Readers

Sedikit Catatan Tentang Persona (1966)


Apa yang membuat kita menjadi kita? Yang membuat kita bisa merasa kita manusia, apa itu sebenarnya merasa menjadi manusia? 

Pertanyaan ini menggugat kepala saya dan itu terjadi seusai menonton Persona (1966, Ingmar Bergman). Film ini akhirnya menuntaskan semua kebingungan saya ketika dahulu masih bertanya apa itu personality, kenapa kebanyakan dari kita bisa menjadi seseorang yang lain dan lalu menjalani pribadi yang lain, karena saya selalu percaya semua nampak begitu tidak teratur; kepribadian menjadi semacam bunglon yang menyesuaikan dengan tempat, siapa orang yang saya hadapi, situasi dan faktor-faktor penentu lainnya. 


Persona memberikan saya jawaban yang bahkan membuat saya berpikir jauh lagi bukan hanya tentang kepribadian tapi menjadi manusia itu sendiri.  Manusia bisa jadi (hanya sekedar) media dan jadi bekerja seperti komputer dan mesin ketika dengan mudahnya ia terpengaruhi segala macam di sekitarnya. Apakah kita pernah berpikir, segala macam keputusan yang pernah kita buat adalah hasil dari apa yang kita lihat dan dengar seperti lewat musik, film, buku, opini orang lain? Atau jangan-jangan semua keputusan yang kita buat dari banyak babak hidup (hanyalah) hasil dari kita yang berperan sebagai penonton, bukan sebagai pelakunya (ingat adegan pembuka anak kecil yang menyentuh layar). Dan pertanyaannya adalah, cukupkah kita menjadi manusia bila hanya sebagai penonton? Apakah itu cukup membuat diri kita merasa menjadi manusia ketika merasakan dari apa yang kita lihat bukan ketika kita menjadi sang objek langsungnya? Entahlah. Tapi ini tampak menyedihkan. Terasa kurang menjadi manusia bila hanya sebagai sang penerima pasif, bukan sebagai yang berwenang untuk merasakan secara aktif, yang secara real. Ada perbedaan antara melihat pasangan yang sedang berciuman dengan merasakan ciuman. Ada perbedaan tentang melihat cerita cinta dan benar-benar berada di dalam cerita cinta. 

Persona membuat saya memikirkan berkepanjangan bahwa film ini atau sinema secara keseluruhan memang menghadirkan realita, memberi kita kesempatan untuk merasa dan ikut kedalam dunianya tapi sinema tetap hanya pertunjukan yang menempatkan kita sebagai orang luar. Kita hanya penonton. Dan suatu hari harus beranjak pergi dari layar ketika film selesai.  

 http://static.rogerebert.com/uploads/review/primary_image/reviews/great-movie-persona-1966/hero_EB20010107REVIEWS08101070301AR.jpg


Apa yang kita lihat memang akan mempengaruhi kita sampai dalam waktu lama. Tapi apa bila kita hanya tentang apa saja yang terekam dan terprogram di kepala kita tanpa pernah merasakan pengalaman hidup itu langsung, apa perbedaan kita manusia dengan robot, boneka atau mesin perekam gambar?

Comments

  1. kurang ngerti sih waktu nonton film ini, tapi sedikit tercerahkan setelah membaca catatan ini

    review film-film Edward Yang dong, kayak A Brighter Summer Day, atau Yi Yi :))

    ReplyDelete
  2. Waduh aku belum nonton film dia sama sekali tuh. Aku nonton pilihannya acak aja soalnya. Tapi nanti aku masukin list untuk ditonton deh.

    ReplyDelete
  3. Pertanyaan ini menggugat kepala saya dan itu terjadi seusai menonton Persona (1966, Ingmar Bergman). Film ini akhirnya menuntaskan ...
    ผลบอล

    ReplyDelete

Post a Comment

Other side of me

My MUBI

In Theaters