Readers

Membaca Cepat Dalam Soekarno (2013)

http://www.muvila.com/sites/default/files/video/Soekarno_PreviewTrailer.jpg



Soekarno (Indonesia Merdeka) // 2013 // Sutradara : Hanung Bramantyo, Indonesia // Pemain : Aryo Bayu, Maudy Koesnaedi, Tika Bravani, Lukman Sardi, Tanta Ginting, Ferry Salim

Film ini jelas bukan film buruk. Visi misinya mulia, jajaran aktor-aktris pendukungnya pun berakting lancar walau Lukman Sardi perlu diberi peringatan untuk ke depannya bisa tidak hambar lagi dalam mendeskripsikan suatu karakter (ini kita bahas nanti. Btw, saya penggemar beratmu loh, mas).

Adanya niatan serius sangat jelas terlihat, tapi Soekarno tidak lantas memberikan tontonan yang memuaskan. Hanung memang memasukkan banyak cerita penting tentang Soekarno disini : dari mulai masa kecilnya, pertentangannya dengan Belanda, masa-masa ia dipenjara dan diasingkan, masa dimana ia harus berkompromi dengan Jepang, kisah cinta dan tentu sampai pidato kemerdekaannya. Masalahnya, lantaran meski membingkai semuanya agar kebagian tempat, lalu seluk-beluk sosok Soekarno itu sendiri pun jadi entah berada dimana. Dimana pemikiran terdalam Soekarno, yang mengawalinya, yang membuatnya bekerja keras terus memperjuangkan Indonesia? Apakah karena diusir orangtua taksirannya yang orang Belanda, Soekarno jadi patah hati dan termotivasi mengusir penjajah? Meskipun ada juga ditampilkan adegan-adegan kecil yang menunjukkan ketertarikan Karno berpolitik ketika kecil, namun adegan Soekarno diusir orangtua pacarnya yang Belanda lebih jeli ditangkap mata. Penggambaran yang bikin orang menyimpulkan kemana-mana begini juga ada pada film Hanung sebelumnya yaitu Tanda Tanya (2011). 


Sekedar mengingatkan kembali, disitu diceritakan ada seorang karakter bernama Hendra (diperankan Rio Dewanto) seorang pengusaha restoran cina yang biasa menjual makanan dengan daging babi di restorannya. Ia kemudian memutuskan masuk islam menjelang akhir cerita. Meskipun pada adegan-adegan sebelumnya, sempat diselipkan beberapa clue seperti Hendra melintasi masjid atau mengucap assalamualaikum penuh arti, tapi persepsi-persepsi jahil bisa saja muncul pada jiwa penonton apalagi bila melihat banyaknya keuntungan didapat Hendra yang masuk islam : usaha restorannya jadi halal dan bisa jadi lebih menguntungkan, hubungannya dengan Menuk yang menjanda bisa jadi bersemi kembali (Spoiler-----Menuk ditinggal mati suaminya, dan ia dulu mantan kekasih Hendra), masyarakat masjid yang selama ini selalu mengata-ngatainya bisa berteman dengannya karena kini ia sudah satu agama. Terdengar nakal memang pemikiran seperti itu, tapi tafsiran begitu jadi muncul tatkala keputusan sang sutradara sendiri menjadikannya solusi dari akhir cerita yang cari aman. Nah, di Soekarno “kebiasaan” itu berulang kembali. Contohnya ada pada diselipkannya cerita Soekarno diusir orangtua sang taksiran ketika sedang bertandang ke rumah. Tak begitu masalah sih, meski "kebiasaan" itu bukan cacat sungguh-sungguh yang akan mencederai filmnya.


Soekarno sempat membuat hati saya melirik ketika menampilkan struggle percintaannya dengan Inggit dan setelah datang orang ketiga yaitu Fatma. Menurut data Google, cerita semacam ini pernah pula diangkat menjadi sebuah FTV dengan judul Tjinta Fatma dengan Donny Damara sebagai Soekarno. Ini mungkin karena saya agak melankolis dan gampang tergoda drama, tapi pada bagian inilah yang paling memancing emosi penonton dan bisa dibilang berhasil. Diam-diam juga saya sempat mengharapkan bagian inilah yang akan lebih ditonjolkan oleh Hanung. Lika-liku cinta sang presiden, sisi womanizer-nya yang mampu menggaet wanita, atau bahkan kalau lebih berani sekalian memperlihatkan sisi buruk sang lelaki yang gampang berganti hati dan tunduk pada wanita. 

Sebenarnya dalam skala kecil, ada sebuah adegan dimana Karno setelah berganti istri yaitu Fatma sekarang sudah punya anak dan tengah bercakap dengan Gatot (Agus Kuncoro). Dalam salah satu kalimat saya lupa-lupa ingat kira-kira seperti ini, “aku tidak bisa membohongi diri, aku kan juga lelaki, aku juga ingin punya anak.” Ini hanya kalimat kecil namun bisa menyiratkan sisi kelemahan dalam diri Soekarno yang memilih cinta yang lain setelah mengorbankan cinta yang terdahulu (Inggit). Dengan ucapan seperti itu, Soekarno sebagai pria seakan menegaskan bahwa sah-sah saja ia mengambil keputusan mendua dari Inggit, bahwa sebagai lelaki sudah menjadi haknya untuk memiliki anak, meski itu harus mengorbankan sesuatu (rumah tangga dan istri tua yang merasa terluka). Mulai dari ucapan kecil itu pula sebenarnya sutradara bisa mengembangkannya lagi menjadi sebuah bagian dari drama, kalau tema penggugah nasionalisme mau dia pinggirkan. Sayangnya ketika pada bagian inilah saya kemudian merasa Soekarno akan jadi lebih asyik, Hanung tetap memilih meneruskan kereta sejarah. Penonton disajikan perjalanan kehidupan Soekarno secara luas sampai akhirnya kita sampai di akhir cerita dan melihatnya menang.


*


Untuk jajaran pemeran, saya lumayan puas dengan Aryo Bayu. Saya berharap film mampu memberinya ruang yang lebih lagi untuk mampu mengeksplor karakternya namun sayang tidak bisa. Walau begitu, Aryo Bayu mampu mempresentasikan Soekarno dengan baik, lihat bagaimana ia bisa berpidato dengan lantang dan meledak-ledak layaknya Soekarno asli, atau yang paling saya suka adalah bagaimana Aryo Bayu jempolan menampilkan sisi womanizer sang bapak negara yang terkenal gampang jatuh cinta. Ada sebuah adegan di film dimana seorang wanita tak bernama yang merasa diselamatkan oleh Soekarno mendatanginya. Adegan itu cukup sekilas, tidak ada kata-kata tapi cukup dengan reaksi dan gerak-gerik mata Soekarno ‘menelanjangi’ sang wanita. Dan Aryo Bayu bisa menggambarkan sisi Soekarno yang gila wanita dengan efektif dalam adegan itu. Hebat. 


Selain Aryo Bayu, Maudy Koesnaedi juga mampu menggambarkan Inggit yang sedang teraniaya hatinya karena dikhianati dengan tepat sasaran. Kita ikut bersimpati dan teriris-riris saat tahu ia jadi korban atas cinta baru Soekarno. Tika Bravani pun demikian, kalau saya bisa jengkel dengan dia berarti dia mulus memerankan karakter Fatma yang nampak masih bocah dan ngotot cinta mati meski sang idaman sudah beristri.


Yang agak tersia-sia justrulah Lukman Sardi. Hatta tentu sosok penting, namun kenapa Tanta Ginting yang memerankan Sjahrir justru tampil lebih unggul ketimbang porsi peran yang ia bawakan? Tidak ada perbedaan antara Lukman Sardi dengan kacamata jadul dan rambut klimis tipis dan Lukman Sardi versi beberapa film yang sebelumnya juga saya tonton (Walau saya belum nonton Rectoverso karena katanya disana beliau memberikan performa yang hebat). Ya ini sekedar catatan pribadi karena nama Lukman Sardi di film ini sendiri membawa semacam ekspektasi buat saya. 


Yang juga membuat tak nyaman adalah cara Hanung menggambarkan nasionalisme di beberapa lekuk tubuh film dengan cara cara yang agak vulgar. Yang saya maksud vulgar adalah dengan adegan-adegan seperti orang bersorak membawa bendera, close up bendera merah-putih, ditembak dengan teknik slow motion, atau sorot-sorot rakyat jelata menderita dilapisi musik-musik yang (inginnya?) membangkitkan rasa prihatin dan nasionalis penonton. Ketika kemudian adegan kemerdekaan menjelang klimaks kelewat verbal begitu disajikan, rasanya kok agak enek ya. Mungkin karena saya lebih perlu cara yang lembut bukannya terang-terangan. Atau ini memang sudah jadi style Hanung yang saya lihat juga ada di Tanda Tanya, dia suka merayakan cerita dengan gegap gempita. Mungkin itu pula cara yang paling gampang dimengerti kebanyakan penonton kita.


Saya sebenarnya mengharapkan pada adegan proklamasi sendiri Aryo Bayu mampu merealisasikan adegan proklamasi akbar itu. Selain bisa menambah poin penampilannya sebagai sosok penting dalam film ini, momen ini bisa dijadikan adegan yang emosional, menggugah perasaan penonton tanpa hanya disuguhkan vulgarisme gambar jor-joran. Tapi sayangnya Hanung malah menempuh cara kilat dengan memasukkan rekaman suara Soekarno yang entah mungkin dirasa akan lebih menambah aroma kuat nasionalisme penonton atau ada pertimbangan untuk membuat unsur realistis dan historikalnya lebih terpancar lagi. Sah-sah saja. Tapi dengan semua kehambaran yang saya kemukakan pada poin-poin diatas maka jadinya, inilah Soekarno yang semacam panduan cepat membaca sejarah saja. Soekarno – Hanung seperti mereka ulang sisa-sisa memori di buku pelajaran jaman sekolah atau biografi selintas di buku-buku tipis. Soekarno dalam polesan Hanung adalah Soekarno yang aman, Soekarno yang rapi bahkan jadi kelewat kaku karena kita hanya disuguhi perjalanan hidupnya zero to hero tanpa adanya tempaan pemikirannya yang lebih jauh lagi tampil didepan layar. Semuanya serba medioker saja. Kita tidak bisa melihat pemikiran yang lebih mendalam atau sisi lain yang lebih intim tentang Soekarno, tentang kenapa ia berpolitik, kenapa ia setengah mati mempertahankan Indonesia. Tidak juga Hanung berani menampilkan Soekarno berada pada lumbung masalah yang lebih besar lagi, karena mungkin tujuannya murni untuk membuat penonton jadi lebih cinta bangsa, maka akhir ceritanya pun mesti menang dan jadi pahlawan. Soekarno versi Hanung mengambil jalan kelewat gampangan menggambarkan kehidupan Soekarno memperjuangkan Indonesia.





.....Walau bila tujuannya untuk melecut semangat nasionalisme bangsa, film ini setidaknya tak seburuk 5 CM yang kelewat ga nyambung itu. Ehm.



Comments

Other side of me

My MUBI

In Theaters