Readers

Arisan 2 (2011) : Menyindir Asyik, Tapi Nanggung

Arisan 2 // 2011 // Sutradara : Nia Dinata, Indonesia // Pemain : Cut Mini, Rachel Maryam, Surya Saputra, Aida Nurmala, Rio Dewanto, Tora Sudiro, Sarah Sechan


Delapan tahun sudah berlalu semenjak saya menyaksikan film (pertama?) Indonesia yang berani berkomentar centil tentang kehidupan kaum kelas atas sekaligus berbicara secara romantis tentang eksistensi kaum gay di kota Jakarta. Arisan datang pada tahun 2003, ketika internet dan penggunaan telepon belum super canggih-canggih benar tapi waktu itu sebutlah masa awal dimana ekspos gaya hidup kota besar yang serba wah sudah mulai berani diperbincangkan.

Arisan 2 kembali mampir di tahun 2011 untuk mengajak kita menemui lima tokoh yang kita rindukan, Meimei (Cut Mini), Lita (Rachel Maryam), Sakti (Tora Sudiro), Nino (Surya Saputra) dan Andien (Aida Nurmala). Delapan tahun berlalu dan banyak perubahan dalam hidup mereka, layaknya hidup saya dan hidup kita semua. Selain gaya rambut Sakti yang jadi lebih enggak banget (dan gaya kemayu yang lebih bebas lepas dibanding film pertamanya) banyak sekali perubahan yang dialami kelima tokoh ini. Meimei sekarang divonis penyakit kanker. Lita lebih bergaya sebagai anggota partai namun punya anak di luar nikah. Andien sudah ditinggal mati sang suami, kini sambil mengurus si kembar yang beranjak dewasa (remember those cute twin girls? They’re teenager now). Sementara Nino kini tak lagi bersama Sakti melainkan bersama seorang berondong bernama Okta (Rio Dewanto). Oh ya, Sakti juga memiliki pasangan baru seorang lelaki paruh baya bernama Gerry (Pong Harjatmo) yang sudah beristri dan punya anak belia pula.

Bagaimana, terdengar lebih wah lagi bukan semenjak sinopsis film pertama? Menyesuaikan dengan apa yang terjadi pada tahun 2011, yaitu perkembangan teknologi yang semakin berkembang, adanya Twitter dan segala kemudahan internet, video call, chat, dan ekspos kehidupan kaum berkelas yang lebih gila lagi. Gila disini, karena Nia sudah tak malu-malu kucing lagi seperti di film pertama, ia tidak lagi bicara cuma soal kegundahan Sakti yang terjerat dilema mengakui dirinya gay--------maklum mungkin menyesuaikan dengan kondisi jaman yang waktu itu masih awal 2000-an------ di Arisan 2, keterbukaan menjadi gay sudah lebih lepas, Sakti bisa mengakui pada Dokter Joy (Sarah Sechan) yang bukan kenalan dekatnya bahwa “i’m gay”, begitupun sejumlah permasalahan kota besar dari mulai jadi simpanan om-om beristri, keranjingan operasi plastik, sindrom kepo, hedonisme pesta haha-hihi dengan bebas lepas Nia rangkai di sepanjang film.


Sebagai antitesis, hadir Meimei menjadi sosok yang jauh dari kehidupan bising dan memuakkan di kota Jakarta. Nia menjalin kedua sisi ini saling bergantian sehingga penonton bisa menangkap perbedaan yang jomplang antara Andien cs. yang sibuk berpesta sementara Meimei mencari ketenangan batin saat perayaan Waisak di Candi Borobudur.

Sebenarnya, saya suka semua sindiran-sindiran Nia Dinata itu. Arisan 2 nampak seperti membaca linimasa Twitter, membuat saya menyunggingkan senyum pada banyak momen : saat Nino menggelar festival film yang didemo satu kelompok massa, atau saat Okta yang anak Twitter selalu tak bisa jauh dari acara foto-foto dan update status. Atau saat Shanty melenggang pergi lalu Dokter Joy dan Ara (Atiqah Hasiholan) membicarakan keburukannya tepat setelah menyapanya. Atau tokoh Yayuk Asmara (Ria Irawan) berubah drastis dari jurnalis yang dulu mengejek kaum hedon kini malah menjadi salah satu tokoh kaum hedon itu sendiri!

 Ini sih sindiran yang asyik, sindiran yang sifatnya universal, yang memang terjadi di sekitar dan sekeliling kita. Ini sindiran nyinyir yang enak dinikmati, saya harus mengakui. Namun masalahnya, sindiran-sindiran itu nampak hebat di permukaan saja. Begitu mendekati pertengahan menjelang akhir tepatnya ketika Andien cs. ingin menyusul Meimei ke sebuah pulau, sindirannya jadi menguap entah kemana. Tahu-tahu filmnya habis, tahu-tahu Okta mau pamit, tahu-tahu Sakti-Nino mau balikan. Padahal chemistry Sakti-Nino di film pertama masih nampak jelas romantisnya namun di sekuel kali ini kurang diberi tempat (atau terlalu banyak dimakan porsi sindiran-sindiran nyinyir + Rio Dewanto yang sukses tampil centil?) begitupun penyelesaian kehadiran tokoh Gerry yang sama sekenanya dengan Okta.

By the way, film ini tak melibatkan Joko Anwar lagi dan sepenuhnya sekarang berada di dalam kuasa Nia Dinata sebagai penulis dan sutradara. Entah apakah ini ada korelasinya dengan segala yang serba nanggung, juga ada teknik-teknik gambar slow-mo dan close up yang serasa salah kondisi nan interpretasi (mungkin ini cuma saya tapi saya sempat mikir karakter yang diperankan Molly itu lesbi yang suka Meimei). Terlalu banyak main efek close-up memang bisa bikin imaji penonton (macam saya) kemana-mana. Selain itu penyelesaiannya serasa bikin malas banget, Nia Dinata memilih menuntaskan acara reuni ini dengan peluk-haru temu-kangen yang dalam selera saya, maaf saja, sinetron banget.

Masalahnya adalah saya suka Arisan pertama dan menurut saya film itu adalah salah satu film Indonesia penting yang menandai jamannya. Sementara Arisan 2 ada potensi bagus di awal-awal menuju pertengahan, ternyata kebawelan ceritanya lama-lama terasa merepotkan. Tahu-tahu tamat. Tapi saya masih bisa toleransi ini sebagai tontonan yang lumayan. Tidak kurang tidak lebih.




Comments

Other side of me

My MUBI

In Theaters