Readers

Picnic At Hanging Rock (1975) : Mistis yang Sebenarnya

https://assets.mubi.com/images/film/565/image-w1280.jpg?1457975663 



 "What we see and what we seem are but a dream, a dream within a dream."

Ada satu episode dalam seri TV lawas 60an Twilight Zone berjudul The Odyssey of Flight 33, tentang pesawat yang mendadak menghilang dari radar udara dan para awak pesawatnya baru menyadari mereka terlempar ke masa lalu, jauh ke era dinosaurus masih belum punah. Ketika saya menemukan episode ini, waktu itu bertepatan dengan ramainya pembicaraan tentang pesawat Malaysia MH370 yang menghilang. Membayangkannya, ini adalah ide yang menakutkan. Coba bayangkan bagaimana itu benar terjadi? Bahwa ketika sesuatu atau sekumpulan orang menghilang ke suatu masa yang jauh sebelum masa ini bagaimana bisa mereka bertahan atau menjalin kontak untuk mengabari bahwa mereka perlu bantuan sementara mereka jauh terpisahkan waktu?




Ide yang membuat tidak nyaman itu adalah hal yang memang sering ada dalam dunia Twilight Zone - Rod Serling. Mistis, sesuatu yang di luar aturan logika, tidak terjelaskan. Picnic at Hanging Rock membawa lagi ide seram tentang mistisisme yang menanggalkan  logika tersebut. Banyak film dengan kisah yang serupa ini sebenarnya : tentang hilangnya seseorang secara misterius dan seringkali film-film tersebut memilih cara paling sederhana yaitu dengan menuntaskan cerita, mengajak penonton untuk mencari tahu ada apa untuk kemudian memecahkan teka teki tersebut. Sering ada plot twist. Ada kengerian yang diumbar (misalnya ada pembunuh, ada hantu) bahkan berlomba-lomba untuk mencapai konklusi yang shocking dan berdarah darah.

Picnic saya kira akan seperti itu. Tapi sutradaranya, Peter Weir mencoba mengambil gaya dan cara yang berbeda dalam premis tentang menghilangnya beberapa gadis remaja di bukit bebatuan. Sejak awal, film ini memiliki dreamy atmosphere yang kental, dengan gambar-gambar indah dipadu musik suling yang merdu. Serupa mimpi. Para gadis-gadis di sebuah sekolah asrama yang akan pergi piknik mengenakan setelan putih dengan setting klasik tahun 1900. Ini saja sebenarnya bisa menjadi awal dari sebuah cerita di banyak film horor. Openingnya memperlihatkan rutinitas para gadis muda tersebut : bangun tidur, menyisir rambut, duduk dekat jendela, bermain kartu. Sekolah mereka tergambarkan dengan baik sebagai sebuah wilayah isolasi dengan beberapa peraturan dan disiplin yang ketat. 

Tidak banyak yang bisa diceritakan dalam Picnic, yaitu bahwa beberapa gadis menghilang ketika mengitari bukit bebatuan dan filmnya bicara tentang proses pencarian setelahnya, yang juga seakan-akan tanpa petunjuk. Film seperti ini memang bukan horor yang umum, tapi setelah menontonnya saya sepakat ini tetap meninggalkan kesan janggal yang tak mudah dilupakan.

Kekuatan film ini adalah pada visual gambarnya. Terutama saat menyorot daerah bukit bebatuan. Walau pada awalnya nampak indah namun kemudian  pelan tapi pasti visualnya mampu menangkap ada sesuatu yang misterius dan bahkan membangkitkan paranoia ketika menonton. Dalam satu adegan yang menurut saya paling menakutkan, seorang gadis menatap ke arah puncak bebatuan dan merasa bahwa seakan bebatuan itu memiliki nyawa hidup yang bisa mengancam dirinya. Visualnya dengan apik menyampaikan itu dan sebagai penonton, kita mampu merasakan apa yang gadis itu rasakan. Tentu ini bukan tugas mudah dan butuh kepekaan lebih untuk membangun atmosfer yang tidak nyaman tersebut.

Yang tak kalah menarik adalah membahas film ini dari sisi metaforiknya. Para gadis yang terkesima dengan pemandangan bebatuan, seakan terhipnotis untuk terus menjelajah tempat itu. Mereka bahkan melepas stocking dan sepatu (salah satu bukti bahwa visual film ini memang juara, sehingga kemudian kita mampu menangkap kesan seksual). Dalam cerita lain bahkan disbeutkan ketika seorang gadis ditemukan kembali namun korsetnya menghilang.

Bisa jadi, bebatuan dimana para gadis yang terperangkap dan menghilang di dalamnya adalah gambaran dari sebuah ekspresi kebebasan dan eksplorasi ketika jauh dari lingkungan yang memenjara mereka. Mengingat sekolah asrama di film ini tampil sebagai tempat yang amat membatasi dan mengisolasi, maka daerah bebatuan seakan menjadi tempat pelarian yang membebaskan mereka. Inilah tema repressed sexuality yang mungkin tidak baru tapi disuguhkan seperti dongeng masa lalu yang misterius, yang bisa jadi pula bicara tentang posisi wanita di masa lampau yang terbelenggu dan perlawanannya.


 http://4.bp.blogspot.com/-GcOjz8on8KY/U6C2gy_6F4I/AAAAAAAACug/J0E8pGxLn4k/s1600/miranda_irma.png


Bila mencari nuansa misterius dengan visual gadis-gadis dengan gaun putih kuno berpetualang di puncak bebatuan atau adegan seseorang tersenyum dari jauh diiringi musik minimalis nyaris sunyi (Semacam Let's Scare Jessica To Death) Picnic At Hanging Rock menawarkan hal yang tepat. Tapi bila menginginkan cerita misteri yang shocking dan berbeda, film ini bukan alternatif yang tepat. 
 
Kembali pada apa yang ingin disampaikan oleh film ini, benar mungkin bahwa yang paling menakutkan adalah sesuatu yang tidak pernah diketahui apa alasannya, itu juga kenapa manusia hidup selalu berpatokan pada logika. Sebagai manusia, kita selalu ingin mudah mendapat jawaban selayaknya saat kita meyakini sebuah film harus memiliki ending, tanpa ambiguitas sama sekali. Bila semua tanpa penjelasan ada perasaan gelisah, tidak tentram bahkan rasa mengganggu yang menghampiri kita.

Picnic At Hanging Rock seperti mimpi yang menolak untuk ditafsirkan, sebuah film yang membuka pandangan bahwa memang tidak semua hal bisa dijelaskan. Dan mungkin inilah mistis yang sebenarnya. 


Picnic At Hanging Rock, 1975
Sutradara : Peter Weir
Penulis : Cliff Green
Pemain : Anne Louis Lambert, Jacki Weaver, Rachel Roberts




Comments

Other side of me

My MUBI

In Theaters