Readers

Pieta (2012)




Pieta // 2012 /Sutradara : Kim Ki DukKorea Selatan // Pemain : Lee Jung Jin, Choi Min Soo, Kwon Yul, Kang Eun-Jin



Seseorang baru bisa merasakan empati atau memahami orang lain, ketika pernah merasakan hubungan timbal-balik yang juga melibatkan orang lain. Bila seorang yang terisolasi, yang tidak pernah diajari atau disodori kasih sayang atau hubungan bersama orang lain-----contoh terdekat adalah keluarga--- bagaimana bisa ia merasakan empati, rasa mengasihani atas kesusahan hidup orang lain? Karena ia terus terkurung dengan pengertian dan keterbiasaan hidup sebagai sebatang kara, dimana interaksi, sosialisasi atau empati adalah hal asing yang tidak pernah ia singgahi.



Kemarin saya menonton sebuah film yang teramat bagus tentang manusia terisolasi tersebut. Film itu berjudul Pieta arahan Kim Ki Duk. Dan bukan saja membahas tentang hubungan manusia dan kehidupan, filmnya juga membawa interpretasi tentang agama (posternya dan judul Pieta sendiri diinspirasi dari karya patung Michelangelo dimana Bunda Maria sedang memeluk Yesus diipangkuannya usai penyaliban. Pieta dalam terjemahan sendiri artinya adalah kasihan).

Kim Ki Duk masih mengangkat hal-hal yang sama seperti yang saya lihat di dua filmnya sebelumnya, Spring, Summer, Fall, Winter.... and Spring dan 3-Iron : kesepian dan isolasi, cinta dan kasih sayang, hasrat dan nafsu, batas kabur antara baik dan buruk dan apa yang melandasi keduanya, pembalasan setimpal dosa.

Mungkin yang membuat saya menjadi sangat-sangat mencintai Pieta karena cerita yang disuguhkan adalah cerita yang sebenarnya sangat sederhana, tentang anak yang ingin mendapat keluarga karena kesendirian semenjak lahir, tentang mother-son relationship. Sang anak ini----Kang-Do (Lee Jung Jin), yang mungkin di awal film kita anggap kejam dan tidak punya hati, ketika bertemu seseorang yang mengaku sebagai ibunya (Choi Min Soo) ternyata tak lebih seperti  anak kucing jalanan yang rindu sentuhan induknya. Dan bila sekejam apapun anak ini sudah membuat hidup orang-orang lain menderita namun ternyata kita masih bisa merasakan empati terhadap dia, saya rasa kita bisa bernafas lega karena berarti sisi utuh dalam diri kita sebagai manusia masih ada. 

Ada sebuah adegan ketika Kang-Do melakukan masturbasi sambil masih tertidur dan sepertinya itu terjadi dalam keberulangan rutinitasnya. Adegan itu menggambarkan dengan cukup bagaimana kehidupan seks Kang-Do juga memberi makna bahwa penuntasan hasrat yang ia ketahui secara tidak sadar mungkin cuma itu. Itulah kenapa pada adegan dimana salah satu korban hutangnya yang perempuan melepas baju dihadapannya, Kang-Do terlihat tidak peduli. Hal ini juga kembali membawa pada pertanyaan-pertanyaan lain yang menarik untuk ditelisik : begitukah cara seorang teralienasi menuntaskan hasrat seksualnya ketika kebersamaan dengan orang lain terasa asing atau tidak dihadirkan? Apakah ia sendiri tahu apa makna seks dan hasrat, dan apabila ia dipertemukan dengan orangtuanya yang akan tinggal bersamanya, bagaimana cara ia menyikapi rutinitas masturbasinya yang biasanya tak dilihat siapapun atau katakanlah, apakah ia tahu ada "batasan-batasan" dalam menuntaskan hasrat atau perasaan cinta sehingga yang dinamakan "inses" atau kekerasan seksual terhadap anggota keluarga sendiri tidak akan terjadi?




Dalam Pieta, sekali lagi kita diperlihatkan fakta bahwa manusia tidak akan pernah bisa hidup sendiri. Kalaupun bisa, ia akan pelan-pelan belajar untuk tidak dapat memahami orang lain atau mungkin bisa berubah jadi monster tanpa kepedulian. Namun sebaliknya juga monster itu bisa dengan cepat berubah jadi seseorang yang baik, yang rapuh dan patuh, yang peduli dan akhirnya mampu mengerti kehidupan, ketika pelan-pelan ia disodorkan kasih sayang selayaknya bagaimana prakteknya dalam keluarga.... dan cinta. 

 Perfect.




Comments

Other side of me

My MUBI

In Theaters