayangnya males untuk nulis sesuatu yang baru lagi. Jadi dia mentransformasi naskah The Devil Wears Prada lagi, mengisi slot Anne Hathaway VS Meryll Streep dengan Rachel McAdams VS Harrison Ford, beberapa permasalahan, beberapa puncak konflik lalu ta-daa-here-comes-a-happy-conclusion, ditambah bumbu-bumbu romcom lewat wajah Patrick Wilson (om-om dari Insidious, remember?) and bla...bla..bla, jadi selesailah penyajian dari Morning Glory.

Repetitif? Yap. Cerita seorang wanita karier yang menghadapi permasalahan ditempat kerjanya lalu mesti memasuki kawasan baru yang benar-benar berbeda dari kendali awalnya, plus segala konflik dan tekanan disekitarnya, dan disela-sela itu ada seorang pria yang cukup charming sebagai porsi hiburan filmnya adalah sesuatu yang.... repetitif. Kita yang otomatis kenal sama semua detail klasik produk romcom/chicklit pasti tahu bagaimana karakteristik tokoh utamanya : pasti seorang wanita biasa-biasa, suka bertindak bodoh, super kikuk, tapi punya semangat tinggi, pantang menyerah, dan yang sangat pasti adalah dia pasti (awalnya) punya ketidakberuntungan dalam masalah percintaan. Check, semua karakteristik itu terdapat pada diri Becky Fuller (Rachel McAdams) yang berponi, hal yang sama pada Andy Sachs di The Devil Wears Prada. Untuk tokoh utama lainnya, Mike Pomeroy (Harrison Ford) tak kalah kejam dan idealisnya dengan Miranda Priestly (Meryll Streep), sebagai seorang pembaca berita berpengalaman yang ogah menurunkan kelasnya untuk acara hiburan pagi.

Sebenarnya apa yang diusahakan oleh Roger Michell (Notting Hill, you know) bukanlah sesuatu yang sia-sia juga.
Morning Glory dalam standarnya sebagai chicklit dengan sedikit bumbu-bumbu romcom berada pada pencapaiannya yang tidak sangatlah buruk. 
Efektifitas sekaligus penyumbang terbesar atas keberhasilan Morning Glory menjadi lebih menarik adalah Rachel McAdams. Ya, sosok Becky Fuller yang super optimis, tidak pernah menyerah cenderung keras kepala, memberi peran banyak pada film ini. Penonton bisa merasakan betapa aura bersemangat dan sangat easygoingnya seorang Becky Fuller menghadapi permasalahan tempat kerjanya yang super memusingkan, tidak lain karena porsi Rachel McAdams yang menguasai departemen akting keseluruhannya.

Aktor gaek Harrison Ford dalam usahanya untuk mampu dominan seperti porsi Meryll Streep, sayangnya tidak begitu sangat istimewa. Dia berperan baik, "cukup" tapi tidak impressing. Tapi sebagai sasaran duel Rachel McAdams, Harrison Ford cukup mampu tampil menyebalkan dengan karakternya yang super dingin, sinis dan sarkastik itu. Karakter lain? Sayangnya lampu untuk menyorot karakter lain tidak seterang lampu yang disorotkan untuk Rachel dan Harrison. Diane Keaton, contohnya. Perannya tidak begitu mengesankan, ia cuma melengkapi film ini berikutpun Patrick Wilson, walaupun ehm, dia cukup sexy dan eye-catching disini :D
Well, walaupun berasal dari naskah daur ulang The Devil Wears Prada, dan gue juga makin cape terus menerus menulis The Devil Wears Prada, Untuk kategori sebuah tontonan pelepas penat Morning Glory bukan salah satu yang gagal. Mungkin dia tidak menawarkan premis atau jalan cerita yang baru, bahkan masih terdapat sedikit banyak klise-klise yang mempengaruhi film ini jadi monoton seperti romcom sejenisnya.

Tapi Roger Michell mampu mengarahkan filmnya dengan baik, dibantu performa Rachel McAdams yang menjadi "host" utama film ini, dan secara keseluruhan apa yang tersaji di Morning Glory cukup enjoyable untuk dinikmati. 

Menonton ini mengingatkan gue sama The Hangover. Memang genre yang berbeda, tapi cara gue menikmati The Hangover dengan film ini hampir sama. Gue tahu ini lumayan, tapi gue ga menganggap itu sesuatu yang hebat. Atau mungkin memang dari awalnya untuk mampu mengesankan gue secara maksimal, bukan dengan tontonan ringan seperti ini?


Ya, kembali ke tulisan awal. Morning Glory bukan salah satu yang sanggup merubah pandangan gue yang males pada romcom/chicklit Amerika. Tapi ia salah satu yang termasuk bisa mengendalikan kekliseannya. Bagaimanapun jadinya Morning Glory salah satu film ringan yang punya status average di mata gue : It's not that bad, but it's not that great. Just average.

RATE : 2.5/5

Comments