Dilan 1990 (2018)

sumber : twitter.com/dillan1990


Ketika SMA, saya pernah naksir seseorang. Saya selalu menyempatkan lewat depan kelasnya untuk sekedar memastikan sekitar beberapa detik apakah dia ada, apa yang sedang ia lakukan dan bila beruntung, mata saya bisa bertautan dengan matanya. Kala itu, hal-hal sepele terasa sangat penting. Hari-hari saya lewati hanya dengan mengenang hal-hal yang menurut saya cute tentang dia, beberapa hal bodoh saya lakukan untuk bertemu seperti ikut satu project yang saya tidak sukai hanya karena ada dia atau mengulur waktu dijemput supaya bisa menunggui dia lewat dengan kendaraannya. Dalam hati, berharap ada keajaiban saya diantar pulang. Menjadi remaja memang adalah masa yang tak terlupakan. Sebelum kemudian kita lupa bahwa kita pernah sepolos itu dulu.


Dilan 1990 memenuhi impian semua orang yang pernah merasakan masa SMA atau sebenarnya terus memendam harapan untuk kembali lagi ke masa-masa itu. Tentu ini
bukanlah film yang sempurna. Bahkan kerap ada saja hal-hal buruk yang menganggu kenikmatan menonton filmnya. Beberapa adegan membuat konsentrasi buyar atau membuat saya nyaris kesal seperti contohnya adegan Mama Dilan menyetir mobil ala sinetron yang sangat palsu itu. Belum lagi bicara tentang plot Kang Adi yang tidak penting-penting amat, bulu mata mencolok teman Milea yang terlihat seperti selebgram Jaksel, serta rambut Milea yang selalu di-blow rapi, tidak ada unsur-unsur 90-annya. 90-an hanya diwakili oleh kacamata kebesaran, high waist atau overall pants (yang sialnya juga membaur menjadi item masa kini). Belum bicara soal wig Ria Wibowo. Tapi bersamaan dengan hal-hal yang mengganggu itu ada pula hal-hal yang mengesankan.

Iqbal Dhiafakhri, contohnya, sering dianggap adalah kesalahan terbesar untuk menjadi Dilan. Ketika trailer film ini pertama keluar, Iqbal dianggap tidak sebanding dengan imajinasi banyak orang tentang Dilan versi novel. Kalimat-kalimat gombalan yang dia ucapkan terasa sangat kaku. Saya yang tidak pernah tahu menahu soal tetek bengek Dilan-Milea pun merasa aneh dari cara ia mengucapkannya.

Tapi praktiknya, Iqbal ternyata membuat Dilan menjadi sosok yang baru, berbeda dan bahkan unik. Cara bicaranya yang kaku dan gombalan-gombalannya menjadi sesuatu yang dapat dimaklumi bahkan dapat dipahami sebagai bagian dari karakternya. Dilan seperti seseorang yang ajaib dan berkat Iqbaal-lah keajaiban itu terasa jauh dari dipaksakan. Dia bandel namun juga penurut pada kekasih. Dia pemberontak dan melawan guru namun sayang sekali dengan orangtua. Ia nyeleneh, terbiasa dengan puisi dan buku-buku berat yang menjadi motif kenapa dia bisa bicara seperti itu. Iqbaal membuat semua prasangka mendadak runtuh. 

Sebagai Milea, Vanesha juga menjadi penyeimbang yang manis. Membawakan karakter yang labil, manja dan mudah menangis karena masalah cinta adalah gambaran bagaimana remaja SMA pada umumnya. Namun meski ia polos, karakter Milea tak lantas digambarkan tak punya reaksi atau emosi. Ia juga marah dan mengumpat brengsek pada Dilan yang meninggalkannya saat ada bentrok di sekolah. Inilah yang membuat Dilan bisa diterima ketimbang kebanyakan film remaja Indonesia lainnya : karakternya tak hanya satu dimensi, dan penonton diberikan alasan tentang apa yang mereka rasakan.

Maka siapa yang menyangka, kolaborasi keduanya sahut-menyahut kalimat gombalan menjadi hiburan tersendiri bagi penonton. Siapa yang menduga pula bahwa acara pdkt dua anak remaja malah menjadi pemandangan yang menarik menutupi hal-hal minus sepanjang filmnya.

Serentetan adegan-adegan konyol hadir seperti ketika Milea mencium tangan Dilan, adegan Milea yang berdoa Dilan memenangi lomba Cerdas Cermat namun ternyata Dilan mengacaukan sebagai panggung untuk melawak, TTS sebagai hadiah dan naik motor berdua untuk pertama kalinya.

Ketika film selesai, saya melihat banyak orang bertepuk tangan. Beberapa mungkin tak masuk dalam perangkap nostalgia yang ditawarkan film ini dan menganggapnya hanyalah pepesan kosong tanpa cerita yang jelas. Selamat, karena itu berarti mereka sudah cukup dewasa.

Tapi harus saya akui dengan segala kekurangannya, film ini punya energinya sendiri. Sebuah kesederhanaan. Dilan adalah imajinasi tentang masa SMA yang indah, sebuah kata kunci bagi mereka yang ingin mengenang masa-masa dimana tidak perlu berpikir tentang masa depan, bekerja dan sulitnya mencari uang. Hanya ada berkumpul di kelas, menaksir seseorang dan berpacaran.

Diam-diam dalam perjalanan pulang seusai menonton, saya berpikir lagi tentang tahun-tahun saya di SMA. Tentang mimpi-mimpi dan harapan yang pernah saya simpan namun terlupakan, teman-teman bangku sekolah yang terpisah dan taksiran yang rasanya menjadi bukan lagi hal yang penting. 

Saya rasa pesan filmnya tersampaikan. Tidak ada yang salah duduk bernostalgia untuk sebentar saja.


Dilan 1990, 2018
Sutradara : Fajar Bustomi, Pidi Baiq
Pemain : Iqbaal Dhiafakhri, Vanesha Prescilla, Brandon Salim, Happy Salma, Ira Wibowo
Penulis : Pidi Baiq, Titien Wattimena


Masih tayang di bioskop.



Comments

  1. Suka banget sama reviewnya. Buat saya, mungkin filmnya berkesan karena saya juga penggemar novelnya. Dan ya, tujuannya tercapai, membuat kita mengenang masa-masa SMA.

    Salam kenal ya.

    ReplyDelete

Post a Comment