Review : SuckSeed (2011)


Menurut gue bahasa paling aneh sedunia itu cuma milik Thailand seorang. Selama ini, dialek cina, korea, francis, atau negara manapun seunik apapun gue ga pernah nemuin bahasa orang yang ngomongnya kaya keselek di tenggorokan kaya orang-orang Thailand. Orang Thailand tuh asli unik. Makanya unbelievable banget dengan dialek mereka yang khas itu, mereka bisa ngucapin bahasa inggris dengan bagus. Dengan suara dan cengkok mereka yang cempreng cempreng (dan setau gue bahasa Thailand itu diucapin pake nada, ada nada tinggi sama nada rendah jadi salah nada sedikit, bakal salah persepsi juga) rasanya agak freak kalau gue ngedengar mereka bisa bahasa inggris kaya Cinta Laura. Mungkin itu juga alasan kenapa salah satu temen chat gue di Facebook yang dari Thailand pernah bilang kalau negara dia itu susah nyari orang yang sempurna bahasa inggrisnya. Dan mungkin itu juga alasan kenapa aktor/aktris orang disana tuh mukanya kebanyakan muka indo.



Soalnya dengan skill ability bahasa inggris yang biasa aja, Thailand sebenarnya ga jauh jauh beda sama Indonesia. Muka orang-orangnya mirip. Suasana chaos kota kotanya mirip Indonesia. Cuma salah satu kenyataan yang menyebalkannya adalah.... kenapa dengan fakta kalau cara ngomong mereka itu asli konyol sekarang film film mereka bisa jadi populer di negeri gue sendiri? Sekarang setiap temen gue minimal tahu siapa itu Mario Maurer. Bioskop yang baru juga udah mulai nayangin film yang lagi update disana, The Billionaire. Gue pikir dengan semua ini, menunjukkan bahwa Thailand semakin maju diatas Indonesia. Rutinnya film-film mereka masuk ke sini mengindikasikan bahwa Thailand sudah cukup punya pasar disini, dan punya "fans" disini. Jadi begini sinopsis singkatnya :

Ped (Jirayu Laongmanee) bertemu lagi cinta masa kecil terpendamnya, Ern (Natasha Nuanjam). Tapi sayangnya ternyata si sahabat yang labil, Koong (Peach Pachara) juga menyukainya. Koong pun mengajak Ped untuk membentuk sebuah band----mulanya hanya keinginan spontannya, sampai pada akhirnya membawa babak baru bagi ujian persahabatan mereka : Siapakah yang akan mendapatkan hati Ern?


Sebenarnya Suckseed itu bukan film penting. Ini film remaja dengan asupan drama cinta dan komedi dengan kekonyolan ala Scott Pilgrim VS The World (dengan sedikit efek komikal ala Scott Pilgrim VS The World juga) dan ini----jika tidak ditangani oleh orang yang tepat akan berakhir seperti film-film drama cinta menye ala orang Indonesia. Am i too cynic? Tapi menurut gue, sampe sekarang tuh---untuk era sekarang, gak ada satupun film Indonesia di genre komedi-remaja yang lucu maupun berkesan selain kebanyakan menaburkan kegejean dan kelebayan yang sayangnya, tidak menghibur. Apakah kita terlalu susah bikin sesuatu dengan cita rasa kita sendiri? Gue ga tau. Yang pasti pertanyaan itu bukan cuma buat genre komedi-remaja tapi gue rasa buat semua genre di tanah air ini (then, i don't need to write Horror).

Suckseed itu lebay. Konyol. Momen-momen komedik bertebaran disana sini, berselipan dan saling tumpuk dengan porsi drama cinta dan unsur persahabatannya. Tapi Chayanop Boonprakob----sang sutradara berhasil membuat 130 menit itu bukannya menjadi tontonan tidak jelas yang melelahkan melainkan menarik dan sangat menghibur. Am i too much? Gue berusaha buat menilai murni Suckseed ini tanpa melihat bahwa ada Jirayu Laongmanee bermain di film ini. Tapi ya tanpa melihat faktor itu.... film itu memang (maaf kalau masih keliatan berlebihan) dipastikan bisa membuat sangat terhibur dan bisa membuat jatuh cinta. 

SuckSeed bertutur mulanya dengan gaya main-main, seakan film ini hanya sebuah cerita cetek tentang sebuah band labil dengan featuring kisah cinta-segitiga-remaja, dan membuat orang berpikir awalnya bahwa film ini sepertinya akan jatuh konyol sama sekali. Tapi makin mengalir, ternyata Chayanop mampu merubah pemikiran itu. Dibalik gaya dan komedi yang diselipkan banyak disana-sini ceritanya semakin bertambah serius, tentu bukan dengan tendensi yang serius pula----masih dengan tone ringan disesuaikan untuk konsumen remaja. Alhasil Suckseed jadi tebal bukan cuma dengan gaya komedinya yang nyeleneh dan gaya kreatifnya untuk memamerkan dirinya sebagai "film musik" (adegan ketika Ped jatuh cinta atau sedih dimana band band ternama lalu muncul dan menyanyikan lagunya... THAT'S SO CREATIVE!) tapi juga tidak melupakan ceritanya-----lewat karakterisasi yang berisi membuat penonton jadi mengenal dan ikut bersimpati pada persahabatan Ped-Koong bahkan terlibat emosi atas perseteruan keduanya ketika dihadapkan pada cinta segitiga. Penonton tentunya ikut ingin mengetahui apa yang dipilih Ped pada akhirnya : cinta atau persahabatan?

Dari segi pemeran, Jirayu Laongmanee secara jujur mampu membuat gue jadi suka sekaligus benci sama karena sifat naif sekaligus mengesalkan dia. Peran good-nerd-innocent-boy ala Eita di Summer Time Machine Blues (atau dalam versi lebih rumitnya, Michael Cera), bisa dibawakannya dengan baik. Tentunya dibantu dengan efek efek komedik disekelilingnya yang membantu penonton jadi seperti sangat mengenal karakter dia. Sementara Peach Pachara hampir semenonjol peran Jirayu----ia malah bisa dibilang lebih mencuri perhatian penonton karena dominansi karakteristiknya yang kocak, keras kepala, spontan, egois dan super labil itu. Isu karakteristiknya ini juga yang akhirnya diperlihatkan secara mengalir sampai akhir klimaksnya, dan bisa dibilang pengenalan karakter dua orang ini bermain banyak jadi terasa intim dan mengena bagi penonton untuk mewakili unsur kuat friendship di film ini. Natasha Nuanjam juga menjadi pemanis yang baik sebagai sasaran cinta segitiga Ped-Koong, dia mengisi slot sesuai untuk karakter gadis pujaan difilm tentang persahabatan cowok.

Oh ya, menurut gue juga Chayanop banyak menyelipkan pesan dan sindiran terhadap kehidupan remaja disini. Karakteristik Koong yang labil atau kakak kembarannya Kay yang mudah gonta-ganti band (dan dengan mudah memecat anggota band) seperti sindiran bahwa kehidupan remaja memang selalu penuh kelabilan dan hal-hal spontan yang tidak akan bertahan lama. 


Pendeknya Suckseed adalah contoh sukses dari sebuah tontonan yang berkesan dengan subyek obyek remaja. 
Suckseed juga membuktinya bahwa efek nyeleneh, komedik berlebihan dan segalanya tidak hanya akan bisa berakhir menjadi film lewat-tanpa-diingat lagi saja. Tapi ia bisa menjadi sebuah film baik yang merangkum persahabatan, cinta dan kehidupan remaja menjadi sebuah film yang menarik untuk ditonton. 


RATE : 3.5/5


Comments

  1. If you would like an alternative to casually approaching girls and trying to find out the right thing to say...

    If you'd prefer to have women chase YOU, instead of spending your nights prowling around in crowded bars and nightclubs...

    Then I urge you to view this eye-opening video to discover a amazing little secret that has the potential to get you your very own harem of beautiful women:

    FACEBOOK SEDUCTION SYSTEM...

    ReplyDelete

Post a Comment