Risky Business : Kegilaan Untuk Melupakan Kegalauan


Review ini mengandung spoiler!

"Sometimes you gotta say "What the Fuck", make your move. "What the Fuck" brings freedom. Freedom brings opportunity, opportunity makes your future." - Joel's friend.

Apa yang kita lakukan ketika kita berada di masa masa akhir SMA kita? Pusing berat dengan semua tekanan dan rencana yang digadang-gadangkan orang tua kita? Hanya diam, tidak ambil peduli atau memikirkan tentang suatu tindakan? Atau sebenarnya... kita benar benar tidak punya petunjuk apapun tentang masa depan kita?



Kebanyakan dari kita----adalah anak anak SMA yang sibuk membuang waktu (dan uang orangtua) untuk kemudian tahu tahu sampai disebuah pintu keluar dimana kita sadar, semua tidak akan sama lagi. SMA sudah berakhir. Sekarang saatnya serius, saatnya membuka pintu dan memilih jalan. Tapi bukannya seperti yang dibilang, bahwa kita ini asshole? We don't even know what we're gonna be. Jadi masih mungkinkah bermain-main dan bertingkah acuh tidak acuh ketika kita dihadapkan oleh masa depan?

Joel (Tom Cruise) sedang galau. Teman-temannya sudah banyak yang secara resmi diterima diuniversitas masing-masing. Orangtuanya terus update bertanya tentang kelangsungan masa depannya---tentang nilai-nilai, interview, dan segala macam, tentunya dalam tendensi yang santai dan tidak serius-----namun bagi Joel, seakan "mengancam".

Suatu hari, orang tuanya pergi ke luar kota dan meninggalkannya sendirian menguasai seisi rumah. Sepuasnya. Masalah dimulai ketika salah satu temannya mengerjai dengan menelpon salah satu layanan wanita panggilan, dan datanglah sang PSK (yang ternyata waria) bernama Jackie. Untungnya hidup Joel bisa selamat. Tapi si PSK tak lupa memberinya satu nomor telepon dan berujar, "It's what you want. It's what every white boy off the lake wants". Joelpun tergoda. Ia keburu nafsu, dan terlebih ia sedang bebas. Maka ditelponnya nomor sang gadis yang disebut Lana (Rebecca De Mornay) dan dimulailah semua kemerdekaan batin Joel. Bebas. Lepas.



Apa yang paling banyak dibicarakan ketika menjejak masa SMA? Seks. Cinta. Kesenangan. Kebebasan. Bisa melanggar aturan, tidak memedulikan hal-hal baku di sekolah, melakukan banyak hal buruk dan berdosa dan merasa puas setelahnya, pokoknya hanya hura-hura. Joel menjadi gambaran proporsional tentang itu. Ia sedang muda, ia haus nafsu dan penuh gelora seks, ia juga sedang mencari petualangan sekaligus malu-malu mau menabrak larangan. Ia adalah frofil remaja sebenarnya. Masalah apakah tokohnya believable, ya. Meski didunia nyata tentu tidak semua orang senekat dia dengan siklus hidup rich-one-night-stand segila itu.

Paul Brickman banyak bercerita sekaligus menyindir dan menggelitik. Lewat dialog dan percakapan para pemain, atau deskripsi secara lepas keseluruhan adegannya. Banyak formula di Risky Business yang bisa ditafsirkan : mimpi-mimpi basah seorang Joel sebagai simbol kebebasan dan pelarian dari masalah nyata dengan hanya ber-having fun (menunjukkan bahwa mayoritas remaja lebih suka memilih bersenang-senang ketimbang mengurusi masa depannya) untuk adegan lain, ketika Joel merayakan kemerdekaannya ditinggal sendirian dirumah dengan berjoget-joget konyol menggunakan kemeja dan hanya celana dalam mendeskripsikan bahwa setiap remaja punya ambisi kegilaan tersendiri yang berusaha disembunyikan dari sang orangtua. Siapa yang tahu apa yang ada dipemikiran kita saat remaja? Orangtua pun kadang tidak tahu menahu, segila apa anaknya disekolah atau dibelakang pengawasannya.

Tumblr_lke2zqoss41qbs1x4o1_500_large
Harus diakui, Risky Business memang harus disimilarkan dengan nama sebuah film, The Graduate. Bedanya, The Graduate memotret kegalauan remaja dengan makna yang lebih muram plus ironis ketimbang Risky Business yang lebih having-fun dan mengambil jalan penyelesaian yang mudah dan melegakan. Namun perkakas yang digunakan kedua film ini hampir sama : unsur satir dan komedik sepanjang film, kegilaan sebagai tumpuan demi memangkas kebingungan dan kegalauan---Joel dan Benjamin adalah tokoh yang nyaris sama.
Benjamin melakukan kegilaan versinya dengan mengacaukan pernikahan Elaine sang pujaan hati, mengajaknya kabur hanya karena spontanitasnya yang tak berdasar. Disini Joel, karena masalahnya yang bertubi-tubi dan titik tumpunya sebagai remaja yang mudah pusing, memutuskan membuka rumah bordir semalam sembari melupakan kegalauannya tentang masa depan.

Menilik segi akting, Tom Cruise ternyata memang terlihat sangat freshly charming disini. Karakternya naif. Remaja baik-baik sekaligus ingin nakal. Ia mampu tampil mengesankan mewakili keseluruhan sisi labil kita, membuat kita tersenyum sekaligus membayangkan bahwa kalaupun kita berada dimasalahnya sekarang, kita pasti juga akan bertindak segila itu. Rebecca De Mornay juga sukses tampil menyebalkan. Karakternya seduktif bin manipulatif, baik hati sekaligus (kebanyakan) menyusahkan hidup Joel. Tapi secara pasti keintiman mereka berbalut adegan seks difilm ini mampu menggambarkan gelora remaja itu dengan baik. Elemen karakterisasi sudah dirancang dengan baik.


Elemen karakterisasi sudah dirancang dengan baik. Dasar ceritapun menarik, dengan banyak kandungan pesan dan sindiran satir yang disusun bergaya komedik.  Tidak dipungkiri, Risky Business menjadi semacam versi yang lebih bersenang-senang dari The Graduate. 
Ia berhasil menyeret kita dalam siklus coming-of-age seorang remaja yang mencoba jalur nafsu sebagai jalan keluar melupakan rasa galau. Pasangkan sosok kita pada Joel, dan nikmati filmnya. Maka kita akan mendapati kita sedang menontoni diri kita sendiri.



RATE : 4/5

Comments