Readers

Catatan Menonton Paruh Kedua 2015 (II)

Agustus sudah berakhir. Dan catatan menonton ini baru keluar sekarang. Sekali lagi selalu terlambat dari batas waktu yang ditentukan. Tapi tak mengapa karena pada catatan menonton paruh kedua ini, sudah banyak film-film yang punya pencapaian terbaik buat saya. Karena setiap film pada dasarnya adalah badan yang berbeda-beda, menyenangkan rasanya menonton banyak film yang bisa memberikan pengalaman yang beragam : mulai dari membuat tertawa, membuat deg-degan karena adegan menegangkan, cerita horor yang menyeramkan, membuat menangis atau belajar sesuatu yang berarti tentang kehidupan. Memang tidak ada yang lebih menyenangkan ketimbang memahami dunia di banyak film yang bila ia melakukan pencapaian terbaiknya, akan nampak seperti kembaran dunia nyata. 

Selamat membaca!



MISSION IMPOSSIBLE : ROGUE NATION (Christopher McQuarrie, 2015)




Catatan diawali dengan Ethan Hunt. Sebagai seseorang yang tidak mengikuti perjalanan panjang Ethan Hunt sebelumnya (saya selalu menonton film-filmnya di televisi, saya anggap itu bukan bagian dari menonton yang benar) ternyata saya sangat menikmati Rogue Nation. Menegangkan, gila dan Tom Cruise memang masih punya kharisma kuat. Film ini sangat terbantu sekali kehadiran Rebecca Ferguson yang berperan sebagai pendamping wanita yang sama tangguhnya. Sebagai suguhan film action, Rogue Nation adalah paket lengkap untuk pusat pertunjukan dengan banyak arena yang mendebarkan. Mulai dari bergelayutan di pintu pesawat, adegan opera yang aduhai namun membuat deg-degan setengah mati, mengejar waktu didalam air dan arena balap. Sangat sangat menikmati sekali.





SCREAM (Wes Craven, 1996)




Ketika menonton lagi, Scream ternyata bisa membuat saya jatuh hati sepenuhnya dengan dunia horor didalamnya. Jadi Scream adalah film horor yang mengejek dan menyinggung semua noda di film-film horor yang sudah ada (Cabin In The Woods juga bertutur hal yang sama). Namun saya rasa Cabin mengambil jalan yang lebih luas sementara Scream mengambil jalan berbodoh-bodoh ria karena sepanjang cerita ia sebenarnya tak jauh beda dengan referensi-referensi horor yang disinggungnya. Yang membuat film ini bisa ditolerir adalah karena sejak awal Scream sudah sadar menggunakan formula main-main tersebut. Ada banyak adegan yang bodoh dan sebenarnya konyol (pembunuh berkostum Ghost Face super ribet, seriously?) tapi cara mengejek sambil mengakui kebodohan filmnya sendiri itu yang membuat Scream sangat menyenangkan.

Beristirahatlah dengan tenang, Wes Craven. Scream memang klasik. 




A SIMPLE LIFE (Ann Hui, 2011)

A Simple Life Movie Review

A Simple Life menceritakan tentang seorang pembantu rumah tangga yang bekerja selama empat generasi untuk sebuah keluarga. Suatu hari ia mendapat stroke dan akhirnya berhenti bekerja untuk memilih menghabiskan hidupnya di sebuah panti jompo. Film berubah menjadi pengamatan yang menarik ketika ia mengajak kita mengenal kehidupan di dalam panti jompo tersebut ; para uzur yang diurusi layaknya bayi. Film yang dibintangi Andy Lau (juga menyelipkan penampilan sekilas Sammo Cheng dan Tsui Hark) ini bertutur ringan dan jujur namun sama sekali tidak membuat bosan. Ann Hui membimbing kita memasuki dunia kecil di sebuah panti jompo yang seringnya terlupakan terutama karena kita masih muda, bugar dan punya rumah sendiri. Film yang menggerakkan hati dan membuat kita mengingat lagi apa itu arti keluarga sesungguhnya.


SATURDAY NIGHT FEVER (John Badham, 1977)





Mengharapkan akan begitu menikmatinya, ternyata Saturday Night Fever tidak membuat saya begitu puas. Opening scene-nya memang asyik dan melihat John Travolta berdisko legendaris itu mencandu saya tertarik ikut masuk dalam dunia 70-annya. Belum lagi faktor Bee Gees-nya. Tapi anehnya, film ini bekerja tidak terlalu ajaib tidak seperti saat saya pertama kali menonton Dirty Dancing. Saya merasa skripnya agak nanggung dan ceritanya bisa jadi lebih baik lagi. Padahal saya begitu ingin mencintai si raja lantai dansa tersebut.



Ah atau mungkin nanti saya coba menonton lagi.



CRIMES AND MISDEMEANORS (Woody Allen, 1989)





Crimes and Misdemeanors bukanlah Love and Death yang penuh panggung haha-hihi (walau tetap beralaskan tragedi) atau tentang fantasi atas pelarian dunia yang pahit seperti Purple Rose In Cairo atau Midnight In Paris. Dalam Crimes, seorang pria berkeluarga yang sudah lama menjalin hubungan dengan wanita lain memutuskan untuk melakukan rencana pembunuhan ketika sang wanita bersikeras ingin membeberkan hubungan mereka pada istrinya. Pembunuhan itu akhirnya terjadi namun kemudian batin pria itu jadi terguncang. Di tempat lain seorang pria yang juga berkeluarga mulai dekat dengan seorang perempuan lain dan berpikir untuk mengorbankan pernikahan. Apa yang terjadi pada nasib dua pria ini pada akhirnya jauh dari dugaan kita semua.

Crimes and Misdemeanors diolah Woody Allen jauh sebelum Match Point namun keduanya punya banyak kesamaan. Tapi bisa jadi memang film ini adalah film Woody yang tergelap karena bicara tentang moralitas, keyakinan yang dipertanyakan, ketidakadilan yang terlihat jelas, pembenaran yang subjektif yang membuat kita semakin lesu memandang kehidupan sehabis menontonnya. Salah satu dari yang terbaik, tentu.




KEJARLAH DAKU KAU KUTANGKAP (Chaerul Umam, 1986)




Naskahnya ditulis oleh Asrul Sani yang juga menulis film besar Lewat Djam Malam dan Titian Serambut Dibelah Tujuh, dua-duanya adalah film dengan tema dan cara bertutur yang jarang saya lihat ada perfilman Indonesia. Asrul Sani menulis sebuah komedi romantis ringan yang menyorot dinamika pernikahan pasangan muda. Nampaknya sih ringan, tapi sebenarnya apa yang sedang disinggung adalah gejala serius yang memang sering terjadi pada pasangan yang baru menikah terutama mereka yang dari kelas menengah biasa-biasa saja. Mulai dari problema rasa sungkan, cemburu, berebut kursi pimpinan sampai ingin bercerai dan lalu balikan lagi. Semua mungkin dideskripsikan dalam gambaran komedi sehingga kita nampak lupa bahwa film ini sebenarnya tengah memperlihatkan kita tentang betapa kompleksnya dunia pernikahan itu.


WHERE IS THE FRIEND'S HOME (Abbas Kiarostami, 1987)




Oh, Abbas Kiarostami dan sinemanya yang poetic. Mengagumi dia sekali. Premisnya sangat sederhana : seorang bocah lelaki ingin mengembalikan buku temannya karena sang teman sudah sering dimarahi guru karena tidak mengerjakan PR. Keinginan polos itu nampaknya harus melewati banyak rintangan karena kemudian kebanyakan orang malah tidak menganggap tujuan mulia sang bocah adalah hal yang hukumnya wajib dilaksanakan.

Film ini adalah salah satu film yang terbaik bukan hanya karena kesederhanaannya merangkai cerita tapi karena kelihaian Abbas memotret jiwa bocah dengan tujuan teguh melawan segala distraksi yang berusaha menggugurkan niatnya. Ketika orang-orang dewasa menganggap visi seorang yang masih muda tidak penting karena lingkaran rutinitas mereka sendiri. Saya menemukan kecenderungan yang sama pada The White Balloon yang naskahnya juga ditulis Abbas Kiarostami. Bagian terbaik adalah saat sang bocah bertemu seorang kakek tua dan mereka berjalan bersama untuk kemudian kita menyaksikan dua fase usia menandakan cara memandang hidup yang amat berbeda. Yang tidak kita tahu sebenarnya mereka adalah dua tali yang saling berkaitan satu sama lain.


THE PURPLE ROSE OF CAIRO (Woody Allen, 1985)




Yang menarik dari apa yang berusaha Woody katakan pada kita semua adalah tahu darimana kita bahwa apa yang barusan dia perlihatkan di filmnya adalah benar realita karena bisa saja itu hanya fantasi. 

Dalam The Purple Rose of Cairo, keragu-raguan serupa membuat kita juga jadi mempertanyakan apa yang sedang terjadi. Mia Farrow berperan bak Cinderella yang hidupnya malang, punya suami yang hanya bergantung pada dirinya dan nampak tak ada yang terjadi di hidupnya kecuali kesengsaraan. Ia lalu pergi menonton film berjudul The Purple Rose of Cairo berkali-kali sampai suatu keajaiban terjadi : tokoh di film tersebut hidup, menyukai dirinya lalu keluar dari layar untuk menemuinya. Selanjutnya, banyak momen-momen romantis bercampur adegan-adegan yang mengundang tawa saat aktor-aktor lain di layar bicara pada penonton di bioskop. Kita melihat betapa sangat Woody mencintai sinema lewat The Purple Rose of Cairo dan mungkin kita juga sama dengannya, tergila-gila pada apa yang kita lihat di layar. Jeff Daniels (sebelumnya perannya ditujukan untuk Michael Keaton) memerankan pas sebagai sang lelaki imajiner yang keluar ke dunia nyata. Love letter to cinema, sangat. Tapi jangan buru-buru memasang harapan tinggi dulu karena Woody memilih jalan realistis untuk film ini.


PEPPERMINT CANDY (Lee Chang Dong, 1999)




Ini film bagus sekali.

Kita bisa berprasangka yang banyak dan bermacam-macam tentang Peppermint Candy. Kita bisa anggap ini film tentang orang yang sudah duluan depresi, ini film tentang perspektif pribadi atas luka perang, atau mungkin kalau mau berprasangka dalam bingkai religius, ini film agak-agak serupa Takdir Ilahi dalam versi yang dibuat benar. Semua bebas dengan tafsir masing-masing. Ada yang menyebutnya It's A Wonderful Life dalam nyawa pesimis, yang harus diakui memang benar adanya. Tapi daya tarik sebenarnya bukan karena pesimisme-nya, melainkan karena Lee Chang Dong membuat film yang berhasil memotret hidup seseorang biasa dengan muatan padat dari mulai sisi personal, kisah cinta sampai membawa sepenggal cerita perang. "Kita yang sekarang dibentuk oleh kita di masa lalu." Namun benarkah?




THE REUNION (Anna Odell, 2013)



Menonton The Reunion adalah pengalaman yang berat, mengundang emosi dan dengan sukses mematahkan hati. Seingat saya, hal serupa terakhir kali saya lihat saat menonton film Todd Solondz berjudul Welcome To The Dollhouse. Sepintas temanya sama tentang seseorang yang diremehkan di lingkungan sekolah namun metode penceritaan The Reunion jauh berbeda. Pada babak pertama kita diperlihatkan Anna Odell yang datang tanpa diundang ke acara reuni sekolahnya dan mulai melakukan konfrontasi pada semua orang di meja makan. Sesudah babak yang penuh kekacauan itu berakhir, babak kedua adalah bagaimana Odell menghadapi para orang-orang yang tertuduh sebenarnya. Babak kedua membuat kita meragukan lagi pembenaran versi Anna Odell yang sebelumnya membuat kita sepenuhnya membelanya di meja reuni, sehingga kemudian film ini membuat kita bertanya-tanya lagi : apakah semua memang seperti yang nampak di layar atau ini hanya jadi ajang pembalasan dendam bagi seseorang yang pernah teraniaya di masa lalu? 

The Reunion adalah api yang memancing emosi untuk siap meledak-ledak. Ia juga menegaskan satu hal yang mungkin terasa tidak adil namun bersiaplah untuk menghadapinya di dunia nyata : penderitaan kita di masa lalu bisa jadi adalah kenangan manis bagi orang lain.



MAGIC IN THE MOONLIGHT (Woody Allen, 2014)




Cinta bagai gula-gula manis yang memikat.


Mungkin pembuatnya sudah terlalu uzur menyelipkan perspektif baru untuk cinta kecuali mempersembahkan yang manis-manis. Tapi kalaupun saat bicara begitupun ia tetap berkesan, kenapa harus merasa kecewa. Magic In The Moonlight menawarkan cerita yang sama sekali tidak istimewa tentang dua orang yang awalnya saling bertentangan kemudian lalu jatuh cinta. Emma Stone dan Colin Firth (yang di luar film mungkin lebih pas berperan jadi ayah dan anak namun film ini entah kenapa bisa membuat saya lupa ingatan dengan jauhnya perbedaan usia mereka) berperan mengandalkan daya tarik mereka, bukan permainan chemistry terbaik tapi masih bisa membawa ceritanya berjalan mulus. Memang kelewat ringan, tapi sentuhan sihir Woody masih terasa manis. 





CENTER STAGE / ACTRESS (Stanley Kwang, 1992)




Sebenarnya perlu opini panjang tentang film ini.


Center Stage adalah tentang Ruan Ling Yu, aktris film bisu Cina yang memilih bunuh diri karena tertekan atas pemberitaan pers tentang dirinya. Tragisnya, film terakhir yang dibintangi Ruan juga menceritakan dia bunuh diri karena alasan yang serupa. Apakah ini film yang mengimitasi hidup atau hidup yang mengimitasi film? 

Stanley Kwan tertarik melakukan reka-ulang perjalanan Ruan Ling Yu sebelum ia sampai di akhir riwayatnya. Selain menyelipkan beberapa footage film-film Ruan, uniknya Kwan juga menyisipkan proses dibalik pembuatan filmnya. Loh, bukannya itu akan menghancurkan ilusi menonton tragedi Ruan seutuhnya? Ternyata tidak karena menyisipkan dunia dibalik layar malah menyempurnakan cara kita memandang tragedi itu lebih luas. Kita melihat para pemeran ternyata punya sifat yang jauh berbeda dengan karakter yang mereka perankan, terutama Maggie Cheung yang memerankan Ruan. Dibanding Ruan yang rapuh, Maggie jauh lebih santai, ceria dan tak semelodramatis Ruan. "Aku tak akan bunuh diri karena orang lain," ucapnya. 

Saya kira film ini kemudian tidak hanya melakukan reka ulang tentang hidup seorang bintang, ini lebih dari itu. Menonton endingnya mengingatkan pada adegan terakhir Taste of Cherry.



IT FOLLOWS (David Robert Mitchell, 2014)




Ide seram sambil tetap bergaya. Seru dan menjanjikan di awal namun sayangnya kedodoran menjelang akhir. It Follows sebenarnya menarik karena mencoba bicara soal seks bebas remaja dan kaitannya dengan unsur mistis, namun ternyata filmnya tak mampu semaksimal potensinya. Cerita film ini sesungguhnya mampu dikelola lebih baik lagi. Yang pasti saya tak terlalu mengenang keseluruhan filmnya kecuali ide dasarnya sendiri. 






THE WHITE BALLOON (Jafar Panahi, 1995)




















Naskahnya ditulis Abbas Kiarostami dan kembali lagi memperlihatkan keindahan yang sama seperti dalam Where Is The Friend's Home. Abbas dan Panahi memperlihatkan pandangan mereka yang masih muda berselisihan dengan dunia orang dewasa yang membingungkan dan susah dimengerti. Mereka yang masih muda digambarkan dalam sosok anak-anak yang kesulitan mencari cara mendapatkan uang kembali : keras kepala, polos, punya niat besar dan tidak goyah. Sepanjang film kita sukses dikecoh oleh prasangka kita sendiri tentang orang-orang yang berpapasan dengan gadis kecil ini, karena mereka semua seperti di kehidupan nyata----karakter-karakter ini beragam dan tidak  mencirikan satu seragam jahat atau baik. Dan karena semua nampak tidak bisa ditebak, kita tidak mengetahui bagaimana satu karakter tak diduga ternyata bisa jadi pahlawan paling berjasa yang menentukan akhir cerita. Mengambil cerita detik-detik sebelum perayaan tahun baru, film ini adalah kebahagiaan tersendiri bukan saja untuk karakter utamanya tapi bagi semua penonton yang baru selesai diperlihatkan kado yang indah dari satu peristiwa kecil dalam kehidupan.



THE DESCENT (Neil Marshall, 2005)




Film horor yang satu ini luar biasa karena memainkan perannya sebagai horor yang intim baik dari segi cerita dan karakterisasi. Menonton hampir dua jam sekelompok wanita terjebak di sebuah gua adalah pengalaman menonton yang mengkhawatirkan, membuat tak lega bernafas oleh lorong-lorong sempit bebatuan yang gelap. Yang paling mengesankan dari The Descent bukan karena panggung berdarah-darah yang ditawarkannya menjelang akhir film tapi karena konstruksi cerita berjalan amat baik dari awal sampai akhir. Menyaksikan kegilaan di dalamnya membuat agak menyesal kenapa saya tidak menyaksikannya di bioskop.




COUNTDOWN (Nattawut Poonpiriya, 2011)




Thailand memilih film ini untuk menjadi wakil mereka di Academy Award, namun tidak masuk. Bila dilihat dari sampul dan sinopsisnya, nampaknya memang film ini akan cepat diremehkan sebagai kandidat kuat. Ya, ini memang film thriller remaja saja. Tapi tunggu dulu, film ini ternyata tak juga musti diremehkan karena sebagai film thriller, ia menjalankan tugasnya dengan baik. Yang harus diperhatikan (terutama oleh pembuat film di Indonesia) adalah bagaimana film ini ingin membungkus pesan berbau menjemukan macam seks bebas dan anti narkoba tanpa terkesan begitu dipaksakan. Bila pembuat film kita masih memakai metode ceramah secara telanjang, film ini memanfaatkan ketegangan dari teror seorang bernama Yesus sebagai jalan subtil membungkus pesan tersebut. Walau saya mengharapkan sesuatu yang lain pada akhir ceritanya, tapi saya tetap bisa menikmati keseluruhannya. Masih bingung kenapa film Indonesia yang punya niat berkampanye soal dosa pergaulan bebas remaja (setidaknya) tidak ada yang seperti film ini.


CLOUD OF SILS MARIA (Olivier Assayas, 2014)






Perjalanan usia, seorang bintang dan industri film. Olivier Assayas membuat sebuah cerita tentang aktris berumur yang setuju melakukan remake film yang dulu pernah dibintanginya, namun kali ini ia akan mengambil alih peran yang memang sesuai dengan usianya yang sekarang---bukan lagi peran gadis muda yang dulu ia mainkan. Pelan-pelan film ini memicu rasa khawatir dan simpati kita mengamati pergolakan Maria Enders menghadapi penyangkalan atas perubahan dirinya yang dulu dan sekarang. Pada akhir film yang juga merupakan puncaknya, Maria Enders belajar mendefinisikan dirinya kembali sekaligus membuat kita ikut terjebak disana----menelan penolakan pahit yang sama yang sedang ia terima.




MAPS TO THE STARS (David Cronenberg, 2014)




Ini mungkin agak serupa dengan Clouds of Sils Maria, tapi Maps To The Stars lebih menyorot tentang semua ketidakwarasan yang ada di industri hiburan : ada keluarga inses yang memiliki anak seorang aktor beranjak remaja yang tersesat mencari kendali dan seorang aktris berumur yang tertekan dihantui bayang-bayang ibunya. Semua kegilaan, kebusukan, kebohongan dan penyangkalan ada di drama satir milik Cronenberg ini. Adapun kita lihat satu sosok diluar dunia kacauitu mungkin hanyalah tokoh supir limo yang diperankan Robert Pattinson yang susah payah ingin masuk dalam lingkaran bintang. Itupun rasanya juga bukan tokoh yang bisa membuat kita berpikir bahwa ada sisi waras di dalam dunia hiburan yang sering diidam-idamkan itu.





WELCOME TO THE DOLLHOUSE (Todd Solonz, 1995)




Menonton film ini sebenarnya menyiksa diri sendiri. Tidak ada nada optimis di dalamnya kecuali potret seseorang yang dipinggirkan oleh semua orang di hidupnya. Kabarnya Todd Solonz memang suka bercerita pesimis, tapi ini film pertamanya yang saya lihat dan sudah sangat heartbreaking sekali. Bagi mereka yang pernah berada di posisi yang sama dengan Dawn------tokoh utama di film ini, menontonnya adalah cermin yang mendatangkan luka lama kembali. Sangat sederhana memang, namun bayangkan betapa luar biasanya efek direndahkan dan disangkal di masa lalu bisa mempengaruhi penilaian kita tentang diri sendiri. Mungkin sampai kita dewasa.



INSIDE OUT (Pete Doctor, 2015)




Ya... begitulah.





Comments

  1. Ah...penasaran sama Clouds of Sils Maria, udah lama ngga liat Binoche (gw ga ngitung peran dia di Godzilla yg so so undervalued :( ) and tentu aja pengen liat KStew yg menang Caesar kan lewat film ini. Keliatan bgt wise dia milih job.

    Rogue Nation....itu guilty pleasure banget, ngga expect bakal puas. Ternyata oke sekali,,,

    eh. lam kenal anyway
    (movie blogger yg baru ressurection)

    ReplyDelete
    Replies
    1. @Nugros Halo salam kenal. Rogue Nation bukan guilty pleasure ah, emang bagus banget menurutku :)

      Delete
  2. Hi, Maudy! Gw suka deh liat komposisi reviewnya, ada Maps to the Stars sama Cloud of Sils Maria back-to-back.
    Dua-duanya mirip dan gw suka walaupun lebih suka Sils Maria sih.

    Anyway, boleh tukeran link?
    Gw di sinekdoks.com

    Cheers!

    ReplyDelete

Post a Comment

Other side of me

My MUBI

In Theaters