Readers

Beberapa Hal Yang Saya (dan Mungkin Kamu) Ingat Ketika Demam AFI (Akademi Fantasi Indosiar)





Ini sebenarnya tulisan spontan saja.

Ketika menunggu di halte busway Semanggi, saya duduk di samping dua orang remaja SMU yang sedang asyik membahas tentang Maria menjadi juara Indonesian Idol. Hanya dalam dua menit, saya bisa mendengar banyak informasi : bahwa Abdul biasa saja, Joan berpotensi tapi kurang menggigit, dan mereka terus memuji Never Enough – nya Maria yang sudah ditonton lebih dari dua juta orang di kanal Youtube.


Saya memang sudah tidak pernah lagi total mengikuti talent atau reality show semacam itu, dan terakhir kali adalah Penghuni Terakhir tahun 2011 (yeah, I am a big fan of that trash drama). Tapi mungkin memang semua orang punya era-nya tersendiri. Semua orang punya masa keemasannya dimana hal-hal tersebut di masa depan akan dikenang seakan-akan itu hal yang paling terbaik dan mereka yang lahir telat adalah mereka yang kurang beruntung. Ya bukan? Kalau tidak percaya, kamu coba saja cari lagu kenangan saat kamu SD sampai SMU, dan percayalah akan selalu ada komentar orang-orang yang bilang bahwa era-nya adalah yang terbaik, bahwa “musik jaman sekarang sampah semua beda dengan jaman dulu”, “beruntung rasanya jadi generasi dahulu” dan banyak lagi, banyak lagi. Memang ketika mengenang, kita lebih suka hanya mengingat rekaman yang indah-indah dan menutup pintu untuk kenangan yang buruk. Itu manusiawi. Dan selayaknya juga saya ingin berpikir sejenak, mungkin bagi yang kelahiran 1990-1995 dan menikmati masa kecil awal 2000-an akan terwakili dengan hal-hal berikut ini. Ya, Akademi Fantasi Indosiar (AFI) yang pernah sangat booming itu.

Mari kita reka kembali seperti apa memori saya tentang AFI :

  1. AFI pertama dimulai tahun 2003. Saya mungkin sekitar kelas 4 SD, dan pertama kali saya tahu acara ini karena tidak sengaja menonton Diari AFI 1 pada sore hari. Karena waktu itu status gaul anak SD ditentukan dari seberapa rutin kamu mengikuti isu yang tengah berkembang di masyarakat maka begitu teman-teman saya mulai membicarakan acara AFI, saya ikut-ikutan.
  2. Saya sepertinya masih ingat urutan eliminasi AFI 1 sampai AFI 2. Kita coba ya : (AFI 1) Lastmi, Hera, Yenni, Smile, Icha, Romi, Dicky, Rini, Ve, Mawar, Kia, Very. (AFI 2) Jovita, Nana, Lia, Rindu, Pasha, Adit, Adi, Nia, Cindy, Micky, Haikal, Tia. Ini saya tulis tanpa koreksi jadi kalau ada yang salah, mungkin berarti saya bukan fans garis keras.
  3. AFI 1 masih awal sekali, jadi seingat saya itu pelan-pelan naik dan begitu pertengahan babak, baru euforianya menyeluruh. Pada jaman itu, yang paling banyak didukung orang adalah Veri dan Kia. Satu karena cerita melodramatis menjual cincin (thanks to Gaul, yang mengingatkan saya) satu karena suaranya paling bagus. Saya masih ingat sekali waktu konser final, semua keluarga besar saya menonton dan ramai-ramai mendukung Veri sampai ada yang saling menelpon menanyakan apakah sudah dukung via sms. Walaupun sebenarnya suaranya biasa saja, tapi ya mungkin karena itu pertama kalinya ada talent show sehingga penonton (baca : masyarakat awam) masih lugu soal memilih kualitas seorang pemenang. Karakter Veri memang waktu itu paling menarik simpati : pendiam, polos, datang dari keluarga sederhana, pokoknya benar-benar from zero to hero.
  4. Ketika AFI 2 datang (yang sangat cepat padahal AFI 1 baru saja selesai), barulah penonton jadi tahu seperti apa seharusnya pencarian sosok seorang pemenang. AFI 2 memang lebih berwarna dari AFI 1. Tia yang suaranya powerful jadi jagoan banyak orang. 
  5. Apa saja bumbu-bumbu settingan di AFI 1 dan 2? Mari kita ingat. Dulu Mawar sama Veri. Romi dijodohkan dengan Rini. Tia sepertinya pernah juga dulu dibilang sama Haikal. Bahkan di kalangan teman-teman SD, kami suka menjodoh-jodohkan akademia yang ini cocoknya sama si ini, padahal belum tahu itu semua cuma tuntutan drama semata. Tapi di antara semua love chemistry, yang paling dianggap cute oleh semua orang pasti adalah Adit dan Nia. Yang satu polos, yang satu bandel. Adit memang ganteng banget dulu sementara Nia sepertinya yang paling banyak disukai para lelaki. Eh, saya kenapa dulu malah sukanya Micky ya. Jadi menyesal. Sekarang dia masih ada tuh, jadi host acara demo masak. 
  6.  Saya yakin banyak yang memasang poster idola AFI favoritnya di kamar. Oh tentu saya juga (thanks to Gaul again). Dulu saya memasang poster Micky di belakang pintu kamar. Icha pernah, tapi habis itu saya copot. Kia, Mawar dan Rini juga pernah, tapi akhirnya juga dilepas. Dulu Pasha sepertinya kehabisan karena kelewatan edisi Gaul.
  7. Kebanyakan akademia memiliki karakteristik atau setidaknya, ‘tanda pengenalnya’. Kalau saya dulu mengenal mereka sebagai :
Lastmi : yang suaranya sumbang pas nyanyi Tegar (terus dieliminasi langsung, mpus)
Hera : Dari Surabaya. tapi dulu merasa mukanya mirip Inul.
Yenni : Paling tinggi dan gempal. Dulu merasa dia yang mukanya paling biasa saja. Eh ternyata lihat sekarang di Instagram, dia paling cantik dan kok jadi mirip Sigi Wimala ya.
Icha : Paling funky (ya Tuhan sudah lama saya tidak menulis kata ini) dan paling tua secara umur. Dulu disebut ‘Mami Icha’.
Dicky : Dianggap paling anak mami, paling overacting. Dulu dia pernah nyanyi lagu Firasat sampai megang properti daun-daun di pohon, dibilang mbak Trie Utami lebay atau semacamnya. Kakak saya paling suka meledek dia. Kakak saya meledek soalnya tahu… saya… sukanya… dia. Iya, namanya juga selera anak umur 9 tahun. Dicky dulu momen eliminasinya paling heboh. Saya ingat awalnya tidur terus dibangunin ortu karena dia “maaf kamu harus pulang malam ini” (suara Adi Nugroho). Terus saya nangis. Iya, sekali lagi, ini memalukan. Tapi ya sudahlah. Sekarang kalau lihat lagi, Dicky memang yang gaya jogetnya paling mirip cacing kremi.
Romi : Dianggap paling tampan dan disukai banyak teman-teman SD saya yang perempuan.
Smile : Paling tinggi. Dulu ngakak pas tahu nama aslinya Ismail.
Rini : Dulu paling suka pas dia nyanyi lagu Kupu-Kupu… eh ternyata tereliminasi.
Ve : Suaranya serak-serak seksi. Orangnya hitam manis.
Mawar : Paling centil. Digosipkan dekat dengan Veri. Suaranya lumayan khas juga. Paling memorable pas dia nyanyi Betapa Ku Cinta Padamu dengan gaun ala bulu-bulu gitu.
Kia : Suaranya paling bagus dan stabil. Yang paling bersinar lewat Harus Sampai Disini.
Veri : Pendiam. Waktu awal-awal, dia rasanya belum jadi favorit banyak orang bahkan kesannya invisible. Pas bawa-bawa latar cerita ekonomi keluarga itulah baru….

 Lanjut yang AFI 2 :



Jovita : Waduh kurang memorable, tapi salah satu yang cantik.
Nana : Ini suaranya paling sumbang, huhuhu. Cuma ingat suaranya buruk aja, maaf ya.
Lia : Salah satu yang paling cantik. Dari Bandung. Tapi suaranya juga kurang memorable buat saya.
Rindu : Paling bongsor, mengutip apa kata Gaul dulu (halah). Dipanggil Ceceu. Dari Bandung juga. Sepertinya dia yang paling centil dan manja-manja gimana.
Adit : Wong jowo banget. Paling ganteng sebenarnya. Selalu dipasangin sama Nia… eh kejadian sampai sekarang.
Pasha : Salah satu jagoan saya di AFI 2. Suaranya serak-serak basah, dulu suka karena ada gingsulnya kok kelihatan lucu. Dulu ingat pernah sembunyi-sembunyi kirim SMS AFI (spasi) PASHA pakai HP tante saya yang masih hitam putih eh ke-gap. Hahahaha… Paling suka Pasha pas nyanyi Mata Lelaki terus di layarnya diperlihatkan mata betulan semua akademia lelaki. Kalau dipikir sekarang apaan coba lol.
Adi : Jujur ya, dari semua akademia di AFI 2 saya paling tidak suka suara dia. Sengau-sengau gimana gitu. Saya suka sih lagu dia yang sama Pasha tapi suaranya tetap malesin buat telinga saya.
Nia : Seingat saya, dia yang dianggap paling cantik di AFI 2. Nia yang paling lugu, paling sering diisengin Adit.
Cindy : Nah, walau sebenarnya menurut saya yang paling cantik itu Cindy. Mukanya ngartis banget menurut saya walaupun kesannya judes-judes gimana.
Micky : Dulu (di mata saya) terlihat ganteng dan macho ;)
Haikal : Bisa dibilang dia Veri AFI-nya di season 2 ini. Tapi dibanding Veri yang suaranya lemes banget, Haikal mendingan sih. Untung bukan jadi pemenang. Beruntungnya Tia sudah memukau banyak orang waktu itu.
Tia : Kabarnya, grand final AFI 2 adalah tayangan dengan rating paling tinggi yang pernah ada. Entah ini benar atau tidak, entah sudah dipecahkan oleh tayangan lain di masa kini atau belum. Tapi di kala itu memang acara finalnya paling ditunggu-tunggu semua orang di lingkungan saya.


         8.   “Jangan lupa ketik AFI spasi Akademia favorit anda kirim 3977!” “Dan yang harus pulang malam ini adalah….” “Yuk kita lihat apa keseharian academia berikut ini di Diary AFI” Adi Nugroho adalah orang paling dibenci setiap momen eliminasi tiba. Sebelum Daniel Mananta, Adi adalah orang yang suka lama-lamain acara dan bikin penonton gemas takut akademia favoritnya dipanggil namanya. Tapi dulu ada juga golongan orang yang sama sekali tidak mengidolakan siapapun akademia dan naksirnya Adi Nugroho. 


Tampan tapi menyebalkan pada masanya.
                9.      Karena itu pula dulu di SD suka main drama AFI-AFIan yaitu pinjam satu tas temen yang bentuknya koper, terus ada yang jadi Adi Nugroho, ada yang berangkulan menunggu dieliminasi. Yang pulang, geret koper sambil dadah-dadah. Iya, namanya juga anak SD.
               10.  Oh tentu semua berlomba-lomba ingin bisa gerakan tari Menuju Puncak.


Itu penontonnya yang muda-muda pasti sekarang sudah jadi ibu-ibu. Sementara yang masih anak-anak pun sudah menjelang dewasa.

               11.   Dan yes, pastinya saya membeli kaset AFI 1 dan AFI 2. Dulu saya masih ingat sekitar beberapa hari setelah lebaran dan “pamer” bawa kaset AFI 1 beserta walkman (yes) ke teman-teman kursus bahasa Inggris. Kalau dipikir-pikir sekarang buat apaaaaa… tapi harap diingat jaman itu mau dengar lagu saja tidak bisa download, melainkan harus pesan lagu lewat counter pulsa dimana 1 lagu di-charge 1000 (ini serius). Jadi tentulah saya yang jenius ini membawa walkman dan kami saling membedah mana lagu yang paling bagus di kasetnya.


                12.  Ngomong-ngomong kaset AFI, lagu-lagu mereka itu enak semua, lo. AFI 1 itu yang paling saya suka Pergi Begitu Saja (Dicky), Tanda Terakhir (Ve), Harus Sampai Disini (Kia) dan Arti Mencinta (Lastmi, Hera, Yeni). Tapi surprisingly semuanya itu easy-listening dan tetap berkesan kalau didengar ulang. Kalau AFI 2 saya paling suka Ketika Rindu (Adi, Pasha), Selangkah Lagi (Rindu) dan Adilkah Ini (Tia Afi). Dulu mereka (AFI 1 & AFI 2) juga pernah terlibat dalam proyek film panjang Fantasi, dan lagunya Tia yang paling bagus.






                 13. Juri-juri AFI yang paling terkenal adalah Trie Utami, mbak Bertha, Ari Tulang, Ubiet dan kepala sekolah Tamam Husein. Tentunya Trie Utami atau mbak Iie yang mempopulerkan istilah-istilah "pitch control" atau definisi "fals" dan semacamnya. Namanya anak SD, mana mau ngerti begituan yang penting dukung dulu idolanya. Tapi dulu waktu bocah sempat berandai-andai jadi akademia terus berpikir "duh juri dan guru-guru di AFI galak banget, nanti aku dimarahin, ga jadi deh" lol.

Hmmm… apa lagi ya? Ada hal-hal lain yang ingin dibagi ketika menikmati euforia AFI dulu? Kenapa disini saya cuma membahas tentang AFI 1 dan AFI 2 karena menurut saya setelah itu daya tariknya sudah berkurang akibat banyaknya stasiun televisi yang membuat talent show serupa (seperti Indonesian Idol di RCTI, API dan KDI di TPI) sementara AFI sendiri terlalu terbuai dengan konsep kejar setoran hingga terus membuat lagi dan lagi tanpa istirahat sejenak. Ambil contoh ketika AFI 1 baru selesai dan sebenarnya kita masih amazed dengan para akademianya, sebenarnya langkah yang amat prematur untuk kala itu, mereka langsung melanjutkannya dengan AFI 2. Sehingga banyak yang membanding-bandingkan dan seringkali dalam berbagai opini yang saya ingat, AFI 1 dianggap kalah atau tidak seseru AFI 2. Setelah beberapa musim digelar, penonton tersadar bahwa seberapa menariknya talent show ini, pada akhirnya mereka akan menjadi instan dan terlupakan.

Comments

  1. Kalau aku dulu agak nyeleneh, nyatetin peringkat dan persentase para akademia. Hahaha. Selain Gaul, langganan Genie juga karena di awal-awal mereka punya data statistik lengkap jadi nggak perlu lagi mantengin tv tiap kali hasil sementara nongol.

    Dan dulu aku semacam punya provinsialisme karena cuma ngedukung kontestan asal tanah kelahiran, Jatim (tapi itupun perempuan, kalau laki2 ogah. Bahahaha), padahal udah pindah ke Jateng. AFI1 dukung Ve habis-habisan, lalu AFI2 dukung Nana (padahal yo fals) karena meski mewakili Semarang asalnya dari Madiun dan tentu saja Nia. Lucunya, AFI2 ada Adi yang asalnya dari kotaku tinggal, Kudus. Temen-temen dan seisi kota rame kampanyein Adi, aku tetep dukung Nia. Bahahaha. Oia, mesti ditulis juga kalau Adit dan Nia sekarang menikah.

    Bisa dibilang dulu penggemar garis keras AFI (masih ngikutin sampai era Widi, 2006. yang Ya Tuhan sepiiiiiii banget. Kasian liatnya pas nggak sengaja kesorot penontonnya). Jadiii, aku mesti mengoreksi urutan eliminasimu yaa (ini tanpa googling lho). AFI1 bener, AFI2 kebalik. Lia lebih dahulu baru Nana, dan Cindy dulu baru Nia.

    Pas nonton juga sempet ngeluarin teori konspirasi lho. Nyadar nggak kalau dari AFI1-3, posisi ke-4 ditempati oleh kontestan perempuan asal Surabaya? Yang semuanya aku dukung. LOL. Album AFI jelas punya (malah punya dua, kaset dan CD) trus nonton Fantasi di bioskop sampai 5 kali. Belum ditambah sewaktu tayang di Indosiar. Bahkan dulu nonton semua FTV anak-anak AFI! Yang nggak kesampaian cuma nonton konser turnya mereka. Masih bocah sih jadi mesti ada yang nemenin. Coba udah SMA, langsung ngacir tuh. Tapi untung disiarin di TV (atau jadi bonus di CD ya?). Hahaha.

    Kalau nginget-nginget gini jadi ketawa-ketawa sendiri. Ternyata pernah ada masanya aku sampai sebegitu terobsesinya pada satu hal :)))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha ternyata die hard fans AFI! Oh nyatetin persentase kayanya dulu saya juga melakukannya, lebih untuk iseng-iseng analisa meyakinkan sesama teman kalau akademia A ini terjamin loh peringkatnya, atau misalnya aduh si B ini peringkatnya menurun, harus segera di sms. Gila ya emang jaman AFI, kayanya asik banget dulu. Kalau sekarang nonton Idol ga pernah se-deg-degan sampai nangis pas momen eliminasinya dilama-lamain :D

      Delete

Post a Comment

Popular Posts