Readers

Slumdog Millionaire (2008)

http://static.rogerebert.com/uploads/review/primary_image/reviews/slumdog-millionaire-2008/hero_EB20081111REVIEWS811110297AR.jpg

Slumdog Millionaire // 2008 /Sutradara : Danny BoyleAmerika // Pemain : Dev Patel, Freida Pinto, Irrfan Khan, Rubina Ali, Anil Kapoor




What is love? What is money? What is death? Or, what is life? 

Kita lahir di dunia ini dan tinggal untuk kemudian pelan-pelan mengenal tentang kehidupan. 3 hal itu; cinta, uang, kematian adalah 3 hal yang tidak bisa dipisahkan dari hidup kita setiap harinya. Berapa banyak orang di luar sana yang menginginkan cinta namun belum mendapatkannya? Berapa banyak orang yang menginginkan lebih banyak uang untuk memenuhi kebutuhan pokok atau membeli barang impian? Atau bagaimana masih banyak sekali orang yang merasa takut akan kematian atau kematian yang terjadi dimana saja setiap detik, baik di jalanan atau bahkan di kediaman kita yang nyaman dan aman. 




Slumdog Milllionaire dan idenya tentang seorang Cinderella dari kawasan kumuh yang mampu menjawab semua pertanyaan kuis Who Wants To Be A Millionaire bisa jadi ide yang teramat konyol dan mengada-ngada bila tidak dieksekusi dengan baik. Dan bagi kebanyakan orang, film ini akan terlalu too good to be true lantaran betapa “beruntungnya” nasib Jamal Malik yang selalu dapat menjawab semua pertanyaan. Film ini seakan menegaskan bahwa semua hal yang ada di dunia ini telah tertulis, atau apa yang biasa kita sebut sebagai takdir. Bagi orang yang tidak mempercayai eksistensi takdir, film ini mungkin hanya jatuh sebagai film yang dipaksa hadir atau sebuah wacana kosong berbalut cerita zero to hero. Gak realistis. Mana mungkin ada. Semua terasa begitu kebetulan. Mungkin. 

Tapi pertanyaan-pertanyaan dan debat di dalam otak saya yang sampai hari ini masih mempertanyakan tentang apakah takdir itu memang ada bukanlah satu-satunya hal yang membuat saya ragu akan film ini. Saya tertarik untuk menyukai film ini dari aspek-aspek yang lain. Tentang latar belakang masyarakat India yang tidak secemerlang di kebanyakan film-film glamour Bollywood, renggangnya kelas-kelas sosial, kemiskinan dan anak-anak jalanan, ketidakadilan dalam kebobrokan institusi yang dibiasakan, agama yang masih menjadi isu sensitif, euforia dalam pesta pora masyarakat yang merasa terwakili satu sosok dari kalangan bawah, potret dunia televisi dalam memainkan peran dan memandu simpati penonton bahkan sampai ke hal-hal yang personal semacam cinta masa kecil yang berusaha ditemukan lagi, kenangan dan kesakitan yang termaafkan, penerimaan tentang kehidupan, peranan uang dan bahkan kematian.

Ingat ketika bertahun-tahun yang lalu sebuah ajang pencarian bakat bernama Akademi Fantasi Indosiar membuat semua orang mengenal seseorang yang bernama Very AFI? Saya masih ingat beberapa hari sampai menjelang grand final, orang-orang di sekitar saya saling menjagokan siapa yang berhak menjadi pemenang dan kebanyakan menaruh simpati pada sosok Very yang memang berasal dari keluarga ekonomi bawah. Cerita Very yang menjual cincin keluarga untuk bisa ikut audisi AFI pun menularkan simpati para penonton yang kemudian mau mengirimkan sms dan menanti televisi sampai hari-H penentuannya. Publik ikut-ikutan. Melihat Very menang adalah seperti melihat diri sendiri menang. Dan jangan tanya soal rating, karena acara grand final ajang-ajang pencarian bakat seperti itu tetap penuh bahkan seingat saya sejarah pernah mencatat grand final AFI 2 adalah acara yang paling banyak ditonton dalam beberapa tahun, walau mungkin tidak secemerlang tahun-tahun ini. 

Tidak cuma Very dari AFI, tengok Ihsan dari Indonesian Idol, atau untuk kasus yang lebih instan ada pada Briptu Norman atau Sony Wakwaw untuk yang sekarang-sekarang ini habis-habisan dibahas infotainment. Apa yang kita lihat dari mereka semua? Mungkin sebagian sudah lebih pintar untuk menyimpulkan bahwa ini hanya fenomena Cinderella buatan yang diekspos berlebihan pihak TV agar penonton merasa simpati, bahwa ada harapan dan mimpi yang bisa diitularkan ke penonton, atau apa yang selama ini selalu menjadi jargon Agnes Monica, “dream, believe, make it happen.”
Tapi kita harus mengakui bahwa fenomena Cinderella Story seperti ini selalu ada dan mungkin prakteknya pada tahun-tahun ke depan akan tetap ada di televisi karena itulah yang menarik bagi masyarakat, walaupun di sisi lain fenomena pamer “saya-habis-dari-Eropa-beli-baju-100-jutaan” ala selebritis infotainment juga mulai menguat. 

Kembali pada korelasinya pada Slumdog Millionaire, euforia masyarakat yang terwakili seseorang dari kalangan bawah nampaknya tak jauh beda dengan yang di Indonesia.  Itulah kenapa ketika film ini menampilkan situasi di banyak tempat ketika masyarakat menonton Jamal menjawab pertanyaan milyuner terakhirnya, kita bisa menangkap adanya pesta pora asyik di keseluruhan India. Mulai dari bangunan mewah, rumah-rumah keluarga, toko, pinggir jalanan, daerah perkumuhan, mereka menonton bersama-sama untuk menyaksikan penentuan pahlawannya menang atau kalah. 

Hal ini bisa menginterpretasikan kesamaan antara Indonesia dan India sebagai negara dengan perbedaan kelas-kelas sosial yang saling jomplang namun ternyata tetap bisa disatukan oleh satu perayaan yang melibatkan sosok pahlawan dadakan buatan televisi. Terlebih keterlibatan kelas sosial bawah nampak terlihat jelas ketika selama ini kita mengira India hanya sebagai negaranya Taj Mahal atau gudangnya film-film Bollywood dengan bumbu gemerlapan.

https://anggaru.files.wordpress.com/2011/01/slumdog_millionaire_dev_patel1.jpg


Sekarang pertanyaannya, bila semua begitu sama, bila India dan Indonesia sama-sama punya kebobrokan, luka dan ketidakadilan yang hampir sama-sama saja, kenapa kita tidak bisa membuat film seperti ini? Mari sisihkan dulu jualan film ini tentang takdir itu ada dan semua yang ada di dalam hidup kita ini sudah tertulis-----kita bisa menyangkalnya karena kita tidak harus setuju dengan sudut pandang sebuah film untuk bisa menyukainya, kita bisa hanya menghargai perspektifnya dan mencintai sisi-sisi yang lain. 

Bisakah ada orang yang tidak menyukai uang seperti Jamal yang tidak peduli nasib milyunernya? Jadi apa itu cinta, uang dan kematian? Durasi menjelang akhir dari Slumdog Millionaire saya rasa sudah bisa menjawab dengan cukup apa artinya semua itu bagi kita dan apa yang akhirnya akan kita pilih, ikhlaskan, untuk terima dan untuk ditolak. 

Merupakan penyabet gelar Film Terbaik Oscar tahun 2009 juga untuk kategori utama lainnya seperti Best Director untuk Danny Boyle, Best Adapted Screenplay untuk Simon Beaufoy, dan A.R Rachman untuk orginal score-nya. Film yang dinobatkan sebagai sleeper hit di tahunnya yang juga sudah saya tonton berkali-kali dan masih terasa sangat menyenangkan. 




P.S : Bagian favorit saya adalah ketika di akhir film, Jamal bertemu Latika di kereta. Saat mereka saling bertemu sambil kita diperlihatkan flashback bagaimana saja hidup selama ini telah menjadikan Jamal. Now, that’s a life.



Comments

Other side of me

My MUBI

In Theaters