Readers

The Bad And The Beautiful (1952) : Dua Sisi Manusia Dan Kesempatan Kedua




http://s3.amazonaws.com/auteurs_production/images/film/the-bad-and-the-beautiful/w856/the-bad-and-the-beautiful.jpg  

The Bad And The Beautiful // 1952 // Sutradara : Vincente Minnelli, USA // Pemain : Kirk Douglas, Lana Turner, Barry Sullivan, Dick Powell

 

Ketika seseorang turut menyumbang kekecewaan dalam hidup kita, kita bisa jadi sangat membenci orang itu. Ada yang tidak mau memberi kesempatan kedua dan memilih menghapus orang itu selamanya dalam hidupnya, ada juga yang sebaliknya. 


Nah, mereka yang diberikan kesempatan kedua atau masih tetap dipedulikan meski pernah menyumbang sakit hati dan rasa kekecewaan, pastilah bukan sembarang orang. Manusia sendiri pada dasarnya punya dua sisi : sisi buruk dan baik. Itu pula yang dimiliki Jonathan Shields (Kirk Douglas), ia bukannya seseorang yang jahat-----karena manusia tidak digambarkan dalam warna sepenuhnya hitam dalam film besutan Vincente Minnelli yang satu ini, melainkan manusia juga ada sisi baiknya, bahkan sangat baik bila kita kenang jasanya lagi. 

Meski film ini menuturkan metode penceritaan dari sudut pandang tiga orang seperti mengulang kisah lama di masa lalu (Sama seperti pendahulunya, All About Eve dan Sunset Boulevard yang juga memiliki tema pahit-manis memasuki industri film) namun The Bad and The Beautiful punya kekuatannya tersendiri, sehingga tidak seharusnya dibandingkan dengan dua film itu (saya sendiri suka ketiga-tiganya). 




Embedded image permalink
Georgia, sang aktris pendatang baru menyusuri set lokasi yang kosong untuk film pertamanya. Ia merasa gugup dan takut.

Dalam The Bad and The Beautiful, kita melihat cerita perjuangan yang dituturkan ringkas dari tiga orang yaitu sang aktris Georgia (Lana Turner), sang sutradara Fred (Barry Sulivan) dan sang penulis James Lee (Dick Powell) tentang bagaimana mereka mengawali langkah masuk industri film dan bagaimana Jonathan ternyata sangat memegang peran terkait perjalanan awal mereka memasuki gerbang kesuksesan. The Bad and The Beautiful mengangkat suatu pemikiran yang menurut saya amat berkesan sesudah menontonnya : bahwa di dunia ini memang tidak ada kalimat "everybody loves you" atau "everybody hates you". Tidak ada orang yang hidup dengan hati hitam dan dibenci semua orang, begitupun tidak ada orang yang punya hati bersih semurni kapas dan dicintai tanpa kekurangan. Semua orang punya dua sisi, dan lewat film ini, kita melihat Jonathan yang pekerja keras, perfeksionis, kadang nampak egois atau hilang arah, tapi di sisi lain bagaimana ia juga seseorang yang baik, pendukung yang solid dan tentunya mendatangkan nasib dan inspirasi untuk orang-orang disekitarnya lewat sebentuk kekecewaan yang mungkin sengaja dan tidak sengaja ia torehkan. 


Dari segi teknis, The Bad and The Beautiful memiliki arahan sinematografi yang cantik khas hitam-putih, berhasil masuk nominasi Academy Awards dan meraih 5 diantara 6 nominasi. Sementara pada jajaran aktor-aktrisnya, semua berakting sangat baik meski tidak seistimewa duo Bette Davis - Anne Baxter di All About Eve atau se-powerful Gloria Swanson di Sunset Boulevard yang sudah pasti dijamin akan masuk nominasi Oscar.

Adegan terakhir film ini adalah gambar di atas; ketika Georgia, Fred dan James menguping lewat telepon untuk mendengar suara Jonathan. Adegan ini penting menandai adanya pemberian kesempatan kedua itu; menandai bahwa tiga orang ini punya kebencian tersendiri terhadap Jonathan, namun di sisi lain mereka masih peduli dan mungkin masih punya rasa sayang pada Jonathan. Untuk seseorang yang telah mengubah hidup mereka menjadi lebih baik----meski dalam bentuk kekecewaan atau pengkhianatan, The Bad and The Beautiful adalah cerita tentang Hollywood dan kisah orang-orang didalamnya, kepercayaan, kesempatan dan apakah masih ada sebuah perencanaan karya film dalam azas persahabatan tulus dan kata maaf diantara orang-orang tersebut.


 

Comments

Other side of me

My MUBI

In Theaters