Readers

Habibie & Ainun (2012) dan Bahwa Cinta Tak Selebar Daun Kelor



http://2.bp.blogspot.com/-5zp7WtTky-A/UH7DiXutnSI/AAAAAAAAK2c/80LcDY9EYe8/s1600/Film+Habibie+Auinu.JPG


Habibie & Ainun // 2012 // Sutradara : Faozan Rizal, Indonesia // Pemain : Reza Rahadian, Bunga Citra Lestari, Tio Pakusadewo

Hidup itu tak selebar daun kelor. Cinta pun demikian. Dalam sebuah hubungan percintaan, yang terlihat di mata belum tentu menggambarkan keseluruhan. Cinta tak melulu semudah yang diharapkan pasangan-pasangan puber belum tahu dunia, cinta tak cuma soal jatuh cinta pada pandangan pertama lantas di mabuk asmara sampai lanjut usia.

Sayangnya, Habibie Ainun hanya menampilkan apa yang terlihat didepan mata. Cinta yang diangkat Habibie Ainun adalah cinta yang dimimpikan abg-abg belum cukup umur atau mereka yang setidaknya belum sadar ada persoalan besar saat memilih dan mendalami cinta. Cinta yang muluk. Cinta yang sama manisnya yang ditampilkan di sinetron-sinetron atau FTV saat sang peran utama jatuh cinta dengan si gadis miskin, lalu melenggang bersama tanpa peduli aral melintang. Ini sebenarnya tak bermaksud sinis, memang tidak ada salahnya mengumbar mimpi manis, tapi karena formatnya adalah layar bioskop bukankah sebagai penonton saya boleh mengharap cerita yang lebih besar lagi, deskripsi cinta yang lebih besar lagi?

Sebenarnya saya sendiri tak pernah keberatan dengan cerita cinta seringan-ringan tubuh finalis putri Indonesia 2014. Toh pada akhirnya, kita mudah tergugah pada yang manis-manis asalkan memang pembuatnya bisa bikinnya believable. Nah, dalam Habibie Ainun saya tidak bisa mendapat kesan itu. Kesan believable-nya runtuh ketika saya melihat Habibie yang diperankan Reza Rahadian di-make up dengan perawakan kakek-kakek tua, atau saat Ainun (Bunga Citra Lestari) juga dijadikan nenek-nenek cukup dengan modal uban. Ada sebuah adegan dimana saya baru sadar bahwa Mike Muliadro itu ceritanya anak Reza Rahadian, dan entah darimana logika saya tidak bisa berhenti terganggu tentang kenyataan wajah Mike jauh lebih menua ketimbang pemeran Habibienya sendiri. Buat saya, hal-hal yang semestinya remeh begitu tapi malah berkepanjangan membebani otak ketika menonton begini adalah sebuah kelemahan. Kelemahan untuk bisa menciptakan kesan believable ke penonton tadi.

Ketika kemudian outlook begitu sudah membikin tidak nyaman, berikutnya yang terjadi adalah saya tidak bisa menanggapi lebih serius film ini. Dandanan memaksa dituakan mengingatkan saya pada sinetron stripping dimana Nikita Willy jadi ibu beranak dan dituakan dandanannya bersama pasangannya yang juga berdandan bapak-bapak. Kenapa pembuatnya tak melibatkan pemain pengganti ketika Habibie dan Ainun menjejak masa tua? Sangatlah penting buat saya mengadopsi suasana realistis agar emosi penonton ikut ditarik, tapi kalau dengan dandanan ala pertunjukan teater begini saya jadi enggan ikut tenggelam menyusuri kedalaman filmnya. Ibaratnya, karena nila setitik rusak susu sebelanga.

Padahal saya tahu, filmnya tak main-main. Sungguh. Saya sangat menghargai Reza Rahadian bekerja keras untuk menjadi Habibie atau bagaimana Faozan Rizal berusaha menyajikan cerita jatuh-bangun Habibie di pemerintahan tapi terus seimbang menyorot hubungan cintanya bersama Ainun. Namun ketika dengan segala ketidaknyamanan atas suasana believable tadi, filmnya juga tergolong biasa-biasa saja menuturkan hubungan cinta Ainun-Habibie, maka kemudian saya tidak mendapat bekal apa-apa seusai menontonnya.

Cinta sejati sampai mati? Bahan yang menarik. Namun bahan yang dibawa Habibie-Ainun tak cukup untuk membuat emosi saya naik turun atau ikut terbawa dengan penceritaannya. Memang ada niatan yang cukup menarik ketika sepanjang film digambarkan Ainun juga mengalami struggle saat mendampingi Habibie, mulai dari ikut bertahan di Jerman saat sedang hamil, mendampinginya saat meraih cita-cita atau struggle saat Habibie sibuk dengan kerjanya dan Ainun merasa ditinggalkan. Niatnya sungguh baik dan bisa terbaca. Namun buat saya, itu saja tak cukup. Saya merasa membawa tema cinta sejati sampai mati berarti harus membawa beban yang lebih lagi untuk digelontorkan ke wajah penonton. Habibie Ainun hanya bisa membawa cinta pada level yang sedikit lebih baik dari sinetron, namun tidak bisa mengejewantahkan cinta ke cerita yang lebih tinggi lagi. Ketimbang mengumbar adegan sekarat dan kemudian mengucap salam perpisahan, kenapa tidak memperluas gambaran subtil? Eksplorlah sisi lain dari dua sejoli ini. Sosok Ainun, misalnya. Apakah ia merasa kesepian, tersiksa, hampir goyah mendampingi Habibie? Atau Habibie sendiri, selain gambaran seorang jenius sibuk kerja dan kemudian digambarkan selalu menyayangi istrinya selamanya, tidakkah diberi lagi penggambaran luapan emosi  Habibie menghadapi pelik cintanya diantara juga stresnya lingkungan politik? Habibie-Ainun digambarkan sebagai pasangan ideal yang memperlihatkan bahwa cinta sejati satu untuk selamanya itu ada, namun saya tak merasa cukup melihat itu ada pada diri mereka, setidaknya di film ini. Tidak teryakinkan. Ditambah segala dandanan tak believable yang saya risaukan diatas. Apa bedanya kemudian film ini dengan film lain yang mengusung tema cinta sejati namun akhirnya harus ada yang penyakitan dan mati? Bedanya hanya tokoh lelakinya mantan orang nomor satu bagi negara ini.

Ya mungkin bisa saja ini hanya masalah selera. Ada penonton lain yang secara personal tergugah oleh film ini, begitupun ada pula penonton merasa film ini tak lebih dari niatan baik yang sayang hasil akhirnya tetap kacau balau. Saya sayangnya lebih cenderung pada yang kedua. Saya pribadi inginnya Habibie-Ainun digambarkan pahit-manis seperti Amour-nya Haneke, bukan hanya tak jauh-jauh dari pakem cinta pop bin pop. Habibie-Ainun itu melodramatis, sebuah film yang sepertinya tepat untuk menggambarkan semua mimpi basah para remaja tentang cinta tanpa cacat dan bahagia selamanya dunia akhirat. Cinta sebatas daun kelor. Dunia yang diciptapun tak lebih lebar dari persoalan menjunjung cinta naif sampai terpisah jarak dan raga.

P.S : Lagipula agak kebangetan pula saya bandingin ke Amour ya....



Comments

Other side of me

My MUBI

In Theaters