Review : Tekken - Blood Vengeance (2011)



Waktu itu sebenarnya gue iseng-iseng pengen nyari film Tekken versi animasi via Google yang ternyata, voila! emang beneran lagi ada versi animasinya baru dibuat. CGI pula. Tentunya Tekken : Blood Vengeance jadi a must see buat satu orang yang dari masa SD-nya kebanyakan merhatiin kakaknya main video game dan  Tekken itu salah satu bagian dari game yang dimainin kakaknya. Dulu juga gue sempat main, dan gue mengikuti cerita Tekken yang bikin gue tambah ketagihan buat main video gamenya----- bersimpati sama tokoh ini dan itu, dan bahkan ini jadi salah satu memori seru masa kecil dimana dulu gue sama kakak gue berusaha buat namatin game supaya dapet ceritanya atau sekedar buat seru-seruan. I miss It so much.


Oke beralih ke filmnya sendiri, selain menayangkan ini dalam format 3D, Tekken : Blood Vengeance ga dibikin secara picisan seperti halnya versi live actionnya yang ehm... amburadul itu. Jangan diakuinlah sebagai bagian dari Tekken. Kalau melihat Tekken : Blood Vengeance dan segala macam detail materinya, kelihatan kalau adanya totalitas dan kerja ekspresif dari penggagasnya----Bandai Namco yang memang ingin mengerjakan semuanya secara solid. Agak kecewa sih karena hanya sekumpulan karakter utama aja yang dimunculin, tapi back to logic, kayanya itu the best idea yang mereka pikirin setelah melihat betapa rusaknya Tekken The Movie yang berusaha membuat berjubel semua karakternya dan..... malah bikin itu kaya sampah lewat. Jadi dibanding membuat semua karakter jadi terkesan tidak penting, mereka lebih suka ambil intisari dan bikin cerita utama tanpa melibatkan Hwoarang (tokoh favorit kakak gue) tapi gapapa... gue sukanya Panda. Hahahahaha...


Tokoh kita kali ini Ling Xiao Yu---si siswi polos nan imut stereotipe cewek-cewek Jepang pada umumnya plus tipikal semua fantasi kotornya cowok fanboy. Dia dikeluarkan dari sekolah (yang dikepalai Ganryu -_-) dan diperintahkan Anna Williams (seseorang dari versi lebih jalangnya dari Nina) untuk bersekolah di Kyoto Internasional sembari menjadi mata-mata untuk Shin Kamiya, seorang cowok yang sempat terpikirkan hampir bisa menjadi pengalih imajinasi kotor gue terhadap Jin Kazama. Cerita berlanjut pada pertemuannya pada Alisa, seorang cewek yang ternyata robot (dengan kostum yang bisa mendatangkan fetish untuk seseorang disaat malam) dan persaingan mereka untuk merebut perhatian Shin Kamiya. Tapi tentu aja, masalah tidak secetek itu. Ada rahasia besar sekaligus rencana mengerikan dari masing masing pihak yang memperalat ketiga remaja ini sebagai boneka mereka....


Harus diakui, bahwa Bandai Namco cukup tidak main main dengan proyeknya ini. Dari gagasan 3D aja, sebenarnya sudah terdeteksi kalau adanya keinginan dari pihak resmi Tekken sendiri untuk membuat suatu tontonan yang memuaskan untuk-----khususnya para fans Tekken. Dari kelebihan dan semua hal yang mereka optimalin, kita bisa lihat hasilnya. Animasi CGI-nya jadi lebih lentur dan gak kaku, salah satu hal memuaskan dari layar yang langka kita dapatkan.  Mimik muka, keringat, kulit, dan segala detailnya terlihat sangat real (adegan Shin Kamiya mandi...) meskipun ada juga beberapa yang masih "animasi sekali" tapi tentunya secara garis utama Tekken mampu membawa aura realitas kearah filmnya, membuat semua momen disini berapa kali lipat jadi terasa lebih keren.
Awalnya, menjanjikan. Tapi segera kita tahu kalau yang berhak kita khayalin itu cuma Jin.
Soal adegan berantemnya---sebagai salah satu bagian vital yang bisa bikin kita, para fans Tekken orgasme, cukup maksimal. Meskipun sebenarnya menurut gue semua pertarungan yang maksimal adalah dengan menciptakan banyak darah, tapi tanpa itu beberapa pertarungan tetap sanggup bikin "wow" terlebih ketika pertarungan tiga generasi-penuh-dosa (gimana ga penuh dosa... kakek, anak, sama cucu saling membunuh) dimana Jin membunuh Heihachi dengan cukup stunning, sekali lagi Jin Kazama kembali memperlihatkan kalau dia adalah bahan fantasi seksual versi animasi CG terbaik buat cewek-cewek.
Iyalah.. CGI gituloh. Tinggal liatin bonernya dikit, Tekken bakal jadi klasik selamanya.
Selain kesetiaannya mempertahankan karakteristik tokoh-tokoh utama dan tentunya membuat jalan cerita yang lumayan menarik untuk disaksikan, tentu aja Tekken : Blood Vengeance tidak lepas dari kekurangan. Ada karakter yang kurang disorot dan terkesan lewat saja, seperti Lee (yang menjadi guru Xiao Yu) Ganryu, Mokujin, Lei Wulong (masa dia cuma jadi figuran yang ngesms Ling Xiao Yu??!) Panda lumayan berguna lah, efektif sama apa dominasi karakternya di Tekken video gamenya (meskipun minus cerita cinta). Kelihatan sekali kalau Bandai Namco jeli melihat dominasi para tokohnya, supaya ceritanya jadi tidak berantakan. Walau sebenarnya untuk salah satu peran penting di film ini, Shin Kamiya, tidak dikendalikan sangat efektif. Dia terkesan cuma figuran film ini. Padahal dari awal dia hampir sanggup membuat kharisma yang menarik perhatian gue, tapi berkat klimaksnya, dia jadi turun peringkat menjadi tokoh yang terkesan lewat saja. Padahal kalau naskahnya dirombak ulang, masih ada kesempatan membuat karakternya jadi lebih berarti dan punya kredit lebih selain cuma penampilan awalnya yang kelihatan sangat penting disini.

Untuk gue pribadi, selain kekurangan atas beberapa dominasi karakterisasinya, ada beberapa momen maupun titik klimaks yang sudah bagus tapi kurang memuaskan. Ambil contoh, momen yang kurang memuaskan (dan gue yakin bukan cuma gue yang kurang puas) adalah momen saat adegan begini :

Hampir ada ekspektasi... hampir. Tapi ternyata....

Mungkin ini obrolan lain, tapi dari sebuah animasi CGI yang dibikin susah-susah kedalam format layar lebar----apalagi 3D, apalagi sih yang kita para penikmat Tekken bisa puas kalau bukan pertarungan keren (yang sayangnya tidak melibatkan banyak darah, kesannya hambar) dan tentunya.... sisi sensualnya sedikit aja? Sedikit aja. Adegan ciuman kek. Apa kek. Ekspektasi ini sempat datang ketika adegan diatas muncul, tapi segera kita ingat kalau Tekken : Blood Vengeance tidak punya banyak waktu untuk memenuhi hasrat intim kita kecuali buat memancing kita doang. Haha.
Pendek kata, gue lumayan banyak dan cepat terhibur dengan pencapaian yang dicapai instalmen versi CGI cemerlang ini. Tekken lumayan berkonsentrasi terhadap para karakternya, menciptakan banyak momen pertarungan yang mengesankan, dan tentunya dia bukan salah satu yang lepas dari jalan ceritanya.
Meski tidak membuat gue berada dalam kondisi sangat-sangat-sangat puas, tapi tetap Bandai Namco sudah semaksimal mungkin menghadirkan hiburan sekaligus reuni menyenangkan dari serial video game masa kecil gue. Dan dipikiran gue, 3D-nya tidak mengecewakan.

Lupakan versi live actionnya yang buruk rupa itu. Gue bakal terus menanti sekuelnya atau apapun yang diusahakan oleh Bandai Namco-nya sendiri. Atau setidaknya.... versi rated-R nya dimana Tekken bisa menciptakan muncratan darah, grafik kekerasan dan unsur seksnya. Apa gue mimpi?

RATE : 3/5

Comments

  1. Koreksi dikit. Xiaoyu bukan suruhan Nina, tapi Anna. Alisa yang sebaliknya.

    ReplyDelete
  2. @noob thank you bang atas koreksinya. entar dibenerin. Suka keplinter emang antara Nina sama Anna

    @claude hehe a must see buat fans Tekken

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mikatana

      Karna tidak ada adegan seks kuanggap keren ,, bila ada mungkin ak gk bisa nganggap itu keren tpi hanya film" pemuas doang ..

      Delete
  3. keren cuy ini lebih bagus (malah sangat) drpd live actionnya , mudah2an namco membuat lebih banyak lagi >.< love this movie

    ReplyDelete
  4. Filmnya keren abiz :3 semoga ntar ada film" Tekken versi animasi kayak gini lagi.

    ReplyDelete

Post a Comment