Readers

The Last Picture Show (1971) : Jalan Putus Asa Dalam Seksualitas

http://www.unsungfilms.com/wp-content/uploads/2014/03/The-Last-Picture-Show-at-Unsung-Films51.png



The Last Picture Show  // 1971 // Sutradara : Peter Bogdanovich, Amerika // Pemain : Timothy Bottoms, Jeff Bridges, Cybil Shepherd, Ben Johnson, Ellen Burstyn


Sebuah pepatah lama bilang bahwa "it takes a whole village to raise a kid" atau bagaimana peran masyarakat dan lingkungan mampu memegang pengaruh pada diri seseorang sejak ia kecil sampai menjelang dewasa. Sekarang film Peter Bogdanovich, The Last Picture Show (1971) seperti ingin menghadirkan wacana soal masyarakat dan lingkungannya itu sebagai asal muasal tempat banyak anak-anak generasi baru mulai berkembang.

Gambaran kota kecil itu adalah Anarene tahun 1951 sementara anak-anak generasi baru yang mulai berkembang masing-masing adalah Sonny Crawford (Timothy Bottoms yang tampan memainkan sosoknya yang rapuh), Duane (Jeff Bridges) yang berlagak bak jagoan dan punya pacar cantik Jacy (Cybil Shepperd)----disini berlagak seperti karakter Regina George. Mereka semua saling terkait begitupun profil warga-warga lain diantaranya Sam The Lion (Ben Johnson) sang pemilik tempat-tempat hiburan di Anarene yang bagai "tetua kampung" dan disegani, Ruth (Cloris Leachman) seorang istri guru olahraga yang kesepian, Lois (Ellen Burstyn) ibu Jacy yang pembosan dan banyak lagi. Berkumpulnya banyak karakter dan permasalahan yang silih berganti menjadikan filmnya hampir bisa dijadikan soap opera atau mungkin bila di Indonesia, nampak seperti dunia dalam sinetron stripping. Tapi bedanya tentu ini adalah film berdurasi 118 menit yang disajikan padat tanpa perpanjangan dan sampai ke akhir akan lebih cocok disimpulkan semacam novel fiksi 400 halaman yang difilmkan. Dan memang asal muasalnya diadaptasi dari novel karangan Larry McMurty.

 Namun perlukah (atau mampukah) durasi yang panjang memperlihatkan semua isi dalam filmnya? Secara keseluruhan, mampu. Tapi buat saya pribadi, jalannya kadang tak mulus. Terkadang ada saat dimana babak cerita diperpanjang padahal sebaiknya berhenti atau malah satu cerita lain diperlihatkan tanpa kelanjutan. Ambil contoh, bagian Duane yang diceritakan memiliki affair dengan Ruth lalu muncullah babak baru dimana Jacy ingin menggoda Duane sebagai sesuatu yang dipanjang-panjangkan. Meskipun cerita itu hadir dengan motif yang baik yaitu menyorot pribadi labil dan spontan Duane - Jacy sebagai remaja namun penyelesaiannya terlihat amat sederhana (bisa jadi karena skenario tiga babak tidak berlaku di film ini jadi segalanya terasa dihadirkan begitu saja). Jujur itu membuat kedekatan dengan cerita menjadi agak merenggang walaupun tidak sampai tahap mengganggu.

Satu lagi yang sebenarnya mewakili unek-unek saya sepanjang menonton: saya begitu tertarik dengan representasi karakter Sonny. Sonny mungkin tidak semencolok Duane, ia lebih pendiam meskipun ia tetap gencar mencari perempuan seperti teman-temannya. Namun kepolosan dan kerapuhan Sonny sehingga mau menjalin hubungan dengan Ruth nampak terlihat jelas, terutama karena akting Timothy Bottoms yang tepat menggambarkannya. Di tengah film saya hampir berharap film ini akan lebih fokus pada Sonny mengingat ia menjadi sentral-nya namun mengingat sang pembuat lebih ingin membuat filmnya sebagai diary nostalgia kota Anarene, hal ini tak sepenuhnya bisa didapatkan. Meski bukan sesuatu yang buruk, hanya diluar harapan saya.


http://www.stevenbenedict.ie/wp-content/uploads/TLPS.png
Cybil Shepherd yang jelita berakting berani disini.

Sekarang ada beberapa catatan tentang poin kelebihannya. Yang saya sukai dari The Last Picture Show adalah materinya untuk menampilkan fenomena seksualitas dan kaitannya dengan kondisi sebuah kota kecil yang tua dan terbengkalai. Kenakalan anak muda beserta ekspresi kebebasannya memang tema yang tidak bisa dilepaskan dari cerita film terutama ketika digambarkan untuk merekam masa. Rebel Without A Cause (1955, Elia Kazan) seperti yang kita tahu sendiri mengemukakan cerita tentang tiga anak remaja yang mencari identitas keluarga karena kekosongan makna dalam lembaga keluarga. 50-an mendadak menjadi tergambar penuh pemberontakan, lelaki berkaus putih dengan jaket merah (James Dean) yang ikonik dan balap mobil. 70-an juga ada Saturday Night Fever (1977, John Badham) kali ini menggambarkan generasi lantai dansa, pria-pria celana cutbray dan rambut super klimis dengan ikon John Travolta. Potret anak muda dan seringkali tentang eksplorasi seks juga sering menjadi materi teen sex comedy 80-90-an, kadang menjadi eksploitasi melebihi cerita karakternya sendiri. Sementara film ini tak banyak berbeda untuk mengedepankan eksplorasi seks seperti karakter Sonny yang tertarik pada wanita yang lebih tua atau Jacy yang berani dan bahkan mencari-cari pengalaman seks. Apakah pencarian tentang seks bahkan dalam penggambaran ekstrem digambarkan sebagai proses alamiah untuk remaja? Film ini mengatakan ya, dan pertanyaan itu terasa tepat ketika kita menyaksikan latar tempat di film ini yaitu Anarene. Anarene yang divisualkan gersang dengan tempat hiburan yang itu-itu saja membuat para penduduknya bukan hanya berjiwa sama gersangnya namun terseok-seok mencari hiburan diri sendiri. Ini menjadi beralasan kenapa Sonny menjalin hubungan dengan Ruth atau kenapa Jacy begitu penuh dengan rasa ingin tahu akan petualangan seks (dengan Duane, dengan Sonny, dengan Abilene, menghadiri stripping party). Anarene terasa seperti dunia yang sempit dan membatasi sehingga anak-anak ini tidak punya banyak hal yang dilakukan selain "memainkan" seks sebagai area kesenangan. Namun perihal kebosanan dan keinginan mencoba-coba ini ternyata tak hanya ada pada jiwa para karakter remaja melainkan juga dilakukan para pemeran pendukung yaitu orangtua dan keluarga. Sam The Lion, Lois, Abilene nampaknya juga tersesat dengan cara yang sama. Dalam hal memotret lingkungan sosial dan para penduduknya inilah yang menjadi poin juara The Last Picture Show.

Masalah eksplorasi seks sendiri leluasa diperlihatkan misal dalam gambar-gambar close up untuk memotret reaksi erotis atau satu karakter dengan karakter lain dalam rentang usia atau status berbeda menjalin hubungan tanpa diduga. Apakah terasa berlebihan atau tidak amat tergantung pada persepsi penonton namun yang harus digarisbawahi bahwa filmnya memang berbicara tentang keputusasaan didalam seksualitas itu sendiri, bahwa Anarene adalah metafora generasi tua seperti Sam The Lion sementara Duane, Sonny dan Jacy adalah orang-orang masa kini di era tersebut, orang-orang muda yang menghadapi sebuah kota yang tua. Dengan ini filmnya terasa bisa diterima apalagi presentasi karakternya juga menarik untuk menjadi bahan pemahaman penonton.


Yang paling pasti, keinginan pembuatnya untuk memperlihatkan potret kota kecil dari tahun ke tahun secara keseluruhan berhasil. Menonton film ini membuat kita mudah teringat kampung halaman dan rumah tempat kita lahir (terutama yang memiliki masa kecil suka menonton di bioskop pinggiran). Meski penuh drama tentang karakter-karakter berkepribadian putus asa dan kompleks, pada akhirnya film ini membangkitkan nostalgia terutama bagi yang merasakan perbedaan jelas antara lingkungan semasa kecil dengan saat beranjak dewasa. Mendadak saya teringat Radio Days (1987, Woody Allen) yang juga sama-sama menceritakan keseharian yang mengalami pergantian. Bedanya Radio Days bertutur tentang sweet and funny old days sementara film ini memperlihatkan apa yang hanya tergambar di Anarene : lost, desperate, tired society and... its old days. 



Comments

  1. filmnya keluar tahun 1971 bukan 1961 bukannya?

    ReplyDelete
  2. Iya sudah saya ralat. Terima kasih perbaikannya :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Other side of me

My MUBI

In Theaters