Dawn of The Dead (2004) : Film Zombie yang (Paling) Bersenang-senang


http://www.paperdroids.com/wp-content/uploads/2016/10/DawnoftheDead.jpg

Manusia hidup memiliki tujuan. Bahkan sekecil apapun. Mungkin tidak semua orang punya tujuan hidup menjadi presiden, mungkin hanya sesepele hari ini punya tujuan untuk ke Alfamart dan beli sekotak Indomilk rasa stroberi. Tidak ada bedanya, semua tetap adalah tujuan. Manusia juga punya naluri alamiah untuk bertahan dan berkembang. Setelah ia bisa bertahan, ia ingin berkembang. Ada sesuatu dari diri manusia untuk tahu bahwa seburuk apapun risiko yang ia hadapi, ada perasaan puas bila turun tangan menghadapinya. Kecuali kita memang memilih tinggal dan kehilangan kewarasan. Kebosanan tidak ada bedanya dengan kematian.

 Wait a minute... what the fuck is that? Paragraf awal tadi terlalu serius. Dawn of the Dead rasanya tidak cocok dibicarakan dengan cara seperti itu. Tapi paragraf awal ini saya tulis untuk membalas keluhan banyak orang di Mubi yang menulis film ini punya jalinan cerita payah (keputusan para karakternya memilih pergi ke tempat tidak jelas daripada bertahan di mall). Padahal tidak ada yang salah dengan itu. Baca lagi tulisan di atas.

Dawn of The Dead memang punya 30 menit yang berjalan biasa. Tidak ada kejutan, penampilan zombie pun tidak begitu se-mencekam harapan. Cerita dimulai dari seorang suster bernama Ana (Sarah Polley yang di awal terlihat meragukan ternyata bisa menjadi karakter protagonis yang tangguh) yang mendapati semua orang di sekitarnya berubah menjadi zombie. Ia lalu bertemu para survivor lainnya seperti Kenneth (Ving Rhames), Michael (Jack Weber), Luda (Inna Korobkina) seorang wanita hamil berdialek Rusia yang di awal terlihat aktingnya tidak meyakinkan bersuamikan pria Afrika, Andre (Mekhi Phifer) yang terlihat mencurigakan.

Sampai disini tidak ada hal yang mengejutkan dalam cerita. Seperti dalam film-film survival zombie lainnya, para karakternya ingin selamat dan mencari bantuan. Ketika muncul karakter trio security terdiri dari C.J (Michael Kelly, karakter favorit saya), Bart (Michael Barry) dan Terry (Kevin Zegers), sudah ada dugaan bahwa nantinya akan ada cerita perselisihan di antara dua kelompok ini. Namun ternyata semakin durasi menanjak ke pertengahan, hal-hal paling tak terduga terjadi. Kita hanya tidak tahu bahwa Zack Snyder sedang mencandai penonton. Bersama James Gunn sebagai penulis naskah, film ini kemudian tidak pernah berhenti untuk bermain-main. 

https://addictedtohorrormovies.files.wordpress.com/2014/09/vlcsnap-2010-09-30-19h19m41s78.png
Dawn of the Dead adalah film menyenangkan yang dibuat dengan serius namun lebih lucu dari Shaun of The Dead tapi juga tidak terlihat bersikeras untuk melucu. Saya bingung harus menyebut mana bagian paling terbaiknya karena mungkin terlalu banyak adegan yang adalah bagian terbaiknya. Film ini seperti kado kejutan, lebih asyik bila dinikmati tanpa tahu lebih banyak lapisan ceritanya.

Beberapa bagian terlihat serupa video game, sesuatu hal yang tidak mengherankan tampil dalam gaya penyutradaraan seorang Zack Snyder. Sucker Punch (juga salah satu film terbaik dia buat saya) punya polesan ala video game yang sama----sesuatu yang malah membuat filmnya menjadi bertambah mengesankan. Dawn of The Dead sendiri mengingatkan saya pada keseruan menikmati film-film Sam Raimi seperti trilogi Evil Dead, juga memiliki jiwa film-film 80-an Paul Verhoeven yang selalu memperlihatkan kekerasan dan darah secara vulgar. Atau bila menilik pada film era 2010-an, Dawn of the Dead sama menghiburnya dengan film-film Fede Alvarez.


Agar lebih singkat, bila anda mengatakan yes pada pertanyaan-pertanyaan di bawah ini, silahkan langsung menonton filmnya.

Anda ingin film dalam gabungan aura B-movie low budget dengan visual menarik dan pengarahan yang serius? Cek. Anda ingin zombie yang berjalan cepat, dibunuh sadis dan frontal? Cek. Plot ayah-anak? Cek. Plot persahabatan dua lelaki? Cek. Unsur kekeluargaan? Cek. Ada zombie yang tangan atau kakinya buntung? Cek. Sesuatu yang melibatkan orang melahirkan dan bayi di film zombie? Cek. Anda ingin plot romance ala Twilight? Coba cek cerita Terry -Nicole. Ingin plot romance yang lebih dewasa? Cek cerita Michael dan Ana. Ingin film zombie dengan social commentary? (Tulisan “Help! Alive Inside!” diabaikan helikopter yang lewat?) Anda ingin tambahan cuplikan ala found footage? Tunggu credit title-nya. Anda ingin karakter bad-ass tanpa terlihat sok bad-ass? Cek karakter C.J. Karakter Ving Rhames. Karakter Michael. Bahkan karakter Andy. Anda selalu mengeluh menonton film horor-thriller dimana ada karakter yang terlupakan dan tidak ada gunanya? Oh tenang, salah satu bagian terbaik dari film ini adalah semua karakter ada gunanya. Tidak ada yang membuat kita lupa. Bahkan karakter pria kurus bertopi dan karakter wanita seksi ada gunanya. Saya tidak akan menyebut apa guna mereka, tapi yang jelas mereka tidak terlupakan. Bahkan karakter Luda yang tidak meyakinkan seperti yang saya bilang di paragraf awal menjadi salah satu karakter yang belakangan punya peran penting. 

Saya selalu terbuka untuk film-film yang punya keinginan untuk menyenangkan penonton. Drama, horor, komedi, apapun. Namun lebih dari menyenangkan penonton, Dawn of the Dead seakan sadar bahwa hal yang paling utama adalah bersenang-senang dengan dirinya sendiri. Dan itu terlihat jelas. Setelah usai menonton sebuah film buruk berniat kiddie porn berkedok coming of age yang tidak akan saya sebut judulnya, rasanya sangat melegakan perasaan depresi dan memori film tersebut segera dihapus oleh film seperti ini. Akan selalu ada tempat untuk orang yang membahagiakan orang lain. Dan akan selalu ada tempat untuk film-film yang murni sebuah hiburan, film yang membuat penontonnya merasa keren dan merasa hidupnya menjadi lebih berharga. 

Terima kasih, Zack Snyder. Semoga kamu masuk surga.


Dawn of the Dead, 2004
Sutradara : Zack Snyder 
Pemain : Sarah Polley, Jack Weber, Ving Rhames, Michael Kelly, Ty Burrell, Kevin Zegers, Lindy Booth
Penulis : James Gunn

 


Comments