Death Note (2017)



Bila Adam Wingard berteriak masa bodoh dalam The Guest, maka Death Note adalah bagaimana bila ia dengan percaya diri memberikan jari tengah pada penonton.

Tuhanku, ini adalah film dengan candaan terbesar yang paling serius tahun ini. Dan ini bukan celaan. 
Film ini sama sekali membuat kecurigaan saya terbukti benar adanya : sang pembuat bukan tipikal orang yang peduli dengan logika bertutur yang runut dan mendalam. Ia seperti cinta sekali dengan film-film cheesy sehingga unsur kekonyolan baik dalam plot cerita maupun dalam pembuatan momen adegan adalah jiwa yang ia cari dan pertahankan. Saya tidak pernah tahu apakah bila skenarionya ditulis oleh Simon Barrett----yang biasa menjadi partner-nya dalam dua film sebelumnya--- bisa membuat film ini jadi lebih serius dan skenarionya lebih baik lagi tapi siapa yang pedulilah, saya tetap terhibur melihatnya. 

Formulanya masih sama dan makin terbaca. Bad taste on purpose. Peletakan musik pada babak terakhir, dan malah sekarang jauh lebih mabuk lagi pilihannya : ingat bahwa hanya orang jenius yang dengan sadar dan percaya diri memakai lagu Air Supply – Power of Love untuk sebuah film dengan materi semacam ini. Bila The Guest punya Dan Stevens yang meledakkan restoran diiringi lagu Stevie B, film ini punya momen sepasang remaja labil bergelantungan di bianglala bersamaan lagu I Don’t Wanna Live Without Your Love-nya Chicago. Lagi-lagi ada kekerasan dan darah, juga production design yang estetik dengan nuansa neon-light, set prom yang menjadi wadah mengasyikkan bagi sang sutradara terus membombardir penonton tentang betapa tinggi kecintaannya terhadap musik cinta melodramatis.

Dari segi akting, Nat Wolff memang seperti kualitas artis sinetron Indonesia yang membuat Light Turner menjadi semacam karakter yang agak meragukan. Bahkan Margaret Qualley yang menjadi Mia jauh lebih menonjol karena ia mampu tampil lebih berani dan manipulatif. Namun entah Wolff sengaja dipilih karena cocok membawakan tokoh yang lemah dan lebih pasif atau ia hanya pesanan produser, tidak ada yang tahu. Beruntungnya L yang diperankan Keith Stanfield menjadi karakter yang paling menarik dan eksentrik, sementara harapan saya agak dikecewakan bahwa Ryuk versi Willem Dafoe akan jadi hal paling menjanjikan yang ditunjukkan filmnya. Juga sebenarnya agak kesal bagaimana pembuatnya merasa harus untuk menyelipkan adegan-adegan flashback dan membuat semacam adegan pembunuhan yang cheap ala Final Destination. Tidak perlu sebenarnya.

Saya tidak pernah menonton live action versi Jepang-nya (dan hanya membaca komiknya sekali waktu jaman sekolah) tapi  Death Note versi ini lebih ingin memperlihatkan fokus tentang kelabilan remaja, absennya keluarga dan obsesi naif tentang menyelamatkan dunia. Sekali lagi bahwa segala permasalahan ini disampaikan dengan gaya Wingard yang memang tidak bisa jauh dari candaan yang dikerjakan serius. Saya kagum pada keberaniannya mengingatkan bagaimana saya dulu kagum Zack Snyder rela bekerja keras membuat film seperti Sucker Punch. Mereka membuat sesuatu yang remeh secara sadar dan merayakannya dengan penuh cinta. Sekarang pilihannya antara kita membenci dan menganggapnya sebagai sebuah kekacauan atau ikut ada di pihak sang sutradara, menertawakannya bersama-sama.

Yang paling pasti, saya akan menanti-nanti apapun karya Wingard setelah ini.


Death Note, 2017
Sutradara : Adam Wingard
Penulis : Charles Parlapanides, Vlas Parlapanides, Jeremy Slater
Pemain : Nat Wolff, Margaret Qualley, Wilem Daffoe, Keith Stanfield




Comments

  1. saya sudah menonton semua versi jepangnya,
    karena itu saya malah gak siap kalau nonton versi yang ini..

    salam kenal :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hei, terima kasih sudah mampir ke blog ini. Hmm... memang banyak yang kecewa dan bahkan banyak bad reviews soal film ini (kebanyakan juga dari fans setia Death Note). Tapi saya terhibur menontonnya, jadi memang masalah selera sih.

      Delete

Post a Comment

Popular Posts