Midnight Cowboy (1969) : Yang Terbuang Di Kota Besar



Midnight Cowboy // 1969 // Sutradara : John Schlesinger, Amerika // Pemain : Jon Voight, Dustin Hoffman, Sylvia Miles, Brenda Vaccaro



Joe Buck (Jon Voight) punya mimpi datang ke New York, kota gemerlap pusatnya modernitas. Mimpinya mungkin terdengar sinting, tapi ia punya gambaran ideal tentang hidup enak di kota besar dengan mengencani wanita-wanita kaya disana. Mungkin seperti Holly Golightly, tapi hanya saja Joe Buck jauh lebih teramat naif.

Datang jauh dari Texas, Joe bertemu Rizzo (Dustin Hoffman) yang paling benci ketika orang salah menyebut namanya menjadi Ratzo. Awalnya sempat ada perseteruan diantara Joe dan Rizzo, tapi  lama kelamaan mereka mulai menjadi teman satu penderitaan menghadapi kekejaman kota besar. Joe dan Rizzo mewakili para pendatang kurang berpendidikan yang cuma berakhir hidup sengsara. 

Saya teramat suka film ini karena isu bertahan di kota besarnya yang sangat relevan. New York digambarkan sebagai kota yang kelam dan sama sekali tidak memiliki belas kasihan. Bila ini New York di film Woody Allen, mungkin yang disajikan adalah sekumpulan orang di sebuah apartemen nyaman dibalut alunan jazz. Tapi film ini menawarkan sudut pandang para pendatang yang benar-benar murni orang kampung sehingga yang kita lihat bukanlah sebuah kota yang nyaman apalagi diimpikan untuk ditinggali. Joe dan Rizzo tinggal di sebuah tempat kumuh gelap tak terawat yang membuat sisi gemerlap New York nyaris sama sekali hilang dari pandangan. Alunan musiknya pun country yang mengidentifikasi suasana pedesaan yang kental mengikuti seragam karakternya. 

Roger Ebert menulis keresahannya terhadap film ini karena ketimbang menyajikan cerita dengan proses pemahaman serta pembelajaran karakter yang semakin meningkat, filmnya malah jatuh pada sajian drama saja. Sebenarnya pendapat Ebert ada benarnya dan saya rasa film ini memang akan lebih baik bila memperlihatkan proses relationship antara Joe dan Rizzo yang lebih berkembang. Ebert juga menulis tentang perkembangan karakter Joe yang tidak konsekuen juga misteri gambaran utuh karakternya lewat flashback masa lalu yang cuma selintas belaka. 

Tapi mungkin buat saya tidak mengapa bila sutradaranya ingin membuat filmnya hanya menjadi drama contoh kegagalan urbanisasi saja. Mungkin sudah banyak film lain menyinggung hal yang sama tentang orang-orang gagal di kota besar, yang tidak bisa meraih mimpi atau malah hidup dalam keharusan untuk akhirnya melonggarkan ambisi. Tapi dalam Midnight Cowboy, ironi yang dihadirkan jadi terasa efektif meski hubungan antar karakter utama tak cukup beranjak dinamis. Perihal potongan-potongan masa lalu Joe yang disajikan secara acak bercampur dengan mimpi dan khayalnya tanpa diberi kejelasan malah membuka ruang untuk saya memberikan interpretasi pribadi terhadap karakter Joe Buck sendiri, mulai dari kenapa ia selalu memakai atribut koboi sampai kenapa ia ingin ke kota besar dengan mimpi mengencani para wanita kaya. 

Bukan cuma Joe Buck, Rizzo atau Ratzo pun datang dengan sisi menarik tersendiri. Ia tidak mau dipanggil Ratzo menandakan keinginannya untuk bisa dikenali dengan nama aslinya, korelasi dengan harga diri dan rasa hausnya akan pengakuan. Ayah Rizzo yang sudah lama tiada nampaknya membuat Rizzo teramat sangat tidak ingin berakhir menjadi seperti ayahnya. 

Rasa keterasingan dan keputusasaan menghadapi situasi sosial dan ekonomi terpuruk di kota besar membuat Joe dan Rizzo seperti teman sepenanggungan. Si koboi dan si pincang. Tanpa rencana atau keahlian, mereka hanya akan berakhir menjadi yang terbuang. Bahkan di akhir film, Joe Buck digambarkan menyerah dengan identitas koboi yang dibawanya mantap dari saat pertama kali bertekad hidup di kota besar. Maka film ini lahir bukan hanya sebagai film yang menyinggung realitas para pendatang yang gagal, tapi juga gambaran utuh ketidakberdayaan menghadapi arus kota metropolitan.

Midnight Cowboy, disutradarai oleh John Schlesinger pada tahun 1969 adalah film peraih Oscar untuk Film Terbaik, Naskah Adaptasi Terbaik dan Sutradara Terbaik. Di masanya pernah disebut sebagai film X-rated pertama yang menang Oscar, sangat terbantu oleh kekuatan akting Jon Voight dan terutama Dustin Hoffman yang juara. Film ini juga terkenal dengan kalimat, “I’m walking here! I’m walking here!” yang diteriakkan tokoh Rizzo saat melintasi jalanan sebagai sebuah penegasan akan kehendak untuk diakui eksistensinya oleh kota yang menganggap mereka cuma sekedar figuran. 


Comments