6 Hal Setelah Menonton Film Irreversible (2002)


http://4.bp.blogspot.com/-C9Sk-wqRrqw/UKF-0mS0pDI/AAAAAAAABsg/jk02cGVP58c/s1600/Irreversible.jpg 

Akhirnya saya menonton juga. Sebuah film yang sering masuk daftar film dengan adegan paling brutal, paling mengerikan, paling mengganggu sepanjang masa. Tanpa tahu apa ceritanya, semua sudah tahu akan ada sebuah adegan panjang yang memperlihatkan pemerkosaan di dalam sebuah terowongan sepi, sama seperti sudah berapa banyak orang yang memperingatkanmu betapa menjijikkan adegan makan kotoran di film Salo : 120 Days of Sodom.


Berikut ini ada 10 hal yang saya temukan dari filmnya. Bagi yang belum menonton, ini mengandung spoiler.

1. Adegan paling mengganggu di film ini, buat saya, ternyata adalah adegan awalnya tepatnya ketika Marcus (Vincent Cassell) dan Pierre (Albert Dupontel) memasuki Rectum, sebuah gay bar untuk menemukan keberadaan pemerkosa Alex (Monica Bellucci). Saya tidak bilang adegan pemerkosaan di terowongan itu tidak seram, tapi bagaimana kamera berputar seenaknya kesana-kemari memperlihatkan aktivitas seks di bar tersebut lengkap dengan ruangan yang sangat sempit dan suasana remang-remang (belum lagi musik yang membuat perasaan tidak nyaman) sungguh mengingatkan dengan mimpi buruk yang pernah saya alami. Suasana Rectum benar-benar membangkitkan klaustrofobik dan bila saya harus menontonnya di bioskop, minimal saya agak sesak nafas karena merasa pengap.

2. Adegan pemerkosaan yang panjang dan traumatik itu diawali dengan Alex pergi dari sebuah pesta, ingin memberhentikan taksi namun jalanan terlalu sibuk dan ramai. Seorang wanita menyarankan untuk ia mengambil jalan pintas lewat terowongan. Hanya sekedar jalan pintas. Alex mengikuti sarannya, karena ia kira ini tidak akan lama, hanya sekedar melewati terowongan. Ia tidak tahu bahwa disana tragedi itu terjadi. 

https://homemcr.org/app/uploads/2011/04/Irreversible-2.jpg

Tidak heran bila adegan pemerkosaan ini dianggap sangat menyeramkan karena sama seperti Alex sang protagonis, kita pun tidak berpikir bahwa hal yang paling buruk bisa terjadi di satu kesempatan dimana semua terasa berjalan wajar dan aman, sama seperti apa yang biasa kita lakukan dalam keseharian. Kekerasan itu hanya terpisah beberapa jarak dari keramaian dan orang-orang. Lantas saya jadi teringat akan sebuah adegan di film Dogville. Ketika karakter yang diperankan Nicole Kidman mengalami pemerkosaan oleh seorang penduduk desa dan bagaimana peristiwa itu hanya dipisahkan sekat tipis dinding kamar dengan keadaan luar yang ramai dan aman (anak-anak bermain, banyak orang di sekeliling kejadian). Lars Von Trier membuat adegan itu menjadi terasa ganjil karena memang set filmnya adalah sebuah studio bukan bangunan rumah betulan dan hanya garisan kapur sebenarnya yang memisahkan semuanya. Mendadak adegan itu jadi membuat posisi kita campur aduk antara tetap ikut dalam logika versi film atau membiarkan kita melihat itu semua secara terbuka. 

Yang membuatnya sama dengan Irreversible adalah sebuah kenyataan yang memang harus diakui : kekerasan itu dekat dengan kita. Sesuatu yang tidak manusiawi, sesuatu yang tidak kita inginkan, kematian, kemalangan, semua yang tidak mau kita lihat itu ada di banyak tempat, tersembunyi dan seringkali terlupakan karena kita mengira semua akan berjalan dengan baik-baik. Hanya karena satu kesalahan kecil, kita bisa mengalaminya. 
3. Narasi disusun terbalik diawali dengan kekerasan yang masif dan diakhiri dengan adegan percintaan Marcus dan Alex juga adegan yang memperlihatkan Alex membaca buku di keramaian. Bila narasi ini disusun rapi, berarti yang pertama kita lihat adalah sebuah gambaran dari kehidupan manusia : sebuah awal, sebuah kelahiran karena Alex akan memiliki anak nantinya. Diperlihatkan beberapa anak bermain dan bercanda di halaman, sekali lagi dengan kamera yang berputar-putar dan akhirnya menunjukkan gambar yang tidak jelas (mengingatkan pada 2001 : A Space Odyssey memang). Mungkin ini yang ingin diperlihatkan Gaspar Noe : sebuah siklus kehidupan. Walaupun kesimpulan itu secara mengejutkan tidak saya kira akan datang dari filmnya, mengingat "lingkaran kehidupan" itu juga baru diperlihatkan dalam adegan-adegan akhir sementara sebelumnya filmnya lebih sebagai rangkaian peristiwa kekerasan dan balas dendam. Sebut saja ini kritik. Tapi mungkin itulah kenapa sutradaranya memilih narasi yang terbalik ketimbang disusun rapi. Kalau filmnya memakai narasi yang linear, apa yang bisa terlihat mungkin tidak akan terasa jauh lebih istimewa. Yang terlihat mungkin adalah sebuah film tentang ketidakberuntungan dimana balas dendam dan penyesalan sebagai konklusi akhirnya. Namun dengan narasi yang disusun terbalik, apa yang kita lihat lebih seperti napak tilas. Memaknai ulang. Sebuah proses dari penerimaan. Setelah adegan pembuka yang tidak mengenakan maka yang terlihat di akhir adalah kisah cinta dan pertanda kelahiran. Sebuah awal dari semuanya. 

4. Secara tidak langsung filmnya juga memperlihatkan bahwa proses kelahiran yang diinginkan (Alex yang hamil) harus siap dengan berbagai risiko yang mungkin tidak terduga (kekerasan yang dipertunjukkan filmnya). Apakah kita yakin ini dunia yang indah untuk membiarkan diri kita atau seorang anak dari rahim kita lahir dan menikmatinya?

6. Apakah yang dibicarakan Alex, Marcus dan Pierre saat dalam perjalanan menuju pesta adalah hal yang penting? Mereka berbincang terus-terusan tentang seks, hubungan terdahulu antara Alex dan Pierre, bagaimana Pierre ingin tahu apakah Marcus lebih hebat dari dirinya soal seks dan sebagainya. Alex mengatakan satu hal yang cukup penting dan memiliki korelasi pada cerita filmnya yaitu ketika ia bilang bahwa kadang-kadang setiap hal di dunia tidak memiliki penjelasan. Seks terjadi karena keinginan yang ingin dituntaskan, tanpa atau apapun alasannya. Tanpa disadari, ucapan Alex bisa menjadi jawaban dari kenapa sang pemerkosa dengan begitu tega menyerangnya dengan sangat brutal. Seorang karakter lain di awal film juga bicara tentang "there are no crimes, only actions" untuk menandakan hal-hal tidak manusiawi sebagai hasrat terpendam manusia yang diperlihatkan di film ini.

5. Markus adalah karakter yang homofobik dan rasis. Sang pemerkosa juga adalah seorang homofobik. Gaspar Noe juga menggambarkan Rectum seperti sebuah tempat yang pengap, gelap dan berbahaya. Irreversible memang mendapati tuduhan sebagai film yang homofobik. Tuduhan-tuduhan lain adalah bahwa sutradaranya dengan sadar dan sengaja memanfaatkan kecantikan Monica Belucci, bahwa film ini sebenarnya tidak memuat gagasan yang baru selain pertunjukan kekerasan (yang soal gagasan, saya agak setuju) dan banyak lagi.

6. Kesimpulan akhirnya : apakah ini film bagus? Atau saya lebih mengamini kalimat beberapa orang bahwa ini film yang buruk, eksploitatif dan tidak penting? Sayangnya saya lebih suka ada di pertengahan : menghargai film ini mampu berbicara banyak hal tentang kehidupan dan terlebih kemanusiaan namun saya juga tak bisa mengelakkan mendapati diri saya berharap ada sesuatu yang lebih dalam lagi yang bisa terjadi di filmnya. Terasa ada yang hambar dari cerita Alex, Marcus dan Pierre bahwa kembali ke poin nomor 3, bila cerita Alex hamil tidak dimasukkan, bisa jadi seluruh rangkaian cerita bila diutuhkan semakin terlihat biasa. Tidak adanya konflik dalam cerita para karakter utama mungkin karena sutradaranya memang konon mengutamakan improvisasi dan hanya memakai draft tiga halaman sebagai panduan (yang mana berarti semakin membuat benci penonton yang tidak menyukai film ini, apalagi bila mengetahui fakta lain yaitu Gaspar Noe memakai teknik chronological order kabarnya karena terpancing popularitas Memento). Tapi secara keseluruhan, ini film yang meyakinkan. Dan tentu akan dipikirkan terus menerus selama beberapa hari. Apakah saya akan mau menontonnya lagi? Mungkin suatu hari.



Irreversible, 2002
Sutradara : Gaspar Noe
Pemain : Monica Bellucci, Vincent Cassel, Albert Dupontel
Penulis : Gaspar Noe






Comments