Two Days, One Night (2014)



Two Days, One Night // 2014 /Sutradara : Jean-Pierre Dardenne - Luc Dardenne, Belgia // Pemain : Marion Cotillard, Fabrizio Rongione, Catherine Salee, Batiste Sornin



KEBANYAKAN film dengan tema inspiratif menyampaikan dengan serampangan bagaimana tokoh utama menghadapi cobaan dan mencoba mencapai kesuksesan. Misalnya saja untuk contoh yang paling baru hadir pada film Merry Riana. Kesuksesan atau ketenangan hidup ada pada patokan uang yang cukup. Rela melakukan apa saja demi mendapatkannya. Sebenarnya isu yang jadi permasalahan film tersebut juga yang sama diangkat oleh Dardenne Brothers lewat Two Days One Night ini. Namun alih-alih jadi tontonan yang hanya menjual kemasan inspiratif yang dibuat-buat, film ini berkembang memotret banyak hal lain yang sangat menarik untuk kita saksikan. Dan percayalah, film ini jauh lebih bisa menginspirasi sesudah menyaksikannya ketimbang film-film tentang tokoh yang diniatkan inspiratif. 


Marion Cotillard memerankan Sandra, perempuan yang bekerja sebagai karyawan sebuah pabrik panel surya di kota industri, Liège, Belgia yang mendapat masalah dengan kondisi psikisnya sehingga sempat tidak bekerja. Ketika memutuskan kembali bekerja (dan memang ia dan keluarganya memerlukan uang  untuk kebutuhan pokok) maka Sandra harus menghadapi suatu masalah baru : sang pemimpin menyuruh para pegawainya memilih antara mempertahankan Sandra kembali bekerja atau mengambil bonus dari gaji shift Sandra yang mereka telah ambil alih. Maka atas dukungan suaminya, Sandra hanya punya waktu selama dua hari satu malam memohon satu-persatu ke semua pegawai kerjanya untuk tidak mengambil bonus agar ia bisa kembali bekerja. 

Masalahnya sesederhana itu. 

Pertama adalah karakter Sandra sendiri. Sandra di awal film dipotretkan memiliki latar belakang kondisi psikis yang rapuh. Maka ini saja sudah menjadi struggle bagi Sandra dan menjadi menarik untuk kita bagaimana melihat Sandra berjuang mandiri menyelesaikan masalah di tempat kerjanya. Sang suami bukannya jahat karena membiarkan sang istri harus berjuang keras “sendirian” mempertahankan pekerjaannya, tapi ia bukan tipikal suami yang hanya ingin sang istri merengek dan menyerah, selain kadang desakan faktor ekonomi dan beberapa negosiasi di pernikahan kelas menengah membuat suami meminta sang istri tidak menjadi malas sehingga menjadi sosok yang mati-matian mendukung istrinya bisa bertanggung jawab. And i found that sweet somehow :)

Maka kita pun melihat Sandra dari satu tempat ke tempat lain sendirian mengantarkan kalimat untuk mendukung dia tetap bekerja, dan kita bisa melihat banyak ekspresi Sandra dari sana. Ada yang tulus mendukung dan membuatnya tersenyum senang bersemangat, ada yang menolak halus atau bahkan dengan sangat kasar membuatnya hampir patah arang. Kita melihat banyak perubahan mood serta aksi dari Sandra, dan semua sangat alami dan kita bisa mempercayainya. 

Yang menarik pula dari Two Days One Night adalah bagaimana kita menyaksikan sudut pandang banyak orang berbenturan dengan sudut pandang Sandra dan masalahnya ketika mereka pun seperti ingin bilang dihadapan Sandra “coba lihat aku, aku juga punya hidup dan masalah sesusah kau.” 

Kita selalu tahu bahwa selama ini, mau diingkari atau diakui, masalah hidup kita selalu yang jadi fokus utama. Kita bisa saja peduli untuk menyelamatkan KPK atau punya misi membantu anak-anak kelaparan di Afrika, tapi fokus utama kita adalah hidup kita sendiri dan apa yang menyangkut hidup kita saat itu juga. Bukannya egois atau tak punya hati, tapi memang begitu adanya. Itulah kenapa saya lebih suka Gravity ketimbang Argo, karena saya tidak pernah terjebak di Iran bersama Ben Affleck tapi saya pernah harus terisolasi sendirian dan tidak punya semangat hidup seperti Bullock.

Maka pada dasarnya, masalah personal selalu lebih penting ketimbang masalah orang lain. Dan film ini membenarkannya. Kita melihat Sandra yang hanya terfokus untuk bisa memenangkan masalahnya di tempat kerja, untuk menenangkan kondisi keuangan dan kehidupan personalnya. Ketika kemudian ia menemui semua teman kerjanya ; melihat ada yang perlu uang bonus untuk perbaikan rumah, untuk anak, untuk ini dan itu-----bahkan ada yang nampaknya lebih kepepet ketimbang Sandra----- maka kita lewat Sandra mulai deal melihat itu semua; bahwa semua orang punya masalahnya sendiri, dan kita harus memahami dan memaklumi itu. Kita belajar berdamai atau lebih tepatnya negosiasi dengan hidup dan sudut pandang orang lain. Kita belajar paham dan lebih melihat sekitar. 

Adegan terakhir film ini menjelaskan seberapa banyak Sandra belajar dari “tamasya” nya menghinggapi banyak rumah teman kerjanya saat weekend kala itu. Sandra adalah pahlawan yang cepat belajar dan bertanggung jawab, dan dia tidak selemah yang kita kira saat di awal film. Dengan begini saja, film ini sudah menginspirasi lebih dari kebanyakan film lain yang niatnya terlalu menggebu-gebu. 

Comments