Readers

Frownland (2007) : Normal - Abnormal, Keith - Kita



Saya bisa saja memilih menonton film pop di bioskop, sebuah film yang menawarkan eskapisme dengan rata-rata konklusi yang terselesaikan atau setidaknya melegakan. Sementara Frownland (2007) film tentang seorang ‘karakter kecil’ dengan kehidupannya yang juga terkesan sepele, persis seperti hidup saya sendiri.  Apa yang menarik dari menonton film yang seperti memberikan cermin pada kita? Dan lebih-lebih lagi, sebagai pemberitahuan awal : film ini adalah tamparan keras bagi semua orang yang merasa dirinya normal dan tidak asosial. Dengan kata lain, ini cukup depressing. Walau saya pribadi malah merasa film ini disturbing, sampai membuat beberapa hari saya terasa tidak mengenakkan karena terus terbayang konklusi yang harus diterima karakter utamanya.

Namun film-film seperti Frownland wajib ada untuk memisahkan diri kita sejenak dari pesona film-film komersil yang sedang tayang, untuk mengetahui bahwa ada ‘menu’ yang lain. Ini adalah observasi yang sangat menarik, terutama untuk  membagikan kesadaran bahwa karakter bagus tidak harus dalam balutan serba dramatis, tidak harus karakter dalam plot atau rintangan yang besar, tidak harus seseorang yang mengucapkan dialog-dialog manis penuh makna karena tokoh utama kita sendiri saja tidak tahu cara berbicara yang benar. Keith dalam film ini penting setidaknya sebagai pengingat untuk saya bahwa membuat karakter tidak melulu harus berkhayal tentang seseorang yang tidak ada namun agar menjadi lebih jeli melihat orang-orang yang saya temui di keseharian. Bagi beberapa orang lain, film ini juga mungkin menjadi tantangan atau malah penanda kesabaran. Harap diingat bahwa pola atau struktur yang sering ada di film-film naratif bioskop jangan diterapkan disini sehingga penonton diminta sensitif untuk menyikapinya seperti menyimak kehidupan nyata, tanpa harus digerakkan oleh unsur dramatik dari segi akting atau plot untuk bisa membacanya. Kemungkinannya bila anda menonton film ini tanpa pengetahuan bahwa ini adalah sebuah film independen yang dibuat dengan bujet rendah dan seringnya disebut mumblecore, maka anda akan mendapat kekecewaaan atau kebosanan lalu berhenti sebelum selesai.

Karakter Keith Sountag yang diperankan Dore Mann datang seperti karakter  figuran di film-film komersil yang biasanya hanya jadi sumber tertawaan : ia sering gagap saat bicara bahkan komat-komit mengulang kalimatnya sendiri. Keith bekerja sebagai salesman dari pintu-ke-pintu untuk meminta donasi dan selalu ditolak. Di apartemen, ia berbagi kamar dengan seorang pemuda bernama Charles (Paul Grimstad) yang pengangguran dan selalu menghindar untuk membayar uang sewa. Tidak cukup dengan itu, kehidupan asmara Keith juga terlihat menyedihkan bersama Laura (Mary Bronstein), seorang perempuan depresi yang kerap membuat kartun bagaimana agar dia bisa bunuh diri dengan cara terbaik. 

Aneh, memang. Lucu, tunggu dulu. Karena ini adalah black comedy, maka kelucuan adalah juga tragedi yang menyesakkan. Lewat arahan Ronald Bronstein, Keith yang bak pecundang tak penting baik di tempat kerja atau bahkan di apartemennya sendiri menjadi tokoh yang mengesankan. Walau saya mudah bersimpati padanya tapi Ronald tetap menampilkannya sebagai karakter yang memiliki kekurangannya sendiri sehingga kecerobohan dan bagaimana ia tidak bisa menangani suatu masalah membuat penonton cepat jengah untuk terus berada di pihaknya. Sosoknya agak mengingatkan saya dengan Travis Bickle, karakter antihero ternama dari Taxi Driver itu. Namun saya yakin banyak orang yang menghargai perjalanan Travis Bickle, menjadikannya sebagai panutan sehingga ketika merasa terisolasi atau kesepian, Travis membuat penonton merasa relate. Keith, sebaliknya malah menjadi mimpi buruk penonton. Karena semakin anda merasa relate dengan Keith, semakin frustasi-lah anda dengan realita seperti apa yang menimpanya sampai akhir. Anda kemungkinan akan menolak diri anda memiliki kesamaan dengan Keith, yang dengan kata lain juga menunjukkan betapa luar biasa pembuatan serta dampak dari karakternya.

Tapi menganggap Frownland hanya tentang observasi kepribadian Keith sepertinya agak salah. Seiring film berjalan, Ronald menyelipkan sudut pandang dari karakter-karakter lain secara bergantian baik dari Charles, Laura dan Sandy (David Sandholm) seorang berpakaian karyawan yang selalu menolak kehadiran Keith. Apa pasalnya? Anggapan bahwa film ini hanya berfokus pada keabnormalan Keith perlahan bergeser karena Ronald seperti ingin memperlihatkan bahwa Keith tidak sepenuhnya salah, ia tinggal di sebuah dunia yang baik Laura, Charles dan Sandy sama-sama teralienisasi dengan caranya sendiri.

Simak lebih jelas bagaimana Charles yang menjalani hari-hari tanpa bekerja dan hanya bermain musik menganggap Keith lebih rendah dari dirinya. Kita diperlihatkan bagaimana dalam perdebatan pertama mereka, Charles merasa ia lebih cerdas dan lebih baik dalam berargumen, dan sangat mudah untuk kita ikut kesal pada Keith karena ketidakmampuannya untuk berkomunikasi. Hal ini dengan mudah diputarbalikkan oleh sang sutradara saat di tengah film, ketika Charles diceritakan mengikuti tes kerja dan berbicara dengan karakter lain. Dalam percakapan itu, Charles seakan berganti menempati posisi Keith saat ia tidak bisa membalas argumen sang lawan bicara.

Hal yang sama juga terjadi pada karakter Sandy yang terus menolak kedatangan Keith yang hanya ingin berbagi cerita dengan dirinya (salah satu hal paling memilukan dalam film ini). Sandy sendiri sebenarnya nampak tak begitu sibuk dan diperlihatkan selalu sendirian baik ke bar atau tempat-tempat lain. Namun ia tetap menolak Keith untuk datang, bahkan mempercepat durasi DVD agar Keith bisa segera diusir. Laura, perempuan yang selalu menangis disini mungkin yang memiliki cerita paling tipis namun juga semakin memperkuat niatan pembuatnya untuk menampilkan sebuah dunia yang penuh dengan orang-orang yang sibuk dengan kesepiannya sendiri.

Puncak segala kecemasan pada Keith di Frownland agak sama dengan puncak amarah tokoh utama dalam film Jafar Panahi, Crimson Gold. Lewat rentetan adegan paling menyesakkan di lima belas menit terakhir, kita mendapat gambaran utuh yang sangat muram : tidak ada yang membantu Keith dan ia harus berhadapan dengan dirinya sendiri. Bagaimana Ronald membangun adegan-adegan ini menjadi terasa sangat tidak nyaman begitu baik, lihat adegan Keith yang dengan sangat putus asanya menelpon untuk minta didengarkan, bagaimana ia disangkal atau yang paling luar biasa : semua kepanikan itu terasa semakin nyata saat Keith mendatangi pesta dengan keriuhan orang-orang yang bicara begitu nyaring.

Lalu kita mendapat sebuah kesimpulan : Ia tidak begitu berbeda dengan tokoh monster yang ia tertawakan di televisi pada adegan pembuka film. Tentang perkara normal dan abnormal, memang akan mudah untuk mendiktenya dari keterbatasan seseorang baik secara fisik maupun mental. Namun pada faktanya, mungkin semua orang tidak normal. Hanya hidup akan terasa lebih mudah saat menuding seseorang agar kita merasa lebih normal. Bukankah mudah untuk bilang bahwa Keith hanyalah karakter aneh dan tidak berusaha melihat faktor-faktor lain?




Frownland sering dianggap mengingatkan pada film-film John Cassavetes bercampur dengan Eraserhead – David Lynch-----yang terakhir saya belum menontonnya. Sutradaranya menemukan Dore Mann secara tidak sengaja di pemakaman lalu melamarnya sebagai aktor utama di film ini. Dore Mann tidak memiliki riwayat akting dan saya pun tidak bisa menemukan informasi yang amat rinci tentang dirinya di internet. Teori saya awalnya, Dore Mann seperti halnya pria di film Crimson Gold yaitu dimana sutradaranya memanfaatkan kepribadian asli mereka sebagai sumber cerita filmnya. Crimson Gold yang juga mengangkat tema serupa Frownland yaitu tentang penolakan, memasang tokoh seorang non-profesional yang menderita skizofrenia. Akan lebih mudah untuk saya menduga bahwa Dore Mann juga seorang neurotik seperti yang ia perankan. Namun apabila ia tidak seperti itu, berarti kita sedang melihat akting seseorang yang begitu kuat dan sulit untuk dilupakan.

Pada akhirnya, anggap saja ini latihan anda untuk menggali lebih dalam tentang karakter-karakter manusia yang memang penuh abu-abu, menghubungkan apa sebab dan akibat dari penolakan mereka terhadap satu sama lain. Bila anda tidak jeli, semua karakternya akan terasa menyebalkan dan ceritanya hanyalah sebuah kekacauan. Tapi bila anda melihat lebih jelas, mereka semua adalah cermin dari dunia yang sekarang anda tinggali. Dan bisa jadi anda dan saya salah satu dari mereka.

Note : Dalam referensi lain, karakter terbuang serupa Keith bisa ditemukan dalam film Oasis – Lee Chang Dong.

Frownland, 2007

Sutradara : Ronald Bronstein
Pemain : Dore Mann, Paul Grimstad, Mary Bronstein
Penulis : Ronald Bronstein


Comments

Popular Posts