Review : Pupus (2011)



Untuk bisa membuat sebuah film memiliki relasi emosi dengan penontonnya, maka film itu haruslah believable dan tidak terkesan too good to be true.


Terlebih di lembah drama, film itu harus berlaku layaknya kehidupan nyata. Natural. Dekat dengan kenyataan dan kehidupan sehari-hari. Penonton diposisikan sebagai si tokoh----yang bukan Dan Coubb dari Inception. Si pemain terlibat cinta pada si senior. Mulanya cinta segitiga, lalu ia pun mulai menjalin kasih pada cinta yang dikejar-kejarnya. Ini adalah gambaran yang cukup biasa yang kita temui dari cerita sehari hari bukan? 

Semenjak Heart (2006, Hanny R. Saputra) menjadi box-office dengan membawa isu tearjerker berlebihan, filmmaker kita sepakat : cinta, tangisan, dan kematian adalah jualan harga telak. Maka jangan kaget bila menahun kemudian, jualan itu masih sering kita temui di film-film bernada cinta produksi nasional-----disisi lain Pupus, ada Milli dan Nathan.

Sebenarnya tidak masalah dengan "paket jualan" itu. Ingat, bahwa hal klise masih bisa bagus asal dieksekusi dan dibidani oleh orang yang tepat? Menilik semua karya film remaja John Hughes, banyak keklisean didalamnya yang malah di tangan Hughes terkesan believable, manis, dan berkesan. Tapi entah kenapa skenario Pupus dari awal terasa memang hanya mengejar paket pendahulunya di film Heart. Skenario film ini kacau, sekacau timeline sepanjang filmnya. Plot ceritanya lompat-lompat, banyak lubang kecil bertebaran dimana-mana, dan Rizal Mantovani seakan hanya ingin mencetak tebal tiga hal tadi : cinta, tangisan, dan kematian. 
Bagaimana sebuah film bisa menyentuh emosi penonton bila ia memaksa keras pada penonton, bukannya menyajikan dengan lembut?


Mulanya Pupus berjalan alami dan menarik. Kita disuguhi adegan per adegan bagaimana Cindy (Donita) dan Panji (Marcell Chandrawinata) pertama kali bisa bertemu lewat sebuah opening cerita yang lumayan lucu dan mengundang penonton untuk semakin tertarik terlibat didalamnya. Sampai disini cerita masih dirajut Rizal Mantovani dengan benar, tidak terkesan berlebihan namun juga jenaka dan ada bumbu romcomnya.
Tapi seperti menunggu bencana datang, maka semuanya semakin tidak karuan. Permasalahan para tokoh makin menumpuk, sisi sentimentil makin diperbesar, namun tak ada satupun yang mampu membuat penonton semakin dekat dengan kedalaman cerita baikpun tokoh-tokohnya. Cindy dan Panji adalah tokoh dilayar yang hanya menjadi sajian selintas yang akan kita lupakan setelah pulang menonton, ketika melewati pintu teater tidak ada ketertarikan lebih atau simpati pada salah satu tokoh melainkan hanya sebuah film.
Ketika emosi tidak terlibat, maka film seperti ini akan mudah terlupakan.
Tidak etis bicara kelemahan dibarengi kelebihan. Rizal Mantovani masih seorang yang jempolan dibidang sinematografi. Ia punya ciri khasnya. Bertahun-tahun di lumbung klip-klip musik, skill sinematografinya pun jadi lebih dominan, dengan tata pencahayaan dan segi artistik yang rapi dan wah. Perhatikan juga posternya yang sungguh eye catching itu. Ini menjadi aspek kuat yang sayangnya, cuma luarannya saja.

Poster 1

Jujur saja, siapa yang tidak terpukau melihat poster itu. Poster itu dapat menangkap emosi yang dituturkan Donita----ekspresi menangisnya digabung dengan siluet cahaya oranye membuat posternya bisa jadi salah satu poster terbaik film Indonesia ditahun 2011.
Poster 2

Poster lain film inipun juga lumayan efektif menangkap kesan yang berusaha dihadirkan ke wajah penontonnya. Bila poster 1 penuh melodramatis, poster 2 berhasil menangkap kesan romantis, lembut dan indah.

Tapi sayangnya semua itu tak bisa membuat sebuah film jadi menarik minat penonton. Memasukkan sinematografi bergaya video klip ke film ini tidak selalu menghibur mata. Mulanya gambar-gambar yang disajikan Rizal efektif dalam mendeskripsikan romansa yang cantik nan indah, tapi dipengaruhi oleh jalan cerita super mendramatisir itulah sinematografinya pun jadi membuat enek. Lampu-lampu, kerlap kerlip, sinar dan tone warna tebal yang mendukung film ini lambat laun jadi satu kata : berlebihan.

Untuk hal-hal lainnya, sebenarnya tidak begitu harus dipermasalahkan. Meskipun chemistry Donita-Marcell tidak terlampau istimewa juga, dan sebenarnya peran mereka disini tidak begitu bagus amat, tapi tidak sampai kebagian mengganggu semengganggu faktor-faktor diatas. Penyisipan iklan Universitas Trisakti meskipun terkesan amat sangat jelas juga masih bisa dimaklumi karena sedikit banyak masih relevan ke cerita.
Alhasil, Pupus mungkin memang sudah "pupus" dari akarnya. Ia tercipta dari sebuah naskah yang dangkal dan tak berdasar. Sinematografinya pun tak banyak membantu filmnya jadi naik kelas, selain hanya sebuah karya FTV yang mampir ke bioskop. 

RATE : 2/5

Comments

  1. wah, tp lumayan kok. ga kerendahan tuh 4.5? hehehe

    ReplyDelete
  2. @Noob ah dia mah emang suka Donita :D tapi emang Donitanya disini perkakas yang eye catching sekali.

    @someone hihi gue cuma suka pas awalnya aja tuh. terus bosen deh... kerendahan yah? Cewek Gokil (Rizal Mantovani juga) lumayan lebih menghibur sih, gue kasih 5.8/10 (nanggung amat memang)

    ReplyDelete

Post a Comment