Catatan Menonton Tahun 2014 Part : II - End

Ok. Postingan ini telat karena kita sudah memasuki tahun 2015 dan catatan menonton ini harusnya sudah beredar sejak akhiran 2014. Tapi ya sudahlah, untuk menutup tahun dan mengawali tahun yang baru, mari mengulas balik apa saja yang saya nikmati-----dan saya cukup tidak nikmati-----sepanjang tahun 2014. Oh ya selamat tahun baru dan semoga di tahun ini kita semakin mencintai sinema. Mari jujur menyukai film yang kita sukai dan menonton film yang lebih banyak lagi!





THE LAST HOUSE ON THE LEFT (Dennis Iliadis, 2009)





Versi originalnya ok, tapi remake-nya adalah apa yang saya harapkan. Ini adalah versi lebih serius dari bikinannya Wes Craven. Kita berhasil diyakinkan bahwa gadis ini mengalami pemerkosaan dan ayah-ibunya menuntut balas dendam sedemikian rupa dari para penjahat tersebut. Di film, sang orangtua tidak lantas langsung menjadi algojo tapi kita menyaksikan mereka juga ketakutan, bingung dan tahu akan bahaya yang mereka bisa hadapi. Hasilnya adalah sebuah film yang menegangkan plus juga semua karakternya yang lebih dipoles tajam. Krug, sang penjahat utama yang diperankan Garret Dillahunt berhasil tampil sebagai sosok pemimpin yang rapi, tenang namun juga kejam. 


EAT DRINK MAN WOMAN (Ang Lee, 1994)

http://thebillfold.com/wp-content/uploads/2014/11/eat-drink-man-woman-chinese-food-screenshot.jpg
Sebuah film gurih yang tidak hanya menjual kelezatan visual namun punya cerita besar tentang keluarga terutama father-daughter relationship. Film ini dengan sempurna memotret persoalan para anak yang beranjak dewasa dan siapa yang duluan akan meninggalkan rumah untuk hidup mandiri. Jenaka, manis dan menyentuh, Ang Lee tahu benar bagaimana caranya merayakan kehidupan.

 

THE BIG SHAVE / VIET ‘67 (Martin Scorsese, 1967)

http://cdn.filmschoolrejects.com/images/The-Big-Shave.jpg 

Hanya lewat film pendek berdurasi 6 menit, Martin Scorsese bisa dengan sangat hebat memperlihatkan korelasi shaving----sebuah kebiasaan yang kental dengan maskulinitas sebagai metafora penghancuran diri sendiri akibat sebuah perang (dalam hal ini adalah perang Vietnam). Shaving selama ini diartikan fungsinya untuk “membersihkan” agar menjadi lebih baik dan juga masuk sebagai rutinitas kecil terutama bagi para pria. Film ini berhasil memotret bagaimana sebuah perang mampu membawa efek samping atau trauma pada diri seseorang termasuk pada setiap aktivitas yang bersifat keseharian. Belum lagi kita bicara tentang makna violence, sosok gambaran pria tangguh dan gambaran egonya dalam film ini. Dibungkus alunan jazz yang syahdu, The Big Shave membawa perspektif yang begitu dalam lewat hanya ide simpel seperti bercukur.

 

BOYHOOD (Richard Linklater, 2014)

 http://thetfs.ca/wp-content/uploads/2014/07/Boyhood-Ethan-Hawke-Ellar-Coltrane.jpg

Ide membuat film dengan rentang waktu yang panjang memang sangat menarik namun Linklater tahu benar apa yang sedang dilakukannya dan apa yang ingin ia perlihatkan kepada kita. Kita akan diijinkan melihat kita; diri kita sendiri dalam film sederhana tentang perjalanan seorang lelaki dari masa bocahnya sampai ia beranjak dewasa muda. Film ini adalah “dokumenter” hidup yang sangat baik, juga akan bertahan di ingatan dalam waktu yang lama mengingat kita akan selalu bisa mengkorelasikan diri kita pada sosok Mason.  Sebuah kado kecil untuk kehidupan, akan sangat mudah dicintai terutama oleh mereka yang masih mencari tahu apa itu arti hidup dan cinta----terutama generasi 1990-an ke bawah :) 

 

LIFE IS SWEET (Mike Leigh, 1990)

 http://www.filmlinc.com/assets/uploads/films/LifeIsSweet1.jpg
Ketika film ini menyematkan kata "life" dan "sweet" film ini tidak berbohong. Memang adalah tentang kehidupan yang berusaha diangkat oleh Mike Leigh dan manis adalah hasil akhirnya. Sebagai film yang berbicara tentang keseharian dalam konsep keluarga kelas menengah, akan sangat mudah untuk membuat diri kita merasa dekat dengan situasi yang terjadi sepanjang film. Kita melihat sosok seorang ibu yang spontan dan terkesan happy-go-lucky, seorang ayah yang ternyata membenci pekerjaannya, seorang anak yang agak troubled bin rebel serta seorang lagi yang lebih bijaksana dan pengamat. Film ini adalah cerminan kita sekaligus salah satu yang sangat sempurna menjabarkan tentang harapan, keluarga dan ketidaksempurnaan. Karena bukankah tiga hal itu yang membuat kehidupan tetap hidup?


SLEEPAWAY CAMP (Robert Hiltzik, 1983)

 http://cinemasights.files.wordpress.com/2011/10/sleepawaycamp-small.png

Begitu kita melihat adegan pembukanya, kita akan langsung berpikir, "ah film horor kualitas B cuma buat diketawain!" tapi tunggu dulu, sedari awal saya sudah curiga bahwa film ini bisa berpotensi lebih dari itu. Dan potensi itu ternyata bukan cuma jadi potensi, melainkan benar adanya. Film ini adalah tonjokan keras untuk semua orang yang Underestimate karena alasan betapa buruknya para pemeran berakting dan betapa klisenya cerita teror pembunuhan ini terus berlangsung. No, wait, cliche? Masa sih? Coba ditonton dulu.





HOT FUZZ (Edgar Wright, 2007)

 http://www.daparte.it/sito/wp-content/uploads/2014/03/HotFuzz15.jpg

Tidak menyangka film Edgar Wright yang satu ini membawa interpretasi yang teramat dalam meski Edgar sudah membuktikan ia piawai soal menghadirkan panggung cerita yang porak poranda namun penuh arti dalam The World's End dan Shaun Of The Dead. Dalam Hot Fuzz, tokoh utama tetap punya segudang masalah terutama soal kepribadiannya, namun yang tertinggal di benak seusai menonton adalah bagaimana film ini sebenarnya dengan pandai menyinggung isu warga lama versus pendatang baru, mempertanyakan soal kesahihan pandangan yang dianut suatu sistem birokrasi dan bagaimana akhirnya keadilan berperang dengan suatu kejahatan yang dianggap warganya suatu kebiasaan. Menyinggung politik, society atau korelasinya pada kebusukan struktur di pemerintahan ternyata bisa begitu efektif  lewat sebuah film sesantai Hot Fuzz.



THE CABIN IN THE WOODS (Drew Goddard, 2012)

 http://earnthis.net/wp-content/uploads/2013/07/The_Monsters_The_Cabin_in_the_Woods.jpg

Ide ceritanya cerdas dan filmnya adalah sebuah rollercoaster yang sempurna. Seru, jelas. Mendebarkan, iya. Dan tidak hanya lantas cuma jadi tamasya horor semata. The Cabin In The Woods memelintir permainan stereotype yang sering ada di banyak film-film horor Hollywood----bahwa si blonde harus mati pertama, si virgin harus tetap selamat sampai akhir dan lain-lain.... Semua dipelintir asyik ketika si bodoh ternyata jadi orang paling pintar dan semua korban tak selalu sesuai urutan. Lewat Cabin In The Woods, kita menangkap kegelisahan dan kebencian para sineasnya akan keklisean horor di Hollywood yang terus berulang namun semua tetap dibungkus dengan rasa cinta yang teramat dalam juga terhadap genre tersebut. Tangan raksasa, bersaing dengan horor lembut Jepang, parade monster dan hantu khas Amerika, oh siapa yang tidak menikmati?


GONE GIRL (David Fincher, 2014)

http://cdn.screenrant.com/wp-content/uploads/gone-girl-affleck-pike.jpg



 Selama kita hidup kita tidak sadar bahwa kita semua sedang memainkan seni akting dan kadang----teramat banyak orang mendadak berhenti berakting dengan alasan naif "inilah diriku yang sebenarnya". Tapi diri yang mana? Dan apa yang membuat kita jadi tiba-tiba berubah sementara mungkin penonton ingin tetap kita berakting peran yang terdahulu?

Amy adalah penonton dan tahu benar bahwa dalam kehidupan, seni akting adalah kunci dan kepura-puraan adalah bagian dari panggung kehidupan. Ketika ia mengizinkan Nick masuk ke hidupnya, ia seperti menemukan seorang aktor yang pas menemani perannya sebagai aktris, walau kemudian sang suami pelan-pelan mundur dan memainkan peran yang lain. Film ini bukan saja memotret kehidupan rumah tangga yang bisa berubah menjadi malapetaka tapi juga menangkap banyak hal yang menarik untuk diperbincangkan ; media yang makin rancu dan publisitas dengan dua sisi mata pisau,  yang juga teramat penting adalah bagaimana tokoh Amy dan Nick sama-sama punya pembenaran akan apa yang tengah mereka lakukan. Pada hasil akhirnya, kita sendiri tidak tahu apakah harus membela yang mana dan siapa.

 



WHO'S AFRAID OF VIRGINIA WOOLF? (Mike Nichols, 1966)

Embedded image permalink

 Debut Mike Nichols adalah salah satu film terbaik dengan akting terbaik semua pemerannya, juga dengan cerita yang kuat dan sinematografi hitam-putih yang super cantik. Lewat Who's Afraid of Virginia Woolf? kita menonton  cerita semalam dua pasangan yang berbeda usia : yang satu middle-aged sementara yang satu lagi adalah pasangan di usia akhir 20-an. Namun dalam potret Mike Nichols, film ini membawa empat tokoh itu saling berbaur, saling menangkap ekspresi dan merekayasa diri, sampai pelan-pelan semua rahasia pernikahan dua pasangan itu terbongkar dan mereka saling mengoloknya satu sama lain. Film ini begitu pahit dan kelam namun dua tokoh utama; Martha dan George yang mewakili middle-aged couple begitu sempurna menggambarkan kehidupan pernikahan bertahun-tahun itu. Sama dengan Gone Girl - Fincher, mereka saling melukai untuk menunjukkan rasa mencintai, sekaligus berakting untuk mempertahankan ilusi kesempurnaan dalam panggung bernama pernikahan.

 



THE ANNIVERSARIES (Ariani Darmawan, 2006)
 Film pendek berdurasi 11 menit ini menangkap semua permasalahan dalam pernikahan yang sering terjadi lewat perhelatan anniversary tiap tahun sepasang suami-istri keturunan Tionghoa. Karena relevan dan juga realistis, maka akan sangat mudah menyukai The Anniversaries. Yang paling saya sukai dari film ini juga adalah bagaimana banyak hal-hal subtil tanpa penjelasan lebih lebar membuka interpretasi pada mata penonton. Misalnya, perhatikan, saat pertama pasangan ini berada di lift dan terlihat saling malu-malu mencuri pandang satu sama lain, kita bisa berpendapat mereka dinikahkan karena dijodohkan kedua orangtuanya dan tidak terlalu mengenal sebegitu dalam (dan saling tertarik untuk mengenal satu sama lain). Pada adegan lain, diperlihatkan sang istri berubah dandanannya menjadi lebih glamor, memperlihatkan satu fase pada pernikahan banyak orang-----terutama kelas menengah ke atas ketika sang perempuan mengubah pola hidupnya di rumah dengan rutinitas arisan dan bersolek diri. Hal-hal semacam itu berbicara banyak dalam The Anniversaries, belum lagi kita bicara bagaimana pengadeganan akhir menggambarkan betapa realistisnya gambaran pernikahan dalam rentang waktu lama.




7/24 (Fajar Nugros, 2014)


http://www.wowkeren.com/images/news/00061537.jpg

 Konsep ceritanya bisa jadi menarik, tapi sayang hasil akhirnya jauh dari harapan. Lucu? "Speechless saya" itu kena di satu-dua kali pengucapan, tapi setelah selalu berulang-ulang, jadi melelahkan untuk didengar. Dian Sastro dan Lukman Sardi terlihat berupaya untuk memperkuat chemistry, namun gagal juga memancing penonton jadi merasa bisa terwakili mereka. Film yang bagus bisa meruntuhkan jembatan yang memisahkan penonton dan dunia rekaan yang tengah dibangun, dan 7/24 masih belum bisa.





CATATAN AKHIR SEKOLAH (Hanung Bramantyo, 2004)

http://4.bp.blogspot.com/-NtfYQZUcW78/UrgeMZoKl4I/AAAAAAAAQms/2w9Rq3ruBJ0/s1600/Catatan.Akhir.Sekolah.2005.DVDRip.mkv_004783800.jpgSaya tidak ingat Jomblo, tapi sejauh ini Catatan Akhir Sekolah adalah film Hanung Bramantyo yang paling fun yang saya tonton. Tanpa membawa pesan preachy atau pertanyaan genting soal agama (kecuali adegan A3 mewawancarai ketua rohis dianggap memasukkan dakwah agama) Catatan Akhir Sekolah adalah sebuah film yang memang akan berpotensi selalu dikenang, terutama mereka yang pernah mengalami masa SMA dan tahu warna-warninya persoalan anak SMA di Indonesia. Long shot-nya berhasil karena mampu menangkap atmosfer keseruan SMA Fajar Harapan beserta perangai semua warga sekolahnya. Yang juga membuat orang bisa relate pada Catatan Akhir Sekolah adalah karakterisasi tiga pemeran utamanya : Ramon Y. Tungka sebagai Agni yang masih imut dan mewakili definisi movie-geek sok tahu-aneh-menyebalkan, Arian yang lucu, lepas dan bermulut besar (Vino G. Bastian sangat menghibur disini!), sementara Alde yang lebih tenang dan penengah.

Naskah Salman Aristo berperan sangat vital membuat kita mampu tertarik dengan tiga penokohan Alde, Arian dan Agni, Salman jeli membaca potret masyarakat umum terutama dalam hal ini remaja Indonesia. Belum lagi apa yang ingin disampaikan film ini tidak jauh-jauh dari problema kita sehari-hari sebagai anak muda : talk too much, less action. Tidak sempurna, pasti. Tapi akan menjadi film yang mengasyikkan untuk ditonton lebih dari sekali. 


 


SELAMANYA... (Ody C. Harahap, 2007)

 Film drama cinta Indonesia tanpa harus terjebak jadi super mendayu-dayu sangatlah jarang. Meski film drama cinta dengan bumbu mengidap-penyakit-fatal-dan-akan-segera-meninggal bisa jadi formula yang sungguh-sungguh klise untuk disaksikan, Selamanya bisa mampu tampil lebih baik dari yang lainnya. Kredit untuk akting Julie Estelle sebagai seorang pemakai narkoba yang terlihat sangat meyakinkan, sehingga membuat kita terus mampu bertahan mengikuti bagaimana nasibnya sepanjang film.


 


KUKEJAR CINTA KE NEGERI CINA (Fajar Bustomi, 2014)

http://harnas.co//files/images/760420/2014/12/03/kukejar-cinta-ke-negeri-cina.jpg Kukejar Cinta Ke Negeri Cina adalah bahan yang bisa dimuat dalam sekali tayangan sore-santai sebuah FTV. Chemistry kilat dua peran utamanya, aktingnya, eksotisme latar tempat sebagai hanya panggung berdiri kaku (cuma Jogja-Bali diganti Cina), belum lagi kita bicara tentang persoalan cinta remaja dalam balutan agama yang dituturkan dangkal, Kukejar Cinta Ke Negeri Cina adalah sesuatu yang tidak seharusnya saya lihat di bioskop. Di FTV, mungkin saya akan menikmati karena tidak harus bayar (bisa dapat Rio Dewanto atau Ibnu Jamil, jauh lebih eye-catching).





PENDEKAR TONGKAT EMAS (Ifa Isfansyah, 2014)

http://cdn.klimg.com/kapanlagi.com/p/headline/476x238/syuting-pendekar-tongkat-emas-di-sumba--1cde1f.jpg
Pertama karena saya bukan  kritikus mumpuni yang melihat film untuk siap ditelanjangi baik-buruknya dan sampai sekarang saya menonton serta mengulas sebuah film murni sejak awal dengan jiwa hanya sebagai penonton. Dan dengan itulah saya menikmati Pendekar Tongkat Emas. Bila didaftar segala kelemahannya, tentu ada dan banyak. Tapi sebagai sebuah hasil akhir dari cerita sederhana seorang yang berangkat zero to hero, film ini memaparkannya dengan cukup baik. Akting Eva Celia menjadi kartu AS ketika adegan laga di penutupnya sangat berhasil membuat saya lupa semua kelemahan-kelemahan filmnya. Yang terbaik diantara jajaran film-film Indonesia yang keluar di bulan yang sama.




SUPERNOVA : KSATRIA, PUTRI, BINTANG JATUH (Rizal Mantovani, 2014)


Soraya jagonya akan keindahan visual, dan mereka membuktikan baru sebatas itulah mereka bisa tampil luwes. Belum soal cerita dan pemilihan pemain. Paula Verhoeven sangat mengganggu di film yang sebenarnya bisa sangat menarik namun kemudian berakhir sebagai tontonan yang membuat orang lega karena akhirnya selesai juga. Potensi dan usaha masih bisa diapreasiasi, namun sebagai hasil akhir tontonan yang nyaman dan meninggalkan kesan, masih jauh panggang dari api.







MERRY RIANA (Hestu Saputra, 2014)


http://www.thejakartapost.com/files/images2/p02-aOn-her-own.img_assist_custom-600x336.jpg

Ketika kita disuguhkan sebuah film dengan niatan mampu memotivasi atau menginspirasi, sang tokoh utama haruslah memang mampu membuat kita relate akan sosoknya. Terlepas dari persoalan setting waktu dan tempat yang banyak diributkan, sebagai sebuah cerita utuh tersendiri, Merry Riana tidak mampu membuat kita teryakinkan atau mau lebih banyak mengikuti tokoh Merry. Arahan terhadap Chelsea Islan hanya ditonjolkan lewat dua pola : menangis menderita atau gembira ria, belum lagi tampaknya Chelsea begitu niat nan bersemangat memerankannya sehingga jadinya malah membuat saya gagal peduli padanya. Dari segi naskahpun sangat lemah serta kelewat ringan dan instan bahwa satu aral melintang dan ada kerikil tajam sekali, setelah itu bahagia selamanya. Formula too-good-to-be-true begitu mana mungkin bisa membuat saya merasa dekat apalagi terwakili oleh Merry Riana.

Comments