Readers

Resensi Buku : Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (2014)


http://ekakurniawan.com/wordpress/wp-content/uploads/sdrhdt2014.jpg

Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (2014)

Penulis : Eka Kurniawan

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama


Jujur saya tak pernah kenal karya-karya Eka Kurniawan sebelum akhirnya menambatkan hati untuk membeli buku ini. Saya malah sempat salah mengira kalau Eka Kurniawan itu adalah akun @commaditya yang blognya sering saya baca itu. 

Bernard Batubara, penulis muda produktif itulah yang suatu hari membuat saya akhirnya berkenalan dengan nama Eka Kurniawan. Lewat Twitter-nya, ia memberi nilai bagus untuk buku Eka Kurniawan yang berjudul Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas. Judul yang menarik. Unik. Lewat tulisan blognya bahkan Bernard mengatakan buku ini seperti reuni mengunjungi karya-karya stensilan yang biasa ia baca saat remaja. Saat ia menuliskan hal ini, saya langsung antusias. Wah, novel sastra yang nampak seperti stensilan? Layaknya Enny Arrow atau Freddy S? Saya pun langsung berminat untuk membelinya. 


Saya sendiri memerlukan waktu seminggu untuk menamatkan Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas. Bukan karena bukunya berat atau karena membosankan, namun karena kelalaian saya sendiri yang begitu malas dan terbentur waktu untuk pekerjaan dan acara kelayapan sana-sini. Sebenarnya semakin lama menunda melanjutkan malah akan memudarkan esensi membaca itu sendiri. Namun untungnya, saya tetap bisa ingat kelanjutan cerita saat berada di pertengahan dan pelan-pelan sampai akhir menyetir hingga sampai tempat tujuan. Dan seusai membaca halaman terakhir, saya pun tersenyum kecil. Lalu tertawa menggeleng-geleng. Lalu tersenyum lagi, kali ini nampak gigi. 


Saya lalu membatin,

 “kampret.”

Begitulah hasil keseluruhan saya bermain-main dengan novel yang bercerita seputar burung yang tak mau bangun itu. Saya setuju bahwa novel ini vulgar, novel ini begitu jujur, dimana Eka berani bicara memek, kuntul, tentang meremas, menjepit dan bersetubuh dengan porsi lumayan banyak (Meskipun ekspektasi saya inginnya kevulgaran yang lebih dari yang digambarkan Eka sih :p). Namun tetap Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas begitu menampilkan pleasure untuk pembacanya. Begitu menggemaskan, geli dan disisi lain membuat saya tak sabar dengan pendeskripsian Eka yang lebih liar di halaman selanjutnya. 

Namun bukan lantas ia memakai model stensilan lalu buku ini sekedar jadi buku rekreasi belaka. Eka tahu bagaimana cara mengeksekusi stensil Enny Arrow ke medium yang lebih lembut tapi tetap memberikan bumbu rasa pada karakter-karakternya, bahkan mampu menyelipkan formula yang penuh makna lewat alegori burung tak mau bangun itu. 

Jadi jangan salah, novel ini bukan novel main-main yang dibaca buat haha-hihi atau mencari khayalan mesum belaka. Lebih dari itu, sebenarnya apa yang dituliskan Eka begitu serius seperti misalnya bicara soal oknum polisi yang memperkosa gadis gila di tengah rezim yang kacau balau----buat saya ini saja sudah sangat serius----- bagaimana ia menyoroti soal isu pemerkosaan, menegur soal rezim kacau dan adanya oknum polisi yang bertindak keji. 

Bahkan pada halaman berikutnya Eka bicara soal pelecehan seksual oleh oknum guru, dimana itu terasa menyedihkan, memilukan, namun di satu sisi Eka mampu mendeskripsikannya dengan santai dan bahkan gamblang. Mungkin untuk beberapa orang, bagian-bagian seperti ini akan membuat risih dan saya rasa ini yang membuat kenapa novelnya dilabeli 21+ alias diperuntukkan hanya untuk dewasa. Tapi sesungguhnya bagaimana Eka menuliskan bagian-bagian itulah yang membuat perjalanan setiap karakter utama semakin kaya dimana buat saya adalah hal yang tepat sekaligus hebat.

Ada seorang teman Twitter yang bilang lewat akun Goodreads-nya bahwa Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas seperti semacam love letter untuk stensilan dan cerita silat. Saya setuju, dan saya rasa saya harus membacanya ulang untuk kemudian lebih leluasa mengutuki ending ngehek nya yang brilian itu. 4 bintang.




Comments

  1. perempuan "gila" seusiamu sudah mengenal karya2 stensilan. sedikit tertarik dengan pemikiran anda

    ReplyDelete

Post a Comment

Other side of me

My MUBI

In Theaters