Sweet Smell of Success (1957) : Panggung Sandiwara Orang-Orang Licik



https://thewrittenreel.files.wordpress.com/2014/07/screen-shot-2014-07-05-at-3-00-16-pm.png

Bagaimana bisa sebuah film dengan cerita yang terlihat begitu biasa menjadi terasa sangat penting, mencekam, semakin durasi berjalan semakin banyak emosi yang terlibat dalam setiap adegan dan penokohannya?

Sweet Smell of Success dimulai tanpa basa-basi, semua begitu cepat  tanpa adanya pengantar untuk diperkenalkan pada penonton. Singkatnya Sidney Falco (Tony Curtis) adalah seorang press agent yang kehabisan cara untuk meraih peruntungan mengorbitkan bintang-bintang asuhannya lewat kolom gosip di harian kabar. Semuanya karena ulah J.J Hunsecker (Burt Lancester), kolumnis gosip ternama yang bertiindak semaunya. Di kala itu, surat kabar asuhan Hunsecker adalah yang terbesar, sehingga karier seseorang bisa tamat atau bisa berhasil berkat andil miliknya. Kalau ingin dianalogikan, kekuatan Hunsecker semacam admin Lambe Turah dalam menguasai suara pembaca di masa kini. Tentu saja jaman sekarang lebih beragam reaksi terhadap aksi atau pro-kontra untuk satu isu, namun pada jaman lama satu media bisa saja memegang kunci ketika opini-opini lain lebih terpinggirkan.


Lalu masalah film ini terasa bukanlah masalah besar : Hunsecker menugasi Falco untuk merusak hubungan adik perempuannya, Susan (Susan Harrison) dengan seorang musisi pendatang baru, Steve (Martin Miner). Pada awal film, ini terasa bukan konflik yang amat penting mengingat apa yang menarik dari rencana seorang kakak yang ingin membubarkan hubungan adiknya? Namun film ini diberkati skenario yang cerdas sehingga kemudian kita mengetahui ada sisi lain yang terasa gelap dalam hubungan kakak dan adik ini. Lebih dari itu, hanya berbekal sebuah premis sederhana, Sweet Smell of Success memperlihatkan wajah manusia yang lebih kompleks dan bahkan bengis. 

Duet Tony Curtis - Burt Lancaster sebagai Falco-Hunsecker adalah nyawa penting film ini. Mereka saling melengkapi sebagai si pelayan dan sang majikan, antara sang penjilat dan si penipu, duo antagonis yang rela melakukan apa saja bahkan mengorbankan orang lain demi kepentingan diri sendiri. 

Karakter Tony Curtis dalam film adalah contoh hebat untuk "bad guy with good motives" karena kita mengira ia adalah protagonis berhati baik lalu kemudian ia berubah licik dan tetap kita mau mengerti kenapa ia  menjadi seperti itu. Setidaknya, Falco hanya pengikut. Yang sebenarnya paling mengerikan adalah Hunsecker, entah ini hanya saya, tapi Burt Lancaster adalah aktor yang tepat untuk mengisi peran seorang pria dingin tanpa hati. Lihat bagaimana dia tersenyum sinis atau bicara semaunya di depan orang-orang yang memelas jasa kerjanya untuk minta diorbitkan, Burt punya wajah yang sempurna untuk membuat semua penonton mampu membenci sekaligus segan pada dominasi penokohannya.

Dalam sebuah momen terbaik dari film ini, Hunsecker dan Falco membuat konfrontasi terhadap Steve dengan latar panggung pertunjukan. Latar ini seakan menjadi penyampaian yang tepat bagi karakter Falco dan Hunsecker yang penipu ulung.  Mereka  saling memainkan peranan licik dan salut saya yang terbesar adalah pada Burt Lancester yang bisa pelan namun meyakinkan mengolah sandiwara tersebut. Bagian paling brilian lainnya (yang juga menandakan perkembangan karakter) adalah pada sosok Susan. Wajah aktris Susan Harrison amat cocok memerankan jiwa seorang rapuh, penakut dan jadi sasaran obsesi sang kakak. Tapi dalam beberapa menit sebelum ending, Susan pun ternyata ikut terbawa dalam sandiwara yang dibuat oleh Falco dan Hunsecker. Saya tentu tidak akan membicarakan konklusi akhirnya, tapi sangat menarik untuk menyadari bahwa karakter-karakter di film ini saling berpura-pura dan pada satu titik, seseorang dari mereka secara tidak sengaja melakukan kesalahan. Falco adalah aktor yang berbakat, tapi Hunsecker jauh lebih hebat.

 https://images-na.ssl-images-amazon.com/images/M/MV5BMzFhNGVlZGEtYmRiOS00NzE5LTg5NWItN2I1YmI5NDAyZjk3XkEyXkFqcGdeQXVyNDIzNDExOQ@@._V1_SX800_CR0,0,800,488_AL_.jpg

http://1.bp.blogspot.com/-w98pQNRF67g/ToiG5iIlmoI/AAAAAAAAIJ8/lyQlpT5pPIg/s1600/SweetSmell_124Pyxurz.jpg
"Match me, Sidney." - Orang-orang licik dalam hubungan benci sekaligus karib.

Untuk film seperti ini, memang naskah dan penyutradaraan adalah sesuatu yang krusial dan bisa jadi petaka bila ditangani orang yang salah. Film yang bagus bukan hanya membuat 'masalah kecil' terlihat mampu dipercaya sebagai masalah penting tapi juga bagaimana ceritanya mampu memperlihatkan sisi manusia para karakternya. Menarik untuk mengetahui karya-karya lain Alexander Mackendrick, karena ia begitu efektif mengarahkan dalam film ini. Tema yang disinggung pun terasa baru dan berhasil memikat penonton karena selama ini lebih banyak film bicara tentang sisi gelap dunia hiburan dan film ini memilih bicara tentang sisi paling  luar yaitu publikasi dan manipulasi media.

Tidak ada kecacatan dalam Sweet Smell of Success kecuali satu hal yaitu film ini sama sekali tidak menerima penghargaan atau bahkan nominasi Oscar satupun di masanya. Tidak bisa dipercaya nama Burt Lancaster, Tony Curtis, Alexander Mackendrick dan Clifford Odets selaku penulis naskahnya tidak ada di halaman daftar pemenang Oscar, mengingat film ini bukan film biasa atau mudah dilupakan.  

Bahkan jujur saja, menonton film ini seakan mengingatkan saya dengan gaya penceritaan ala Aaron Sorkin yang pembukaannya tanpa ba-bi-bu, penuh dialog cepat dan terasa semakin intens. Cerita pengkhianatan pun juga ambil bagian dalam The Social Network, meski mungkin lebih dingin dan kurang dramatik. Sementara drama dalam Sweet Smell of Success lebih vulgar, emosional dan  menggelisahkan. Dua-duanya adalah film bagus yang mewakili masanya.


Sweet Smell of Success, 1957
Sutradara : Alexander Mackendrick
Penulis :Clifford Odets, Ernest Lehman (novel)
Pemain : Tony Curtis, Burt Lancaster, Susan Harrison, Martin Milner

Comments