Readers

Amy (2015) Pantaskah Menang Oscar?


Amy // 2015 // Sutradara : Asif Kapadia, Britania Raya


Seminggu yang lalu saya menonton Amy, film dokumenter buatan Asif Kapadia yang dinyatakan memenangi gelar film Dokumenter Terbaik di ajang Academy Awards. Kemenangan Amy mengalahkan pesaing-pesaingnya seperti Cartel Land, What Happened, Miss Simone?, Winter on Fire dan terlebih The Look of Silence yang mengangkat isu pembantaian massal tahun 1965 di Indonesia. Rata-rata isu yang diangkat nominator lain memang penting semua dibandingkan Amy yang “hanya” menyoal kematian seorang penyanyi muda di puncak ketenarannya. Bila sudah hapal atau terlampau jengah dengan cerita club 27 atau tragedi semacam Kurt Cobain, nampaknya kemenangan Amy memicu pertanyaan dan juga perbandingan-perbandingan. Tapi apakah menurut saya sendiri Amy pantas mendapatkan piala Oscar?




Dokumenter ini merangkum beragam potongan gambar dan video sembari seluruh orang yang mengenal Amy Winehouse bercerita kronologis cerita hidup penyanyi dengan ciri khas rambut disasak tinggi tersebut. Sederhana memang dan tidak memakai metode macam-macam, kalau mau membandingkan dengan gaya konfrontasi ala the Look of Silence dimana tokoh korban dan tersangka dipertemukan dalam satu situasi (ada salah satu teman yang membandingkan metode yang dipake Senyap ini dengan TV show Termehek Mehek). Tapi bukan berarti Amy adalah dokumenter yang hambar. Pembuatnya membentuk plot cerita tersendiri yang akan mudah membuat penonton merasa mengenal, terbawa, mengerti dan terpancing simpatinya akan sosok rapuh Amy. Bagi orang yang hanya tahu bahwa penyanyi ini mati muda, dokumenter ini akan mudah membuat mereka jatuh cinta kepadanya. Untuk para fans setia apalagi. Meski begitu, kerapian menyusun desain cerita ini pun ada kelemahannya.

Karena Asif Kapadia mengambil pihak pro di belakang Amy dan memotret hidupnya yang malang sembari terus memuja-mujanya maka tidak ada sesuatu yang lain yang bisa dilihat selain tontonan memancing simpati. Dokumenter Amy amat terasa manipulatif. Ambil contoh pemuatan potongan-potongan rekaman saat ia diteror paparazzi disertai narasi yang akan membuat penonton mudah tersentuh. Rsanya kehidupan kelam karena selalu diganggu paparazzi bukan hanya milik Amy tapi juga semua selebritis lainnya. Ganti saja dengan Paris Hilton, maka narasi itu akan juga turut menyentuh penonton dengan cara yang sama.

Walau memang benar adanya dokumenter dan fiksi kadang garisnya tipis saja, bahwa untuk proses pembuatan sesuatu yang bersifat nyata diperlukan fiksi untuk merangkai atau membantu penciptaannya namun ketika satu sosok yang fenomenal diceritakan hanya dengan penuturan satu pihak yaitu yang mengatakan ”poor Amy” rasanya bukan menjadi hal yang baru lagi. Malahan potretnya menjadi melelahkan karena hanya mengulang cerita sedih yang sama. Peranan para narasumber pun nampak terlihat hanya untuk memuluskan struktur cerita sedari awal.

Satu-satunya daya tarik segar pada filmnya adalah Amy-nya sendiri saat ia terekam kamera semasa hidup. Kita bisa melihat sosok yang manja, lepas, nakal, kadang polos seperti anak umur 9 tahun dan beragam ekspresinya yang lain. Momen candid saat ia tidur atau  yang paling saya suka adalah saat ia memenangi Grammy Awards dan lihatlah ekspresinya saat tahu namanya yang disebut Tony Bennett. Ekspresinya saat kaget campur terharu tidak bisa terelakkan ikut membuat kita detik itu juga ingin ikut memeluknya. Sementara hal-hal lain bahkan gaya bercerita tentang kemalangannya bisa ditebak, rekaman yang menunjukkan beragam ekspresi Amy inilah yang membuat dokumenternya menjadi lebih menarik.


Lalu kenapa pada akhirnya film seperti Amy yang memenangkan penghargaan sekaliber Oscar?

Harus diingat pula bahwa Academy Awards menilai film bukan hanya dari segi isi dan kualitas ceritanya namun juga seberapa besar pengaruh film itu pada situasi yang terjadi pada dunia nyata. Kemenangan Amy seakan menegaskan bahwa tragedi kematian seorang bintang muda adalah materi yang penting di hati orang banyak, sehingga tidak heran bila orang memuja-muja kutipan live fast, die young atau menganggap seseorang ikon generasi karena mewakili ciri khas pecandu, bermasalah atau pemberontak. Akan selalu ada generasi baru yang iba dan menganggap pelaku seni dengan karir tragis adalah pahlawannya. Sebagaimana dulu saya yang tidak mengalami masa muda di era Nirvana penasaran lalu mencari tahu kronologis bunuh diri Kurt Cobain. Atau bagaimana ketika saya menonton Center Stage – Stanley Kwan saya langsung mencari tahu soal Ruan Ling Yu, aktris film bisu yang meninggal bunuh diri. Kematian satu orang selalu adalah tragedi. Tapi bila yang meninggal adalah seseorang yang terkenal itu lebih mengguncangkan. Semakin tragis, semakin klasik. Belum lagi sosok Amy menguatkan mitos club 27, membuat seakan-akan para bintang kompak berjanjian mengakhiri drama di usia tersebut.


Dengan alasan-alasan seperti itu, saya rasa bisa dimengerti kenapa filmnya bisa memenangi Oscar.


Comments

Other side of me

My MUBI

In Theaters