Pandora’s Box (1929) : Tragedi Seorang Lulu

http://www.classicartfilms.com/wp-content/uploads/2013/06/Pandora-2.jpg

Pandora's Box menawarkan salah satu karakter wanita paling menarik yang pernah saya lihat sepanjang menonton banyak film. Karakter itu bernama Lulu, diperankan Louise Brooks sebagai seorang wanita penggoda yang penuh semangat, manja, dan sangat, sangat manipulatif. Bisa jadi anda yang menonton menganggapnya jahat dan jadi membencinya. Apakah dia tidak punya hati? Tidak ada yang tahu. Tapi saya juga yakin benci ataupun suka pada karakternya, anda pasti tidak akan melupakannya. Pesona Louise Brooks disini benar-benar gila dan mematikan, dia adalah one of a kind, dan pantas saja namanya banyak menjadi acuan referensi untuk pembentukan karakter, bahkan sering dianggap lebih baik dari Greta Garbo maupun Marlene Dietrich.


Film ini adalah cerita tragis tentang Lulu, seorang wanita yang memerangkap para pria, membuat mereka dengan mudahnya jatuh cinta namun juga memperlakukannya bak mainan. Berpindah dari satu ke lainnya lalu membuangnya, bahkan ketika sebuah tragedi besar terjadi, sikap karakternya mengejutkan penonton. Mereka yang menggilainya antara lain adalah Ludwig Schon  (Fritz Kortner) dan anaknya, Alwa (Francis Lederer), seorang wanita bernama Augusta Geshwitz (ya, lesbian sub-plot dalam sebuah film bisu!) juga Schigolch (Carl Goetz) seorang kakek tua yang dalam film tidak dijelaskan apakah teman dekat atau malah ayah Lulu. Lulu adalah simpanan Schon namun Schon yang memiliki reputasi besar berencana menikahi wanita lain. Ia tertekan dengan sifat Lulu yang bebas menggoda pria-pria bahkan saat bersamanya. Di sisi lain Lulu tidak mau membiarkan sang kekasih meninggalkannya namun juga terus menjerat Alwa dan yang lainnya terus bertekuk lutut memuja dirinya. 

Buat saya Lulu adalah character study yang benar-benar spesial. Ia penuh dengan ego dan seakan hanya itu yang ia punya.  Ia sama sekali tidak memihak penonton meski tak jua kita berhenti mencari tahu ada apa sebenarnya dengan dirinya. Mungkin inilah yang dinamakan daya tarik yang menyihir. Bagaimana dia tersenyum, berakting manja dan menatap pria yang akan diciumnya. Tidak salah bila Louise Brooks dianggap sebagai kekuatan terbesar film ini karena dia sendiri adalah spotlight-nya. 


http://4.bp.blogspot.com/_Gdt6SgFdNNw/TJFno2CNViI/AAAAAAAATig/p6voxW5ULrA/s1600/pandora_kills.jpg
Lulu : hanya tentang ambisi dan nafsu.

Yang lebih menarik juga adalah membahas aspek erotika dari film ini. Saya jarang menonton film bisu, tapi saya akan bilang bahwa film ini bisa masuk kategori film seksi, sama seperti pengalaman menonton film-film Marilyn Monroe atau contoh lain seperti Sharon Stone di Basic Instinct dimana kecantikan dan sex appeal mereka begitu ditonjolkan depan layar. Bila anda pernah menonton video klip Orchestral Manouver In The Dark yang memang semacam tribute untuk film ini, music video itu seakan ‘perangkap’ karena memasukkan adegan-adegan yang menyiratkan sisi erotis filmnya. Sisi erotis itu buat saya tetap ada di film ini tanpa adanya penggambaran adegan seksual yang kasar dan terang-terangan melainkan lewat shot-shot yang penuh kesan sensual. Bagaimana pembuatnya melakukan close-up shot pada bagian tertentu baik itu adegan ciuman, adegan saat Lulu berseteru dengan Schon atau saat Alwa merebahkan kepalanya di paha Lulu. Unsur erotis bisa saja menjadi eksploitasi yang tidak dibutuhkan namun ketika sensualitas itu juga adalah bagian dari cerita dan mewakili sisi terdalam sang tokoh utama, maka film ini tidak menjadi salah pada tempatnya. It is a film about desire and what we see is all about desire.

https://3.bp.blogspot.com/-2EXrWC2vOAk/UU3iK5e5ocI/AAAAAAAAS8w/X7aWgCPHWlc/s400/Louise+Brooks+++Pandora's+Box+++Act+3+10.jpg
Erotisme dalam film bisu mungkin tidak terang-terangan atau se-eksplisit seperti film jaman sekarang tapi pilihan sutradaranya untuk "menggoda" penonton dengan kekuatan gambar mungkin sudah masuk definisi vulgar pada masanya.
http://4.bp.blogspot.com/_Gdt6SgFdNNw/TJFk7hyyHzI/AAAAAAAATiQ/eJJTfTDsF7Y/s1600/pandorasbox_alwa.jpg


http://images4.fanpop.com/image/photos/22800000/Pandora-s-Box-louise-brooks-22812569-500-400.jpg

Sebagai informasi, ini adalah film yang dibenci Hitler yang dia tulis sebagai seni rendahan. Mungkin ia marah karena film ini dan protagonisnya tidak berusaha menjadi moralis, melainkan amat egois dan penuh dengan kebebasan. Tapi saya yakinkan bahwa menonton Pandora’s Box adalah salah satu hal yang tak terlupakan,  entah apakah anda akan merasa terganggu, patah hati atau sedih dengan depresifnya film ini, tapi yang pasti ini akan memberikan kita rasa dan pengalaman berbeda. Buat saya ini semacam “film panas” nya era bisu, sungguh seduktif, melawan arus, dan seakan mempunyai nyawa untuk terus bertahan di ingatan.

Setelah saya selesai menonton, ada  satu hal yang kemudian saya renungkan tentang ending yang dipilih oleh sutradaranya. Akhir yang dipilih buat saya adalah akhiran yang paling tepat, kalau saja kata sempurna terlalu terasa berlebihan. Yaitu bahwa tragedi adalah sesuatu yang selalu menyedihkan namun dalam sisi lainmungkin hanya dalam sudut pandang senitragedi bisa dianggap indah, setidaknya ketika itu hanyalah sebuah cerita dan kita hanya sebagai penontonnya. Pandora's Box membuktikan itu.


Pandora's Box, 1929
Sutradara : Georg Wilhelm Pabst
Penulis : Georg Wilhelm Pabst, Ladislaus Vajda
Pemain : Louise Brooks, Francis Lederer, Carl Goetz, Alice Roberts







Untuk memantik ketertarikan, simak video musiknya oleh Orchestral Manouver In The Dark (OMD) ini :


Comments